• Permainannya tidak sukses, maka saling salah menyalahkan

Ilustrasi by muslimsofpetroleum.blogspot.com

Sesama dedengkot liberal ternyata terlontar “nasehat” pula, agar rekannya bertobat. Tetapi yang disuruh bertobat  malah membantah, karena merasa pilihannya ke wadah politik yang sekuler sudah benar. Kenapa harus bertobat?

Orang liberal ini sama dengan mengatakan, kalau dirinya pilih wadah yang agamis, barulah perlu bertobat. Lha sudah pilih yang sekuler kok masih disuruh tobat.  Begitulah kurang lebihnya cara berpikir orang liberal. Lagian, sesama liberal kok nyuruh tobat segala.

Inilah beritanya, tak ubahnya seperti anak-anak lagi main petak umpet  tahu-tahu di antara mereka yang sedang lari untuk ngumpet  (sembunyi) ada yang terjebur got, hingga permainan pun gagal, sedang mereka masih khawatir akan dimarahi orang tuanya, maka mereka saling salah-menyalahkan.

***

JIL Akui Kegagalannya Menyebarkan Paham Liberal

Selasa (13/12), Komunitas Epistemik Muslim Indonesia (KEMI) mengadakan bedah buku Pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Mengambil tempat di Aula Student Centre UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bedah buku menghadirkan sejumlah pembicara yang kerap menulis gagasan pemikiran liberalisme Islam. Diantaranya adalah Dawam Rahardjo, Kautsar Azhari Noer, Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Asy Saukanie,dan Zainun Kamal. Tak ketinggalan Ioanes Rakhmat (Kritikus Kristen) didapuk jadi pembicara.

Pada kesempatan yang dihadiri 300 mahasiswa UIN itu, penggagas JIL, Luthfi Asy Sakunie secara jujur mengatakan bahwa gagasan pembaharuan Islam lewat jalan liberalisme sepanjang ini masih jauh dari harapan. Munculnya gerakan-gerakan fundamentalisme Islam, baginya, adalah bentuk kegagalan ide “pembaharuan”.

Senada dengan Luthfi, Ioanes Rakhmat, turut mengamini kenyataan itu. Menurutnya berkembangnya perda-perda Syariat adalah bukti metode pembaharuan Islam yang selama ini disuarakan kawan-kawan Islam Liberal belum ada, “Karena yang ada baru metode penafsiran teks,” katanya.

Meski berlatar belakang Kristen, ia menegaskan bahwa perjuangan membumikan pemikiran liberalisme Islam tidak boleh surut. Usaha-usaha itu tetap harus berjalan. Karena hanya dengan itu Islam akan maju di Indonesia.

Oleh karenanya, Ioanes mengusulkan agar Luthfi cs mulai terfikir terjun ke dunia politik. “Kalau kelompok Islam pembaharu tidak terjun ke dunia politik, maka kelompok Islam politik akan bertambah kuat,” tandasnya.

Usulan tersebut sempat ditolak oleh Zainun Kamal. Tokoh yang kerap menjadi penghulu pernikahan beda agama ini mengatakan politik bukanlah jalan terbaik bagi Islam Liberal. Berkaca dari partai-partai Islam maupun kelompok Islam saat ini yang hanya menjadikan Islam sebagai kendaraan politik. “Maka itu Ulil Abshar Abdalla dan Zuhairi Misrawi harus cepat taubat dari politik,” sanggahnya.

Ulil pun angkat suara. “Itu kan partai sektarian yang berbasis agama. Sedangkan saya di partai sekuler. Maka itu kita harus masuk partai sekuler,” pungkas  fungsionaris Partai Demokrat itu yang sebelumnya sempat memuji ide sekularisme Erdogan dan melunaknya Ideologi Ikhwan di Mesir. (Pz)

ERAMUSLIM > BERITA NASIONAL

http://www.eramuslim.com/berita/nasional/jil-akui-kegagalannya-menyebarkan-paham-liberal.htm
Publikasi: Rabu, 14/12/2011 09:32 WIB

***

KEMI Kendaraan Baru JIL?

Meski pada tahun 2005 Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa haram Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme (Sepilis), namun gagasan liberal tampaknya belum benar-benar padam. Kemarin (13/12), beberapa tokoh Liberal memperkenalkan sebuah kelompok kajian baru. Mereka menamakan diri Komunitas Epistemik Muslim Indonesia (KEMI).

“KEMI ingin memunculkan spirit bahwa umat Islam bisa berkembang. Bahwa Islam percaya kepada kebebasan berfikir dan toleran terhadap agama lain,” tandas Neng Dara Afifah selaku pengurus KEMI di Aula Student Centre UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Struktur KEMI sendiri diisi beberapa aktifis yang berperan besar atas berdirinya Jaringan Islam Liberal yakni Ulil Abshar Abdalla (Koordinator JIL) dan Luthfi Asysaukanie (Penggagas JIL). Selain dua tokoh tersebut, ada juga nama-nama akademisi seperti Budy Munawar Rachman dan Kautsar Azhari Noer.

“Pak Kautsar Azhari Noer adalah salah satu inisiator berdirinya KEMI. Sedangkan tampuk Ketua KEMI dipegang oleh Dawam Rahardjo,” tambah aktifis Komnas Perempuan ini.

Sebelumya Dawam pernah mengeluarkan statemen kontroversial. Ia mengatakan bahwa pindah agama tidak bisa divonis murtad. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan gereja-gereja di Indonesia yang berlangsung di Pekanbaru, Riau, Rabu 25 Januari 2006 sebagaimana dikutip Suara Pembaruan.

Alumnus Universitas Gadjah Mada ini juga terkenal sebagai tokoh pembela Ahmadiyyah. Pembelaan Dawam muncul dalam bentuk pernyataannya di situs JIL ketika ia masih menjadi anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyyah.

Dia mengatakan, “Ahmadiyah sama dengan kita.. Jadi kita tidak bisa menyalahkan atau membantah akidah mereka, apapun akidah mereka itu. Kita menyangka akidah mereka menyimpang. Misalnya, mereka percaya kalau Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi. Tapi kalau sudah menjadi kepercayaan mereka, mau apa? Itu ‘kan soal kepercayaan. Itu ‘kan sama saja dengan kita percaya pada Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam.”

Akibat pandangan-pandangannya yang pro terhadap Ahmadiyyah, Alumnus Universitas Gadjah Mada ini akhirnya dipecat dari Kepengurusan Muhammadiyyah.

Kehadiran KEMI ke UIN Jakarta tidak lepas dari peluncuran buku ‘Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia’. UIN Jakarta yang dipilih karena dianggap sebagai embrio pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. “Disini ada Nurcholish Madjid dan Harun Nasution yang berjasa membawa pembaharuan Islam di Indonesia,” papar Neng.

Artawijaya, pengamat Yahudi, dalam salah satu presentasinya di Kajian Zionisme Internasional (KaZI), sempat mengatakan bahwa aliran dana asing ke JIL memang dihentikan. Alasannya JIL tidak berhasil masuk ke dalam masjid-mesjid untuk mengkampanyekan gagasan mereka.

Tak heran, saat ini JIL mulai ‘terbuka’ mengutarakan kondisi keuangannya dengan membuka kolom donasi pada situs mereka.

Selanjutnya, entah masih terkait atau tidak, nama KEMI mengingatkan masyarakat terhadap Novel karangan Adian Husaini yang berjudul sama, yakni Kemi. Novel tersebut menceritakan seorang santri bernama Kemi yang menjadi penyokong gagasan liberal. (Pz)

ERAMUSLIM > BERITA NASIONAL

http://www.eramuslim.com/berita/nasional/kemi-kendaraan-baru-jil.htm
Publikasi: Rabu, 14/12/2011 09:39 WIB

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.451 kali, 1 untuk hari ini)