Foto: Asyari Usman (Facebook Asyari Usman)


Oleh: Asyari Usman*

Jakarta, Swamedium.com — Kerusuhan yang terjadi di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Inonesia (YLBHI) Jakarta, malam tadi (17/9/2017), tampaknya menguak konfirmasi awal tentang teka-teki kemunculan kembali Partai Komunis Indonesia (PKI). Indikasi ini tampak dari tindakan yang diambil kepolisian untuk membubarkan apa yang disebut sebagai “Seminar Sejarah 1965” yang diselengarakan di kantor hukum itu.

Polisi tentu memiliki informasi intelijen tentang seminar itu, dan tentang siapa-siapa yang menghadirinya. Kalau sekadar tidak memiliki izin berkumpul, toh selama ini sudah berkali-kali perhelatan bisa dilanjutkan setelah tercapai kesepakatan antara penyelenggara dan kepolisian. Konon pula yang menyelenggarakannya adalah YLBHI, pastilah soal tak berizin bukan masalah besar.

Peristiwa yang berlangsung malam tadi, pantas dicermati. Kalaulah seminar itu hanya berisi bahasan yang biasa-biasa saja, dengan peserta yang tak punya latarbelakang gerakan komunisme, sukar dipercaya kalau kepolisian akhirnya bertindak melakukan pembubaran.

Sebagai lembaga yang selama ini dihormati, YLBHI pastilah bisa selalu dipercaya oleh kepolisian. Tetapi, mengapa kali ini penjelasan YLBHI bahwa seminar itu bukan tentang PKI atau komunisme, tidak bisa diterima aparat keamanan?

Pertanyaan ini sangat rumit. Hanya kepolisian yang tahu persis dan memiliki data lengkap tentang penyelenggaraan seminar itu. Kalau seminar hanya membicarakan sejarah 1965, tentu bukan masalah besar.

YLBHI sebagai penyelenggara seminar, masih akan tetap bisa dipercaya sebagai “no-man’s land” –sebagai entitas netral. Tidak pro-PKI atau pro-yang bukan PKI. Lembaga bantuan hukum ini sudah sangat tersohor sebagai kelompok yang membela hak-hak sipil dan demokrasi setiap orang.

Barangkali, dari julukan pembela hak-hak sipil inilah tampaknya YLBHI malah dikhawatirkan menjadi tidak mau subjektif terhadap PKI atau komunisme. Sebab, para aktivis YLBHI memang dilatih untuk hanya melihat dan menjunjung tinggi sisi humanisme dari suatu gerakan. YLBHI tidak akan membeda-bedakan ideologi suatu kaum atau golongan ketika mereka harus memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Singkatnya, YLBHI tidak mengenal subjektivitas pandangan. Sementara, pihak-pihak lain yang telah merasakan pengalaman pahit pemberontakan 1965, memandang PKI dengan sangat subjektif. Mereka bertekad tidak akan pernah memberikan kompromi sedikit pun kepada PKI. Sedangkan YLBHI sebagai pembela hak sipil dan demokrasi, akan melayani semua orang/golongan dengan perlakuan yang sama.

Dalam pandangan subjektif saya, orang-orang yang ingin mengembalikan keberadaan PKI dan komunisme di Indonesia, tahu persis bahwa mereka bisa memanfaatkan YLBHI sebagai fasilitator kegiatan mereka. YLBHI pasti akan membantu pembelaan hak sipil dan demokrasi. Haram bagi YLBHI menunjukkan keberpihakan kepada ideologi apa pun juga.

Bagi saya, YLBHI masih tetap bisa dipercaya sebagai “no-man’s land” alias netral, tetapi kenetralan itulah yang justru sangat mencemaskan kita-kita yang menolak keras kehadiran PKI. Sebab, dengan kelihaiannya yang cukup tinggi, sisa-sisa PKI melihat YLBHI sebagai teman yang siap membantu.

Kita sangat prihatin kalau YLBHI menjadi korban “kebaikan” mereka sendiri.
Akan tetapi, dari mana pun kita melihat peristiwa kerusuhan malam tadi itu, kejadian ini pantas disebut sebagai konfirmasi awal untuk teka-teki kemunculan kembali (reemergence) PKI di Indonesia. (*)

*Penulis adalah wartawan senior

http://www.swamedium.com Posted by lucky Date: 18-09-2017 | 12:52

***

Ini Kesaksian Warga Soal Aksi Pembubaran Acara PKI di LBH Jakarta

Foto: Petugas kepolisian yang berjaga di depan Gedung YLBHI Jalan Diponegoro, Jakpus, Minggu (18/9) malam. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Seminar PKI yang bertajuk “Pelurusan Sejarah 1965/1966” di Gedung YLBHI, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat yang sempat dibubarkan oleh kepolisian pada Sabtu (16/9) lalu, kembali digelar di tempat yang sama, Minggu (17/9) malam. Hal ini membuat ratusan massa yang terdiri dari sejumlah aktifis dan warga setempat mendatangi lokasi digelarnya acara.

Dari informasi yang beredar di media, sejak pukul 21.30 WIB, massa mulai berdatangan dan berkumpul di depan Gedung YLBHI. Hingga Senin (18/9) dini hari tadi, aparat kepolisian masih mengejar beberapa orang yang diduga provokator dan perusuh.

Kami berhasil mendapatkan informasi langsung dari salah satu sumber Swamedium.com yang berada di lokasi. Berikut informasi lengkapnya.

“Horor dan mencekam (suasana malam tadi). Ngeri dengerin tembakan tembakan,” ujar dia.

Terkait kabar adanya pelemparan batu ke arah polisi, sumber itu mengatakan, lemparan batu berasal dari remaja warga setempat.

“Orang situ (warga setempat), anak anak tanggung, yang pada nyambitin batu ke polisi. Polisi terprovokasi, dan itu yang mereka mau juga, polisinya juga anak anak baru lulus, sengaja emang untuk dibentrokin,” kata dia.

“Posisi saya sempat hadap hadapan sama barikade polisi termasuk aktifis,” imbuhnya.

Kerumuman massa yang tadinya rapi berbaris, mulai kocar kacir ketika polisi melontarkan gas air mata.

“Konsentrasi pecah pas mereka (polisi) mulai keluarkan tembakan gas (air mata),” kata dia.

“Peluru pada meledak di depan muka saya, batu berterbangan di atas kepala, water canon menyambut,” lanjutnya.

Sementara, sumber itu menyebut, orang-orang yang ada di dalam halaman Gedung YLBHI terlihat santai, sementara di luar gedung, polisi merangsek massa.

“Itu yang peserta acara yang di dalem gedung pada ngerokok nyantai di halaman gedung LBH. Kurang ajar ga tuh, PKInya ga kita dapet, yang ada perang sama saudara sendiri polisi,” tutur sumber itu.

“Sengaja kayaknya tuh dibuat bentrok. Karena situasi juga udah panas pas kita sampe. Jadi fokus kita ke bentrokan, pelaku di gedung LBH dimasukin ke barakuda. Pada sengaja ngebulin asep (rokok) ke kita,” kisah dia.

Terkait acara yang digelar, sumber itu juga menyebut bahwa kegiatan yang diklaim pihak YLBHI sebagai acara seni, adalah benar acara tentang PKI. Bahkan, kata sumber itu, lagu ‘Genjer-genjer’ yang pernah dinyanyikan Gerwani, organisasi sayap PKI pada peristiwa G30S sempat dinyanyikan peserta.

“PKI nyata masih ada, dan saat ini dilindungi, kenapa saya bilang gitu, mereka seminar kenapa diijinin? Itu yang disesali,” tutur dia.

“Positif mereka nyanyiin (genjer genjer),” tukasnya.

Lebih lanjut dia mengklarifikasi soal foto korban yang beredar di media sosial.

“Itu kayaknya udah bukan di LBH, karena memang sempat menyebar luas karena polisi juga mengejar peserta aksi, lokasi udah bukan di LBH,” ungkap dia.

Foto: Foto salah satu warga yang tertembak yang beredar di media sosial. (ist)

Terkait kabar peluru karet yang ditembakkan polisi ke massa, dia juga memberikan keterangannya.

“Kalo peluru (karet) saya ga liat cuma peluru gas air mata banyak yang meledak di sekitaran saya,” kata dia.

Pengejaran polisi ke massa kontra acara PKI terus dilakukan meski waktu sudah dinihari. Sementara, di sisi lain, kata sumber itu, peserta acara PKI aman-aman saja.

“Polisi ngepung, hanya satu jalan yang ke arah RS Cipto yang dibuka, makanya banyak juga yang dikejar sampai ke sana,” tandasnya

“Polisi ngejar peserta sampai dapet, informasi sampai ke Manggarai pengejaran,” tambahnya.

“Yang pro PKI sih selamet, malah dievakuasi dari pintu belakang gedung LBH. Yang pro PKI ga ada diluar, PKI yg ada di dalem. Yang didalem yg dilindungi aparat,” kata dia. (*/ls)

Sumber : swamedium.com

(nahimunkar.com)