KIBLAT.NET, Mojokerto – Ormas Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Mojokerto dengan tegas menyatakan memiliki paham yang sama dengan aliran Al Qiyadah Al Islamiyah Ahmad Musadeq. Ormas yang baru 6 bulan berada di Mojokerto ini tidak mengakui Muhammad sebagai nabi mereka. Namun Gafatar mengelak jika dituding menyebarkan ajaran tersebut secara luas di Mojokerto.
Hal itu disampaikan Sutrisno, Staf Bidang Pertahanan dan Keamanan Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Gafatar Mojokerto. Ormas yang sebelumnya diduga kuat sebagai turunan dari Al Qiyadah Al Islamiyah bentukan Ahmad Musadeq ini tidak mengakui Muhammad sebagai nabi.
“Gafatar sepaham dengan keyakinan R dan AM yang tidak mengakui Muhammad sebagai nabi,” ungkap Sutrisno kepada wartawan saat ditemui di kantor DPK Gafatar Mojokerto di Desa Kenanten, Kecamatan Puri, Sabtu (13/9/2014) seperti dikutip kiblat.net dari detik.com.
Namun demikian, Sutrisno menuturkan, untuk saat ini kegiatan Gafatar di Mojokerto lebih difokuskan pada aksi sosial dan kebudayaan. Dia mengaku, ormas yang baru beranggotakan 30 orang itu, tidak menyebar luaskan ajaran Ahmad Musadeq di Mojokerto.
“Untuk sekarang, yang disosialisasikan Gafatar kepada masyarakat adalah kegiatan sosial dan budaya, bukan lagi soal aqidah,” klaimnya.
Pasca penutupan oleh Polres Mojokerto Kota, kantor DPK Gafatar Mojokerto nampak sepi. Papan nama yang terpasang di depan kantor telah dilepas. Selain itu, papan struktur organisasi dan visi-misi organisasi juga dilepas.
“Atas perintah kepolisian kita copot semua atribut Gafatar, kita turuti saja,” ucap Sutrisno.dd-002
Seperti diberitakan sebelumnya, puluhan anggota FPI bersama Laskar Pembela Islam (LPI) mendatangi sebuah taman pendidikan Alquran, Sabilul Muttaqin yang berlokasi di Jalan Glonggongan Baru, Desa Sumbertebu, Kecamatan Bangsal, Mojokerto. Mereka membawa dua orang pemuda pemudi yang diduga menyebarkan aliran sesat di sebuah sekolah kesehatan di Mojokerto.
“Keduanya kami jemput dari kos mereka. Mereka menyebarkan aliran sesat di sebuah sekolah kesehatan. Ajaran mereka sangat berbahaya dengan mengatasnamakan Islam, tidak mengakui Muhammad sebagai nabinya, namun Ahmad Musadeq sebagai nabi mereka, serta tidak mengakui adanya rukun Islam,” kata ustadz Harisudin, ketua LPI Mojokerto di lokasi.
Harisudin menambahkan, mereka adalah R dan AM. R yang asal Bekasi, Jawa Barat itu diduga yang menjadi penyebar pertama aliran Ahmad Musadeq di Sekolah Herbalis Mojokerto (SHM). Sementara AM, asal Wonosobo, Jateng, adalah salah seorang yang terpengaruh aliran Ahmad Musadeq yang diajarkan R. Sejauh ini, sudah ada 3 orang pemuda lainnya yang diduga telah terpengaruh ajaran mereka.

“Awalnya hanya satu orang (R) yang membawa ajaran ini dari Jawa Barat. Ahmad Musadeq adalah pendiri aliran Al Qiyadah Al Islamiyah yang dulu pernah mengaku nabi di Bogor dan markasnya dibakar FPI,” imbuh Harisudin.

Gafatar2Masih menurut Harisudin, dua orang pemuda itu juga tergabung dalam Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang berlokasi di Desa Kenanten, Kecamatan Puri, Mojokerto. “Mereka juga tergabung dalam Gafatar. Organisasi ini alasannya bergerak di bidang sosial, namun itu hanya sebagai kedok saja,” ungkapnya.
Sementara dua pemuda lainnya yang disinyalir terpengaruh ajaran yang sama melarikan diri saat dijemput FPI dan anggota Polsek Bangsal di tempat kos mereka. Kedua pemuda tersebut diketahui berinisial SA asal Perumahan Unad Manis Selatan, Kecamatan Pauh Kota Padang, Sumbar dan KNA asal Cilangsi, Bogor Jawa Barat.
Pasca penangkapan R dan AM, polisi juga melakukan penutupan terhadap kantor DPK Gafatar Mojokerto. Selain menghindari aksi penutupan paksa oleh FPI, penutupan itu juga didasari status organisasi Gafatar yang masih ilegal di Mojokerto.
Editor: Qathrunnada
Sumber: Detik

(Dibaca 8.124 kali, 1 untuk hari ini)