Di antara beberapa pesan para pakar psikologi khususnya psikologi terhadap anak adalah: “Jangan mendidik anak dengan kata “Jangan”.” Maka kalau kita yang ikut kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, cukup terbiasa dididik dari keduanya dengan kata “Jangan”. Maka kita tanggapi untuk mereka:

[1] Anda sendiri memulai dengan kata “Jangan” untuk memberi saran.

[2] Dalam al-Qur’an ada dua la (لا), yang bisa untuk nafiyah (menafikan sesuatu) ataupun nahiyah (melarang akan sesuatu). Contoh kedua cukup banyak. Cukuplah Luqman sebagai contoh. Beliau larang anak beliau begini begitu dengan rangkaian la la la:

يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ

لَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ

لَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا

Kecuali jika yang mereka maksud adalah ‘jangan selalu menggunakan kata jangan untuk melarang’, maka bisa diterima. Karena uslub dan metode melarang tidak hanya dengan kalimat ‘jangan’.

Kemudian, untuk para ayah atau insya Allah calon ayah, dekatlah dengan anak sejak masih bayi dan rajinlah mencandainya, memeluknya saat menangis, menggendongnya, mengajaknya berbicara, sampai nanti saat dewasa, anak tersebut insya Allah tidak lemah namun tidak juga jauh dari orang tua. Kedekatan ayah pada anak sejak kecil insya Allah akan berpengaruh pada keteguhan anak tersebut kelak dalam menjalani kehidupan.

Semoga Allah menjaga kita dan anak-anak kita.

Hasan Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.169 kali, 1 untuk hari ini)