• Pesawat Kargo Israel Terlihat Mendarat Saat ‘Tragedi Berdarah’ Mesir Berlangsung
  • Cerita dari Bau Mayat di Masjid-masjid Kairo

  senjata israel 1

Jasad demonstran pendukung presiden terguling Mesir, Muhammad Mursi, diletakkan di lantai di rumah sakit darurat di dekat Masjid Rabaa Adawiya, Kairo, Rabu (14/8).

EPA/Mosaab Elshamy

 senjata israel 2Demonstran yang mengalami luka dilarikan ke rumah sakit darurat di dekat Masjid Rabaa Adawiya, Cairo, Mesir, Rabu (14/8). EPA/Mosaab Elshamy

KAIRO — Senjata Israel kemungkinan digunakan untuk membubarkan aksi demonstrasi pendukung presiden terguling Mesir, Muhammad Mursi, Rabu (14/8) lalu.

Pesawat kargo Israel terlihat mendarat di bandara Kairo Internasional pada hari ketika aparat keamanan Mesir melakukan pembubaran paksa terhadap demonstran yang melakukan aksi duduk bersama mendukung Mursi.

Dany Novery, koresponden Mi’raj News Agency di Kairo, mengonfirmasi hal tersebut. Dia mengatakan kemungkinan senjata Israel telah masuk pada Rabu kemarin.

”Sebab, senjata-senjata yang menyerang demonstran seperti gas air mata, kaleng gas, peluru, bertuliskan bahasa ibrani,” kata Novery seperti dikutip MINA.

Sementara kontributor Mi’raj News Agency di Kairo, Amran Hamdani, menyebutkan laporan media lokal menyaksikan pesawat kargo Israel nampaknya membawa amunisi dan kemungkinan persenjataan yang diklaim sebagai bantuan untuk militer Mesir.

Saksi mata melaporkan ada ambulans yang datang ke Rab’ah Adawiyah membawa penuh amunisi untuk para militer. Hal itu dilihatnya setelah sopir ambulans menolak membawa korban meninggal yang dimintanya.

”Dia (saksi mata) melihat di dalam mobil itu penuh dengan amunisi yang kemungkinan datang bersamaan dengan pesawat kargo Israel,” kata Hamdani.

Redaktur : Didi Purwadi

REPUBLIKA.CO.ID, Jumat, 16 Agustus 2013,
***

Pesawat Kargo Israel Terlihat Mendarat Saat ‘Tragedi Berdarah’ Mesir Berlangsung

 

 

KAIRO — Pesawat kargo Israel terlihat mendarat di bandara Kairo Internasional pada hari ketika aparat keamanan Mesir melakukan pembubaran paksa terhadap demonstran yang melakukan aksi duduk bersama mendukung presiden terguling Muhammad Mursi.

”Laporan media lokal menyaksikan pesawat kargo tersebut nampaknya membawa amunisi dan kemungkinan persenjataan yang diklaim sebagai bantuan untuk militer Mesir,” sebut laporan kontributor MINA, Amran Hamdani, di Kairo pada Kamis (15/8).

Pada hari yang sama, saksi mata melaporkan ada ambulans yang datang ke Rab’ah Adawiyah membawa penuh amunisi untuk para militer. Hal itu dilihatnya setelah sopir ambulans menolak membawa korban meninggal yang dimintanya.

‘Dia (saksi mata) melihat di dalam mobil itu penuh dengan amunisi yang kemungkinan datang bersamaan dengan pesawat kargo Israel,” kata Hamdani seperti dikutip Mi’raj News Agency.

Pada Rabu pagi (14/8), aparat keamanan memasuki area protes di mana para  warga melakukan aksi duduk bersama menentang kudeta militer terhadap presiden Muhammad Mursi sejak awal bulan lalu.

Aparat melemparkan gas air mata dan berusaha mengusir warga dari area tersebut, yang tidak lama kemudian disusul para sniper di atas gedung yang ikut menembak warga.

“Setelah menyerang dua daerah itu, aparat juga mulai menyebar ke daerah-daerah lain seperti Alexandria, Giza, El Arish, Ismailiya dan provinsi lain di mana demonstran pendukung Mursi berada,” kata Hamdani.

Redaktur : Didi Purwadi

REPUBLIKA.CO.ID, Jumat, 16 Agustus 2013, 07:30 WIB

***

Cerita dari Bau Mayat di Masjid-masjid Kairo

Jumat, 16 Agustus 2013, 07:51 WIB

KAIRO — Biasanya masjid-masjid di Kairo dipenuhi jamaah yang berjajar membentuk shaf untuk shalat. Namun, setelah pertumpahan darah yang terjadi pada Rabu (15/8), mayat pendukung Muhammad Mursi yang justru berjajar di masjid.

Dalam laporan Al-Jazeera, Kamis (15/8) waktu setempat, bau mayat tercium dari dalam masjid. Di Nasr city, Masjid al-Iman berubah menjadi kamar mayat setelah kekerasan yang menewaskan sedikitnya 525 orang.

Mayat dibungkus dengan kain kafan dan balok es ditempatkan di sekitarnya. Sebagian mayat tersebut memiliki luka tembak. Tapi, sejumlah mayat lain hangus terbakar dan membuat anggota keluarga sulit mengidentifikasi.

Warga Kairo, Samr Badredeen, datang ke masjid Al Iman untuk memakamkan anggota keluarganya. Namun, dia sulit untuk mengenali mayat yang hangus terbakar.

“Mereka membunuh suami saya dan mereka membakar tubuhnya. Saya tidak dapat menemukannya,” ujar Badredeen.

Dia mengatakan suaminya tidak memiliki senjata. Suaminya, Aymen Mohamed Zakayadeen (45), merupakan teknisi listrik dan ayah dari empat orang anak yang berusia 5-12 tahun.

Beberapa orang yang ikut dalam demonstrasi menuliskan namanya di tangan mereka. Sehingga jika serangan terjadi, mayat mereka bisa diidentifikasi.

Nama-nama mereka ditulis di papan. Mayat-mayat itu menunggu untuk dikubur.

Warga Mesir lainnya, Marwan Saber, terpisah dari saudaranya, Omar, saat kekerasan yang dilakukan pasukan keamanan terjadi. Saber menemukan Omar yang seorang teknisi tertembak di dadanya di dalam kemah.

“Dia terjebak di dalam ambulans. Polisi tidak membiarkan ambulans meninggalkan Rabaa,” ujarnya.

Meski banyak korban berjatuhan, pihak pasukan keamanan membantah tindakannya sebagai pembantaian. Ahli keamanan strategis, Mokhtar Qandil, mengatakan tindakan pasukan keamanan legal.

“Polisi terus mengatakan kepada mereka untuk pergi… kamu aman, kamu bebas, tapi mereka tetap tinggal, mengapa? untuk Mursi? Mursi gagal,” ujar Qandil.

Bahkan, Qandil menyebut polisi telah melakukan tugas dengan baik dan korban tewas yang sedikit. “Mereka sukses,” ucapnya.

Reporter : Nur Aini

Redaktur : Didi Purwadi/ REPUBLIKA.CO.ID

(nahimunkar.com)

(Dibaca 502 kali, 1 untuk hari ini)