Ilustrasi foto al-viraal/prtlislmid

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607).

***

TERCYDUK! Ternyata Jokowi BOHONG Soal Rem Sepeda Onthel

Jokowi menunggangi sepeda ontel saat memperingati Hari Pahlawan di Bandung. Jokowi mengaku grogi karena sepeda klasik tersebut tidak dilengkapi rem. Benarkah?

“Jadi tadi saya agak groginya di situ, remnya enggak ada. Kalau jalannya ada turunnya tajam, saya tubrukkan trotoar kali supaya berhenti,” ucap Jokowi kepada wartawan, Sabtu 10 November 2018.

Sepeda ontel yang ditunggangi mantan Gubernur DKI Jakarta itu merupakan jenis Black Dames tahun 1940-an. Sang pemilik sepeda, Wahab Romli mengungkapkan sepeda miliknya dilengkapi rem.

“Kebetulan yang menyerahkan (sepeda) saya sendiri. Sudah saya jelaskan soal sistem pengereman langsung ke pak Jokowi. Beliau paham dan langsung dicoba,” kata Wahab saat dihubungi via telepon genggam, Senin 12 Novembef 2018.

Dia menuturkan sistem pengereman sepeda ontel miliknya berbeda dari kebanyakan. Sepeda ontel miliknya menggunakan sistem coaster brake atau lazim dikenal torpedo.

“Jadi memang gak ada rem tangan. Tapi sistem pengeremannya torpedo. Cara ngeremnya pedal sepeda diayunkan ke belakang,” jelas Ketua Paguyuban Sepeda Baheula Bandung ini.

Warganet pun berkomentar.
Soal rem sepeda aja dia bohong. Emang akut sih pic.twitter.com/fuzTXxLXis

— Cipta Panca Laksana (@panca66) November 13, 2018

portal-islam.id Selasa, 13 November 2018  Berita NasionalPemilu 2019Sosial Media

***

Video ini lain, sepeda tanpa rem rupanya:

Posted by Faozan Rosma on Tuesday, November 13, 2018

***

Cinta Kajian Sunnah

LARANGAN BERDUSTA/ BERBOHONG

بسم الله الرحمن الرحيم
عن عبد الله قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم:وَ إِيَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ فَإِنَّ اْلكَذِبَ يَهْدِى إِلىَ اْلفُجُوْرِ وَ إِنَّ اْلفُجُوْرَ يَهْدِى إِلىَ النَّارِ وَ مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَ يَتَحَرَّى اْلكَذِبَ حَتىَّ يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dari Abdullah (bin Mas’ud) radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Waspadalah kalian terhadap dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kemaksiatan dan kemaksiatan itu menyeret ke neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”  . [HR Muslim: 2607, al-Bukhoriy: 6094, Abu Dawud: 4989 at-Turmudziy: 1971, Ibnu Majah: 3849, ad-Darimiy: II/ 299-300 dan Ahmad: I/ 3, 5, 7, 8, 9, 11, 384, 405, 433. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 1809, Shahih Sunan Abi Dawud: 4174, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1606, Shahih Sunan Ibni Majah: 3104, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4071dan al-Adab: 388].

Faidah hadits,
1). Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan umatnya agar berhati-hati dari suka berdusta.
2). Dusta adalah memberitakan sesuatu yang berlainan dengan keadaan dan kejadian perkara tersebut, baik disengaja atau karena tidak tahu. [Bahjah an-Nazhirin: III/ 64].
3). Kebiasaan berdusta akan membawa pelakunya kepada berbagai perbuatan maksiat. Sebab biasanya dusta itu sebagai tameng atas perbuatan dosa pelakunya, dan jika ia berhasil dengan berdusta maka ia akan selalu menamengi dirinya dengan dusta.
4). Dan jika ia dengan bertamengkan dusta dapat selamat dalam kemaksiatannya, maka kemaksiatan itu akan dapat menyeret dan menjerumuskannya ke dalam neraka.
5). Lalu apabila seseorang gemar dalam berdusta bahkan telah menjadi darah daging baginya maka Allah ta’ala akan mencap dan mencatatnya sebagai pendusta.
6). Diharamkannya berdusta, karena berdusta itu merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Dan pelakunya diancam dengan neraka.
7). Oleh sebab itu diwajibkan bagi setiap muslim yang ingin baik keislamannya untuk meninggalkan dan menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan dusta.
8). Dan diwajibkan baginya untuk membiasakan diri dengan selalu berbuat benar dan jujur dalam setiap perbuatan dan perkataannya. Karena kejujuran itu akan membawa kepada perbuatan baik dan perbuatan baik itu akan menuntunnya ke dalam surga. Dan pelakunya pun akan dicap di sisi-Nya sebagai orang yang jujur.
Wallahu a’lam./ Cinta Kajian Sunnah

***

Bab Larangan Berbohong …

Posted By: adminon: October 24, 2011

Nash-nash dari al-Kitab dan as-Sunnah saling mendukung pengharaman berbohong secara global, dan ia termasuk seburuk-buruknya dosa dan sekeji-kejinya aib. Ijma‘ umat telah terjadi atas keharamannya bersamaan dengan nash-nash yang saling mendukung. Maka tidak ada kepentingan untuk menukil secara terperinci satu persatu. Yang paling penting adalah penjelasan sesuatu yang dikecualikannya, dan peringatan terhadap pembahasan kedetailannya.

Dan cukuplah dalil-dalil untuk menjauhkan darinya, di antaranya:

(1195) Hadits yang disepakati keshahihannya, yaitu hadits yang kami riwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ.

‘Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, apabila berkata dia dusta, apabila berjanji dia mengingkari, dan apabila diberi amanat dia khianat’.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab al-Iman, Bab Alamah al-Munafiq, 1/89, no. 33; dan Muslim, Kitab al-Iman, Bab Bayan Khishal al-Munafiq, 1/78, no. 59.

(1196) Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Iman, Bab Alamah al-Munafiq,1/89, no. 34 dan Shahih Muslim, Kitab al-Iman, Bab Bayan Khishal al-Munafiq, 1/78, no. 58. dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,

أَرْبَعٌ، مَنْ كُنَّ فِيْهِ، كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ، كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا، إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ.

“Ada empat sifat, barangsiapa yang empat sifat tersebut berada padanya, maka dia adalah seorang munafik murni (maksudnya nifak amali). Barangsiapa yang salah satu dari empat perkara tersebut berada pada dirinya maka dalam dirinya terdapat karakter kemunafikan hingga dia meninggalkannya. Empat perkara tersebut adalah apabila diberi amanat berkhianat, apabila berbicara berdusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila bertikai, dia berlaku aniaya.”

Dan dalam riwayat Muslim, “Kalimat ‘Apabila berjanji ingkar’ menggantikan kalimat ‘apabila diberi amanat berkhianat‘.

Kana Munafiqan Khalishan bermakna nifak amali bukan nifak i’tiqadi yang mengeluarkan pelakunya dari agama. Dan hal tersebut karena sangat parahnya kemiripan perbuatannya dengan perbuatan kaum munafik. Kata “fajara” bermakna berbohong, berbuat aniaya dan berpaling dari kebenaran.”/

Sumber : Ensiklopedia Dzikir Dan Do’a, Imam Nawawi, Pustaka Sahifa Jakarta./ alsofwa.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 3.126 kali, 8 untuk hari ini)