By Pizaro on November 10, 2012

IBU Indo (30) korban tindak kekerasan Densus 88 saat menyergap kota Poso mengaku mengalami trauma. Kedatangan Densus 88 beserta aparat Brimob Kelapa Dua Depok di Poso menurutnya justru menimbulkan masalah baru.

“Kita semua tegang, karena Densus suka sembarang main angkut,” tuturnya kepada Islampos.com, Sabtu (10/11/2012).

Rasa trauma itu menurutnya juga merembet kepada buah hatinya. Bahkan anak terkecilnya yang masih berusia 7 tahun suka histeris jika mengingat cucuran darah di keningnya akibat tendangan aparat Densus.

“Saya hanya bisa menghibur agar dia tidak trauma,” ujarnya pilu.

Menurutnya selain dirinya, para warga juga khawatir untuk beraktivitas. Ini dikarenakan Densus kerap melakukan penyergapan tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan.

“Walau kita tidak salah, tapi kita juga takut,” sambungnya.

Ibu Indo sendiri memiliki tiga orang anak dengan usia paling dewasa berusia 12 tahun. Saat kejadian, mereka tidak sekolah dan menyaksikan kejadian penyergapan tersebut. Ia berharap rasa trauma dalam diri anaknya bisa pulih dengan menciptakan rasa aman di Poso tanpa ada kekerasan oleh Densus yang kerap asal tembak warga tanpa ada bukti.

“Di Poso ini baik-baik saja, tapi dengan datangnya Densus situasi jadi mencekam,” bebernya.

Korban Kekerasan Poso Mengadu

Selain Ibu Indo, puluhan korban lainnya juga mengalami kekerasan fisik oleh Densus saat penyergapan di Jalan Pulau Irian, Kelurahan Kayamanya, Kecamatan Poso Kota, Sabtu (3/11/2012). Sebanyak 22 orang secara bergiliran telah diambil visumnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Poso dengan didampingi kuasa hukum para korban Azriady.

Kuasa hukum para korban, Azriadi mengaku, pihaknya mengumpulkan seluruh bukti-bukti kekerasan serta hasil visum para korban tindak kekerasan dan kesewenang-wenangan aparat Polisi untuk selanjutknya akan melakukan langkah hukum berupa pra peradilankan polisi. (Pz/Islampos)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 246 kali, 2 untuk hari ini)