Selamat Idul Fitri

 

TENTANG UCAPAN MINAL AIDIN WAL FAIZIN DAN MAAF LAHIR BATIN DI HARI RAYA

Mengucapkan minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin adalah kebiasan kaum muslimin di negeri kita di hari raya. Sebagian orang menyalahkan ucapan ini dengan alasan “tidak ada tuntunannya”, dan orang Arab pun katanya tidak pernah mengucapkan ini.

Seperti apa sebenarnya hukumnya mengucapkan ucapan selamat semacam ini?

Adakah penyimpangan syariat pada tradisi yang sudah berjalan turun temurun di negeri kita ini?

Berikut ini tulisan Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Darini tentang hukum mengucapkan “minal aidin” dan “mohon maaf lahir batin” di hari raya.

Ustadz DR. Musyaffa’a Ad Darini (Ad Dariny) adalah doktor ushul fiqih alumni Universitas Islam Madinah. Beliau berhasil menamatkan studi doktoralnya dengan predikat summa cum laude. Disertasi beliau berjudul “Metodologi Ulama Syafi’iyah dalam Mengklasifikasikan Dalil, dan Cara Mentarjih Dalil-Dalil yang Bertentangan”

———

Salahkah ucapan *Minal Aidin Wal Faizin*?

======

Sebagian orang menyalahkan ucapan selamat saat hari raya “Minal aa’idin wal faa’iziin”, karena artinya, “Semoga termasuk orang-orang yang kembali dan menang.”

Mereka juga mengatakan: orang-orang Arab tidak menggunakan ucapan selamat seperti itu.

Maka kita katakan:

1. Arti yang paling tepat untuk ucapan “Minal Aa’idin Wal Faa’iziin” adalah, “Selamat berhari raya, dan semoga termasuk orang yg mendapatkan kemenangan.”

Maksud dari ucapan ini adalah memberikan ucapan selamat berhari raya, dan MENDOAKAN semoga orang tersebut termasuk orang yang menang dengan banyak pahala, ampunan, dan kemuliaan yang dijanjikan oleh Allah di Bulan Ramadhan.

2. Tidak benar bila ‘ucapan selamat’ itu tidak digunakan orang-orang Arab, karena saya sendiri -selama di Madinah- pernah mendengar beberapa orang arab mengatakannya, terutama mereka yang berasal dari negeri Syam.

3. Para ulama telah menegaskan, bahwa ucapan selamat untuk datangnya hari raya, tidak ada batasannya, selama maknanya baik, maka dibolehkan karena syariat tidaklsh membatasinya dengan ucapan atau doa-doa tertentu.

Hal ini sama dengan dibolehkannya merayakan hari idul fitri dengan permainan, nasyid, dan hal-hal mubah lainnya. Syariat tidak membatasi jenis permainannya, atau jenis nasyidnya. Selama hal mubah itu tidak mengandung hal-hal yg diharamkan, maka dibolehkan.

Sehingga ‘ucapan selamat’ ini tidak mengapa, maknanya baik, dan cocok diucapkan di momen Hari Raya Idul Fitri, wallahu a’lam.

4. Bagi yg ingin memasyarakatkan ucapan selamat yg dipakai oleh para sahabat -radhiyallahu anhum-, maka itu merupakan hal yang sangat baik. Mereka mengucapkan,

“Taqobbalallohu Minna wa Minkum”, yang artinya semoga Allah menerima amal kebaikan kita semua.

Namun, bukan berarti kita boleh mengharamkan atau menyalahkan ‘ucapan selamat’ lainnya tanpa dasar dalil yang kuat, wallahu a’lam.

5. Di antara contoh ucapan selamat lain yg maknanya baik dan biasa diucapkan oleh sebagian kaum muslimin adalah:

“‘Iidukum Mubarok” (semoga hari rayanya penuh dengan keberkahan).

“‘Iidukum Sa’iid” (semoga hari rayanya penuh dengan kebahagiaan).

“Taqobbalahu Thoa’atakum” (semoga Allah terima amal ketaatannya).

Tidak mengapa pula menyelipkan ucapan “Mohon maaf lahir batin”, setelah ucapan minal ‘aa-idin wal fa-izin, karena maksudnya meminta atau mengingatkan agar saling memaafkan. Waktu hari raya adalah momen berkumpulnya karib kerabat, sehingga sangat pas bila digunakan utk saling memaafkan dan mempererat atau memperbaiki tali silaturrahim.

Sekian, semoga bermanfaat.

 

Via fb

Kampus El Hijrah

· 23 Mei · 

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 141 kali, 1 untuk hari ini)