.

 

(kompasislam.com) – Sahabat Abu Dzar al-Ghifari رضي الله عنه berkata: “Wahai Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidakkah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?” Mendengar permintaanku tersebut, beliau صلى الله عليه وسلم menepuk pundakku seraya bersabda,

يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيْفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَى الَّذِيْ عَلَيْهِ فِيْهَ

“Ya Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut”. (HR. Muslim)

Saudaraku pembaca setia media Islam online kompasislam.com, menjadi seorang pemimpin dan memiliki jabatan merupakan impian semua orang, kecuali sedikit dari mereka yang dirahmati oleh Allah SWT. Mayoritas orang justru menjadikan sebuah jabatan sebagai ajang rebutan, khususnya jabatan yang menjanjikan sejumlah uang atau harta dan wanita serta kesenangan dunia lainnya.

Bagaimana tidak, dengan menjadi seorang pemimpin, memudahkannya untuk memenuhi tuntutan hawa nafsunya berupa kepopuleran, penghormatan dari orang lain, kedudukan atau status sosial yang tinggi pada manusia, menyombongkan diri di hadapan mereka, memerintah dan menguasai, kekayaan, kemewahan serta kemegahan.

Wajar bila kemudian untuk mewujudkan ambisinya ini, banyak elit politik atau ‘calon pemimpin’ tidak segan-segan melakukan politik uang (money politic) dengan membeli suara masyarakat atau pemilih saat kampanye untuk menduduki kursi anggota dewan dan sejumlah tempat strategis lainnya di pemerintahan.

Bahkan yang lebih ekstrim lagi, ada pula orang yang berlomba-lomba meminta jabatan sudah siap untuk menghilangkan nyawa orang lain yang dianggap sebagai rival dalam perebutan kursi kepemimpinan tersebut. Atau seseorang yang dianggap sebagai duri dalam daging yang dapat menjegal ambisinya meraih posisi tersebut. Nas-alullah as-salamah wal ‘afiyah..

Berkata Al-Muhallab sebagaimana dinukilkan dalam Fathul Bari (13/’135), “Ambisi untuk memperoleh jabatan kepemimpinan merupakan faktor yang mendorong manusia untuk saling membunuh. Hingga tertumpahlah darah, dirampasnya harta, dihalalkannya kemaluan-kemaluan wanita (yang mana itu semuanya sebenarnya diharamkan oleh Allah) dan karenanya terjadi kerusakan yang besar di permukaan bumi”.

Saudaraku pembaca setia media Islam online kompasislam.com, seseorang yang menjadi penguasa dengan cara meminta-minta apalagi sampai menipu masyarakat, sesungguhnya mereka tidak akan mendapatkan bagiannya nanti di dunia kecuali sebuah kehinaan, dan di akhirat nanti akan mendapatkan siksa dan adzab. Allah SWT berfirman,

تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الأرْضِ وَلا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di muka bumi dan pula membuat kerusakan. Dan akhir yang baik itu hanya untuk untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Qashash 28 : 83)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُوْنَ عَلَى اْلإِمَارَةِ، وَسَتَكُوْنُ نَدَامَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan”. (HR. Bukhari). [Muhammad] Posted by John Muhammad Thursday, April 3rd, 2014 – 08:28 am / kompasislam.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.482 kali, 1 untuk hari ini)