Oleh: Choirul Hisyam

Jejak-Ilustrasi_8236753267532

Ilustrasi: okezone.com

Jejak gerakan Wahabi (Salafi) di Indonesia sebenarnya sudah ada pada abad ke 18 dengan corak ragam yang berbeda-beda dalam cara dan bentuknya sesuai dengan perbedaan kemampuan tokoh-tokohnya serta lingkungan dimana mereka berada, namun demikian gerakan-gerakan tersebut menuju satu sasaran yang sama dan berjuang dibawah satu semboyan yaitu kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta kembali ke jalan kaum Salaf. Karena itu, sebagian orang menamakan gerakan-gerakan tersebut dengan nama gerakan Salafiah.

Gerakan Wahabi (Salafi) di Indonesia dimulai dengan kelahirannya di Sumatera, salah satu lima pulau terbesar di Indonesia, pada tahun 1802 atas inisiatif beberapa orang Haji dari umat Islam di pulau Sumatera tersebut yang kembali dari Mekkah yang setelah mereka disana mengadakan hubungan dengan tokoh-tokoh Wahabi (ini nama yang diberikan oleh para penentangnya), merekapun merasa puas akan kebenaran Dakwah Wahabi (Salafi) dan mengikutinya.

Mereka itu adalah Haji Miskin dan kawan-kawa yang dikenal dengan sebutan “Harimau nan Salapan”. Orang-orang awam yang tidak mengetahui hakekat seruan mereka itu, menamakan “Golongan Padri”. Kemudian peperangan yang sengit yang terjadi antara mereka dan pengikut mereka di satu pihak, melawan penjajah Belanda ditambah dengan  lawan-lawan Dakwah Wahabi (Salafi) di pihak lain, perang ini terkenal denga Perang Padri”.

Perselisihan yang terjadi antara para pelopor Dakwah Wahabi (Salafi) ini dan para penentangnya telah memuncak dimana kekuatan Dakwah ini semakin kuat hingga Pemerintah Penjajah Belanda merasakan adanya ancaman terhadap eksistensi dan pengaruhnya sehingga Pemerintah Penjajah Belanda menumpas gerakan Wahabi (Salafi) dan membasminya sebelum terlambat. Penjajah Belanda kemudian memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengobarkan peperangan melawan orang-orang Islam pengikut Gerakan Dakwah Wahabi (Salafi) ini dengan dalih demi melindungi eksistensi golongan adat di daerah itu. Pertempuran serta perlawanan antara Gerakan Dakwah Wahabi (Salafi) dan Penjajah Belanda telah berlangsung lebih dari lima belas tahun (1822-1837 M) yang berakhir dengan kemenangan pihak Penjajah Belanda dimana akhirnya mereka berhasil menguasai Sumatera Barat, tanah Minangkabau.

Kekuatan Penjajah Belanda telah mengalahkan pengikut-pengikut Dakwah Wahabi (Salafi) ini, dimana sebagian besar tokohnya telah mati syahid. Namun Dakwah itu sendiri tidaklah padam, bara dan nyala apinya akan tetap hidup dan membasmi  serta membakar segala yang ada di sekitarnya. Api Dakwah terus menyala, di tangan beberapa tokoh yang tulus ikhlas, seperti Syeikh Muhammad Abdullah Ahmad (1878-1933 M), Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah (1879-1945 M) ayah dari Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah, Syeikh Muhammad Jamil Jambek (1860-1947 M) dan Syeikh Haji Thayyib Umar (1874-1920 M).

Pada akhirnya Gerakan Dakwah Wahabi (Salafi) mengambil cara dan bentuk lain yang baru. Maka didirikanlah pusat-pusat pendidikan dan ceramah-ceramah serta sekolah-sekolah dan pondok-pondok dengan nama “Thawalib Sumatera”. Kemudian majalah, bulletin dan brosur di terbitkan  seperti; Al-Munir, Al-Bayan, Al-Basyir dan Al-Itqan, Al-Ilmiyah dan Iqadhum Niyam. Ini semua mempunyai pengaruh yang nyata dalam gerakan reformasi dan telah mendatangkan buah yang banyak.

Kemudian Gerakan Wahabi (Salafi) inipun mulai tersebar ke seantero daerah dan muncul di berbagai tempat. Gerakan Wahabi (Salafi) telah muncul di Aceh dibawah pimpinan Syeikh Al-Ashfihani Aceh, muncul pula di pulau-pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku.

Di pulau Jawa lahirlah organisasi “Muhammadiyah” tahun 1912 M di Jogyakarta, demikian juga lahir organisasi “Al-Ishlah wal Irsyad” pada tahun 1914 M di Jawa Barat, organisasi Persatuan Islam (PERSIS) pada tahun 1923 M.

Suatu hal yang kebetulan bahwa organisasi terbesar yang lahir di Indonesia atas dasar gerakan reformasi (Wahabi) dan Salafiyah, telah memilih suatu nama yang menisbahkan dengan Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, organisasi tersebut adalah organisasi Muhammadiyah. Apakah pengambilan nama tersebut hanya secara kebetulan saja atau memang sudah diperhitungkan.

Organisasi ini lahir di tangan pendirinya yaitu KH. Ahmad Dahlan serta murid-murid beliau yang penuh semangat serta para pengikut beliau yang tulus. KH. Ahmad Dahlan ini sebelumnya adalah seorang Khatib di Masjid Kasultanan Yogyakarta, beliau menduduki jabatan ini dengan gelar “Khatib Amin”. Beliau termasuk pedagang batik yang kaya, dan telah menunaikan ibadah haji dua kali.

Sepulang beliau dari menunaikan ibadah haji yang terakhir tahun 1902, setelah tinggal beberapa lama di Mekkah dimana beliau mengadakan hubungan dengan tokoh-tokoh gerakan Wahabi, mengetahui hakekat dan prinsip-prinsipnya serta mendengar hasil yang telah dicapainya dalam membasmi kerusakan-kerusakan serta membawa manusia kembali ke agama mereka yang benar, setelah beliau banyak menelaah pendapat tokoh-tokoh reformasi seperti Syekh Ibnu Taimiyah berserta muridnya Syekh Ibnul Qayyim Al-Jauziah, Syekh Muhammad Abduh  berserta muridnya Syekh Muhammad Rasyid Ridho dan yang lainnya.

Setelah itu semua, bulatlah tekad beliau KH. Ahmad Dahlan untuk menyebarkan gerakan reformasi ini  dan memulai gerakan Salafiyah. Untuk itu beliau berhenti dari jabatan di Masjid Kesultanan, untuk kemudian beliau berjuang demi gerakan itu dengan jiwa dan harta beliau serta beliau lakukan itu semua dengan ketekunan yang tiada bandingannya. Beliau wafat tahun 1923 M dengan jiwa yang puas dan memuaskan setelah beliau menyaksikan sendiri tersebarnya dakwah dan gerakan beliau, buah dari gerakan beliau serta bertambahnya pendukung dan pengikut beliau.

Allahpun telah menghendaki bahwa di kemudian hari organisasi ini mempunyai cabang dan rantingnya di segala penjuru tanah air serta memiliki sekolah-sekolah dengan berbagai tingkatannya, perguruan tinggi, rumah sakit, klinik, rumah yatim. Sehingga organisasi Muhammadiyah tidak diragukan lagi adalah organisasi terbesar yang mengemban gerakan reformasi di Indonesia.

Organisasi  Al Ishlah wal Irsyad adalah organisasi yang menghimpun sebagian putra-putra keturunan Arab di Indonesia. Organisasi ini kelahirannya dimulai dengan kedatangan Syekh Ahmad As-Sukarti As-Sudani ke Jakarta. Beliau telah menetap di Madinah dalam jangka waktu yang tidak sedikit sebelum sampai ke Indonesia, di sana beliau telah menghirup ilmu dien dari sumbernya yang jernih dan beliau telah mempelajari  prinsip-prinsip gerakan reformasi dari tokoh-tokoh ulama Madinah.

Organisasi ini telah sukses dan memiliki lembaga-lembaga yang berkerja untuk gerakan pembaharuan serta penerangan agama di kalangan umat Islam, sehigga ia mempunayai banyak pengaruh positif. Syekh Ahmad Sukarti mempunyai banyak murid serta pengikut yang mempelajari berbagai ilmu dari beliau serta wewarisi semangat jihad dan perjuangan beliau, diantaranya ada Tuan Abdurrahman Baswedan di Yogayakarta, dan Tuan Umar Hobaish di Surabaya.

Selanjutnya organisasi Persatuan Islam (PERSIS) yang lahir karena ide-ide dari Syaikh Haji Zam Zam Palembang pada tahun 1923 M. Tokohnya adalah Syekh Ahmad Hasan beliau adalah seorang ulama yang menonjol dalam gerakan pembaharuan agam serta kesadaran Islam. Dalam gerakan beliau (A Hasan) telah menempuh suatu cara yang mendekati cara yang di tempuh  Syekh  Muhammad bin Abdul Wahab yaitu tegas, terus  terang dan tidak berminyak air. Beliau selalu memerangi kemusyirikan, bid’ah  dan kemungkaran, dan selalu mengajak kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah, menolak sikap fanatic buta dan taqlid madzhab. Ini beliau  melalui ucapan-ucapan beliau yang tajam dan pena beliau yang tajam pula, beliau tidak takut celaan orang demi kebenaran. Beliau memiliki banyak buku karangan, diantaranya; “Tafsir Al-Furqon, Muhammad Rasulullah, Kitabush Shalah, dan buku Soal Jawab”, buku Soal Jawab adalah buku yang memuat fatwa-fatwa beliau tentang agama.  Menerbitkan Majalah “Pembela Islam” yang mempunyai pengaruh besar dalam pembinaan generasi muda Islam khususnya para cendikiawan. Beliau mempunyai beberapa orang murid yang menonjol yang telah belajar agama pada beliau, diantaranya Muhammad Natsir eks Perdana Menteri RI, Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, anggota dewan pendiri Rabithah Alam Islami.

Organisasi (Persis) ini mempunyai  beberapa lembaga, diantaranya ialah pondok pesantren di kota Bangil Jawa Timur yang dahulu berada dibawah pimpinan Ahmad Hasan. Adapun direkturnya Al-Ustadz Abdul Qadir Hasan salah seorang putra dari Syekh Ahmad Hasan yang menggantikan beliau, maka beliau menjadi sebaik-baik pewaris dari sebaik-baik orang yang diwarisi.

Disamping itu masih ada beberapa lembaga yang lain yang tersebar di beberapa penjuru tanah air yang dipelopori oleh tokoh-tokoh yang tidak tergabung ke dalam salah satu organisasi atau lembaga yang tersebut di atas, namun demikian lembaga-lembaga itu mempunyai andil besar dalam menyebarkan gerakan reformasi dan gerakan Salafiyah ini. Tokoh-tokohnya meskipun berbeda-beda kemampuan namun sama-sama bekerja demi tersebarnya dakwah ini serta memerangi segala kerusakan dan penyelewengan dalam Islam sekuat tenaga.

Lembaga-lembaga tersebut, diantaranya; Madrasah Amiriyah Islamiyah, Madrasah Sa’diyah di Sulawesi, Madrasah Islamiyah Sulthaniyah dibawah pimpinan Syekh Muhammad Basyuni Imron di Sambas Kalimantan, Madrasah Mua’llimin yang didirikan oleh Al-Ustadz Haji Abdurrahman di Amuntai, Madrasah Wathaniyah Islamiyah di Jawa Tengah dan Pondok Pesantren Maskumambang di Gresik.

Secara khusus terhadap Pondok Pesantren Maskumambang Gresik , bahwa pada mulanya para pengasuh Pondok Pesantren ini termasuk lawan-lawan keras dari Wahabi yang menyatakan bahwa aliran Wahabi adalah golongan yang menyeleweng dari agama serta keluar dari golongan Ahlus Sunnah Wal Jamaah serta menyesatkan ummat Islam selain dia sendiri adalah sesat, bahwa beliau tidak senang kepada Rasulullah, menghina para wali, meremehkan syiar-syiar agama serta segala kedustaan lainnya.

Hal ini tidak mengherankan disebabkan mereka itu belum mendapatkan informasi tentang gerakan Wahabi selain yang dihembuskan oleh lawan-lawan gerakan ini yang terdiri dari orang-orang yang mengaku berilmu, para pengikut syarif-syarif Hijaz yang telah mereka tulis dalam kitab-kitab karangan yang mereka penuhi dengan kedustaan-kedustaan, kabar-kabar palsu serta kisah-kisah khayalan yang sangat jahat untuk gerakan ini.

Namun keadaan berubah setelah Syekh Ammar Faqih salah seorang putra dari pengasuh Pondok Pesantren Maskumambang  kembali dari menunaikan ibadah haji tahun 1928 M. Syekh Ammar Faqih yang telah mengadakan hubungan dengan tokoh-tokoh gerakan Wahabi selama beliau berada di Mekkah. Beliau telah mendapatkan berita (keterangan) yang sebenarnya dari gerakan Wahabi serta prinsip-prinsipnya.  Sehingga beliau sadar betul bahwa betapa dampak dari berita dusta yang selalu di propagandakan dalam melawan gerakan ini, beliaupun yakin bahwa kebanyakan ulama Indonesia telah menjadi korban kedustaan.

Dikala beliau mengungkapkan pendapat-pendapat beliau di muka orang banyak, terjadilah perselisihan dan debat antara beliau melawan ulama yang masih memegang gambaran lama. Perselisihan itupun berjalan lama dan semakin memuncak, namun akhirnya dakwah beliaulah yang bisa diterima dengan tersebar luas dan makin banyak pengikutnya.

Sejak urusan Pondok diserahkan ke tangan beliau menggantikan ayah beliau Syekh Muhammad Faqih, maka pengaruh gerakan ini makin bertambah dan makin luas sehingga pondok ini merupakan pusat penyebaran gerakan reformasi dan gerakan salafiyah di daerahnya. Kebanyakan dari tokoh-tokoh reformasi serta pengemban gerakan ini yang menggabungkan diri ke dalam gerakan-gerakan reformasi, kebanyakan adalah lulusan Pondok Pesantren ini. Syekh Ammar Faqih mempunyai beberapa karangan kitab antara lain; Tuhfatul Ummah fil Aqaid wa Raddil Mafasid, Hidayatul Ummah, Shilatul Ummah dan Tahdidu Ahlis Sunnah Wal Jamaah.

Kemudian setelah beliau meninggal dunia, beliau digantikan oleh Ustadz Nadjih Ahjad  seorang menantu dan murid beliau.

Pada masa kepemimpinan pemangku pondok yang sekarang ini, maka telah ditetapkan “Kitab Tauhid” Syekh Muhammad bin Abdul Wahab sebagai kitab wajib yang harus dipelajari di Pondok Pesantren Maskumambang Gresik, serta kitab-kitab yang senafas.

(nahimunkar.com)

 _____________

*)Di sarikan dari buku “PENGARUH WAHABI DI INDONESIA” oleh KH. Nadjih Ahjad Pemangku Pondok

    Pesantren Maskumambang Dukun Gresik, Penerbit Abd Muis Bangil, 1981

(Dibaca 10.504 kali, 4 untuk hari ini)