Seratus Hadits Dha’if dan Maudhu’


 

 100 Hadits Dha’if dan Maudhu’

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut ini 100 hadits dha’if (lemah) dan maudhu (palsu) yang dikumpulkan oleh Ihsan bin Muhammad bin ‘Aayisy Al ‘Utaibiy yang telah kami terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلاَتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْداً وَفِي لَفْظٍ: مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ، فَلَا صَلاَةَ لَهُ

1.    “Barang siapa yang shalatnya tidak membuatnya berhenti dari perbuatan keji dan munkar, maka Allah tidak menambah kepadanya selain kejauhan.” Dalam sebuah lafaz disebutkan, “Barang siapa yang shalatnya tidak membuatnya berhenti dari perbuatan keji dan mungkar, maka tidak ada shalat baginya.”

      Adz Dzahabi berkata, “Ibnul Junaid berkata, “Dusta dan bohong”, Al Haafizh Al ‘Iraaqiy berkata, “Hadits yang isnadnya lembek.” Al Albani berkata, “Batil, tidak sah baik dari sisi isnadnya maupun dari sisi matannya.” [Mizanul I’tidal (3/293), Takhrij Al Ihyaa’ (1/143) dan Silsilah Adh Dha’ifah (2, 985)].

اَلْحَدِيْثُ فِي الْمَسْجِدِ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ الْبَهَائِمُ الْحَشِيْشَ. وَفِي لَفْظٍ : ((الْحَدِيْثُ فِي الْمَسْجِدِ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ)).

2.    “Berbicara di masjid dapat memakan kebaikan sebagaimana hewan memakan rerumputan.” Dalam sebuah lafaz disebutkan, “Berbicara di masjid dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

     Al Haafizh Al ‘Iraqiy berkata, “Saya tidak menemukan asalnya.” Abdul Wahhab bin Taqiyyuddin As Subkiy berkata, “Saya belum menemukan isnadnya.” Al Albani berkata, “Tidak ada asalnya.” [Takhrij Al Ihyaa’ (1/136), Thabaqat Asy Syaafi’iyyah oleh As Subkiy (4/145) dan Adh Dha’iifah (4)].

اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَداً ، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَداً

3.    “Beramallah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok.”

     Al Albani berkata, “Tidak sah marfu’nya”; yakni tidak sah berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Adh Dha’iifah: 8].

أَنَا جَدُّ كُلِّ تَقِيٍّ

4.    “Saya adalah kakek bagi setiap orang yang bertakwa.”

      As Suyuuthiy berkata, “Saya tidak mengetahuinya.” Al Albani berkata, “Tidak ada asalnya.” [Al Haawiy oleh As Suyuuthiy (2/89) dan Adh Dha’iifah (9)].

إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّماً

5.    “Sesungguhnya saya diutus sebagai pengajar.”

      Al ‘Iraqiy berkata, “Sanadnya dha’if”, Al Albani berkata, “Dha’if”. [Takhrij Al Ihyaa’ (1/11), Adh Dha’iifah (11)].

أَوْحَى اللهُ إِلَى الدُّنْيَا أَنِ اخْدِمِيْ مَنْ خَدَمَنِيْ وَأَتْعِبِيْ مَنْ خَدَمَكِ

6.    Allah mewahyukan kepada dunia, “Layanilah orang yang berkhidmat kepada-Ku dan jadikanlah lelah orang yang berkhidmat kepadamu.”

      Al Albani berkata, “Maudhu (palsu)'”, [Tanzihusy Syari’ah (2/303), Al Fawaa’id Al Majmuu’ah oleh Asy Syaukaani (712) dan Adh Dha’iifah (12)].

إِيَّاكُمْ وَخَضْرَاءُ الدِّمَنِ فَقِيْلَ: مَا خَضْرَاءُ الدِّمَنِ؟ قَالَ الْمَرْأةُ الْحَسْنَاءُ فِي الْمَنْبَتِ السُّوْءِ

7.    “Jauhilah oleh kalian tanaman hijau yang tumbuh di tempat sampah,” lalu ada yang bertanya, “Apa tanaman hijau yang tumbuh di tempat sampah?” Beliau menjawab, “Wanita cantik yang tumbuh di lingkungan yang buruk.”

      Al ‘Iraaqiy berkata, “Dha’if, didha’ifkan oleh Ibnul Mulaqqin”, Al Albani berkata, “Sangat dha’if”, [Takhrij Al Ihyaa’ (2/42), Adh Dha’iifah (14)].

صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِيْ إِذَا صَلُحَا، صَلُحَ النَّاسُ: اْلأُمَرَاءُ وَالْفُقَهَاءُ)). وَفِي لَفْظٍ ((صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِيْ إِذَا صَلُحَا، صَلُحَ النَّاسُ: اْلأُمَرَاءُ وَالْعُلَمَاءُ))

8.    “Dua golongan ummatku yang jika keduanya baik, maka masyarakat akan menjadi baik; yaitu para penguasa dan para fuqaha’ (ahli fiqh).” Dalam sebuah lafaz disebutkan: “Dua golongan ummatku yang jika keduanya baik, maka masyarakat akan menjadi baik; para penguasa dan para ulama.”

     Imam Ahmad berkata, “Pada salah satu perawinya ada seorang pendusta yang memalsukan hadits,” Ibnu Ma’in dan Daruquthni juga berkata seperti itu. Al Albani berkata, “Maudhu’ (palsu).” [Takhrij Al Ihyaa’ (1/61), Adh Dha’iifah (16)].

تَوَسَّلُوْا بِجَاهِيْ ، فَإِنَّ جَاهِيْ عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ

9.    “Bertawassullah dengan kedudukanku, karena kedudukanku di sisi Allah sangat agung.”

      Ibnu Taimiyah dan Al Albani berkata, “Tidak ada asalnya” [Iqtidhaa Ash Shiraathil Mustaqim oleh Ibnu Taimiyah (2/415), Adh Dha’iifah (22)].

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ إِلَى الصَّلاَةِ فَقَالَ : اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِحَقِّ السَّائِلِيْنَ عَلَيْكَ، وَأَسْأَلُكَ بِحَقِّ مَمْشَايَ هَذَا ……… أَقْبَلَ اللهُ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ وَاسْتَغْفَرَ لَهُ أَلْفُ مَلَكٍ

10. “Barang siapa yang keluar dari rumahnya untuk shalat dan berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dengan hak para peminta kepada-Mu, aku juga meminta kepada-Mu dengan hak jalanku ini…, maka Allah akan menghadapkan wajah-Nya kepadanya dan ia akan dimintakan ampun oleh 1.000 malaikat.”

      Didha’ifkan oleh Al Mundziriy, Al Buwshairiy berkata, “Sanadnya berantai dengan orang-orang yang dha’if”, Al Albani berkata, “Dha’if”, [At Targhib wat Tarhib oleh Al Mundziriy (3/272), Sunan Ibnu Majah (1/256)].

اَلْخَيْرُ فِيَّ وَفِي أُمَّتِي إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

11. “Kebaikan itu ada padaku dan pada ummatku sampai hari kiamat.”

      Ibnu Hajar berkata, “Saya tidak mengetahuinya” [Al Maqaashid Al Hasanah oleh As Sakhaawiy (hal. 208), dalam Tadzkiratul Maudhuu’aat oleh Al Fataniy (68), Al Asraarul Marfuu’ah fil Akhbaaril Maudhuu’ah oleh Al Qaariy (hal. 195)].

مَنْ نَامَ بَعْدَ الْعَصْرِ ، فَاخْتُلِسَ عَقْلُهُ، فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

12.”Barang siapa yang tidur setelah shalat ‘Ashar, lalu akalnya tercabut, maka janganlah sekali-kali ia mencela selain dirinya.”

      Disebutkan oleh Ibnul Jauziy dalam Al Maudhuu’at (3/69), As Suyuthiy dalam Al La’aaliul Mashnuu’ah (2/279) dan Adz Dzahabiy dalam Tartibul Maudhuu’at (839).

مَنْ أَحْدَثَ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ فَقَدْ جَفَانِيْ ……

13. “Barang siapa yang berhadats namun tidak berwudhu, maka ia telah bersikap kasar kepadaku.”

      Ash Shaghaaniy berkata, “Maudhu'” [Al Maudhuu’at (53)], Al Albani berkata, “Maudhu’,” [Adh Dha’iifah (44)].

مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ وَلَمْ يَزُرْنِيْ  فَقَدْ جَفَانِيْ

14. “Barang siapa yang berhajji ke Baitullah, namun tidak berziarah kepadaku, maka ia telah berbuat kasar kepadaku.”

     [Maudhu’ (palsu), sebagaimana dikatakan Adz Dzahabiy dalam Tartiibul Maudhuu’at (600), Ash Shaghaaniy dalam Al Maudhuu’at (52) dan Asy Syaukaani dalam Al Fawaa’idul Majmu’ah (362)].

مَنْ حَجَّ، فَزَارَ قَبْرِيْ بَعْدَ مَوْتِيْ، كَانَ كَمَنْ زَارَنِيْ فِي حَيَاتِيْ

15. “Barang siapa yang berhajji, lalu ia menziarahi kuburanku setelah aku wafat, maka sama seperti berkunjung kepadaku di masa hidupku.”

     Ibnu Taimiyah berkata, “Dha’if” [Qaa’idah Jalillah (57)], Al Abani berkata, “Maudhu'” [Adh Dha’iifah (47)]. Dan lihat Dzakhiiratul Huffaz oleh Ibnul Qaisaraaniy (4/5250).

اِخْتِلاَفُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ

16.”Perselisihan ummatku adalah rahmat.”

      Maudhu’ (palsu), [Al Asraarul Marfuu’ah (506), Tanziihusy syarii’ah (2/402), Al Albani berkata, “Tidak ada asalnya,” Adh Dha’iifah (11)].

أَصْحَابِيْ كَالنُّجُوْمِ بِأَيِّهِمُ اقْتَدَيْتُمُ اهْتَدَيْتُمْ. وَفِي لَفْظٍ: ((إِنَّمَا أَصْحَابِيْ مِثْلُ النُّجُوْمِ فَأَيَّهُمْ أَخَذْتُمْ بِقَوْلِهِ

اهْتَدَيْتُمْ)).

17. “Para sahabatku seperti bintang, siapa saja di antara mereka yang kalian ikuti, niscaya kalian akan memperoleh petunjuk.” Dalam sebuah lafaz disebutkan, “Sesungguhnya para sahabatku seperti bintang-bintang, siapa saja di antara mereka yang kalian ambil pendapatnya, niscaya kalian akan memperoleh petunjuk.”

      Ibnu Hazm berkata, “Berita dusta, palsu, batil, sama sekali tidak sah.” [Al Ihkaam fii Ushuulil Ahkaam (5/64) dan (6/82)]., Al Albaani berkata, “Maudhu'” [Adh Dha’iifah (66), lihat Jaami’ bayaanil ‘ilmi wa Fadhlih oleh Ibnu Abdil Barr (2/91)].

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

18.  “Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

       Maudhu’ (palsu), [Al Asraarul Marfuu’ah (506), Tanziihusy syarii’ah 2/402, Tadzkiratul Maudhuu’aat (11)].

أَدَّبَنِيْ رَبِّيْ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِيْ

19.  “Tuhanku telah mendidikku dengan pendidikan yang sebaik-baiknya.”

       Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak diketahui memiliki isnad yang tsabit/sah” [Ahaaditsul Qashshaas (78), disebutkan oleh Asy Syaukaani dalam Al Fawaa’idul Majmuu’ah (1020), dan Al Fataniy dalam Tadzkiratul Maudhuu’aat (87)].

اَلنَّاسُ كُلُّهُمْ مَوْتَى. إِلاَّ الْعَالِمُوْنَ، وَالْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا الْعَامِلُوْنَ وَالْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ غَرْقَى إِلَّا الْمُخْلِصُوْنَ. وَالْمُخْلِصُوْنَ عَلَى خَطَرٍ عَظِيْمٍ

20.  “Manusia semuanya mati, selain orang-orang yang berilmu. Orang-orang yang berilmu semuanya binasa, selain orang-orang yang beramal. Orang-orang yang beramal semuanya tenggelam, selain orang-orang yang ikhlas, sedangkan orang-orang yang ikhlas berada dalam bahaya besar.”

       Ash Shaghaaniy berkata, “Hadits ini dibuat-buat lagi salah (dalam tata bahasa), yang benar dalam I’raab adalah Al ‘aalimiin wal ‘aalimiin.” [Al Maudhuu’at (200), disebutkan oleh Asy Syaukani dalam Al Fawaa’idul Majmuu’ah (771) dan Al Fataniy dalam Tadzkiratul Maudhuu’at (200)].

سُؤْرُ الْمُؤْمِنِ شِفَاءٌ

21.  “Sisa air dari mulut seorang mukmin dapat menyembuhkan.”

       Tidak ada asalnya, [Al Asraarul Marfuu’ah (217), Kasyful Khafaa’ (1/1500) dan Adh Dha’iifah (78)].

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّايَاتِ السُّوْدِ خَرَجَتْ مِنْ قِبَلِ خُرَاسَانَ، فَأْتُوْهَا وَلَوْ حَبْواً فَإِنَّ فِيْهَا خَلِيْفَةُ اللهِ الْمَهْدِيُّ

22.  Apabila kalian melihat ada bendera-bendera hitam yang muncul dari arah Khurasan, maka datangilah ia meskipun dengan merangkak, karena di sana terdapat khalifah Allah, yaitu Al Mahdi.”

       Dha’iif (lemah), [Al Manaarul Muniif oleh Ibnul Qayyim (340), Al Maudhuu’at oleh Ibnul Jauziy (2/39) dan Tadzkiratul Maudhuu’at (233)].

اَلتَّائِبُ حَبِيْبُ اللهِ

23.  “Orang yang bertobat adalah kekasih Allah.”

       Tidak ada asalnya, [“Hadits tersebut termasuk hadits yang tidak ada asalnya dalam Al Ihyaa’,” As Subkiy (356) dan Adh Dha’iifah (95)].

=

أَمَا إِنِّي لاَ أَنْسَى ، وَلَكِنْ أُنَسَّ لِأُشَرِّعَ

24.  “Adapun saya tidaklah lupa, akan tetapi dibuat lupa sehingga saya mengadakan syari’at (yang baru).”

Tidak ada asalnya, termasuk hadits-hadits yang tidak ada asalnya dalam Al Ihyaa’ (357), Adh Dha’iifah (101).

اَلنَّاسُ نِيَامٌ فَإِذَا مَاتُوْا انْتَبَهُوْا

25.  “Manusia itu tidur, ketika mereka mati barulah sadar.”

Tidak ada asalnya, [Al Asraarul Marfuu’ah (555), Al Fawaa’idul Majmuu’ah (766) dan Tadzkiratul Maudhu’at (200)].

مَنْ حَدَّثَ حَدِيْثاً، فَعَطَسَ عِنْدَهُ ، فَهُوَ حَقٌّ

26.  “Barang siapa yang membawakan sebuah hadits, lalu ia bersin di saat itu, maka hadits itu benar.”

Maudhu’, [Tanziihusy Syarii’ah (483), Al La’aali’ul Mashnuu’ah (2/286) dan Al Fawaa’idul Majmuu’ah (669)].

تَزَوَّجُوْا وَلاَ تُطَلِّقُوْا، فَإِنَّ الطَّلاَقَ يَهْتَزُّ لَهُ الْعَرْشُ

27.  “Menikahlah dan jangan menthalaq, karena ‘Arsy berguncang karenanya.”

Maudhu’, [Tartiibul Maudhuu’at (694), Al Maudhuu’at oleh Ash Shaghaaniy (97) dan Tanziihusy Syarii’ah (2/202)].

تُعَادُ الصَّلاَةُ مِنْ قَدْرِ الدِّرْهَمِ مِنَ الدَّمِ

28.  “Shalat harus diulang karena darah meskipun hanya sebesar dirham.”

Maudhu’, [Dhi’aaf Ad Daaruquthniy oleh Al Ghassaaniy (353), Al Asraarul Marfuu’ah (138) dan Al Maudhuu’at oleh Ibnul Jauziy (2/76)].

اَلسَّخِيُّ قَرِيْبٌ مِنَ اللهِ، قَرِيْبٌ مِنَ الْجَنَّةِ. قَرِيْبٌ مِنَ النَّاسِ، بَعِيْدٌ مِنَ النَّارِ، وَالْبَخِيْلُ بَعِيْدٌ مِنَ اللهِ، بَعِيْدٌ مِنَ الْجَنَّةِ، بَعِيْدٌ مِنَ النَّاسِ ، قَرِيْبٌ مِنَ النَّارِ وَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ عَابِدٍ بَخِيْلٍ

29.  “Orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia dan jauh dari neraka. Orang yang bakhil jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dengan neraka. Orang yang jahil namun dermawan lebih dicintai Allah daripada ahli ibadah yang bakhil.”

Dha’if jiddan (sangat dha’if), [Al Manaarul Muniif (284), Tartiibul Maudhuu’aat (564) dan Al La’aali’ul Mashnuu’ah (2/91)].

أَنَا عَرَبِيٌّ وَالْقُرْآنُ عَرَبِيٌّ وَلِسَانُ أَهْلِ الْجَنَّةِ عَرَبِيٌّ

30.  “Saya orang Arab, Al Qur’an berbahasa Arab dan bahasa penduduk surga adalah bahasa Arab.”

[Tadzkiratul Maudhuu’at (112), Al Maqaashidul Hasanah (31) dan Tanziihusy Syarii’ah (2/30)].

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْباً، وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ (يس) مَنْ قَرَأَهَا، فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ عَشْرَ مَرَّاتٍ

31.  “Sesungguhnya segala sesuatu memiliki jantung. Sesungguhnya jantung Al Qur’an adalah surat Yaasin, barang siapa yang membaca, maka seakan-akan ia membaca Al Qur’an sepuluh kali.”

Maudhu’ (palsu), [Al ‘Ilal oleh Ibnu Abi Hatim 2/55 dan Adh Dha’iifah (169)].

فِكْرَةُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّيْنَ سَنَةٍ

32.  “Berfikir sejenak lebih baik daripada beribadah enam puluh tahun.”

Maudhu’, [Tanziihusy syarii’ah (2/305), Al Fawaa’idul Majmuu’ah (723) dan Tartiibul Maudhuu’at (964)].

لاَ صَلاَةَ لِجَارِ الْمَسْجِدِ إِلاَّ فِي الْمَسْجِدِ

33.  “Tidak ada shalat bagi tetangga masjid kecuali di masjid.”

Dha’if (lemah), [Dhi’aaf Ad Daaruquthni (362), Al La’aali’ul Mashnuu’ah (2/16) dan Al ‘Ilal Al Mutanaahiyah (1/693)].

اَلْحَجَرُ اْلأَسْوَدُ يَمِيْنُ اللهِ فِي اْلأَرْضِ يُصَافِحُ بِهَا عِبَادَهُ

34.  “Hajar Aswad adalah Tangan kanan Allah di muka bumi, Allah menyalami hamba-hamba-Nya dengannya.”

Maudhu’, [Tarikh Baghdad oleh Al Khathiib (6/328), Al ‘Ilalul Mutanaahiyah (2/944) dan Adh Dha’iifah (223)].

صُوْمُوْا تَصِحُّوا

35.  “Berpuasalah, kalian akan sehat.”

Dha’if, [Takhrij Al Ihyaa’ (3/87), Tadzkiratul Maudhuu’at (70) dan Al Maudhuu’at oleh Ash Shaghaaniy (72)].

أَوْصَانِي جِبْرَائِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِالْجَارِ إِلَى أَرْبَعِيْنَ دَاراً. عَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا، وَ عَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا ، وَ عَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا ، وَ عَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا

36.  “Jibril ‘alaihis salam berwasiat kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga sampai berjumlah empat puluh tetangga; sepuluh dari sini, sepuluh dari situ, sepuluh dari sana dan sepuluh dari sini.”

Dha’if, [Kasyful Khafaa’ (1/1054), Takhrij Al Ihyaa’ (2/232) dan Al Maqaashid Al Hasanah (170)].

لَوْلَاكَ مَا خَلَقْتُ الدُّنْيَا

37.  “Kalau bukan karena dirimu, tentu Aku tidak akan menciptakan dunia.”

Maudhu’, [Al Lu’lu’ul Marshuu’ oleh Al Masyisyi (454), Tartiibul Maudhuu’at (196) dan Adh Dha’iifah (282)].

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَدًا

38.  “Barang siapa yang membaca surat Al Waaqi’ah di setiap malam, niscaya ia tidak akan tertimpa kemiskinan selama-lamanya.”

Dha’if, [Al ‘Ilalul Mutanaahiyah (1/151), Tanziihusy Syarii’ah (1/301) dan Al Fawaa’idul Majmuu’ah (972)].

مَنْ أَصْبَحَ وَهَمُّهُ غَيْرَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ، فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ وَمَنْ لَمْ يَهْتَمَّ لِلْمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ

39.  “Barang siapa yang di pagi harinya, harapannya adalah kepada selain Allah Azza wa Jalla, maka ia lepas dari Allah, dan barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia bukanlah termasuk golongan mereka.”

Maudhu’, [Al Fawaa’idul Majmuu’ah (233), Tadzkiratul Maudhuu’at (69) dan Adh Dha’iifah (309-312)].

كَمَا تَكُوْنُوْا يُوَلِّيْ عَلَيْكُمْ

40.  “Sebagaimana keadaan kalian, maka Dia akan mengangkat kalian.”

Dha’if, [Kasyful Khafaa’ (2/1997), Al Fawaa’idul Majmuu’ah (624) dan Tadzkiratul Maudhuu’at (182)].

كَمَا تَكُوْنُوْا يُوَلِّيْ عَلَيْكُمْ

41.  “Sebagaimana keadaan kalian, maka Dia akan mengangkat kalian.”

Dha’if, [Al Fawaa’idul Majmuu’ah (624), Tadzkiratul Maudhuu’at (182) dan Kasyful Khafaa’ (2/1997)].

مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُوْدٌ. فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ

42.  “Barang siapa yang kelahiran seorang anak, lalu ia azankan pada telinga kanan dan ia iqamatkan pada telinga kiri, maka ia tidak akan diganggu oleh Ummush Shibyaan (setan).”

Maudhu’, [Al Miizaan oleh Adz Dzahabiy (4/397), Majma’uz Zawaa’id oleh Al Haitsamiy dan Takhrij Al Ihyaa’ (2/61)].

مَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِيْ عِنْدَ فَسَادِ أُمَّتِيْ ، فَلَهُ أَجْرُ مِئَةِ شَهِيْدٍ

43.  “Barang siapa yang berpegang dengan sunnahku ketika rusaknya ummatku, maka ia akan memperoleh pahala seratus orang syahid.”

Dha’iif jiddan (sangat dha’if), [Dzakhiiratul Huffaazh (4/5174) dan Adh Dha’iifah (326)].

اَلْمُتَمَسِّكُ بِسُنَّتِيْ عِنْدَ فَسَادِ أُمَّتِيْ لَهُ أَجْرُ شَهِيْدٍ

44.  “Orang yang berpegang dengan sunnahku ketika rusaknya ummatku, maka ia akan memperoleh pahala seorang syahid.”

Dha’if, [Adh Dha’iifah (372)].

أَنَا ابْنُ الذَّبِيْحَيْنِ

45.  “Saya adalah putera dari dua orang yang hendak disembelih.”

Tidak ada asalnya, [Risalah Lathiifah oleh Ibnu Qudaamah (23), Al Lu’lu’ul Marshuu’ (81) dan An Nukhbah Al Bahiyyah oleh As Sinbaawiy (43)].

اَلنَّظَرُ فِي الْمُصْحَفِ عِبَادَةٌ، وَنَظَرُ الْوَلَدِ إِلَى الْوَالِدَيْنِ عِبَادَةٌ، وَالنَّظَرُ إِلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عِبَادَةٌ

46.  “Melihat Mus-haf Al Qur’an adalah ibadah, seorang anak melihat kedua orang tuanya adalah ibadah, dan melihat Ali bin Abi Thalib adalah ibadah.”

Maudhu’ [Adh Dha’iifah (356)].

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِيْ أَرْبَعِيْنَ صَلاَةً لاَ يَفُوْتُهُ صَلاَةٌ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ

47.  “Barang siapa yang shalat di masjidku sebanyak empat puluh kali, tidak sampai luput satu pun shalat, kecuali akan dicatat terlepas dari neraka, selamat dari azab dan terlepas dari kemunafikan.”

Dha’if, [Adh Dha’iifah (364)].

اَلْأَقْرَبُوْنَ أَوْلَى بِالْمَعْرُوْفِ

48.  “Para kerabat terdekat lebih layak diberikan perkara yang ma’ruf.”

Tidak ada asalnya, [Al Asraarul Marfuu’ah (51), Al Lu’lu’ul Marshuu’ (55) dan Al Maqaashid Al Hasanah (!41)].

آخِرُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ رَجُلٌ مِنْ جُهَيْنَةَ ، يُقَالُ لَهُ: جُهَيْنَةُ ، فَيَسْأَلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ: هَلْ بَقِيَ أَحَدٌ يُعَذَّبُ؟ فَيَقُوْلُ: لاَ فَيَقُوْلُوْنَ: عِنْدَ جُهَيْنَةَ الْخَبَرُ الْيَقِيْنُ

49.  “Orang yang terakhir masuk surga adalah seorang yang berasal dari suku Juhainah yang bernama Juhainah, lalu penduduk surga bertanya kepadanya, “Masih adakah orang yang disiksa?” ia menjawab, “Tidak,” kemudian mereka berkata, “Sesungguhnya pada si Juhainah ada berita yang meyakinkan.”

Maudhu’, [Al Kasyful Ilaahiy oleh Ath Tharaablisi (1/161), Tanziihusy Syarii’ah (2/361) dan Al Fawaa’idul Majmuu’ah (1429)].

خَيْرُ الْأَسْمَاءِ مَا عُبِّدَ وَمَا حُـمِّدَ

50.  “Sebaik-baik nama adalah yang diawali ‘abdun atau dengan nama Muhammad.”

Maudhu’, [Al Asraarul Marfuu’ah (192), Al Lu’lu’ul Marshuu’ (189) dan An Nukhbah (117)].

 

اُطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ

51.  “Carilah ilmu meskipun ke negeri Cina.”

Maudhu’, [Al Maudhuu’at oleh Ibnul Jauziy (1/215), Tartiibul Maudhuu’aat oleh Adz Dzahabiy (111) dan Al Fawaa’idul Majmuu’ah (852)].

شَاوِرُوْهُنَّ – يَعْنِي: النِّسَاءَ – وَخَالِفُوْهُنَّ

52.  “Bermusyawarahlah dengan mereka –yakni kaum wanita- dan selisihilah.”

Tidak ada asalnya, [Al Lu’lu’ul Marshuu’ (264), Tadzkiratul Maudhuu’aat (128) dan Al Asraarul Marfuu’ah (240)].

يُدْعَى النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأُمَّهَاتِهِمْ سِتْراً مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِمْ

53.  “Manusia akan dipanggil pada hari kiamat dengan menyebut ibu mereka sebagai penutupan aib dari Allah Azza wa Jalla kepada mereka.”

Maudhuu’ (palsu), [Al La’aali’ul Mashnuu’ah oleh As Suyuuthiy (2/449), Al Maudhuu’at oleh Ibnul Jauziy (3/248) dan Tartiibul Maudhuu’at (1123)].

اَلسُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِي أَرْضِهِ، مَنْ نَصَحَهُ هُدِيَ ، وَمَنْ غَشَّهُ ضَلَّ

54.  “Sultan (pemerintah) adalah naungan Allah di muka bumi, barang siapa yang bersikap tulus kepadanya, maka ia akan mendapat petunjuk dan barang siapa yang melakukan curang terhadapnya, maka ia akan tersesat.”

Maudhuu’, [Tadzkiratul Maudhuu’at oleh Al Fataniy (182), Al Fawaa’idul Majmuu’ah oleh Asy Syaukaani (623) dan Adh Dha’iifah (475)].

مَنْ خَافَ اللهَ خَوَّفَ اللهُ مِنْهُ كُلَّ شَيْءٍ ، وَمَنْ لَمْ يَخَفَ اللهَ خَوَّفَهُ اللهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

55.  “Barang siapa yang takut kepada Allah, maka Allah akan menjadikan segala sesuatu takut kepadanya, dan barang siapa yang tidak takut kepada Allah, maka Allah menjadikannya takut kepada segala sesuatu.”

Dha’if, [Takhrij Al Ihyaa’ oleh Al ‘Iraaqiy (2/145), Tadzkiratul Maudhuu’at (20) dan Adh Dha’iifah (485)].

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي وَيَصْبِرْ عَلَى بَلاَئِي، فَلْيَلْتَمِسْ رَبّاً سِوَائِيْ

56.  Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman, “Barang siapa yang tidak ridha dengan keputusan-Ku serta tidak bersabar dengan cobaan-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.”

Dha’if, [Al Kasyful Ilaahiy oleh Ath Tharablisiy (1/625), Tadzkiratul Maudhuu’at (189) dan Al Fawaa’idul Majmuu’ah (746)].

لَيْسَ لِفَاسِقٍ غِيْبَةٌ

57.  “Orang fasik tidak berhak dighibahi (dibicarakan aibnya).”

Maudhu’, [Al Asraarul Marfuu’ah oleh Al Harawiy (390), Al Manaarul Muniif oleh Ibnul Qayyim (301) dan Al Kasyful Ilaahiy (1/764)].

إِذَا مَاتَ الرَّجُلُ مِنْكُمْ فَدَفَنْتُمُوْهُ فَلْيَقُمْ أَحَدُكُمْ عِنْدَ رَأْسِهِ. فَلْيَقُلْ: يَا فُلَانَ بْنُ فُلَانَةَ! فَإِنَّهُ سَيَسْمَعُ ، فَلْيَقُلْ : يَا فُلاَنَ بْنُ فُلَانَةَ! فَإِنَّهُ سَيَسْتَوِيْ قَاعِداً …. اُذْكُرْ مَا خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنْ دَارِ الدُّنْيَا: شَهَادَةَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ … الخ

58.  Apabila seorang di antara kamu meninggal, lalu kamu menguburkannya, maka hendaknya salah seorang di antara kamu berdiri di dekat kepalanya dan ucapkanlah, “Wahai fulan bin Fulanah!” Sesungguhnya ia mendengar kata-kata itu, kemudian katakanlah, “Wahai fulan bin fulanah!” maka ia akan berubah posisi menjadi duduk….ucapkanlah apa yang kamu ucapkan ketika berpisah dari dunia, “(yaitu) bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah saja; tidak ada sekutu bagi-Nya…dst.”

Dha’if, [Takhrij Al Ihyaa’ (4/420), Zaadul Ma’aad oleh Ibnul Qayyim (1/206) dan Adh Dha’iifah (599)].

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ ، وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ وَلاَ عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ

59.  “Tidak akan rugi orang yang beristikharah, tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah, dan tidak akan miskin orang yang hemat.”

Maudhu’, [Al Kasyful Ilaahiy (1/775) dan Afh Dha’iifah (611)].

كَانَ إِذَا أَخَذَ مِنْ شَعْرِهِ أَوْ قَلَمَ أَظْفَارَهُ ، أَوِ احْتَجَمَ بَعَثَ بِهِ إِلَى الْبَقِيْعِ فَدُفِنَ

60.  “Beliau apabila mencabut rambutnya atau menggunting kukunya atau berbekam, membawanya ke Baqii’ lalu ditanam.”

‏‏‏Maudhu’ [Al ‘Ilal oleh Ibnu Abi Hatim (2/337) dan Adh Dha’iifah (713)].

اَلْمُؤْمِنُ كَيِّسٌ فَطِنٌ حَذِرٌ

61.  “Orang mukmin adalah seorang yang cerdas, pandai, dan selalu waspada.”

Maudhu’, [Kasyful Khafaa’ oleh Al ‘Ijluuniy (2/2684), Al Kasyful Ilaahiy oleh Ath Tharaablisiy (1/859) dan Adh Dha’iifah (760)].

يَا جِبْرِيْلُ صِفْ لِيَ النَّارَ، وَانْعَتْ لِيْ جَهَنَّمَ: فَقَالَ جِبْرِيْلُ: إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَمَرَ بِجَهَنَّمَ فَأُوْقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ عَامٍ حَتَّى ابْيَضَّتْ، ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَأُوْقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ عَامٍ حَتَّى احْمَرَّتْ، ثُمَّ أَمَرَ فَأُوْقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ عَامٍ حَتَّى اسْوَدَّتْ فَهِيَ سَوْدَاءٌ مُظْلِمَةٌ..الخ

62.  “Wahai Jibril! Beritahukanlah kepada kami tentang sifat neraka dan sifat neraka jahannam!” Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah Tabaaraka wa Ta’ala memerintahkan kepada neraka jahannam agar dinyalakan (apinya), lalu dinyalakanlah selama 1.000 tahun sehingga warnanya berubah putih, kemudian diperintahkan lagi untuk dinyalakan, maka dinyalakan selama 1.000 tahun hingga warnanya berubah merah, lalu diperintahkan lagi agar dinyalakan, maka dinyalakan selama 1.000 tahun sehingga warnanya berubah hitam. Oleh karena itu, neraka jahannam berwarna hitam kelam…dst.

Maudhu’, [Al Haitsami (10/387) dan Adh Dha’iifah (910)]..

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ ، شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلَةٍ تَطَوُّعاً..الخ

63.  “Wahai manusia! Sesungguhnya bulan yang agung akan datang menaungi kalian, bulan dimana di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah menjadikan puasa di bulan itu sebagai kewajiban dan qiyamullailnya sebagai amalan sunat…dst.

Dha’if, [Al ‘Ilal oleh Ibnu Abi Hatim (1/249) dan Adh Dha’iifah (871)].

لاَ تُكْثِرُوا الْكَلاَمَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلاَمِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ، وَإِنَّ أَبعَدَ النَّاسِ مِنَ اللهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي

64.  “Janganlah banyak berbicara selain dzikrullah, karena banyak berbicara selain dzikrullah dapat membuat hati menjadi keras, dan sesungguhnya orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras.”

Dha’if, Adh Dha’iifah (920).

إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الصَّفِّ وَقَدْ تَمَّ فَلْيَجْبَذْ إِلَيْهِ رَجُلاً يُقِيْمُهُ إِلَى جَنْبِهِ

65.  “Apabila salah seorang di antara kamu tiba di shaf (barisan), sedangkan shaf tersebut sudah penuh, maka tariklah seseorang kepadanya (ke belakang) agar berdiri di sebelahnya.

Dha’iif [At talkhiishul Habiir oleh Ibnu Hajar (2/37) dan Adh Dha’iifah (921)].

اَلْأَبْدَالُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ ثَلاَثُوْنَ. مِثْلُ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ كُلَّمَا مَاتَ رَجُلٌ أَبْدَلَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَكَانَهُ رَجُلاً

66.  “Para pengganti dalam ummat ini ada tiga puluh orang seperti Ibrahim kekasih Ar Rahman Azza wa Jalla. Setiap kali pengganti itu meninggal, maka Allah mengadakan lagi gantinya seorang.”

Maudhu’, [Al Asraarul Marfuu’ah oleh Ali Al Qaariy (470), Tamyizuth Thayyib minal Khabiits oleh Ibnud Daiba’ (7) dan Al Manaarul Muniif oleh Ibnul Qayyim (308)].

مَا فَضَلَكُمْ أَبُوْ بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وَلاَ صَلاَةٍ ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقُرَ فِي صَدْرِهِ

67.  “Abu Bakar tidaklah mengalahkan kalian karena banyak berpuasa dan shalat, akan tetapi karena sesuatu yang ada dalam hatinya.”

Tidak ada asalnya, [Al Asraarul Marfuu’ah oleh Ali Al Qaariy (452), Al Ahaadits Allatii laa ashla lahaa fil ihyaa’ oleh As Subkiy (288) dan Al Manaarul Muniif (246)].

تَحِيَّةُ الْبَيْتِ الطَّوَافُ

68.  “Tahiyatul masjid di Baitullah adalah thawaf.”

Tidak ada asalnya [Al Asraarul Marfuu’ah (130), Al Lu’lu’ul Marshuu’ (143) dan Al Maudhuu’aat Ash Shughraa oleh Al Qaariy (88)].

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا قَامَ فِي الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ بَيْنَ عَيْنَيِ الرَّحْمَنِ فَإِذَا الْتَفَتَ قَالَ لَهُ الرَّبُّ: يَا ابْنَ آدَمَ إِلَى مَنْ تَلْتَفِتُ؟ إِلَى مَنْ هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنِّي؟ ابْنَ آدَمَ أَقْبِلْ عَلَى صَلاَتِكَ فَأَنَا خَيْرٌ لَكَ مِمَّنْ تَلْتَفِتُ إِلَيْهِِ

69.  “Sesungguhnya seorang hamba ketika berdiri dalam shalat, maka sesungguhnya ia berada di antara kedua mata Ar Rahman. Ketika ia menoleh, Allah berfirman kepadanya, “Wahai anak Adam! Ke siapa kamu menoleh? Apakah kepada yang lebih baik daripada-Ku? Wahai anak Adam! Hadapkanlah shalatmu, sesungguhnya Aku lebih baik bagimu daripada yang kaum pandang ke arahnya.”

Dha’if jiddan (sangat dha’if), [Al Ahaadits Al Qudsiyyah Adh Dha’iifah wal Maudhuu’ah oleh Al ‘Iysawiy (46) dan Adh Dha’iifah (1024)].

وَقَعَ فِي نَفْسِ مُوْسَى: هَلْ يَنَامُ اللهُ تَعَالَى ذِكْرُهُ؟ فَأَرْسَلَ اللهُ إِلَيْهِ مَلَكاً. فَأَرَقَهُ ثَلَاثاً، ثُمَّ أَعْطَاهُ قَارُوْرَتَيْنِ فِي كُلِّ يَدٍ قَارُوْرَةٌ … ثُمَّ نَامَ نَوْمَةً فَاصْطَفَقَتْ يَدَاهُ وَانْكَسَرَتِ اْلقَارُوْرَتَانِ قَالَ: ضَرَبَ اللهُ لَهُ مَثَلاً أَنَّ اللهَ لَوْ كَانَ يَنَامُ لَمْ تَسْتَمْسِكِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ

70.  Pernah terlintas di hati Musa, “Apakah Allah Ta’ala dzikruh tidur?” Maka Allah mengutus seorang malaikat kepadanya, lalu dibangunkanlah Musa di malam hari sebanyak tiga kali, diberikan kepadanya dua buah botol, ditaruh di masing-masing tangannya sebuah botol…lalu Musa tidur, dan bergeraklah kedua tangannya sehingga kedua botol itu (terjatuh) pecah. Disebutkan, bahwa  Allah membuatkan sebuah perumpamaan kepadanya, yakni kalau sekiranya Allah tidur, tentu langit dan bumi lepas.”

Dha’if [Al ‘Ilalul Mutanaahiyah oleh Ibnul Jauziy dan Adh Dha’iifah (1034)].

اَلنَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ مَنْ تَرَكَهَا خَوْفاً مِنَ اللهِ آتَاهُ اللهُ إِيْمَاناً يَجِدُ حَلاَوَتَهُ فِي قَلْبِهِ

71.  “Pandangan adalah salah satu panah di antara panah-panah Iblis, barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberikan keimanan kepadanya, dimana ia  merasakan manisnya di hatinya.”

Dha’if jiddan (sangat dha’if), [At Targhiib wat Tarhib oleh Al Mundziri (4/106), Majma’uz Zawaa’id oleh Al Haitsami (8/63) dan Talkhis Al Mustadrak oleh Adz Dzahabiy (4/314)].

يُعَادُ الْوُضُوْءُ مِنَ الرُّعَافِ السَّائِلِ

72.  “Wudhu diulang karena darah yang keluar dari hidung.”

Maudhu’, [Dzakhiiratul Huffazh oleh Ibnu Thaahir (5/6526) dan Adh Dha’iifah (1071)].

=

لَيْسَ الْإِيْمَانُ بِالتَّمَنِّي وَلاَ بِالتَّحَلِّي، وَلَكِنْ مَا وَقُرَ فِي الْقَلْبِ وَصَدَّقَهُ الْفِعْلُ… الخ

73.      “Iman bukanlah dengan berangan-angan dan berpenampilan, akan tetapi ia merupakan sesuatu yang menancap di hati dan dibenarkan oleh perbuatan…”

Maudhu. [Dzakhiiratul Huffazh oleh Ibnu Thaahir (4/4656), Adh Dha’iifah (1098) dan Tabyiidhush Shahiifah oleh Muhammad ‘Amr (33)].

تَخْرُجُ الدَّابَّةُ، وَمَعَهَا عَصَى مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ، وَخاَتَمُ سُلَيْمَانَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ..فَيَقُوْلُ هَذاَ: يَا مُؤْمِنُ ، وَيَقُوْلُ هَذَا : يَا كَافِرُ

74.      “Dabbah (binatang melata tanda hari kiamat) akan keluar dengan membawa tongkat Nabi Musa ‘alaihis salam dan cincin Nabi Sulaiman ‘alaihis salam, ia berkata kepada seseorang, “Wahai mukmin,” dan berkata kepada yang satu lagi, “Wahai orang kafir.”

Munkar [Adh Dha’iifah (1108)].

اِنْطَلَقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ إِلَى الْغَارِ، فَدَخَلاَ فِيْهِ فَجَاءَتِ الْعَنْكَبُوْتُ فَنَسَجَتْ عَلىَ بَابِ الْغَارِ…الخ

75.      “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar ketika pergi menuju gua dan masuk ke dalamnya, lalu datang laba-laba, ia pun membuat sarang di pintu gua….dst.

Dha’if, [Adh Dha’iifah (1129), At Tahdiits bimaa qiila laa yashihh fiihi hadiits oleh Bakar Abu Zaid (214)].

وَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رِيْحاً فَقَالَ: لِيَقُمْ صَاحِبُ هَذَا الرِّيْحِ فَلْيَتَوَضَّأْ. فَاسْتَحْيَا الرَّجُلُ أَنْ يَقُوْمَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِيَقُمْ صَاحِبُ هَذَا الرِّيْحِ فَلْيَتَوَضَّأْ فَإِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِ مِنَ الْحَقِّ، فَقَالَ الْعَبَّاسُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَلاَ نَقُوْمُ كُلُّنَا نَتَوَضَّأُ؟ فَقَالَ:قُوْمُوْا كُلُّكُمْ فَتَوَضَّؤُوْا

76.      “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium bau, lalu bersabda, “Hendaknya orang yang mengeluarkan bau ini berwudhu,” orang tersebut pun malu untuk bangun, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya orang yang mengeluarkan bau ini berwudhu, karena Allah tidak malu menerangkan yang hak”, Abbas berkata, “Apakah kita semua perlu bangun untuk berwudhu?” Beliau menjawab, “Bangunlah kalian semua dan berwudhulah.”

Bathil, [Adh Dha’iifah (1132)].

إِذَا فَعَلَتْ أُمَّتِي خَمْسَ عَشَرَةَ خَصْلَةٍ حَلَّ بِهَا الْبَلاَءُ: إِذَا كَانَ الْمَغْنَمُ دُوْلاً وَالْأَمَانَةُ مَغْنَماً وَالزَّكَاةُ مَغْرَماً ……..الخ

77.      “Apabila umatku melakukan 15 perkara, maka akan turun musibah; “Apabila ghanimah beredar, amanah menjadi keuntungan dan zakat menjadi kerugian…dst.”

Dha’iif [Sunan At Tirmidzi (2/33), Al ‘Ilalul Mutanaahiyah (2/1421) dan Al Kasyful Ilaahiy (1/33)].

حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ

78.      “Cinta kepada dunia adalah pusat segala keburukan.”

Maudhu’ (palsu), [Ahaaditsul Qashshaas oleh Ibnu Taimiyah (7), Al Asraaul Marfuu’ah (1/163) dan Tadzkiratul Maudhuu’at (173)].

طَلَبُ الْحَلاَلِ جِهَادٌ، وَإِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُحْتَرِفَ

79.      “Mencari rezeki  yang halal adalah jihad, dan sesungguhnya Allah menyukai seorang mukmin yang bekerja.”

Dha’iif [An Nukhbah Al Bahiyyah oleh As Sinbaawiy (57), Al Kasyful Ilaahiy (1/518) dan Adh Dha’iifah (1301)].

لِكُلِّ شَيْءٍ عَرُوْسٌ وَعَرُوْسُ الْقُرْآنِ الَّرحْمَنُ

80.      “Segala sesuatu memiliki mempelai, dan mempelai Al Qur’an adalah surah Ar Rahman.”

Munkar [Adh Dha’iifah (1350)].

سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ

81.      “Ketua sebuah kaum adalah pelayan mereka.”

Dha’iif [Al Maqaashid Al Hasanah oleh As Sakhaawiy (579) dan Adh Dha’iifah (1502)]..

عَلَيْكُمْ بِالشِّفَائَيْنِ: اْلعَسَلُ وَالْقُرْآنُ

82.      “Kalian harus menggunakan dua obat; madu dan Al Qur’an.”

Dha’if, [Al Ahaaadits Al Mu’allah zhaahiruhash shihhah oleh Al Waadi’iy (247) dan Adh Dha’iifah (1514)].

آمَنَ شَعْرُ أُمَيَّةَ بْنِ أَبِِي الصَّلْتِ وَكَفَرَ قَلْبُهُ

83.      “Rambut Umayyah bin Abish Shalt beriman, namun hatinya kafir.”

Dha’if [Kasyful Khafaa’ (1/19) dan Adh Dha’iifah (1546)].

اَلْبِرُّ لاَ يَبْلَى وَاْلِإثْمُ لاَ يُنْسَى وَالدَّيَّانُ لاَ يَنَامُ فَكُنْ كَمَا شِئْتَ كَمَا تَدِيْنُ تُدَانُ

84.      “Kebajikan tidaklah rapuh, dosa tidaklah dilupakan dan Pemberi balasan tidaklah tidur, maka lakukanlah terserahmu. Oleh karena kamu beramal, maka kamu akan diberi balasan.”

Dha’if, [Al Kasyful Ilaahiy oleh Ath Tharaablisi (681) dan Al Lu’lu’ul Marshuu’ oleh Al Masyisyi (414)].

لَمُعَالَجَةُ مَلَكُ الْمَوْتِ أَشَدُّ مِنْ أَلْفِ ضَرْبَةٍ بِالسَّيْفِ

85.      “Sungguh apa yang dilakukan malaikat maut lebih dahsyat daripada 1.000 kali pukulan pedang.”

Dha’if jiddan, [Tartiibul Maudhuu’aat oleh Adz Dzahabiy (1071) dan Al Maudhuu’at oleh Ibnul Jauziy (3/220)].

بَادِرُوْا بِالْأَعْمَالِ سَبْعاً، هَلْ تَنْتَظِرُوْنَ إِلاَّ مَرَضاً مُفْسِداً وَهَرَماً مُفَنِّداً أَوْ غِنًى مُطْغِياً أَوْ فَقْراً مُنْسِياً أَوْ مَوْتاً مُجْهِزاً أَوِ الدَّجاَّلَ فَشَرٌّ غَائِبٌ يُنْتَظَرُ أَوِ السَّاعَةُ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ

86.      “Segeralah beramal sebelum (datang) tujuh hal, karena tidak ada yang kalian tunggu selain sakit yang membinasakan, masa tua yang melemahkan, kaya yang melampaui batas, kemiskinan yang membuat lupa, mati yang segera, dajjal, keburukan yang belum tampak yang sedang dinantikan atau kiamat, dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.”

Dha’if, [Dzakhiiratul Huffaazh oleh Ibnu Thaahir (2/2313) dan Adh Dha’iifah (1666)].

أَجْرَؤُكُمْ عَلىَ الْفُتْيَا أَجْرَئُكُمْ عَلَى النَّارِ

87.      “Orang yang paling berani berfatwa adalah orang yang paling berani masuk neraka.”

Dha’if [Adh Dha’iifah (1814)].

اِتَّقُوْا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُوْرِ اللهِ

88.      “Takutlah kamu terhadap firasat orang mukmin, karena ia memandang dengan cahaya Allah.”

Dha’if, [Tanziihusy Syarii’ah oleh Al Kanaaniy (2/305) dan Al Maudhuu’at oleh Ash Shaghaaniy (74)].

اَلدُّنْيَا دَارُ مَنْ لاَ دَارَ لَهُ وَمَالُ مَنْ لاَ مَالَ لَهُ وَلَهَا يَجْمَعُ مَنْ لاَ عَقْلَ لَهُ

89.      “Dunia adalah tempat bagi orang yang tidak punya tempat, harta bagi orang yang tidak punya harta, karena dunia orang yang tidak punya akal mengumpulkan (harta).”

Dha’if jiddan, [Al Ahaadits al latii laa ashla lahaa fil Ihyaa’ oleh As Subkiy (344) dan Tadzkiratul Maudhuu’at oleh Al Fataniy (174)].

لاَ تَجْعَلُوْا آخِرَ طَعَامِكُمْ مَاءً

90.      “Janganlah kamu menjadikan makanan terakhirmu adalah air.”

Tidak ada asalnya, [Adh Dha’iifah (2096)].

إِنَّ لِلْقُلُوْبَ صَدَأٌ كَصَدَإِ الْحَدِيْدِ وَجَلاَؤُهَا اْلِاسْتِغْفَارُ

91.      “Sesungguhnya hati bisa berkarat sebagaimana besi, namun yang membuat berkilap lagi adalah istighfar.”

Maudhu’, [Dzakhiiratul Huffaz (2/1978) dan Adh Dha’iifah (2242)].

رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى اْلأَكْبَرِ

92.      “Kita pulang dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar.”

Tidak ada asalnya, [Al Asraarul Marfuu’ah (211) dan Tadzkiratul Maudhuu’at oleh Al Fataniy (191)].

مَنْ أَفْطَرَ يَوْماً مِنْ رَمَضَانَ فِي غَيْرِ رُخْصَةٍ رَخَّصَهَا اللهُ لَهُ، لَمْ يُقْضَ عَنْهُ صِيَامَ الدَّهْرِ كُلَّهُ، وَإِنْ صَامَهُ

93.      “Barang siapa yang berbuka sehari di bulan Ramadhan bukan karena rukhshah yang diberikan Allah kepadanya, maka puasa itu tidak bisa diqadha’ meskipun setahun penuh ia berpuasa.”

Dha’if, [Tanziihusy Syarii’ah (2/148) dan At Targhiib wat Tarhiib (2/74)].

إِنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ حَبْوًا

94.      “Sesungguhnya Abdurrahman bin ‘Auf akan masuk surga sambil merangkak.”

Maudhu’, [Al Manaarul Muniif oleh Ibnul Qayyim (306) dan Al Fawaa’idul Majmuu’ah oleh Asy Syaukaani (1184)].

أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللهِ الطَّلاَقُ

95.      “Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah thalaq.”

Dha’if, [Al ‘Ilalul Mutanaahiyah oleh Ibnul Jauziy (2/1056) dan Adz Dzakhiirah (1/23)].

لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ جَعَلَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ وَاْلوَلاَئِدُ يَقُوْلُوْنَ :

طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا

أَيُّهَا الْمَبْعُوْثُ فِيْنَا مِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعِ

مَا دَعَا ِللهِ دَاعٍ جِئْتَ بِالْأَمْرِ الْمُطَاعِ

96.      Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, kaum wanita, anak-anak, dan budak berkata:

Telah datang bulan purnama kepada kami, maka kita wajib bersyukur

Wahai seorang utusan yang datang kepada kami dari Tsaniyyatul wadaa’

Selama masih ada yang  berdoa kepada Allah

Engkau datang membawa perintah yang ditaati.”

Dha’if, [Ahaaditsul Qashshaas (17) dan Tadzkiratul Maudhuu’aat (196)].

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

97.      “Jauhilah olehmu sifat dengki, karena dengki akan memakan kebaikan sebagaimana api mpeerles martial god, emakan kayu bakar.”

Dha’if, [At Taarikhul Kabiir (1/272) dan Mukhtashar Sunan Abi Dawud oleh Al Mundziri (7/226)].

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُوْلُ: أَنَا اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا مَالِكُ الْمُلُوْكِ وَمَلِكُ الْمُلُوْكِ قُلُوْبُ الْمُلُوْكِ فِي يَدِيْ وَإِنَّ الْعِبَادَ إِذَا أَطَاعُوْنِي حَوَّلْتُ قُلُوْبَهُمْ عَلَيْهِمْ بِالسُّخْطِ وَالنِّقْمَةِ فَسَامُوْهُمْ سُوْءَ اْلعَذَابِ، فَلاَ تَشْغِلُوْا أَنْفُسَكُمْ بِالدُّعَاءِ عَلَى الْمُلُوْكِ…..الخ

98.      Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman, “Aku adalah Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Aku, Yang Menguasai semua kerajaan, Raja para raja, hati para raja ada di Tangan-Ku. Sesungguhnya semua hamba jika mereka menaati-Ku, maka Aku akan merubah hati mereka menjadi marah dan dendam kepada raja-raja sehingga mereka menimpakan siksaan yang buruk, maka janganlah kamu menyibukkan dirimu mendoakan keburukan kepada para raja…dst.”

Dha’if jiddan (sangat dha’if), [Al Ahaadits Al Qudsiyyah oleh Al ‘Aisawiy (43) dan Adh Dha’iifah (602)].

اَلْأَذَانُ وَالْإِقَامَةُ فِي أُذُنِ الْمَوْلُوْدِ

99.      “Azan dan iqamat dilakukan di telinga bayi.”

Dha’if jiddan, [Bayaanul Wahm oleh Ibnul Qaththan (4/594), Al Majruuhiin oleh Ibnu Hibban (2/128) dan Adh Dha’iifah (1/494)].

اَلْحِكْمَةُ ضَالَّةُ كُلِّ حَكِيْمٍ ،فَإِذَا وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا

100.   “Hikmah adalah sesuatu yang hilang milik orang yang bijak. Jika ada yang menemukannya, maka dia lebih berhak terhadapnya.”

Dha’if, [Al Mutanaahiyah oleh Ibnul Jauziy (1/96) dan Sunan At Tirmidzi (5/51)]

Selesai penerjemahan 100 hadits dha’if dan maudhu’ dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya. Wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan Bin Musa

 
 

 
 

•••••••••••••••••••••••

_*Ya Allah, saksikanlah bahwa kami telah menjelaskan dalil kepada umat manusia, mengharapkan manusia mendapatkan hidayah,melepaskan tanggung jawab dihadapan Allah Ta’ala, menyampaikan dan menunaikan kewajiban kami. Selanjutnya, kepadaMu kami berdoa agar menampakkan kebenaran kepada kami dan memudahkan kami untuk mengikutinya*_

_*Itu saja yang dapat Ana sampaikan. Jika benar itu datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Kalau ada yang salah itu dari Ana pribadi, Allah dan RasulNya terbebaskan dari kesalahan itu.*_

_*Sebarkan,Sampaikan,Bagikan artikel ini jika dirasa bermanfaat kepada orang-orang terdekat Anda/Grup Sosmed,dll, Semoga Menjadi Pemberat Timbangan Amal Kebaikan Di Akhirat Kelak.*_

_*”Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orangyang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.”* (HR Muslim no. 2674)_

Date: 3 Oktober 2018Author: zainudinayyubi

 

 https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2018/10/03/12-seratus-hadits-dhaif-dan-maudhu/2/

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 333 kali, 1 untuk hari ini)