Kamis, 23 Oktober 2014 – 08:26 WIB

PASCA pelantikan presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, puluhan tokoh dan pemimpin luar negeri menyampaikan ucapan dan mendatangi presiden RI ketujuh ini. Di antaranya Di antaranya Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, Menteri Luar Negeri AS John Kerry, Perdana Menteri Australia Tony Abbott, dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

Hari Selasa, (21/10/2014), Wakil Ketua Komisi Tetap Kongres Rakyat China (Tiongkok) Yan Junqi menyambangi Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka sekitar pukul 14.00 WIB didampingi beberapa stafnya.

Pertemuan yang dilakukan di ruang tamu Istana Merdeka itu tidak berlangsung lama. Pada pukul 14.19 WIB, keduanya tampak keluar dari ruangan pertemuan tanpa memberikan komentar apapun kepada awak media. (CNN Indonesia, Selasa, 21/10/2014 14).

Di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Tiongkok menjadi mitra dagang terbesar kedua Indonesia dengan volume perdagangan mencapai US$66,2 miliar tahun lalu, empat kali lipat lebih besar ketimbang tahun 2005.

Dikendalikan Taipan?

Bulan Maret, tepatnya Kamis (13/3/2014) malam sebelum dimulai pencalonan Jokowi, sekitar 60 pengusaha menemui Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri akan menerima kedatangan sekitar 60 pengusaha di Kantor DPP PDIP di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Acara ini digelar berdasarkan permintaan para pengusaha yang bergerak di berbagai bidang tersebut. Awalnya ada sekitar 75 orang, namun belakangan yang datang sekitar 60 orang.

“Kalau mau nyumbang, kita sampaikan aturannya, batas maksimalnya, nomor rekening partai juga diberikan. Kami berpikir positif saja, kalau mau datang kan mau membantu,” ujar Sekretaris Jenderal DPP PDI-P Tjahjo Kumolo.

Ratna Sarumpaet bahkan pernah mengatakan, biaya blusukan dan kampanye yang dilakukan Gubernur DKI Joko Widodo atau Jokowi dipengaruhi oleh konglomerat Indonesia yang pernah dekat mantan presiden AS, Bill Clinton, James Riady. [Baca: Ratna Sarumpaet menilai biaya Blusukan dan Kampanye Jokowi dibiayai James Riyadi]

Bahkan secara mengejutkan, Ketua Balitbang PDI-P, Kwik Kian Gie mengungkap dengan terang-terangan agar PDI menjawab hubungannya dengan 9 Taipan China.

“Mumpung ada Tim Rumah Transisi, saya benar-benar prihatin dengan kabar-kabar bahwa Pak Jokowi dikepung 9 Taipan.Orang-orang kaya yang mengendalikan. Dan kabar ini menyebar sangat luas. cuma tidak ada yang mengatakan, biarlah saya yang mengatakan. Bukan karena apa-apa,karena kecintaan saya. Tolong dijawab dengan fakta-fakta bahwa itu tidak betul. Karena kabar ini meluas,” ujarnya dalam acara Indonesia Laywer Club (ILC) di TVOne 21 Oktober 2014 bertema “Jokowi JK Mencari Menteri Yang Bersih”.

Kwik bahkan mengutip keterlibatan pengusaha Grup Gemala, Sofjan Wanandi dengan Jokowi. Pengusaha bernama asli Liem Bian Koen ini pernah tercatat sebagai status tersangka pada tanggal 15 Februari 1999 berkaitan dengan kasus kredit macet senilai 26 juta dollar AS dari Bank Negara Indonesia (BNI) 1946, Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Bumi daya (BBD).

“Lalu apa peran Sofyan Wanandi? Memang dia Ketua APINDO. Mengapa harus muncul di mana-mana? Justru itulah para Taipan ini mempunyai pengaruh besar.Karena itu saat ini orang mulai was-was, akan jadi apa kabinet ini. Apa betul seprerti dijanjikan akan jujur dan memberantas korupsi,” tambahnya Kwik.

Seperti diketahui, Liem Bian Koen atau Sofyan Wanandi dari Jusuf Wanandi (politisi senior dan pendiri CSIS (The Centre for Strategic and International Studies) yang pada tahun 1970-an dikenal dekat pemerintah Orde Baru dan ditengarai kajiannya menjadi rujukan untuk meminggirkan umat Islam di pentas kekuasaan dan politik.

Menjelah Pemilu presiden, hari Sofjan termasuk orang yang sibuk mendukung Jokowi.

“Kita melihatnya optimistis, pengusaha optimistis jika beliau memimpin,” kata Sofjan di sela-sela acara “Pemaparan Platform Ekonomi Jokowi-JK” yang diselenggarakan oleh Kelompok Profesional Pendukung (KKP) Jokowi-JK di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (4/6/2014).

Pada hari Kamis (26/6/2014) Sofjan Wanandi dan para pengusaha menyatakan bergabung dengan Relawan Harmoni mendeklarasikan dukungan untuk Jokowi-Jusuf Kalla di Hotel Sahid Jaya.

Meski Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, tak ada tanda-tanda Jokowi mendekatkan atau menunjukkan kedekatan pada pengusaha Muslim atau Timur Tengah. Sebaliknya, justru lebih mendekat ke Tiongkok.

Ketika pertama kali Indonesia merdeka. Negara asing pertama kali yang mendukung dan mensupport justru Palestina dan Mesir. Sekarang nampaknya terbalik.

Apa benar ini tanda Indonesia ke depan lebih dengan dengan China dan para Taipan?

Umi Maulana
Sidoarjo Jawa Timur

Rep: Panji Islam

Editor: Cholis Akbar

hidayatullah.com

***

Kwik Kian Gie: Jokowi Dikuasai 9 Taipan

Indonesia Lawyer Club Selasa 21 Oktober 2014 mendadak riuh saat sosok fenomenal Kwik Kian Gie, tanpa basa basi mempertanyakan kebenaran rumor dikuasainya Jokowi oleh 9 taipan (pebisnis bermodal kuat keturunan Tiongkok / memiliki jaringan bisnis di Hongkong/China).

“Saya dengar kabar-kabar yang sudah meluas bahwa Jokowi dikendalikan oleh 9 taipan, orang- orang kaya yang mengendalikan, dan kabar ini sudah menyebar luas, dan tidak ada yang berani mengatakan, biarlah saya yang mengatakan. Bukan karena apa, tapi karena kecintaan saya. Tolong dibantah yang sekeras-kerasnya, dengan fakta yang sekeras- kerasnya bahwa ini tidak betul, karena kabar ini sangat meluas.”

Sebagai kader yang sangat mencintai partainya, Kwik merasa harus mempertanyakan hal tersebut. Kwik adalah politisi senior sekaligus ekonom handal yang pernah menduduki jabatan strategis di negeri ini.

“Kader yang mencintai partainya (PDI P) harus jujur mengatakan apa adanya,” demikian ungkap Kwik.

Sebagai kader senior PDI P Kwik tentu juga banyak mengetahui ‘isi dapur’ partai berlambang banteng itu. Kecintaanya kepada PDI P itulah yang mendorong Kwik tak ingin partainya dikuasai cukong.

“Saya melakukan ini karena kecintaan saya karena saya kader PDI P yang telah lama berjuang.. “

Kwik juga mempersoalkan kemunculan Sofjan Wanandi, seorang pengusaha dan sekaligus ketua Asosisi Pengusaha Indonesia (APINDO).

Sofjan Wanandi sudah sejak lama melobi Megawati untuk memasangkan Jusuf Kalla dengan Jokowi. Sejak 2013, di berbagai kesempatan, Sofjan menyatakan bakal mengeluarkan Rp 2 triliun bila Kalla dipasangkan dengan Jokowi.

APINDO sendiri berisi ribuan pengusaha Indonesia. Jaringan Apindo untuk Jokowi-Kalla semakin kuat karena Ketua Apindo, Franky Sibarani, menjadi anggota tim penggalangan dana pasangan Jokowi – JK.

“Kenapa jumlah menteri yang tadinya sedikit 18 atau 20, kemudian langsung dibantah oleh Sofyan Wanandi dan Jusuf Kalla tiba-tiba berubah, bahkan separo dari jumlah menteri itu untuk partai politik. Saya sebagai kade PDI P menjadi bingung.”

“Lalu kemudian apa peran Sofyan Wanandi, memang dia adalah ketua APINDO, tapi mengapa dia arus muncul dimana-mana. Inilah yang memunculkan kesan kuat bahwa para taipan ini. Akibatnya orang mulai was-was entang kabinet ini, akan jujur, akan memberantas korupsi dan lain-lain,” demikian tegur Kwik lantang.

Kwik pun menantang Tim Transisi untuk menjawab pernyataannya.

“Mumpung disini ada rumah transisi. Tolong dibantah dengan fakta-fakta yang nyata dan jelas,” pinta Kwik.

Pernyataan Kwik Kian Gie langsung direspon luas di forum-forum internet. Kaskus contohnya, langsung merespon pernyataan Kwik tersebut.

Sayangnya, alih-alih memberi argumentasi yang meyakinkan, para pendukung Jokowi memilih untuk mencacimaki Kwik.

Tanggapan atas pernyataan Kwik Kian Gie juga dimunculkan Akbar Faizal. Akbar menyatakan kabar tersebut bukanlah hal baru. Akbar juga sempat terusik dengan kabar tersebut.

“Saya baru mendengar ini (secara terbuka dari Kwik Kian Gie). Tapi saya pernah samar-samar mendengarnya,” kata Akbar di acara yang sama.

Akbar mengaku pernah memberanikan diri menanyakan kebenaran kabar samar tersebut langsung kepada Jokowi.

Jokowi, kata Akbar yang jadi Deputi bidang Infrastruktur, Perumahan Rakyat dan Transportasi Publik dalam Tim Transisi, membantahnya.

Pertanyaan disampaikan Akbar karena khawatir rekomendasi dirinya terkait persoalan transportasi dimentahkan karena tersiar kabar ada konglomerat otomotif yang mengendalikan Jokowi.

“Sorry mas Akbar, tidak benar. Dan saya yakin beliau (Jokowi) tidak terlilit dengan sembilan taipan itu,” kata Akbar menirukan jawaban Jokowi.

Entah siapa yang berbohong, karena pada kenyataannya, ada nama Edward Surjadjaja, putra William Surjadjaja, pendiri konglomerasi Astra, dalam beberapa proyek Jokowi. Tentu tak ada makan siang gratis.

—–

Pertanyaannya, siapakah 9 taipan yang dimaksud Kwik Kian Gie?

Ada nama-nama besar taipan Indonesia yang selama ini terlihat mendukung Jokowi-JK.

Sebut saja Antoni Salim, putra Soedono Salim, pemilik Salim Group, Boss Lippo Group James Riyadi, ‘The Invisible’ Tomy Winata dan kawan-kawannya(Rudy Raja Mas, Apiang Jinggo alias Yan Darmadi, Engsan, A Pow, Chandra dll), Kirana bersaudara pemilik Lion Air, Rusdi dan Kusnan, Edward Surjadjaja, Trihatma Kusuma Haliman si raja properti, Raja tekstil almarhum Lukminto dan ‘Ratu Mall” Imelda Tio, Bankir Kevin Wu, Benny Chandra, Lia Anggraeni, Jhony Liem.

Mengetahui kiprah para taipan ini tak sulit. Cukup ketikkan nama-nama di atas pada mesin pencari di internet.

Mungkin Megawati akan membiarkan para taipan ini berkuasa demi menyelamatkan bisnis CPO miliknya, atau demi keselamatan diri dan keluarga dari ancaman gugatan pelanggaran hukum dan korupsi yang terjadi di eranya.

Maka tak berlebihan kiranya jika Kwik Kian Gie, merasa perlu mengingatkan seluruh rakyat dan pendukung Jokowi, bahwa ada harga yang harus dibayar sebagai efek kemenangan Jokowi. (fs)

pkspiyungan

(nahimunkar.com/br)

(Dibaca 1.010 kali, 1 untuk hari ini)