Sejarah ulama dalam belajar / menuntut ilmu

 


Ilustrasi. Peta jarak Kufah- Mekkah (1.673,5 km). Foto / google

 
 

.:: Learning Behavior: Sejarah pasti berulang.

Sejarah ulama dalam belajar / menuntut ilmu, akan membuat decak kagum siapapun yg membacanya.

Dalam sebuah atsar disebutkan, bahwa imam As-Sya’bi melakukan perjalanan dari kufah menuju Makkah untuk mencari keabsahan tiga Hadits. Jika kita ukur menggunakan google maps, jarak dari kufah ke Makkah adalah 1.260 KM. Tentu saja dahulu kendaraan terbaik adalah unta atau kuda. Kira² berapa lama waktu dan perbekalan yg dibutuhkan oleh Imam As-Sya’bi untuk mendapatkan tambahan ilmu berupa 3 hadits tsb? Sungguh perilaku belajar yg luar biasa!

Dinamika keilmuan terus berkembang, jika dahulu murid mendatangi guru, maka sekarang telah bergeser murid dan guru mendatangi sekolah/ masjid.

 

Dahulu ulama memang mengajar di Masjid, tapi beda praktek dg zaman skrg. Dahulu satu orang alim akan menetap di masjid tertentu, sehingga siapapun yg ingin belajar dg beliau tinggal datangi saja majlisnya di masjid tsb. Sekarang, guru keliling ke masjid², muridnya yg berubah².

Dinamika ini sekarang semakin bergeser lagi, menjadi guru mendatangi murid. Para guru tsb diundang ke rumah murid untuk mengajar, alasannya karena para murid merasa jauh, sibuk, dsb jika harus ke rumah guru, sehingga gurulah yg harus mendatangi murid.

“Kemalasan” yg ada pada diri para murid ini mungkin yg menyebabkan lemahnya pondasi keilmuan dewasa ini. Usaha dan upaya yg menjadi pokok dalam belajar semakin terkisis, digantikan dg kemudahan dan fasilitisasi yg semakin memanjakan para penuntut ilmu.

Hikmah Pandemi

 

Setiap kejadian, pasti ada hikmahnya. Termasuk pandemi ini.

Lihatlah sekeliling kita, sekolah² menjadi sepi, masjid² juga sepi, “majelis taklim” kehilangan kerumunan orang didalamnya… Namun apakah kegiatan menuntut ilmu menjadi berhenti? Tentu saja tidak.

Manusia (terutama umat Islam) terbukti memiliki adversity quotient yg sangat tinggi. Penyesuaian dan inovasi merupakan hal yg sangat cepat dilakukan oleh para pembelajar sejati. Sekarang akan dengan mudah kita dapati ulama membuat channel pembelajaran di media internet, ada yg dibuat satu arah, ada pula yg interaktif. Ada yg berbayar, ada pula yg gratis!

Tentu akan banyak orang yg mengeluhkan kondisi ini, bagaimana tidak, wong biasanya mereka “disuapin” oleh gurunya, didatengin, diajarin secara sabar, dimaklumin oleh gurunya ketika dia kadang² hadir namun sering bolos dg alasan ada kesibukan, dsb… Sekarang, mereka harus mendatangi gurunya secara virtual!

 

Lihatlah bagaimana sejarah berulang, meski dalam bentuk yg lain!

Murid yg hari ini enggan mendatangi gurunya secara virtual, kelak akan tertinggal oleh teman²nya yg tetap rajin apapun kondisinya. Murid yg enggan membeli kuota internet, juga akan tertinggal. Murid yg enggan membeli hape smartphone/ laptop, juga akan tertinggal. Karena ilmu itu sebenarnya “MAHAL” dan harus didatangi.

Wallahu a’lam.

 


أبو
العباس
أمين
الله

KtgletgmSpmonarlfint pgSukrgsucsgl 0ctol9r.s1e2de  ·

(nahimunkar.org)

(Dibaca 159 kali, 1 untuk hari ini)