Semakin belajar bukannya semakin pandai namun malah bertambah sesat. Mau tahu sebabnya?

Imam Ibnu Taimiyyah berkata: “Demikianlah, sering kali ada orang yang menguasai  sebagian ilmu, sehingga dengan ilmu itu ia memiliki kelebihan dibanding mayoritas masyarakat yang belum menguasai  ilmu tersebut. Namun sayangnya karena ia bodoh tentang disiplin ilmu lain, ia ceroboh menafikan (mendustakan) segala yang belum ia ketahui.

Anak keturunan Nabi Adam (manusia) lebih sering terjerumus dalam kesesatan karena menentang dan menafikan sesuatu tanpa dasar ilmu, dibanding kesesatan akibat menetapkan dan meyakini sesuatu”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 17/336)*

Ya kadang kala karena merasa telah banyak ilmu, paling lama pengalamannya, tanpa sadar saya atau anda, terperangkap dalam kesombongan, sehingga merasa telah menguasai  semua ilmu. Akibatnya, apapun yang belum diketahui, langsung hajar dan ditentang, dianggap salah.

Usut punya usut ternyata bukannya salah namun karena belum pernah mendengar atau belum memahami, atau belum pernah mempelajari, lupa kalau di atas langit itu masih ada langit lagi.

Yuk introspeksi diri, agar dunia terasa adem, namun ingat ya, menurut Ibnu Taimiyyah bahwa yang menafikan ternyata lebih dekat kepada kesalahan dibanding yang menetapkan.

Semoga mencerdaskan.

Dr Muhammad Arifin Badri – 2 Mei pukul 20.19 ·

Via fb

====

Catatan pengutip, copas dari Maktabah Syamilah:

  • مجموع الفتاوى (17/ 336)

وَهَكَذَا تَجِدُ مِنْ عَرَفَ نَوْعًا مِنْ الْعِلْمِ وَامْتَازَ بِهِ عَلَى الْعَامَّةِ الَّذِينَ لَا يَعْرِفُونَهُ فَيَبْقَى بِجَهْلِهِ نَافِيًا لِمَا لَمْ يَعْلَمْهُ وَبَنُو آدَمَ ضَلَالُهُمْ فِيمَا جَحَدُوهُ وَنَفَوْهُ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَكْثَرُ مِنْ ظِلَالِهِمْ فِيمَا أَثْبَتُوهُ وَصَدَّقُوا بِهِ.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.385 kali, 1 untuk hari ini)