BANDUNG (voa-islam.com) – Media berhasil membangun opini bahwa teror identik dengan muslim “radikal”. Sehingga ada alasan web-web (islam) yang dinilai “radikal” akan dibredel. Hal tersebut dikatakan oleh Sekretaris Umum DDII Jawa Barat Ustadz Roinul Balad.

“Bahkan sekolah-sekolah yang dalam proses pendidikannya menggunakan buku-buku yang dianggap mengajarkan “radikalisme” tidak luput dari penertiban,” katanya kepada voa-islam.com, belum lama ini.

“Pertanyaannya, apa definisi “radikal” tersebut? Baru-baru ini terjadi di Depok, sebuah sekolahan akan dilaporkan oleh GP Ansor kepada kemenag atau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan karena menggunakan buku “Anak Islam Suka Membaca”, hanya karena didalamnya ada istilah jihad, sahid, perang, yang dianggap mengajarkan ‘radikalisme’,” lanjutnya.

Padahal, lanjut akvitis pergerakan Islam senior ini, kalau hanya alasan istilah, di Al Qur’an ada beberapa kali istilah itu disebut. Apakah berarti Al Qur’an mengajarkan “radikalisme” dan harus dibredel juga?

“Apakah justru game (online) yang marak sekarang ini tidak lebih mengajarkan “radikalisme”? Apakah organisasi masa tersebut GP Anshor juga akan melakukan penindakan terhadap game (online)? Yang sudah jelas akibatnya terhadap tindak jahat dan radikalisme yang dilakukan anak-anak,” paparnya.

“Untuk kepentingan apa dan siapa GP Ansor melakukan hal tersebut? Begitu juga apakah GP Anshor mau santroni sekolah-sekolah Kristen yang bisa jadi buku-buku mereka juga mengajarkan radikalisme?. Astaghfirullah…,” pungkasnya.

Belum lama ini Ormas GP Anshor menemukan sebuah buku untuk anak TK dan menilai isi buku itu mengajarkan radikalisme, karena dibuku itu terdapat kata ‘syahid di medan jihad’, ‘sabotase’, dan sebagainya. [syahid/voa-islam.com]

Sumber: voa-islam.com/ Sabtu, 19 Rabiul Akhir 1437 H / 30 Januari 2016 05:39 wib

(nahimunkar.com)