(Bahasa Jawa di bagian bawah)

  • Jokowi dan Ahok yang diharapkan membawa berkah dan kesejahteraan, justeru yang didapat rakyat adalah bencana, musibah, dan azab. Tokoh “ajaib” yang merupakan jadian-jadian media kristen dan sekuler ini, betapapun hebatnya opini, akhirnya hanya membawa kesengsaraan dan penderitaan rakyat.
  • Seperti umumnya pejabat dan pemimpin Indonesia masa kini. Hanya membawa kesengsaraan dan penderitaan rakyat.

Jokowi&Ahok_83467523642

Jakarta (voa-islam.com) Rakyat yang memilih Jokowi hidungnya sudah mekar, kembang-kempis. Optimis. Menjadi lebih baik hidup mereka.

Rakyat yang terlunta-lunta di kolong-kolong jembatan, pinggiran rel kereta,  dibantaran kali, emper-emper toko, penghuni  gubuk-gubuk reot, kuli, pedagang asongan, pengamen, pengemis, dan para pengangguran, semua sudah berharap berubah nasibnya bersama dengan  Jokowi.

Para pengusaha keturunan Cina yang sudah mengangkangi kota Jakarta, dan mereka sudah bersuka cita atas kemenangan Ahok. Para pengusaha dan taipan keturunan Cina itu, sudah merasa membantu Ahok. Saatnya akan menikmati buahnya. Bersama dengan Ahok. Terbayang sudah hari-hari mendatang akan lebih menikmati kemujuran bisnis. Kemujuran dan kemakmuran bersama dengan Ahok. Kekayaan mereka akan bertambah bertumpuk-tumpuk. Terbayang dimata mereka.

Dua pendatang baru di ibu kota Jakarta ini, Jokowi dan Ahok, yang hanya bermodalkan berita dan  opini media massa dari  kalangan kristen dan sekuler, keduanya berubah menjadi tokoh yang sangat “ajaib”, seakan turun dari langit, yang memang membawa misi mengubah Jakarta.

Jokowi dan Ahok, seakan oleh media kristen dan sekuler itu, keduanya akan membawa kemuliaan hidup, membawa keberkahan  hidup, membawa kesejahteraan hidup, membawa kebahagiaan hidup, dan segalanya ditumpahkan harapan mereka kepada Jokowi dan Ahok.

Media massa menyihir rakyat dari berbagai lapisan, dan mereka menjadi sangat terpesona, kagum, dan tak habis-habisnya mensyukuri datangnya Jokowi dan Ahok. Mereka yang  hidupnya sudah sumpek, seperti mendapatkan jendela lebar, dan derasnya angin perubahan yang bakal merubah seluruh  nasib dan kehidupan mereka.

Rakyat benar-benar terhipnotis oleh media massa kristen dan sekuler yang mempunyai “hiden” (agenda tersembunyi), dan membuat tokoh jadian-jadian itu, Jokowi dan Ahok, langsung sontak seperti meteor di malam hari. Rakyat yang berbondong-bondong ke kotak suara menjatuhkan pilihannya kepada pendatang baru itu, Jokowi dan Ahok.

Kemudian, Jokowi dan Ahok, yang tak pernah dikenal oleh masyarakat Jakarta, mendapatkan suara 56 persen suara.

Sejatinya, yang memilih Jokowi dan Ahok itu, tidak banyak-banyak amat, karena suara Golput di DKI, 40 persen, dan Foke masih mendapatkan suara 47 persen.

Jadi yang memilih Jokowi dan Ahok, itu hanyalah mereka  yang menjadi korban opini dan pemberitaan media kristen dan sekuler, dan memang media itu ingin menjadikan kota Jakarta ini sebagai kota antah-berantah. Kehidupan sekuler, tanpa agama, dan menjauhkan rakyat dari Islam.

Bagaimana rakyat di Jakarta menjadi kumpulan manusia “la diniyah” (tanpa agama), yang bisa melampiaskan segala hawa nafsunya. Seperti binatang. Pergi pagi pulang malam. Sekadar mengejar uang yang tidak seberapa.

Hidup dengan segala konsekwensinya, yang penuh dengan kemaksiatan dan penyimpangan yang tanpa batas. Laki perempuan di kantor di DKI ini, tanpa ada batas, dan bahkan banyak terjadi permesuman diantara mereka.

Inilah  hakekatnya tujuannya media kristen dan sekuler yang sangat antusias ingin menjadikan Jokowi dan Ahok sebagai Gubernur DKI. Sesudah itu rakyat yang lemah itu, akhirnya diperbudak oleh para “bos” yang memiliki kuasa dan menguasai uang di Jakarta.

Tenaga mereka diperas habis dari pagi sampai larut malam, saban  hari, tanpa ada jeda. Tak ada waktu mereka memikirkan agama. Pokoknya, ritme hidup di Jakarta yang ada hanyalah : uang-uang dan uang. Mengejar uang recehan. Sementara itu, para “bos” yang terus menumpuk keuntungan dan kemakmuran, serta hidup dengan uang dan harta berlimpah.

Tetapi, siapakah Jokowi dan Ahok, dan apakah memang manusia yang sangat super, dan memiliki kehebatan yang luar biasa? Sekarang 100 hari pemerintahan yang media kristen dan sekuler, dan sudah berancang-ancang akan membuat surprise bagi rakyat Jakarta, tentang kisah “sucsess story” (kisah sukses) Jokowi dan Ahok.

Media kristen dan sekuler sengaja menggelembungkan Jokowi dan Ahok mulai dari perayaan tahun baru 2013 masehi, perayaan yang begitu  yang sangat dahsyat. Di mana dipusatkan di Bunderan HI (Hotel Indonesia), Jalan Thamrin, Sudirman, Monas, dan Ancol. Ratusan ribu rakyat Jakarta yang sudah kesengsem dengan Jokowi dan Ahok hiruk pikuk semalam suntuk.

Jokowi dan Ahok akan menjadi pahlawan baru di DKI. 100 hari Jokowi dan Ahok, selanjutnya akan menjadi hari bersejarah, dan membawa perubahan, perbaikan dan masa depan yang sangat membahagiakan rakyat.

Kenyataanya,  Allah Rabbul Alamin Maha Berkehendak, membuat rencana lain, sejak hari Selasa 15  Januari sampai Kamis 17 Januari, hujan berturut-turut, mengguyur di Jakarta. Tanpa  henti. Awan menggumpal tebal di atas langit Jakarta. Padahal, di Jawa Timur, Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Barat, tak seberapa huja jatuh.

Jakarta yang sudah larut dalam gegap-gempita pesta tahun baru, yang penuh dengan hingar bingar, dan akan menjadi “starting point” (titik tolak) Jokowi dan Ahok, tenggelam bersama dengan banjir di seluruh kawasan Jakarta. Seperti cerita film : Bernafas Dalam Lumpur. Sedih. Semuanya luluh lantak. Memperbaikinya kembali tidak cukup dengan satu dekade.

Gubernur DKI Jakarta Jokowi menegaskan, banjir yang terjadi selama sepekan di Ibu Kota telah menimbulkan kerugian sekitar Rp 20 triliun. Apabila kondisi seperti ini terus dibiarkan, kerugian yang dialami kota ini akan semakin besar.

Perdagangan Harco Glodok, Lindeteves, Pasar Pagi, Pancoran, Perniagaan, hingga sentra garmen Tambora di Jakarta Barat, yang selama ini dikenal sebagai mesin uang Jakarta, hancur. Total omzet bisnis di kawasan ini bisa mencapai triliunan rupiah, semuanya hancur akibat banjir.

“Di Harco Glodok saja ada sekitar 100 pedagang dengan perputaran uang setiap hari rata-rata mencapai Rp 400 juta per orang. Jadi, bisa dihitung berapa kehilangan omzet para pedagang di sini,” kata pedagang grosir besar, Afand, Selasa (22/1/2013).

Sementara itu, pengusaha garmen berbahan kaus di Tambora, Yupiter, mengatakan, selama empat hari, usahanya rugi Rp 50 juta. “Di Tambora ada sekitar 300 usaha garmen yang skalanya sama dengan skala usaha saya. Jadi selama empat hari, total kerugian ke-300 pengusaha itu selama empat hari tidak beroperasi, mencapai Rp 15 miliar,” tutur Yupiter.

Tutum Rahanta, Ketua Harian Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, mengatakan, tutupnya kawasan grosir di Glodok, Mangga Dua, dan sekitarnya memang menyebabkan mandeknya aktivitas ekonomi di kawasan itu.

Tutum tak menutup kemungkinan ada sebagian masyarakat yang sehari-harinya menggantungkan hidupnya di kawasan itu dan langsung merasakan negatif dampak banjir.

“Dari keseluruhan aktivitas perekonomian di kawasan Glodok, Mangga Dua, dan sekitarnya, mungkin lebih sekitar 20 persennya yang terdampak langsung. Mereka yang terkena dampak langsung itu antara lain penjual nasi dan makanan, tukang parkir, dan kuli angkut. Mereka langsung tidak dapat penghasilan untuk kehidupan sehari-hari,” katanya. Mereka ini yang sudah larut dengan Jokowi dan  Ahok.

“Ini lingkaran setan. Begitu banyak uang dipakai untuk penanganan banjir yang terus berulang, tanpa ada lompatan penyelesaian yang signifikan,” katanya.

Bencana banjir telah berdampak terhadap perekonomian warga. Itu terpantau pada transaksi gadai di kantor pegadaian yang melonjak hampir dua kali lipat. Kondisi itu diperberat lagi dengan kenaikan harga sejumlah bahan makanan yang cukup tinggi.

Pegadaian Cabang Jatinegara, contohnya, setelah banjir surut, transaksi gadai di kantor itu langsung melonjak jadi Rp 500 juta hari Senin. Padahal, selama banjir, transaksi gadai sempat anjlok menjadi Rp 50 juta per hari dari rata-rata Rp 300 juta per hari.

Pemimpin Pegadaian Cabang Jatinegara, Henrianto, mengatakan, selama banjir mengepung sejumlah kawasan Jakarta Timur, transaksi gadai di Pegadaian Cabang Jatinegara dan 9 kantor unit yang ada di bawahnya anjlok semua. “Baru pada Senin, setelah banjir surut, transaksi gadai langsung jadi Rp 500 juta,” katanya, Selasa.

Jokowi dan Ahok yang diharapkan membawa berkah dan kesejahteraan, justeru yang didapat rakyat adalah bencana, musibah, dan azab. Tokoh “ajaib” yang merupakan jadian-jadian media kristen dan sekuler ini, betapapun hebatnya opini, akhirnya hanya membawa kesengsaraan dan penderitaan rakyat.

Seperti umumnya pejabat dan pemimpin Indonesia masa kini. Hanya membawa kesengsaraan dan penderitaan rakyat. Wallahu’alam. Voaislam.com, Rabu, 23 Jan 2013

***

Bahasa Jawa

Setunggal atus dinten pamerentahan Jokowi harapan rakyat cunthel

Jokowi lan  Ahok ingkang diharapkan mbekta berkah lan  kesejahteraan, justeru ingkang dipun pekoleh rakyat yaiku bencana, musibah, lan  azab. Tokoh “ajaib” ingkang ngrupikaken dados-dadosan media massa kristen lan  sekuler punika, betapapun hebatnya opini, akhiripun namung mbekta kerekaosan lan  pangrekaosan rakyat.

Kados umumnya pejabat lan  pemimpin Indonesia masa sakmenika. namung mbekta kerekaosan lan  pangrekaosan rakyat.

Jakarta voa-islamcom- Rakyat ingkang mileh Jokowi irungipun sampun mekrok, kembang-kempis. Optimis. dados langkung sae gesang piyambake sedaya.

Rakyat ingkang terlunta-lunta ing kolong-kolong kreteg, pinggiran rel kereta, di bantaran lepen, emper-emper toko, penghuni gubuk-gubuk reot, kuli, panggramen asongan, pengamen, pengemis, lan  para pengangguran, sedaya sampun ngajeng-ajeng berubah nasibnya sareng kaliyan Jokowi.

Para pangupados turunan Cina ingkang sampun mengangkangi kitha Jakarta, lan  piyambake sedaya sampun remen cita inggil kemimpangan Ahok. Para pengusaha lan  taipan turunan Cina punika, ngrumantosi mbiantu Ahok. kalanipun badhe menikmati buahnya. sareng kaliyan Ahok. Terbayang sampun dinten-dinten ndatheng badhe langkung menikmati kemujuran bisnis. Kemujuran lan  kemakmuran sareng kaliyan Ahok. kesugihan piyambake sedaya badhe minggah bertumpuk-tumpuk. Terbayang ing mripate piyambake sedaya.

kekalih pandatheng enggal ing ibu kitha Jakarta punika, Jokowi lan  Ahok, ingkang namung bermodalkan warta lan  opini media massa saking kalangan kristen lan  sekuler, kekalihipun berubah dados tokoh ingkang ajaib” sanget”, sabadhe mandhap saking tawang, ingkang pancen mbekta misi mengubah Jakarta.

Jokowi lan  Ahok, sabadhe dening media massa kristen lan  sekuler punika, kekalihipun badhe mbekta kemuliaan gesang, mbekta keberkahan gesang, mbekta kesejahteraan gesang, mbekta kebahagiaan gesang, lan  samukawisipun ditumpahkan harapan piyambake sedaya dhateng Jokowi lan  Ahok.
media massa menyihir rakyat saking macem-macem lapisan, lan  piyambake sedaya dados kayungyun sanget, kagum, lan  mboten telas-telasipun mensyukuri dathengipun Jokowi lan  Ahok. piyambake sedaya ingkang gesangipun sampun sumpek, kados angsal  jendela wiyar, lan  derasnya angin ewah-ewahan ingkang bakal ngewahi sedaya nasib lan  kegesangan piyambake sedaya.
Rakyat leres-leres terhipnotis dening media massa kristen lan  sekuler ingkang nggadhahi “hiden” (agenda tersembunyi), lan  ndamel tokoh dadosan-dadosan punika, Jokowi lan  Ahok, lajeng sontak kados meteor ing dalu dinten. Rakyat ingkang bidhal datheng kotak suwanten ndhawahaken pilehanipun dhateng pandatheng enggal punika, Jokowi lan  Ahok.  lajeng, Jokowi lan  Ahok, ingkang mboten nate dipun tepang dening masyarakat Jakarta, angsal  suwanten 56 persen suwanten.

Sejatosipun, ingkang mileh Jokowi  lan  Ahok punika, mboten kathah-kathah sanget, amargi suwanten Golput ing DKI, 40 persen, lan  Foke taksih angsal  suwanten 47 persen. dados ingkang mileh Jokowi lan  Ahok, punika namunga piyambake sedaya ingkang dados korban opini lan  pawartos media massa kristen lan  sekuler, lan  pancen media massa punika kersa dadosaken kitha Jakarta punika dados kitha antah-berantah. kegesangan sekuler, tanpa agami, lan  nebihaken rakyat saking Islam. kados pundi rakyat ing Jakarta dados kempalan manusia “la diniyah” (tanpa agami), ingkang saged melampiaskan samukawis hawa nafsunya. kados binatang. kesah enjang mantuk dalu. Sekadar mbujeng arta ingkang mboten sepinten. gesang kaliyan samukawis konsekwensinya, ingkang kebak kaliyan kemaksiatan lan  penyimpangan ingkang tanpa wates. Laki estri ing kantor ing DKI punika, tanpa enten wates, lan  bahkan kathah kedadosan permesuman ing antawis piyambake sedaya. punika hakekatnya tujuanipun media massa kristen lan  sekuler ingkang antusias sanget kersa dadosaken Jokowi lan  Ahok dados Gubernur DKI. sasampun punika rakyat ingkang lemah punika, akhiripun diperbudak dening para “bos” ingkang nggadhahi kuwaos lan  nguwasani arta ing Jakarta.
Tenaga piyambake sedaya diperas telas saking enjang ngantos larut dalu, saben dinten, tanpa enten untawis. mboten enten wanci piyambake sedaya mikiraken agami. bakunipun, ritme gesang ing Jakarta ingkang enten namung : arta-arta lan  arta. mbujeng arta recehan. Sementara punika, para “bos” ingkang terus menumpuk keuntungan lan  kemakmuran, mawi gesang kaliyan arta lan  banda berlimpah.
nanging, sinten Jokowi lan  Ahok, lan  napa pancen manusia ingkang super sanget, lan  nggadhahi kelinangkungan ingkang linangkung? sakmenika 100 dinten pamerentahan ingkang media massa kristen lan  sekuler, lan  sampun berancang-ancang badhe ndamel surprise kunjuk rakyat Jakarta, babagan kisah “sucsess story” (kisah sukses) Jokowi lan  Ahok. media massa kristen lan  sekuler sengaja menggelembungkan Jokowi lan  Ahok awiti saking perayaan taun enggal 2013 masehi, perayaan ingkang mekaten ingkang dahsyat sanget. ing pundi dipun pusataken ing Bunderan HI (Hotel Indonesia), radin Thamrin, Sudirman, Monas, lan  Ancol. atusan ewu rakyat Jakarta ingkang sampun kesengsem kaliyan Jokowi  lan  Ahok hiruk pikuk sadalu muput. Jokowi lan  Ahok badhe dados pahlawan enggal ing DKI. 100 dinten Jokowi lan  Ahok, salajengipun badhe dados dinten bersejarah, lan  mbekta ewah-ewahan, saen lan  masa ngajeng ingkang membahagiakan sanget rakyat.

Kenyataanya, Allah Rabbul Alamin Maha Berkehendak, ndamel rencana benten, awit dinten Selasa 15 Januari ngantos Kamis 17 Januari, jawah terus-terusan, mengguyur ing Jakarta. Tanpa kendel. mega menggumpal tebal ing inggil tawang Jakarta. Padahal, ing Jawi wetan, madya, Yogyakarta, lan  Jawi kilen, mboten sepinten jawah dhawah.

Jakarta ingkang sampun larut lebet gegap-gempita pesta taun enggal, ingkang kebak kaliyan hingar bingar, lan  badhe dados “starting point” (titik tolak) Jokowi lan  Ahok, tenggelam sareng kaliyan bena/ banjir ing sedaya kawasan Jakarta. kados cerios film : ambekan ing  lebet Lumpur. sedhih. sedayanipun luluh lantak. nyaeakenipun wangsul mboten cekap kaliyan setunggal dekade.
Gubernur DKI Jakarta Jokowi menegaskan, bena ingkang kedadosan salebetipun sepekan ing ibu kitha sampun menimbulkan ketunan sekitar Rp 20 triliun. menawi kondisi makaten terus ing salajengipun, ketunan ingkang dipun alami kitha punika badhe tambah ageng.

pertokoan Harco Glodok, Lindeteves, peken enjang, Pancoran, gramenan, ngantos sentra garmen Tambora ing Jakarta kilen, ingkang salebetipun punika dipun tepang dados mesin arta Jakarta, hancur. Total omzet bisnis ing kawasan punika saged mencapai triliunan rupiah, sedayanipun hancur akibat bena.

“ing Harco Glodok kemawon enten sekitar 100 panggramen kaliyan puteran arta saben dinten radin-radin mencapai Rp 400 yuta saben tiyang. dados, saged dipun etang pinten kecalan omzet para panggramen ing mriki,” kata panggramen grosir ageng, Afand, Selasa (22/1/2013).

Sementara punika, pangupados garmen bakal kaus ing Tambora, Yupiter, ngginemaken, salebetipun sekawan dinten, upadosipun tuna Rp 50 yuta. “ing Tambora enten sekitar 300 upados garmen ingkang skalanya sami kaliyan skala upados kula. dados salebetipun sekawan dinten, total ketunan datheng-300 pangupados punika salebetipun sekawan dinten mboten beroperasi, mencapai Rp 15 miliar,” sanjange Yupiter.

Tutum Rahanta, pandega padintenan Asosiasi pangupados Ritel Indonesia, ngginemaken, tutupnya kawasan grosir ing Glodok, nyanggi kalih, lan  sekitarnya pancen murugaken mandeknya aktivitas ekonomi ing kawasan punika.

Tutum mboten menutup kemungkinan enten sakunjukan masyarakat ingkang sadinten-dintenipun menggantungkan gesangipun ing kawasan punika lan  lajeng rumaosaken negatif dampak bena.
“saking kesedayan aktivitas perekonomian ing kawasan Glodok, nyanggi kalih, lan  sekitarnya, bokmenawi langkung sekitar 20 persennya ingkang terdampak lajeng. piyambake sedaya ingkang kenging dampak lajeng punika antawisipun panyade sekul lan  tedhan, tukang parkir, lan  kuli angkut.

piyambake sedaya lajeng mboten saged angsal kegesangan sadinten-dinten,” criyosipun. piyambake sedaya punika ingkang sampun larut kaliyan Jokowi lan  Ahok. “punika lingkaran setan. Begitu banyak uang dipakai untuk penanganan banjir yang terus berulang, tanpa ada lompatan penyelesaian yang signifikan,” katanya.

Bencana bena sampun berdampak dhateng perekonomian warga. punika terpantau ing transaksi gadai ing kantor pegadaian ingkang melonjak hampir kaping kalih lipat. Kondisi punika dipun kuataken malih kaliyan indhak-indhakan regi sawilangan  tedhan ingkang cekap inggil. pegadaian Cabang Jatinegara, tuladhanipun, saksampune bena surut, transaksi gadai ing kantor punika lajeng melonjak dados Rp 500 yuta dinten Senin. Padahal, salebetipun bena, transaksi gadai sempat anjlok dados Rp 50 yuta saben dinten saking radin-radin Rp 300 yuta saben dinten. pemimpin pegadaian Cabang Jatinegara, Henrianto, ngginemaken, salebetipun bena ngepang sawilangan kawasan Jakarta wetan, transaksi gadai ing panggadaian Cabang Jatinegara lan  9 kantor unit ingkang enten ing ngandhapipun anjlok sedaya. “enggal ing Senin, saksampune bena surut, transaksi gadai lajeng dados Rp 500 yuta,” criyosipun, Selasa.

Jokowi lan  Ahok ingkang diharapkan mbekta berkah lan  kesejahteraan, justeru ingkang dipun pekoleh rakyat yaiku bencana, musibah, lan  azab. Tokoh “ajaib” ingkang ngrupikaken dados-dadosan media massa kristen lan  sekuler punika, betapapun hebatnya opini, akhiripun namung mbekta kerekaosan lan  pangrekaosan rakyat. kados umumnya pejabat lan  pemimpin Indonesia masa sakmenika. namung mbekta kerekaosan lan  pangrekaosan rakyat. Wallahu’alam. Voaislam.com, Rabu, 23 Jan 2013

(nahimunkar.com)

(Dibaca 383 kali, 1 untuk hari ini)