Semua Harus Jadi Penjilat?

  • Pemecatan Haris dari KNPI karena melaporkan Abu Janda, dikomentari Said Didu: Semua Harus Jadi Penjilat?

Silakan simak ini.

***

Komentari Pemecatan Haris Pertama, Said Didu: Semua Harus Jadi Penjilat?

 

Pemecatan yang dilakukan terhadap Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Haris Pertama turut ditanggapi oleh mantan Sekretaris Menteri BUMN, Muhammad Said Didu.


Tanggapan itu diberikan kala Said Didu membaca sebuah artikel berita berjudul “Haris Pertama yang Laporkan Abu Janda Dicopot dari Jabatan Ketua Umum KNPI”.

Lewat kicauannya di akun Twitter pribadi, Sabtu (6/3) Said Didu mempertanyakan apakah semua harus menjadi penjilat agar tidak dipecat. Namun demikian, dia tida merinci detail siapa yang dimaksud menjilat dan kepada siapa pihak tersebut menjilat.


“Semua harus jadi penjilat?” respon Said Didu.

Dalam sebuah rapat pleno yang digelar sekelompok pengurus di The Ritz Carlton Jakarta, Sabtu, (6/3), Haris Pertama dipecat sebagai ketua umum KNPI.

Rapat pleno pemecatan itu dipimpin langsung oleh Wakil Ketua Umum DPP KNPI Ahmad A. Bahri. Disebut kan dalam rapat beragenda pemecatan itu bahwa ada sejumlah pelanggaran yang dilakukan Haris Pertama. 

 

EDITOR: WIDIAN VEBRIYANTO

Laporan: Widian Vebriyanto

07 Maret 2021, 07:51 WIB

***

Penjilat

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “Jilat” berarti perbuatan dengan mengeluarkan atau menjulurkan lidah dan menempelkannya ke sesuatu, dengan maksud untuk merasa atau mencicipi. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya kata “jilat” mengalami perluasan makna akibat proses morfofonemik atau perubahan fonem sehingga fonem “N” yang ditambah menjadi awalan “Pen-” yang berarti menerangkan penambahan subjek, dan menjadi “Penjilat” yang berarti orang yang suka menjilat dengan menggunakan lidahnya.

 


Image : thecrowdvoice.com

Dengan demikian, kata Penjilat dalam arti yang sebenarnya tidaklah buruk, yaitu orang yang suka menggunakan lidahnya untuk mengetahui rasa dari sesuatu. Namun tidak setelah terjadi perluasan makna (kias), Penjilat dalam makna kias itu sangatlah buruk, bahkan lebih buruk dari Koruptor, dan orang-orang yang seperti ini sangat perlu untuk dikasihani.

 

Mahkluk yang bernama Penjilat atau Tukang Cari Muka ini biasanya muncul di lingkungan kerja, perkantoran, perusahaan, komunitas, organisasi, dll. Penjilat ini juga sama seperti kita, hanya manusia biasa. Bahkan terkadang Penjilat ini merupakan teman dekat kita, dia hidup berkeliaran setiap hari di sekitar kita, dan juga berteman dengan rekan-rekan kita yang lain. Namun yang pasti biasanya dia dekat dengan Atasan (atau manusia bodoh) sebagai sasaran yang dia “Jilat” dengan “Lidah”-nya.

 

Makhluk menjijikkan yang bernama Penjilat ini sangat mudah dikenali, makhluk ini bisa berwujud laki-laki, bisa pula berwujud perempuan, tapi biasanya kebanyakan perempuan lho (yang nulis ni laki :p)

 

Adapun ciri yang mudah untuk mengenali para PENJILAT ini adalah:

 

Memiliki kepribadian vulgar

Memiliki kepribadian hipokrit (banyak muka)

Ke-PD-an ngaku-ngaku sebagai orang yang paling dekat dengan atasan

Ambisius

Oportunis sejati

Bekerja bukan karna tugas dan kewajiban, tapi karna pujian, uang, dan jabatan

Nekad menempuh segala macam cara untuk mendapatkan semuanya

Sering menjadi mata-mata atasan

Sering menjelek-jelekan rekan kerja, bukan hanya kepada atasan aja, tapi juga kepada rekan-rekan kerja yang lain.

Sok pinter, padahal bodoh

Sok sibuk (over akting), padahal sering ngerjain pekerjaan sepele dan gak berguna)

Sok setia, sok loyal (cari muka = menjijikkan)

Sok akrab dengan semua orang (di belakang mulut bau kentut)

Suka cari aman (pura-pura setuju)

Pura-pura baik sama teman (padahal nyari informasi baru)

Pura-pura siap menerima tugas apa aja dari atasan (trus oper ke orang)

Suka menindas rekan kerja (bukan fisik), bisa jadi dengan cara mensabotase pekerjaan rekannya sendiri.

dll…etc…(tambah aja sendiri ya).

Bagi para Penjilat, rekan kerja bukanlah teman seperjuangan, tapi Saingan. Teman-teman yang memiliki kelebihan, baik itu dari segi fisik, otak, kemampuan, maupun yang punya potensi untuk melebihi dirinya dianggap sebagai Saingan terberat baginya. Dan karnanya makhluk Penjilat ini sering menggunakan cara menyikut ke segala arah, dan juga menendang ke segala arah.

 

Seorang Penjilat adalah pelapor ulung (kompor), menjadi corong meunasah tanpa diminta, apalagi tentang hal-hal yang mengenai kesalahan rekan kerja (saingan), makhluk ini akan berapi-api memberikan presentasi yang buruk tentang rekan tersebut (saingan itu) kepada semua orang, bahkan juga kepada atasan, tak peduli apakah laporan itu sesuai fakta, ataupun hanya rekayasa, dan tidak jarang pula makhluk sialan ini sering membesar-besarkan kesalahan rekan kerja (saingan) yang hanya se-gede upil kucing menjadi se-gede tumpukan tai’ gajah atau tai’ dinosaurus.

 

Seorang Penjilat merupakan wujud penjelmaan dari Bunglon. Di hadapan si-A dia suka berpura-pura baik, seolah-olah dialah sahabat terbaik. Namun di belakang si-A dia akan menjadi musuh yang ahli dalam propaganda tentang keburukan dan kejelekan si-A. Begitu juga dengan si-B, si-C atau yang lainnya. Bahkan makhluk laknat ini juga tak segan-segan melakukan hal yang sama kepada Atasan (manusia bodoh).

 

Sehingga jika suatu saat si Penjilat ini kehilangan kedekatan dengan Atasan (manusia bodoh), baginya itu merupakan sebuah musibah yang sangat besar, dan karnanya, sebelum musibah itu datang, dia akan mencapai dan mempertahankan kedekatan dengan Atasan (manusia bodoh) tersebut dengan sekuat tenaga, dengan menghalalkan segala macam cara, dengan mengharamkan segala macam nasehat, dan bahkan dia rela melakukannya sampai dengan tetes iler (liur) yang terakhir.

 

Penjilat adalah orang yang suka demonstratif, haus perhatian, haus eksistensi, haus pujian, para makhluk ini tidak sadar, dengan sifat dan sikap nya selama ini sebenarnya para Penjilat ini telah menunjukkan KELEMAHAN dirinya yang sebenarnya pada lingkungannya dan pada rekan-rekannya yang lain.

 

Mungkin bagi para Penjilat yang membaca tulisan ini, akan berkata “ah..biasa aja, itu kan hak aku, lagian itu kan demi masa depan aku, apa salahnya ku lakukan itu sebagai motivasi hidup, karna kehidupan ini semakin hari memang semakin susah dan semakin sulit”… hehe pembenaran yang sangat maksa.

 

Tapi apa para Penjilat itu sadar? Sifatnya itu merupakan sifat orang yang MUNAFIK, dan Nabi SAW bersabda, bahwa “seburuk-buruknya manusia adalah manusia MUNAFIK“. Islam sangat melarang budaya Jilat Menjilat. Hadis Nabi yang lain “Menjilat bukanlah termasuk karakteristik moral seorang mukmin.” (Kanzul Ummat, Hadits No. 29364).

 

Interpretasi sederhana dari Hadis Nabi SAW tersebut yaitu budaya Menjilat bukan budaya seorang mukmin. Budaya Menjilat ini lebih dekat kepada karakter seorang MUNAFIK. Menurut Islam, Menjilat merupakan salah satu bentuk Kehinaan. Dengan demikian, para Penjilat itu secara tidak sadar sudah berusaha untuk Menghinakan dirinya sendiri. (kasian kan?).

 

Banyak lagi hadis-hadis Nabi dan Firman Allah SWT yang menjelaskan tentang KEMUNAFIKAN (Penjilat dan Tukang Cari Muka), diantaranya adalah:

 

Rasulullah SAW, bersabda “Kalian pasti akan bertemu dengan orang-orang yang paling Allah benci, yaitu mereka yang Bermuka Dua. Di satu kesempatan, mereka memperlihatkan Satu Sisi Muka, namun di kala yang lain, mereka memperlihatkan Muka Yang Lain Pula.”
(HR Bukhari-Muslim).

 

Hadis lain yang diriwayatkan Abu Dawud dan Muslim, yaitu Rasulullah SAW bersabda, “Seburuk-buruknya manusia adalah yang Bermuka Dua. Datang di satu kesempatan dengan Satu Muka, dan pada lain kesempatan datang dengan Muka Yang Lain.”

 

Allah SWT berfirman : “Di antara manusia ada yang mengatakan bahwa mereka Beriman, namun sesungguhnya mereka Tidak Beriman. Mereka mencoba Menipu Allah dan orang-orang beriman, tapi sayang, sebetulnya mereka telah Menipu Diri Mereka Sendiri.” (Al-Baqarah: 8-9)

 

Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman: “Sesungguhnya orang-orang Munafik itu Menipu Allah, dan Allah akan membalas Tipuan Mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (An-Nisa’: 142).

 

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu’.”
(Fushshilat: 30).

 

Seorang Muslim seharusnya memiliki kepribadian yang hanya menggunakan satu wajah untuk dan karena Allah, sebagaimana Firman Allah SWT: “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar.”
(Al-An’am: 79).

 

Lalu, bagaimana cara menghadapi dan mengatasi Penjilat yang laknat ini? Nyaris tidak ada, ya… hampir tidak ada cara, rumus, formula yang bisa dipakai untuk menghadapi dan mengatasi para makhluk laknat ini, apalagi para Penjilat Karatan, Bangkotan, yang sudah Mendarah Daging dengan sifat tersebut.

 

Kenapa?

 

Penjilat, Tukang Cari Muka, Manusia Munafik, memiliki dan merupakan Penyakit Hati, Penyakit Hati hanya bisa disembuhkan oleh pribadi yang bersangkutan.

 

Para Penjilat Karatan ini sudah tidak bisa disadarkan dengan hanya sekedar Nasehat, apa lagi hanya dengan Sindiran Halus, hati mereka telah terlalu bebal dan busuk.

 

Para Penjilat ini mempunyai prinsip fuck off dengan segala Hak Orang Lain. Kepentingan pribadi adalah hal yang utama, tak peduli dampaknya akan merugikan orang lain.

 

Para Penjilat ini tidak pernah Puas dan Terpuaskan. Target yang ingin dicapainya tak terhingga, bila dapat 1, pengen 2, trus 3, dan seterusnya, sampai dia mati.

 

Para Penjilat yang berhasil menjilat pantat Atasan (manusia bodoh) akan semakin merajalela bila sang Atasan (sang manusia bodoh) juga berprinsip sama dengan sang Penjilat.

 

Fenomena yang terlihat sekarang banyak para Atasan (manusia bodoh) di instansi pemerintah, dulunya Penjilat juga, atau sekarang juga masih seorang Penjilat (ke atasan lebih atas lagi), makanya pada paragraf-paragraf di atas, kata-kata “atasan” selalui saya sertai dengan “(manusia bodoh)” hehehe :p

 

Penjilat dan Atasan yang juga Tukang Jilat akan saling menguntungkan (Simbiosis Mutualisme), dan kolaborasi ini akan abadi, akan semakin sulit untuk mengatasinya.

 

Kesimpulan dari tulisan ini adalah, hanya seorang Atasan yang benar-benar atasan, atasan yang memiliki idealis, yang memiliki prinsip, pemimpin jujur dan bernurani, adil dan bijaksana, amanah dan bertanggung jawab, yang bisa menghentikan atau mematikan gerakan si Penjilat ini. Lidah para Penjilat ini akan berubah menjadi batu di hadapan atasan yang seperti ini. Atasan yang seperti ini dengan mudah akan bisa menilai yang mana bawahan yang benar, dan yang mana bawahan yang Munafik. Dan sepertinya Pemimpin dan Atasan yang seperti ini hanya ada di Negeri Dongeng saja. Lalu, para Penjilat pun akan tetap menjadi Pemenang.

 

Selain itu, hanya kesadaran dari diri si Penjilat itu sendiri untuk merubah sifat buruknya, kesadaran yang murni dari hati, yang datang dari Allah, hanya Allah yang maha berkehendak, yang maha membolak-balikkan hati manusia. Kita sebagai kaum tertindas dari Manusia-Manusia Munafik dan Penjilat itu hanya bisa berdoa dan meminta agar Allah memberikan hidayah dan membuka mata hati para Penjilat tersebut, agar Penyakit Hati mereka sembuh, dan kembali ke jalan yang benar, sesuai dengan tuntunan Rasul-Nya.

 

 

Note: Seorang Penjilat, pada hakikatnya tidak memiliki kemampuan apa-apa selain LICIK.

 

by: Furqan Al Ghifary (keken) at: sosbud.kompasiana.com

alqolamu.blogspot.com/

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 432 kali, 1 untuk hari ini)