Rapat di balaikota Surakarta membicarakan GKI yang dibangun dengan persyaratan KTP orang yang sudah meninggal (Foto: Endro Sudarsono.dakta.com)

 

SOLO_DAKTACOM: Pembangunan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Busukan Mojosongo Solo, dinilai bermasalah karena tak sesuai dengan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan 8 Tahun 2006.

Kesalahan yang sangat, ditemukan sejumlah KTP yang dijadikan sebagai syarat mendapatkan rekomendasi dari FKUB, orangnya ternyata telah meninggal dunia.

Dari daftar Foto Copy KTP yang pemiliknya sudah mati adalah: Sintatiningsih meninggal dunia (28/01/2011), Sunarti, mati (31/12/2010), Joni Handoko, Mati,( 18/12/2011), Indah Hartanti, Mati,(21/08/2011), Phillip Ach,Mati (08/05/2012), Ruth Jeremi, Mati, (28/11/2010), Liem Hoo Tiong,Mati,(10/08/2011), Deni Asrini,Mati,(07/12/2009), Meeline S,Mati,( 30/04/2012), Timothius,Mati,(06/03/2012),Nugroho Djati,Mati,( 17/12/2011), Supadi,Nusukan-Banjarsari, Antonius S, Mati, (07/08/2010),Hindarto Mati,(23/03/2011), Sri Rahayu,Nusukan-Banjarsari.

Kecewa dengan sikap panitia pembangunan GKI, Jumat, 28 November 2014 sekitar pukul 13.30 bertempat di kantor kelurahan Mojosongo, diadakan dialog antara Parno dkk selaku Warga Busukan sekaligus perwakilan Umat Islam Mojosongo, Edi Lukito dari Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Agus Junaidi dari Laskar Solo Timur, Helmy Akmad Sakdilah dari NU, Suharni perwakilan GKI, Kombes Iriansyah Kapolres Solo, Ahmad Purnomo Wakil Wakil Walikota Solo dan hadir pula jajaran TNI, Lurah, Kesbangpol, Satpol PP dan wartawan. Pada saat itu Ahmad Purnomo selaku Wakil Walikota meminta waktu satu bulan untuk memverifikasi data.

 

Namun umat Islam Mojosongo tetap dalam pendirianya, yaitu meminta GKI ditutup secara permanen. Di tengah dialog, datang ratusan umat Islam yang memberi support kepada perwakilannya. Sambil meneriakan takbir, umat Islam meminta Walikota menutup GKI. Setelah selesai dialog, ratusan umat Islam Mojosongo mendatangi GKI Busukan untuk memasang poster dan spanduk penolakan. Menurut warga yang menolak GKI Busukan, di daerah RW 27 Busukan sudah ada 2 gereja Kristen Protestan yaitu Gereja Babtis Indonesia dan Gereja Kemah Injil Indonesia. Menurut warga dan pengurus RT keberadaan GKI Busukan membuat rasa tidak nyaman dan meresakan.

 

Berdasarkan Data Base Rumah Ibadah yang diterbitkan oleh Kesbangpol dan FKUB kota Surakarta tahun 2013 di Keluraan Mojosongo sudah ada 22 gereja Kristen Protestan termasuk didalamnya GKI Busukan Mojosongo

Keputusan lisan Wakil Walikota Surakarta dan Kesepakatan bersama peserta audiensi di Keluraan Mojosono Jumat, 28 November 2014 tentang Pembekuan Kegiatan GKI Busukan Mojosongo selama 1 bulan dalam rangka verifikasi data.***
Redaktur : Imran Nasution/ Posted by: daktaKamis, 11/12/2014 – 14:59

***

 

Masyarakat Mojosongo Jebres Solo Tolak Pendirian Gereja

 

Created on 29 November 2014 Category: Berita Islam Solo Raya

Program kristenisasi di wilayah Solo khususnya di Kelurahan Mojosongo Kecamatan Jebres semakin gencar dilakukan oleh para misionaris. Bayangkan di satu RW yang luas wilayahnya tak begitu besar sudah berdiri 2 gereja besar. Tak cukup disitu kali ini para misionaris masih ingin menggunakan gereja dengan nama Gereja Kristen Indonesia Nusukan (Pos Jemaat Mojosongo). Ironisnya masjid disitu hanya berdiri satu buah yaitu masjid Al Bakrie. Padahal mayoritas masyarakat disitu adalah muslim.

Adanya ketidakadilan inilah yang akhirnya membuat masyarakat kampung Busukan RW 27 mengadakan protes keras dengan mengirimkan surat langsung ke Walikota Surakarta FX Rudiyatmo. Namun ternyata surat tersebut tak ditanggapi dengan baik hingga akhirnya Jumat (28/11/2014) masyarakat Blusukan mengadakan aksi penolakan terhadap pendirian gereja tersebut.

Tak ingin kasus ini meluap menjadi besar maka diadakanlah mediasi yang bertempat di Kelurahan Mojosongo yang dihadiri oleh Muspida. Diantaranya Kapolres Surakarta Kombes Pol Iriansyah, Wakil Walikota Achmad Purnomo serta perwakilan dari FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Helmi Sakdilah dan juga Kepala Kesbangpol Suharso.

Hadir pula siang itu dari pihak gereja yang diwakili oleh Pendeta Sukarni. Sementara dari pihak masyarakat diwakili oleh Parno yang didampingi pengurus LUIS Edi Lukito serta pihak laskar Agus Junaidi.

Pendeta Sukarni saat diminta memberikan penjelasannya mengklaim bahwa gereja Kristen Indonesia yang ia bangun sudah memiliki ijin lengkap. Bahkan yang melakukan peletakan batu pertama adalah Walikota Solo Fx Hadi Rudiyatmo.

Sementara itu Parno selaku tokoh masyarakat Busukan memberikan bantahannya.

“Sampai sekarang tidak ada warga Busukan yang menjadi jemaat dua geraja tersebut. Namun mengapa masih ingin mendirikan geraja lagi ?” ujar Parno saat memberikan penjelasannya.

Umat Islam sebenarnya juga sudah memberikan toleransi kepada umat lain namun ternyata hal ini dimanfaatkan oleh pihak gereja untuk terus membangun tempat ibadah .

Dulu pernah ada pendeta yang bernama Hengky Narto sabdo yang ingin membangun geraja dataupun sekolah namun hal itu diprotes warga dan akhirnya niat itu diurungkan.

“Untuk itulah kami menuntut agar GKI harus ditutup selama-lamanya karena terlah meresahkan masyarakat sekitar” tambahnya.

Sementara itu Wakil Walikota Achmad Purnomo memberikan saran agar diberikan waktu satu bulan untuk dibentuk sebuah tim kecil yang ditugaskan untuk meneliti apakah syarat-syarat pendirian gereja sudah sesuai prosedur atau belum. Dan untuk sementara selama satu bulan tersebut gereja tidak boleh digunakan.

Tak puas dengan mediasi tersebut ratusan masa akhirnya mendatangi bangunan gereja yang terletak di kampung Busukan Rt 6 Rw 27 dan melakukan penyegelan menggunakan beberapa spanduk./ http://fujamas.net

(nahimunkar.com)

 

(Dibaca 892 kali, 1 untuk hari ini)