Sekadar crito. Menjelang saya nikah, dulu sedang marak seminar2 tentang bagaimana jalan keluar bagi keluarga sibuk dalam mendidik anak2nya.

Seminar2 itu lambat laun kemudian membuahkan perpanjangan waktu belajar di sekolah, dari tengah hari diperpanjang sampai sore. Maka muncullah SDIT SDIT.

Sebelumnya, ketika masih gaduh2nya seminar2 itu, saya menikah. Ngeri mendengarkan seminar2 itu. Maka istri saya, saya wajibkan berhenti dari kerja. Harus jadi ibu rumahtangga benar2. Begitu kami punya anak dan kemudian anak2 yg sekolah sudah 3 anak, muncul SDIT peiode awal, ketiga-tiga anak saya semuanya saya cabut dari SD dimasukkan ke SDIT. Kemudian adik2nya lima anak lagi belakangan cukup disekolahkan yang setengah hari, kemudian pulang bercengkerama dengan ibunya.

Ternyata, walau sama2 semua bisa bercengkerama dengan ibunya di rumah, namun hasilnya berbeda. Yang sekolahnya lebih panjang waktunya, tidak sebagus yang lebih panjang bercengkerama dengan ibunya. Terutama dalam hal ketajaman rasa kemanusiaannya. Rada2 cuek lah, tapi mungkin ga’ sadar atau dianggapnya ga’ masalah. Dan itu tidak sempat untuk dididik kembali. Walau tampaknya mereka ingin memperbaiki diri, tapi tak semudah yang telah terbina oleh ibu kandungnya secara intensip. Padahal bedanya hanya berapa jam tiap harinya, namun ternyata hasilnya berbeda.

Bagaimana pertumbuhan anak2 di dunia ini yang hampir sehari harinya tidak sempat dibina oleh ibu kandungnya? Saya tidak bisa membayangkannya, ketika nanti mereka tumbuh jadi pemimpin2 di mana2. Apalagi kalau jauh dari agama, maka betapa mengerikannya.

Generasi mengikuti langkah syetan

Sekarang saja gejala di mana mana tumbuh generasi yang mengikuti cara setan dalam hal minum pakai tangan kiri. Padahal sudah dituntunkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, makan dan minum itu agar pakai tangan kanan, dengan membaca bismillah. Tapi di mana-mana kita lihat, orang-orang minum pakai tangan kiri, ya itulah cara minum setan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

{ إذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ , وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ ; فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ , وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ } . رَوَاهُ مُسْلِمٌ 3764, وَأَبُو دَاوُد , وَابْنُ مَاجَهْ

Apabila seseorang dari kalian makan maka hendaknya ia makan dengan tangan kanannya, dan apabila ia minum hendaknya ia minum dengan tangan kanannya, karena sesungguhnya syetan itu makan dengan tangan kirinya, dan ia minum dengan tangan kirinya. (HR Muslim nomor 3764, Abu Daud, dan Ibnu Majah).

Syetan itu makan dan minum pakai tangan kiri. Maka orang yang makan atau minum pakai tangan kiri itu meniru cara makan dan minum syetan atau menyerupai syetan, bahkan syetan ikut bergabung dalam makan dan minumnya. Karena ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

{ مَنْ أَكَلَ بِشِمَالِهِ أَكَلَ مَعَهُ الشَّيْطَانُ وَمَنْ شَرِبَ بِشِمَالِهِ شَرِبَ مَعَهُ الشَّيْطَانُ }( رَوَى أَحْمَدُ عَنْ عَائِشَةَ مَرْفُوعًا ” تحفة الأحوذي شرح حديث 1721)

Barangsiapa makan dengan tangan kirinya maka syetan makan bersamanya, dan barangsiapa minum dengan tangan kirinya maka syetan minum bersamanya. (HR Ahmad, dari ‘Aisyah, marfu’ dengan sanad hasan, Tuhfatul Ahwadzi syarah Hadits At-Tirmidzi nomor 1721).

Kencing sembarangan

Di samping itu dikhawatirkan tumbuh generasi di mana mana yang kencing sembarangan, tidak menjaga diri dari cipratan najisnya, dan bahkan kemudian tidak cebok pula. Padahal sudah ada ancamannya yaitu azab kubur.

Kebanyakan yang disiksa di dalam kubur karena kencing yang tidak bersih dan tidak beres. Hal ini pun menunujukkan keyakinan seorang muslim akan adanya siksa kubur.

Hadits berikut disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Bulughul Marom saat membahas bab “Buang Hajat”.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – اِسْتَنْزِهُوا مِنْ اَلْبَوْلِ, فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ اَلْقَبْرِ مِنْهُ – رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيّ
وَلِلْحَاكِمِ: – أَكْثَرُ عَذَابِ اَلْقَبْرِ مِنْ اَلْبَوْلِ – وَهُوَ صَحِيحُ اَلْإِسْنَاد ِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersihkanlah diri dari kencing. Karena kebanyakan siksa kubur berasal dari bekas kencing tersebut.” Diriwayatkan oleh Ad Daruquthni. Diriwayatkan pula oleh Al Hakim, “Kebanyakan siksa kubur gara-gara (bekas) kencing.” Sanad hadits ini shahih./ https://rumaysho.com

Hadits berikut ini juga menegaskan.

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ، فَقَالَ: «إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ، وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ» ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً، فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ، فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا»

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya keduanya sedang diazab, dan tidaklah keduanya diazab disebabkan suatu perkara yang besar (menurut kalian). Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lain suka mengadu domba antara manusia.” Beliau lalu mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah, kemudian beliau belah menjadi dua bagian dan beliau tancapkan satu bagian pada masing-masing kuburan. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?” Beliau menjawab: “Mudah-mudahan diringankan azab tersebut dari keduanya selama pelepah kurma itu belum kering.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Abbas )http://asysyariah.com

Tidak menjaga diri dari najis kencing di antaranya mengakibatkan buruknya hubungan dengan Allah Ta’ala dalam ibadah. Sedang suka mengadu domba adalah tidak menjaga mulut dari membuat permusuhan di kalangan manusia. Dua-dua perbuatan buruk itu diancam azab kubur.

Bagaimana ketika tumbuh generasi yang buruk hubungannya dengan Allah dan buruk pula terhadap sesama manusia, gara-gara mereka tidak dididik secara baik dalam keluarga terutama oleh ibunya?

Kerusakan besar, ketika umat ini melengahkan anak-anaknya dari pendidikan ibu dalam rumah tangga masing-masing, hingga tumbuh generasi secara serempak yang buruk hubungannya dengan Allah dan buruk pula dalam hubungan kebaikan dengan sesama manusia. Agama umat ini rusak, sedang kehidupan sosialnya pun rusak.

Keberkahan tentu saja hilang dan bahkan dicabut. Lebih celakanya lagi ketika generasi umat ini kemudian tumbuh jadi antek-antek penjajah dan musuh Islam. Sekarang pun sudah marak hingga menjengkelkan. Ngakunya atau KTPnya Islam, tapi sikapnya mendukung orang kafir penista Islam. Tidak dapat dibayangkan, bagaimana pula saat-saat mendatang, bila tidak diantisipasi dari sekarang.

Oleh karena itu betapa pentingnya Umat Islam mengikuti perintah Allah Ta’ala dengan sungguh-sungguh, yang telah wanti-wanti dengan firman-Nya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦ [سورة الـتحريم,٦]

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan [AtTahrim6]

Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 635 kali, 1 untuk hari ini)