Drs Lukman Harun/ foto urangminang


Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Lukman Harun, Tokoh yang Dikenal di Indonesia dan Dunia Islam

Drs Lukman Harun, beliau wafat pada hari Jum’at di Jakarta, 8 April 1999. Dari kediamannya di Jl Sukabumi Manggarai Jakarta Selatan, jenazah dibawa ke Masjid Istiqlal Jakarta untuk dishalati ba’da shalat Jum’at. Khatib dan imam saat itu KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i. Ribuan umat Islam menshalati jenazah tokoh Islam yang banyak dikenal umat Islam di Indonesia dan dunia Islam ini.

Sampai kini mungkin belum ada tokoh Islam Indonesia yang semasa hidupnya secara pergaulan benar-benar dikenal oleh Muslimin Indonesia dan Dunia Islam seluas pergaulan tokoh yang satu ini (Lukman Harun).

Sekadar bukti, ketika sang tokoh ini mengadakan walimah pengantin anaknya, betapa banyaknya tamu yang hadir di Gedung Manggala Wanabhakti Slipi Jakarta, hingga di dalam gedung penuh dan masih banyak yang ngantri di luar dan bahkan jalan raya. Tamu-tamunya bukan hanya Muslimin dalam negeri namun banyak diplomat dan tokoh Islam dari berbagai negara Dunia Islam.

Hampir tidak ada wartawan yang biasa meliput keislaman di Jakarta yang tidak dia kenal namanya. Jadi bukan hanya wartawan yang kenal dia tapi dia juga hafal.

Contoh kegigihannya.

Dia dengan modal ayat Lakum Diinukum waliyadiin, berani lantang menyuarakan haramnya mengucapkan selamat natal dan semacamnya ke mana-mana. Dan setiap ada peristiwa penzaliman dari pihak Yahudi terhadap Islam, dia paling pertama bersuara lantang. Hingga suaranya itu bukan hanya jadi perhatian di Indonesia namun juga sampai ke dunia Islam. Karena dia menyuara bukan hanya di dalam negeri namun juga keliling ke berbagai negara. Mungkin ada yang terbersit. Kalau benar demikian, tokoh sekaliber itu, kenapa kini tidak ada yang mengkeramatkan kuburannya? (Hus! Ngaco aja). Karena dia tidak pernah ada tanda-tanda mengajarkan perlunya pengkeramatan kuburan. Lagi pula umat Islam yang pro dia sudah faham, pengkeramatan kuburan itu bukan dari ajaran Islam.

Tokoh yang pergaulannya begitu luasnya dan segesit dia ini entah siapa yang menggantikannya. Dan kini tinggal kenangan. Diam-diam, kadang Umat Islam Indonesia sepertinya hampir-hampir tidak direken. Karena perjuangan orang yang senampak itu pun belum tentu orang sini mau merekennya, akibatnya ketika belum muncul penggantinya, ya dunia Islam tidak mereken orang sini, walaupun menurut jumlah, Indonesia ini paling banyak umat Islamnya di dunia. Impas kan? Kata orang Arab, al-jazaa’ min jinsil ‘amal. (Balasan itu setimpal dengan pebuatan). Kata orang sini, siapa menanam mengetam. Lhah sekarang orang sini tidak mau menanam, ya mau mengetam apa?

Semoga saja dengan kasus ini, umat Islam Indonesia mulai menghargai perjuangan umat Islam walau sekecil apapun, apalagi yang besar dan nyata. Tidak terasa ternyata kita sudah lama kufur ni’mat. Dalam hal ini tidak menghargai perjuangan orang yang berjuang Islam. Dan anehnya, belum sadar-sadar juga bahwa akibat tidak syukur itu, telah dituruni sebagian azab. Contoh yang menyakitkan, umat Islam yang besar jumlahnya ini tidak direken. Oleh orang-orang kafir dan munafik di sini maupun orang Muslim di Dunia Islam. Semoga kini dengan munculnya Musa, anak kecil yang hafal Al-Qur’an hingga membawa nama harum umat Islam Indonesia itu kita mulai mau bersyukur. Agar ni’mat Allah tidak dilanjutkan untuk dicabut dari sini.

Nama Lukman Harun lain ada juga yang beruntung

Nama Lukman Harun dari Indonesia (asal Padang, tinggl di Jakarta) cukup dikenal di dunia Islam. Sampai-sampai ada nama da’i muda dari Indonesia yang bertugas di Brunei mendapatkan “barokah”. Di antaranya Lukman Harun (dari Banten?) yang sama namanya dengan tokoh terkemuka di dunia Islam (Lukman Harun dari Padang) itu mendapatkan jatah berceramah agama di televisi Brunei tahun 1993. Jadi sering manggung di tivi sana. Padahal orang sekaliber Dr Ahmad Daudi (?) dari Aceh dan doktor-doktor lainnya dari Indonesia yang bertugas di Brunei belum tentu tampil di televisi. Teman saya, Nur Rahman dari pantura Jateng alumni King Abdul Aziz Jeddah yang bertugas di Brunei saat itu juga tidak bercerita pernah tampil di tivi sana. Tapi Lukman Harun (yang namanya seperti nama tokoh Indonesia yang dikenal di dunia Islam) itu sering tampil di tivi.

Harun Nasution

Harun Nasution

Kemungkinan lain, karena pihak sana bersyukur atas batalnya mengangkat Harun Nasution (sama-sama ada Harun-nya) sebagai tenaga dari Indonesia untuk Brunei. Kenapa batal tapi bersyukur? Karena mereka tahu, Harun Nasution ternyata di Indonesia mengaku mengubah kurikulum Perguruan Tinggi Islam untuk seluruh Indonesia tahun 1980-an, dari Ahlus Sunnah ke Mu’tazilah. Alasannya, karena kalau tetap Ahlus Sunnah maka tidak akan maju, karena percaya taqdir, jadi fatalis seperti wayang. Agar maju maka harus diubah jadi (aliran sesat) Mu’tazilah yang tidak percaya taqdir, jadi tidak fatalis, menurut Harun Nasution sang penyesat Indonesia. (Itu berbicara langsung ke saya, hanya berdua, ia dengan saya, ketika saya wawanarai di Pascasarjana IAIN Jakarta).

Akibatnya, karena Mu’tazilah itu menganggap Al-Qur’an itu makhluq, maka ada dosen perguruan tinggi Islam di Padang sengaja menginjak al-Qur’an. Dosen-dosen lain di berbagai kota juga ada yang menginjak lafal Allah dengan sengaja di depan mahasiswa. Dari situlah perusakan Islam di Indonesia digencarkan secara sistematis. Hingga merebak faham liberal pluralisme agama alias kemusyrikan baru di mana-mana.

Barangkali ada pembaca yang tahu tentang Mang Lukman Harun (dari Banten?) yang di Brunei?

Mungkin ada yang protes, tulisan ini hanya cocokologi, kotak katik gathuk, mencocok-cocokkan belaka (antara nama Lukman Harun dari Padang, Lukman Harun dari Banten, dan Harun Nasution – yang juga ada Harun-nya).

Ya, tetapi di sini bukan menyangkut hal-hal yang mengandung dampak serius akibat pengait-kaitan itu. Ini sekadar seperti mengaitkan huruf-huruf qalqalah dalam ilmu tajwid menjadi Qathbu jadin (huruf qaf, tha’, baa’, jim, dan dal) agar mudah diingat belaka. Cocokologi itu ada yang tidak bermasalah dan tak perlu di permasalahkan. Hanya saja kalau sudah menyangkut syari’ah apalagi aqidah maka cocokologi yang tanpa dasar jelas tidak boleh.

Biografi singkat Lukman Harun

Dr (Hc) HM Lukman Harun

Lukman Harun lahir di Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 6 Mei 1934 dan menutup usia di Jakarta, 8 April 1999 pada umur 64 tahun. Selain sebagai tokoh Muhammadiyah, ia juga dikenal sebagai diplomat ulung dan aktivis Islam internasional. Di antaranya, Ia pernah menjabat sekretaris jenderal Asian Conference on Religion and Peace (ACRP).

Di penghujung Orde Lama, Lukman adalah aktivis yang cukup vokal mengganyang Partai Komunis Indonesia (PKI), di mana saat itu ia menjadi ketua pengerah massa Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu. Karena sejumlah kiprahnya itu, ia ditunjuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong mewakili Muhammadiyah pada 1967-1971.

Keterlibatan Lukman di Muhammadiyah membuat organisasi ini berkembang pesat dalam hal hubungan luar negeri. Hal itu lantaran Lukman sangat aktif menjalin lobi dengan kalangan internasional, terutama dunia Islam. Karena perannya, Muhammadiyah sering diundang menghadiri konferensi dunia untuk berbicara tentang perkembangan Islam. Saat dipimpin AR. Fakhruddin, Lukman adalahsatu-satunya orang yang selama sepuluh tahun menjadi juru bicara Muhammadiyah.

Sumber: umm.ac.id/Kamis, 04 September 2014

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.458 kali, 1 untuk hari ini)