Kini muncul, ada yang nulis (kritikan keras terhadap anak-anak NU yang membenci Umat Islam bahkan membubarkan pengajian-pengajian umat Islam) dari kalangan NU sendiri, Bahkan (yang menulis kritikan keras itu) seorang anak kyai NU. Kritikan itu lantaran merasakan betapa malunya terhadap tindakan anak-anak NU (yang membenci sesama Umat Islam bahkan membubarkan pengajian-pengajian). Tindakan itu tidak mencerminkan akhlaq Islam. Hingga disindir keras dengan tulisan:

Jika Memang Sudah Benci Kepada Sesama Muslim, Berhentilah Menjadi Muslim !

Gejala kesadaran dari kalangan generasi NU sendiri ini perlu mendapatkan respon positif dari para tetua NU.

Kalau bapak-bapak kyai NU dan para penggede NU diam saja, tidak mau mencegah tingkah anak-anak NU yang justru membenci sesama Umat Islam, bahkan membubarkan pengajian-pengajian Umat Islam, sampai acara tahfidz Al-Qur’an pun dibubarkan oleh anak-anak NU; namun penggede-penggede NU mingkem saja, maka jangan salahkan kalau kena julukan sebagai para penggede syetan bisu (syaithon akhros). Karena sebagian ulama berkata:

“الساكت عن الحق شيطان أخرس، والناطق بالباطل شيطان ناطق”

orang yang diam dari kebenaran itu syetan bisu/ gagu, sedang yang berbicara dengan kebatilan itu syetan bicara. Dua-duanya kini tampak nyata di depan mata.

Kemungkinan orang-orang kafirin, musyrikin, dan munafiqin pembenci Islam sedang sorak sorai.

Jadi kalau para kyai NU dan penggede-penggede NU tetap mingkem saja, maka dikhawatirkan justru digolongkan kepada yang terderet dalam jajaran sorak sorai itu. Apakah rela, ridho, lego lilo untuk dibegitukan?

Ya silakan saja kalau begitu.

Hartono Ahmad Jaiz

Diterbitkan oleh Abu Mahmudah ·

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.930 kali, 3 untuk hari ini)