Senang muncul di majelis-majelis dan memonopoli pembicaraan, sedang yang lain wajib mendengarnya. Muncul di majelis-majelis maksudnya mimbar-mimbar. Hal ini telah diperingatkan oleh Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– dengan sabdanya:

اتَّقُوا هَذِهِ الْمَذَابِحَ “ يَعْنِي الْمَحَارِيبَ (رواه البيهقي 2/439 وهو في صحيح الجامع 120)

“Jauhilah tempat-tempat penyembelihan –maksudnya mimbar-mimbar.”[18]

– Senang jika orang-orang berdiri menyambutnya, demi memuaskan rasa gila penghormatan pada jiwanya yang sakit. Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَمْثُلَ لَهُ الْعِبَادُ قِيَاماً فَلْيَتَبَوَّأْ بَيْتاً فِى النَّارِ   (رواه البخاري في الأدب المفرد 977 انظر السلة الصحيحة 357)

“Siapa yang senang dihormati dengan cara hamba-hamba Allah berdiri menyambutnya, maka dia telah menempatkan tempat duduknya di neraka.”[19]

Oleh karena itu, ketika Muawiah mendatangi Ibnu Zubair dan Ibn Âmir, Ibn Âmir berdiri sedangkan Ibnu Zubair tetap duduk, Muawiah berkata kepada Ibn Âmir:

“Duduklah, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– bersabda:

«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَمْثُلَ لَهُ الرِّجَالُ قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ» (رواه أبو داود رقم 5229 والبخاري في الأدب المفرد 977 وهو في السلسلة الصحيحة 357)

‘Siapa yang senang dihormati dengan cara hamba-hamba Allah berdiri menyambutnya, maka dia telah menempatkan tempat duduknya di neraka’.”[20]

Tipe orang seperti ini akan marah jika sunnah nabi ini diterapkan. Jika masuk suatu majelis, dia tidak rida kecuali ada salah seorang yang berdiri menyambutnya dan mendudukkannya, meskipun dia tahu Nabi –shalallahu alaihi wasalam– melarang hal itu dalam sabdanya:

«لاَ يُقِيمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ» (رواه البخاري فتح 11/62)

“Janganlah seseorang itu membangunkan orang lain dari duduknya kemudian dia duduk di situ.” [21]

——————-

[18] HR. al-Baihaqi II/439. Lihat Shahih al-Jami’ no.120.

[19] HR. al-Bukhari dalam Adab al-Mufrod no.977. lihat Silsilah as-Shahihah no.357.

[20] HR.Abu Dâwud no.5229. Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod no.977. as-Silsilah as-Shahihah no.357.

[21] Al-Bukhari dalam Fathul Bâri no.XI/62.

Dipetik dari: Fenomena Lemahnya Iman


Oleh: Syaikh Muhammad Soleh Al-Munajjid

Terjemah : Syafar Abu Difa

Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Sumber: www.islamhouse.com

http://faisalchoir.blogspot.co.id/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.096 kali, 1 untuk hari ini)