Oleh : Yusuf Utsman Baisa

(Al-Irsyad) Diantara wujud maksiat besar yang bertebaran di negeri ini dan mendapatkan perlindungan dari Pemerintah adalah “Lokalisasi Pelacuran” dan jumlahnya begitu banyak, dimana yang tercatat oleh Kementerian Sosial ada 183 lokalisasi di Indonesia yang belum ditutup.

Padahal kita semua tahu pengaruh buruk dari lokalisasi pelacuran terutama bagi generasi muda, sehingga kita mendapati betapa beratnya perjuangan seorang walikota Surabaya bersikeras dalam menutup sebuah lokalisasi terbesar di Indonesia “Dolly” yang telah dibuktikannya akibat buruknya secara nyata, namun lembah jorok ini dilindungi oleh PDIP dan komunitas preman yang mengelilinginya, dimana mereka dengan mati-matian membelanya.

Betapa sakitnya jiwa kita saat disayat-sayat oleh berita dan cerita tentang anak-anak remaja yang menjadi pelanggan PSK Dolly cukup hanya dengan membayar dua ribu rupiah saja sudah mendapat pelayanan layaknya seorang hidung belang, dan jumlah merekapun tidak bisa dianggap masalah ringan.

Padahal perbuatan yang dilakukan oleh para remaja tersebut bukan hanya merusak mental mereka sendiri, namun juga akan menulari tubuh mereka dengan penyakit busuk yang sangat berbahaya seperti Aids dan sejenisnya.

Para remaja putri di sekitar lingkungan itupun terpengaruh karena seringnya bersinggungan dengan lingkungan yang buruk ini, bahkan tidak sedikit dari mereka setelah itu menjadi PSK pula, seperti cerita yang beredar tentang seorang putri tukang cuci yang bekerja di lingkungan bejat ini ternyata berikutnya juga menjadi PSK.

Lokalisasi Dolly yang telah beroperasi sejak zaman Belanda ini telah melebar dan menulari daerah sekitarnya seperti Gang Lebar, Putat Jaya dan Jalan Jarak yang juga jadi tempat prostitusi, sehingga jumlah PSK disana diperkirakan hampir 1.000 orang.

Sulit dibayangkan oleh siapapun : Apa jadinya negeri ini jika dipimpin oleh partai yang dikelilingi oleh komunitas preman dan didukung oleh partai-partai yang sangat permisif terhadap beredarnya maksiat dan komoditi haram lainnya yang telah merebak dengan cepat karena dimodali oleh cukong-cukong kafir yang menghalalkan segala cara untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya ?

Pada saat ini Muslimin memang belum mampu menghadang beredarnya maksiat dan komoditi haram lainnya secara total, tapi paling tidak sejak sekarang sudah mulai menyiapkan jalan dan membuka lahan agar esok hari bisa menghadang barang dan jasa haram itu habis-habisan.

Pada saat ini kemunculan sosok Prabowo yang dikelilingi oleh partai-partai Islam dan didukung oleh banyak kalangan Muslimin meluapkan harapan baru untuk bisa bersikap tegas terhadap berbagai bentuk perbuatan amoral, diantaranya berupa ketegasan terhadap perdagangan barang dan jasa haram yang didukung dan dilindungi oleh manusia-manusia pengikut Setan.

Berikutnya mereka diharapkan bisa segera melahirkan undang-undang dan peraturan pemerintah yang akan mampu mengikat aparat pemerintah dan kepolisian di seluruh pelosok negeri ini untuk bersikap tegas terhadap berbagai maksiat yang sudah jelas akibat buruknya di tengah masyarakat.

Di sisi yang lain akibat buruk dari Globalisasi komunikasi dan informasi yang ditunggangi oleh para Zionist dan antek-anteknya terus merebak menembus berbagai wilayah Nusantara dan semakin merata sampai ke desa-desa terpencil sekalipun.

Keadaan ini semua menuntut adanya sosok pemimpin yang kuat dalam memegang prinsip, tegas dalam mengambil keputusan dan berani berhadapan dengan para perusak moral yang pada saat ini bertengger di puncak-puncak kekuasaan dan memiliki kekuatan pengaruh yang sulit dikalahkan.

Persaingan politik pada saat ini telah mengarah kepada PERTEMPURAN IDIOLOGI yang semakin memberikan warna yang jelas antara dua kelompok manusia yang saling berseteru, yaitu “Pembela Fithroh” melawan “Pengikut Setan” (Illuminaty), dimana Pembela Fithroh selalu berupaya membela nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan manfaat, sementara Pembela Setan selalu bersikap permisif terhadap kesesatan, keburukan dan setiap hal yang berbahaya.

Akibatnya mulai terasakan adanya garis demargasi yang lambat-laun semakin memperlihatkan adanya jurang pemisah antara dua kubu yang saling berseberangan tersebut, hal ini ditandai dengan semakin jelasnya kecenderungan dan keberpihakan setiap orang dari setiap kubu tersebut dan semakin jelasnya pula sikap dan perbuatan yang ditampilkan.

Bukti nyata yang ada di lapangan menunjukkan bagaimana orang-orang dari partai yang sama ternyata bisa terbelah menjadi dua bagian yang saling berseberangan.

Oleh karena itu sudah saatnya atas Muslimin untuk membuang keraguan dalam mengambil sikap dalam perseteruan ini, agar tidak semakin terlambat dan segera mulai membangun kekuatan dan menyiapkannya, bukan termangu menunggu perubahan situasi atau berharap adanya orang yang berbaik hati memberi peluang dan kesempatan.

Justru Muslimin sendirilah yang harus menerobos situasi yang ada, dan mengubahnya dari dalam, dan berikutnya membangun peluang dan kesempatan yang memungkinkan perubahan kearah nuansa yang Islamy.

FP Ustad Yusuf Utsman Baisa

DPP PERHIMPUNAN AL-IRSYAD/ http://al-irsyad.or.id/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 590 kali, 1 untuk hari ini)