Seminar Membongkar Isu Syiah, Menuai Teror


Misteri dibalik pembatalan acara seminar sehari Menghadapi Makar Syiah dalam Revolusi dan Aqidah

Seminar sehari yang berjudul Menghadapi Makar Syi’ah dalam Revolusi dan Aqidah yang sedianya diselenggarakan pada Sabtu (30/4) ternyata batal diselenggarakan. Alasannya pihak Ta’mir mendaptkan terror dan acaman yang bertubu-tubi dari pihak luar yang diduga berasala dari kalangan Syiah.

Demikian keterangan yang disampaikan pihak panitia penyelenggara seminar, Gema Salam (Gerakan Mahasiswa Untuk Syari’at Islam) kepada media massa, Sabtu siang (30/4 2011).

Kronologis pembatalan tersebut , Jum’at sore pihak panitia Gema Salam (Gerakan Mahasiswa Untuk Syari’at Islam) meminta konfirmasi akhir dari ta’mir masjid As Sholihin. Sore itu panitia diminta datang langsung ke rumah H. Rustam Mahadji Tandjung ketua DKM As Sholihin di Jl. Batu Ampar 3. Sesampainya di rumah tersebut ketua DKM didampingi Iskandar ketua Pelaksana Harian Masjid, Ahmad Nur Iman dan ternyata pihak DKM turut mendatangkan Aang Suhana Bimas Polsek Kramat Jati.

Dalam pembicaraan bersama pihak DKM, panitia (Gema Salam) sudah berusaha meminta acara tetap terlaksana karena undangan sudah menyebar di beberapa media dan sudah banyak jamaah yang mengkonfirmasi akan menghadiri acara tersebut. Namun ketua DKM tetap menolak dengan alasan beberapa masalah administrasi dan terutama banyaknya teror dan ancaman yang diterima.

H. Rustam tampak tertekan dan berbicara terbata-bata mengatakan kalau dirinya mendapatkan banyak ancaman dan terror yang diduga dari pihak Syi’ah atau dari pihak-pihak lain yang tidak ingin berlangsungnya acara tersebut, baik melalui telepon maupun SMS ke ponsel miliknya. “Hari ini saja saya sudah mendapatkan enam kali telpon yang meminta acara itu dibatalkan, ada yang mengancam akan mengerahkan massa sampai yang mengaku dari Kepolisian.”

Padahal dari pihak kepolisian sebagaimana disampaikan Aang Suhana (Bimas Polsek) bahwa Polsek sudah menerima surat pemberitahuan penyelenggaraan acara seminar tersebut dan siap mengerahkan personil keamanan saat acara berlangsung.

Namun demikian pihak DKM tetap bersikukuh agar acara tersebut dibatalkan untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Akhirnya dengan berat hati Pihak Panitia Gema Salam pun mau tidak mau harus membatalkan acara tersebut.

Sementara itu para pembicara yang sedianya hadir menyampaikan materi dalam seminar tersebut tak ketinggalan memberikan tanggapan. Ustadz Hartono Ahmad Jaiz menuturkan “Dakwah tidak kondusif tapi aliran sesat malah kondusif , hal yang seperti ini harus diwaspadai dan umat Islam perlu menyadari bahwasanya aqidah ini sudah terancam, ini keadaan yang kurang menguntungkan bagi umat Islam. Oleh karena itu umat Islam perlu menyadari bahwasanya saat ini kesesatan itu justru bisa ngelunjak ! sehingga dakwah menyampaikan kebenaran bisa terhalangi dan yang merusak Islam malah bisa berjalan lama (eksis), ketika pihak MUI sudah memberikan pernyataan untuk dibubarkan tetap saja susah seperti Ahmadiyah misalnya.

Sedangkan syi’ah itu bencinya terhadap Islam itu lebih besar dibandingkan orang kafir . Contohnya di Taheran Iran tidak ada lagi satu pun masjid Sunni (Ahlus Sunnah), Syaikh Taskhiri ulamanya orang-orang Syi’ah ketika ditanya wartawan di Afrika Utara bagaimana kalau dibangun masjid Sunni di Taheran? Ia menjawab kalau saat ini belum saatnya. Malah saat sebuah rumah menyelenggarakan Shalat Jum’at berjamaah malah digrebeg. Kemudian pemerintah Syi’ah di Iran itu membunuhi para ulama Sunni dan menghancurkan masjid-masjid Sunni. Padahal di London dan negeri-negeri kafir lainnya saja masjid boleh didirikan.

Dari kejadian (pembatalan) ini, artinya ketika belum berkuasa saja Syi’ah sudah mengancam dakwah, sudah menjadi terror apalagi kalau sudah berkuasa.”

Demikian pula Ustadz Anung Al Hamat Lc selain menyatakan kekecewaan pembatalan acara tersebut, beliau menyampaikan kalau Syi’ah memang sudah di ujung kekalutan dan ketakutan terbongkarnya kesesatan mereka. Beliau juga menambahkan bahwa ada salah seorang jama’ah yang pernah menghadiri majelis Syi’ah menceritakan bahwa Syi’ah akan melakukan Revolusi 20-30 tahun ke depan.

Tak jauh berbeda tanggapan juga disampaikan pembicara dari Gema Salam akhy Abu Asybal Usamah, “Semoga ini merupakan efek dari dakwah ihqoqul haq wa ibtholul bathil, orang-orang mengira masalah Syi’ah adalah masalah konflik Timur Tengah yang tidak perlu dibawa ke sini. Padahal umat sudah seharusnya sadar bahwa apa yang terjadi di Timur Tengah itu imbasnya ke seluruh umat Islam di dunia dan kita mempunyai tanggung jawab bersama menolong umat Islam di mana pun mereka dan membongkar makar Syi’ah ini sebagai upaya preventif untuk membentengi umat Islam khususnya di Indonesia. Ancaman dan tekanan yang dilakukan oleh pihak luar menjelang pelaksanaan acara ini jelas merupakan bentuk terror.”

Abu Asybal juga mengingatkan, “Syi’ah mempunyai latar belakang Revolusi dan politik yang perlu diwaspadai, mereka bermain secara halus membonceng pluralislme dan liberalisme serta melakukan pendekatan kepada elite penguasa.”

Di akhir beliau mewakili panitia penyelenggara (Gema Salam) menyampaikan permohonan maaf atas pembatalan tersebut. “kami mewakili Gema Salam mohon maaf kepada pihak yang sudah dikecewakan atas pembatalan acara tersebut, insya Allah dalam waktu dekat kita sedang mempersiapkan penyelnggaraan acara seminar Mengahadapi Makar Syi’ah dalam Revolusi dan Aqidah di tempat lain, karena kita insya Allah tidak akan menyerah dengan tekanan apa pun!”

(nahimunkar.com)

(Dibaca 389 kali, 1 untuk hari ini)