Ilustrasi belanja di Makkah/ foto media.ihram.asia


Pernah buku panduan jamaah haji melampirkan bahasa Arab sehari-hari. Seorang pejabat dari Kementrian Keuangan dimarahi para pedagang di Arab ketika mempraktekkan bahasa Arab dari buku panduan Kementrian Agama 1986.

Seorang pejabat itu dengan percaya diri mau beli sesuatu di pasar Arab ketika berhaji. Tanpa mengajak temannya, dia bermodalkan buku panduan haji itu untuk menanyakan harga barang yang akan dibeli.

بكم تشتري؟ (bikam tasytari?) tanya pejabat Indonesia itu sambil memegang-megang barang yang akan dia beli.

Tahu-tahu pedagangnya menjawab dengan muka tegang pertanda tidak suka dengan pertanyaan itu. Pedagang Arab pun ngomel, tapi pejabat ini bingung, dan tidak tahu apa sebabnya, serta bagaimana menjawabnya… repot dah.

Lalu ngeloyorlah sang pejabat ini ke pedagang lain. Dia tanyakan kepada pedagang lagi, sambil menunjuk barang yang akan dia beli: بكم تشتري؟ (bikam tasytari?).

Lagi-lagi pedagang Arab yang ini pun marah pula, malah lebih tidak mengenakkan. Tambah bingunglah pejabat ini. Padahal dia butuh barang itu. Tapi kenapa malah dimarahi? Padahal di Indonesia, boro-boro orang memarahinya; orang yang datang kepadanya pun biasanya dengan munduk-munduk sangat sopan.

Ngeloyor lah pejabat ini kembali pulang ke pemondokan tempat teman-teman jamaah haji rombongannya berada. Lalu segera dia ceritakan apa yang baru saja menjadikannya klimpungan karena dimarahi para pedagang, padahal mau beli dagangan mereka.

Salah seorang rekan dari jamaah haji yang diceritai, bertanya: dari mana Bapak bisa bertanya بكم تشتري؟ (bikam tasytari?) itu.

Dijawab: Dari buku panduan Departemen Agama RI (kini Kementrian Agama RI). Lalu buku itu pun diambil dan diperlihatkan.

Ternyata, dalam buku panduan haji terbitan Departemen Agama 1986 itu lafal بكم تشتري؟ artinya: Berapa harganya?

Walaah… itu kan kalau Bapak bertanya kepada saya, misalnya saya habis belanja di pasar, Pak. Lha kalau tanyanya kepada pedagang, ya jelas marah, lha wong pedagang kok ditanya: berapa duit kamu beli ini? Lha wong pedagang kok ditanya lehmu kulak regane piro (kamu beli dari pabrik harganya berapa?) ya jelas marah tho Pak… Pak… Tapi ini bukan salah Bapak, tapi salahnya buku ini Pak, yo wis…. Bapak jadi korban… Sabar Pak… kan memang andalan para pengurus jamaah haji itu menyampaikan lafal sabar itu Pak…

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)