.

  • … seorang pria berinisial AR yang nampak kental sebagai seorang Syiah dalam kelakuannya, dicalonkan menjadi calon legislatif PKS daerah Bitung untuk DPRD Sulut (Sulawesi Utara).
  • Dalam sebuah skrinsut di grup tersebut nampak kata-kata sang caleg yang mendukung tokoh IJABI, Jalaluddin Rahmat yang menjadi caleg PDIP mewakili masyarakat aliran sesat Syiah di Jawa Barat.
  • Tak malu-malu, AR juga memasang foto aktivitas ABI dan IJABI, dua organisasi Syiah militan, saat terjadi banjir Manado awal tahun ini.
  • Sikap yang juga dinilai mencla-mencle adalah seperti apa yang ditunjukkan doktor lulusan Saudi, Hidayat Nurwahid yang dahulunya pada tahun 1990-an dikenal sebagai garda terdepan pemberantasan Syiah. “Kalau kita penganut ahlusunnah wal jamaah saja ditoleransi, mengapa penganut Syiah tidak. Sekali lagi kami sangat sesalkan kejadian ini,” sebutnya saat mengomentari kasus Sampang.

Shoutussalam.com – Sekitar setahun lalu PKS yang dikenal mencitrakan diri sebagai partai dakwah mencuat dalam pemberitaan negatif karena mencalonkan pendeta agama nasrani sebagai anggota legislatif. Hal ini disebut sebagai strategi meraih simpati non-muslim kafir di Indonesia Timur.

Hal ini diakui sendiri oleh petinggi partai yang menggunakan lagu ‘Salah Alamat’ milik Ayu Tingting. “Ada pendeta yang menjadi caleg di Indonesia Timur,” kata Sekretaris Jenderal PKS, Taufik Ridho di Jakarta, Senin (22/4/2013). ”Kebutuhan daerah pemilihan sana memang seperti itu,” ujarnya.

Kini publik bakalan terkejut lagi, terutama masyarakat Ahlus Sunnah wal Jamaah yang sedang mengganyang aliran sesat Syiah, bebarengan dengan revolusi Suriah yang selangkah lebih maju dalam mengaplikasikan perlawanan serupa. Sebab salah satu caleg PKS di Sulawesi Utara secara terang-terangan menjadi pendukung ABI dan menampakkan gejala penganut Syiah militan.

Publik jejaring sosial, terutama di grup facebook ‘Gerakan 1000000 orang menolak Syiah di Indonesia’, dikejutkan sebuah postingan yang menceritakan bahwa seorang pria berinisial AR yang nampak kental sebagai seorang Syiah dalam kelakuannya, dicalonkan menjadi calon legislatif PKS daerah Bitung untuk DPRD Sulut.

Dalam sebuah skrinsut di grup tersebut nampak kata-kata sang caleg yang mendukung tokoh IJABI, Jalaluddin Rahmat yang menjadi caleg PDIP mewakili masyarakat aliran sesat Syiah di Jawa Barat. “Ukhuwah yg dikemas dlm profeionalisme jurnalis dambaan pengusung keadilan. Olehnya itu kami dukung Khazanah Tran 7 pd edisi 29 Jan. 2014 dg narasumbernya KH. Jalaluddin Rahmat. Trm ksh,” begitu bunyi dukungan status jejaring tersebut, untuk kemudian nampaknya disusul dengan shalawat Syiah.

AR, Si Caleg Syiah PKS

Tak malu-malu, AR juga memasang foto aktivitas ABI dan IJABI, dua organisasi Syiah militan, saat terjadi banjir Manado awal tahun ini. Ada pula link web ABI yang memberitakan hal serupa. Serta masih banyak indikasi lain dalam status fb-nya yang tanpa tedeng aling-aling menampakkan gejala militansi Syiah tanpa melakukan taqiyyah.

Ada setidaknya tiga sumber yang sangat mudah diakses untuk melakukan verifikasi pada kebenaran info ini. Selain poster pencalonan AR di PKS yang sudah diunggah di grup tadi, rupanya sangat mudah sekali untuk mengecek nama penganut Syiah militan ini di Komisi Pemilihan Umum Sulawesi Utara.

Dalam daftar KPU Sulut, nampak jelas AR diposisikan sebagai caleg partai terkait di dokumen yang diunggah ke situs lembaga penyelenggara pemilu ini. Selain itu situs PKS daerah Siak juga menulis berita tentang aksi promosi AR dalam pencalegan ini. “Kami merasa terpanggil untuk memperjuangkan kepentingan rakyat Bitung dan Minut melalui PKS oleh sebab itu kami siap untuk merebut kursi di DPRD Provinsi Sulut,” sebut caleg AR seperti dikutip dari situs PKS Siak.

Pemberitaan media lokal juga membenarkan hal serupa. Beritamanado menulis berita tentang pencalonan pemuda Syiah ini sebagai wakil rakyat oleh PKS. ““Dengan akan ditetapkannya Bitung sebagai kawasan ekonomi khusus maka saya akan tetap mengawal hal tersebut nanti jika diberikan kesempatan di DPRD Provinsi. Sedangkan Minut akan difokuskan untuk daerah pertanian dan perikanan,” terang AR di situs ini.

‘Kok’ Bisa Ya?

Publik Ahlus Sunnah Indonesia mungkin bertanya-tanya, kenapa ‘kok’ PKS bisa seperti itu. Sebab dalam manuver-manuver aktivisnya di bawah, PKS mencitrakan agar publik mencoblos PKS agar roda pemerintahan tak diisi profil-profil semacam Jalaluddin Rahmat yang mencalonkan diri via PDIP.

Namun nampaknya strategi merah dukungan di Ahlus Sunnah ini perlu dikaji kembali. Selain memang perjuangan parlemen pada dasarnya adalah sebuah tipuan yang tidak boleh dimasuki oleh ummat Islam, strategi aktivis PKS semacam ini anti-klimaks dengan pernyataan-pernyataan para petingginya.

“Tidak perlu berdebat soal Sunni-Syiah…berdebatlah tentang luka dan air mata…kita ini sama-sama luka…” tegas pion terdepan politik PKS (yang tidak tegas) Fahri Hamzah. “Saya tidak bisa menerima pengusiran…ini abad 21…saya tidak menyalahkan Sunni atau Syiah, saya salahkan aparat. Ketidakadilan adalah ketidakadilan…jika kita tak lagi merasa perih melihat orang-orang  terusir…hati kita telah hilang….” jelas Fahri melalui akun Twitter @Fahrihamzah.

Sikap yang juga dinilai mencla-mencle adalah seperti apa yang ditunjukkan doktor lulusan Saudi, Hidayat Nurwahid yang dahulunya pada tahun 1990-an dikenal sebagai garda terdepan pemberantasan Syiah. “Kalau kita penganut ahlusunnah wal jamaah saja ditoleransi, mengapa penganut Syiah tidak. Sekali lagi kami sangat sesalkan kejadian ini,” sebutnya saat mengomentari kasus Sampang.

Jadi, mungkinkah hal ini sebuah kewajaraan saat PKS yang berani mengangkat pendeta sebagai caleg, juga berani mencalonkan penghina sahabat sebagai pembawa representasi perjuangan mereka? Yang masih mengaku Ahlus Sunnah?

[sksd] Selasa, 22 Rabi`ul Akhir 1435H / February 25, 2014 in FeaturedIn DepthReport

 

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.156 kali, 1 untuk hari ini)