Setelah Prihatin Banyaknya Ulama yang Wafat, Lalu Apa

  • Masihkah tersisa ulama waratsatul anbiya’ di negeri ini?

Banyaknya ulama yang wafat akhir-akhir ini, baik tingkat dunia, nasional, maupun daerah menjadi keprihatinan Umat Islam yang peduli terhadap Islam. Hingga khatib-khatib banyak yang berkhutbah mengenai keprihtinan itu. Kaitannya adalah dengan dicabutnya ilmu (Islam) dengan diwafatkannya para ulama.

Dijelaskan dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّـى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.

 

‘Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain.'” [6]

 

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan mencabut ilmu dalam hadits-hadits terdahulu yang mutlak bukan menghapusnya dari hati para penghafalnya, akan tetapi maknanya adalah pembawanya meninggal, dan manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemutus hukum yang memberikan hukuman dengan kebodohan mereka, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”[7]

 

Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu al-Qur-an dan as-Sunnah, ia adalah ilmu yang diwariskan dari para Nabi Allaihissallam, karena sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan dengan kepergian (wafat)nya mereka, maka hilanglah ilmu, matilah Sunnah-Sunnah Nabi, muncullah berbagai macam bid’ah dan meratalah kebodohan.

 

Adapun ilmu dunia, maka ia terus bertambah, ia bukanlah makna yang dimaksud dalam berbagai hadits. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 

فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.

 

“Lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain.”

 

Kesesatan hanya terjadi ketika bodoh terhadap ilmu agama. Para ulama yang sebenarnya adalah mereka yang mengamalkan ilmu mereka, memberikan arahan kepada umat, dan menunjuki mereka jalan kebenaran dan petunjuk, karena sesungguhnya ilmu tanpa amal adalah sesuatu yang tidak bermanfaat, bahkan akan menjadi musibah bagi pemiliknya. Dijelaskan pula dalam riwayat al-Bukhari:

 

وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ.

 

“Dan berkurangnya pengamalan.” [8]

 

Imam adz-Dzahabi rahimahullah ulama besar ahli tarikh (sejarah) Islam berkata setelah memaparkan sebagian pendapat ulama, “Dan mereka tidak diberikan ilmu kecuali hanya sedikit saja. Adapun sekarang, maka tidak tersisa dari ilmu yang sedikit itu kecuali sedikit saja pada sedikit manusia, sungguh sedikit dari mereka yang mengamalkan ilmu yang sedikit tersebut, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita.” [9]

 

Jika hal ini terjadi pada masa Imam adz-Dzahabi, maka bagaimana pula dengan zaman kita sekarang ini? Karena setiap kali zaman itu jauh dari masa kenabian, maka ilmu pun akan semakin sedikit dan banyak kebodohan. Sesungguhnya para Sahabat Radhiyallahu anhum adalah orang yang paling tahu dari umat ini, kemudian para Tabi’in, lalu orang yang mengikuti mereka, dan merekalah sebaik-baik generasi, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ.

 

“Sebaik-baiknya manusia adalah pada masaku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” [10]

 

Ilmu senantiasa terus berkurang, sementara kebodohan semakin banyak, sehingga banyak orang yang tidak mengenal kewajiban-kewajiban dalam Islam.

====


[6]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-‘Ilmi, bab Kaifa Yuqbadhul ‘Ilmi (I/194, al-Fath), dan Shahiih Muslim, kitab al-Ilmi, bab Raf’ul ‘Ilmi wa Qabdhahu wa Zhuhuurul Jahli wal Fitan (XVI/223-224, Syarh an-Nawawi).
[7]. Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVI/223-224).
[8]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Adab, bab Husnul Khuluq was Sakhaa’ wa Ma Yukrahu minal Bukhli (X/456, al-Fath).
[9]. Tadzkiratul Huffaazh (III/1031).
[10]. Shahiih Muslim, kitab Fadhaa-ilush Shahaabah Tsummal Ladziina Yaluu-nahum (XVI/86, Syarh an-Nawawi).

Referensi: https://almanhaj.or.id/3184-13-hilangnya-ilmu-dan-menyebarnya-kebodohan.html

***

Setelah wafatnya para ualama tingkat internasional, nasional, bahkan tingkat daerah; keprihatinan pun muncul dari sebagian Umat Islam yang merasa kehilangan para ulama, yang berarti dicabutnya ilmu agama dari kalangan manusia, hingga mengakibatkan meratanya kebodohan soal agama, hingga sesat menyesatkan.

Menghadapi kondisi yang mengerikan itu, mari kita tanya diri sendiri dan juga kondisi situasi mengenai penerus para ulama yang sejatinya adalah pewaris para nabi. Apakah ada arah sebagai penerus risalah para nabi?

Untuk itu perlu dites, diuji, benarkah arah sebagai penerus para nabi itu masih diemban, mari kita simak satu ayat berikut ini saja, semoga akan dapat kita renungkan.


Foto/pinterest

{إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا } [النساء: 105]

105. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, [An Nisa”:105]

Tafsir Quran Surat An-Nisa Ayat 105

Sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu (wahai rasul), al-qur;an yang berisi kebenaran,untuk memutuskan perkara diantara manusia semuanya melalui wahyu yang Allah wahyukan kepadamu dan diperlihatkanNya kepadamu. Maka janganlah kamu menjadi pembela bagi orang-orang yang berkhianat (dengan menyembunyikan kebenaran), gara-gara apa yang mereka perlihatkan kepadamu berupa perkataaan yang tidak sejalan dengan hakikat yang sebenarnya.

(Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia)

***
105.
إِنَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ (Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran)
Sebab diturunkannya ayat ini bahwa seorang lelaki dari golongan orang-orang munafik dari Bani Ubairiq mencuri makanan dan senjata dari seorang Yahudi, namun orang munafik ini menuduh orang shaleh yang melakukannya. Dan ketika sebagian orang mulai mengetahui siapa yang mencuri sebenarnya maka orang-orang dari kaum bani Ubairiq ini mulai membelanya di depan rasulullah -menuntut putusan-, hingga Rasulullah hampir menuruti tuntutan mereka karena orang yang dituduh ini tidak mempunyai alasan. Maka turunlah ayat ini.

بِمَآ أَرَىٰكَ اللهُ
ۚ (dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu)
Baik itu dengan diturunkan wahyu atau dengan apa yang dikabarkan dan ditunjukkan oleh Allah kepadanya.

وَلَا تَكُن لِّلْخَآئِنِينَ خَصِيمًا (dan janganlah kamu menjadi penantang, karena (membela) orang-orang yang khianat)
Yakni dengan menentang orang-orang yang dalam kebenaran demi membela mereka (orang-orang yang menuduh).
Ayat ini mengandung dalil tidak dibolehkannya seseorang untuk membela orang yang diketahui bahwa ia berada
di posisi yang salah.

( Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah)

***

105

Tatkala seorang mukmin mentadabburi firman Allah : 

{ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا
“dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat” 

kemudian ia memperhatikan kenyataan yang tengah berlalu; niscaya ia akan mengetahui betapa banyaknya orang yang rela memasang badan untuk membela penyeru dan pelaku kebathilan, entah mereka bermaksud menyombongkan diri, atau mungkin mengharapkan kekayaan dan syuhroh.

( Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari’ah Universitas Qashim – Saudi Arabia)

***

Kembali ke pertanyaan: benarkah arah sebagai penerus para nabi itu masih diemban?

Bila benar, maka harus ada bukti bahwa pengemban amanat dari ayat itu berupaya untuk menghukumi persoalan agama dan dunia dalam kehidupan ini dengan wahyu Allah yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah.

(Luluskah arah yang itu telah diemban oleh yang disebut ualama sebagai waratsatul anbiya’ di negeri ini?).

Di samping itu { وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا } 
“dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat” 
(Luluskah arah yang itu pula terutama di negeri ini, hingga yang dikenal sebagai ulama terkemuka sebagai pewaris para nabi, ada bau-baunya ke arah itu? Atau justru sebaliknya?).

Bila tidak ada lagi atau hampir tidak ada ulama pewaris para nabi yang mengemban ayat (satu ayat saja yakni QS An-Nisa’: 105) dari ribuan ayat Al-Qur’an ini di negeri ini, betapa berat kehilangan Umat Islam ini. Bukan sekadar diwafatkannya sejumlah para ulama, namun yang tersisa justru telah “wafatnya” ghirah Islamiyah di dada-dada Umat Islam sampai para ulamanya sekalipun. Sehingga jangan disalahkan siapa-siapa ketika para pengkhianat dan perusak yang durjana justru di atas angin. Dan di balik itu, azab, bencana, musibah, bahkan wabah penyakit melanda di mana-mana. Ternyata benarlah firman Allah Ta’ala:


وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Asy Syura: 30).

Oleh karena itu kita dianjurkan agar memperbanyak bertaubat dan beristighfar agar dosa dihapus oleh Allah dan tidak Allah turunkan kepada kita dalam bentuk bala’ dan musibah.

Istighfar adalah sumber kemudahaan hidup dengan izin Allah, karenanya kita sangat dianjurkan memperbanyak istigfar di manapun dan kapan pun. Istigfar adalah amalan yang sangat mudah karena hanya menggerakkan lidah dan menghadirkan hati.

Al-Hasan Al-Bashri berkata,

أَكْثِرُوا مِنَ الِاسْتِغْفَارِ فِي بُيُوتِكُمْ، وَعَلَى مَوَائِدِكُمْ، وَفِي طُرُقِكُمْ، وَفِي أَسْوَاقِكُمْ، وَفِي مَجَالِسِكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ، فَإِنَّكُمْ مَا تَدْرُونَ مَتَى تَنْزِلُ الْمَغْفِرَةُ

“Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah, meja-meja makan, jalan-jalan, pasar-pasar dan majelis-majelis kalian di manapun kalian berada, karena kalian tidak tahu kapan turunnya pengampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”[2]

Luqman bepesan kepada anaknya,

يَا بُنِيَّ عَوِّدْ لِسَانَكَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، فَإِنَّ لِلَّهِ سَاعَاتٍ لَا يَرُدَّ فِيهَا سَائِلًا

“Wahai anakku biasakan lisanmu dengan ucapan: [اللهم اغفر لي] ‘Allhummafirli’  karena Allah memiliki waktu-waktu yang tidak ditolak permintaan hamba-Nya di waktu itu.”[3]

====

[2] Jami’ Al-ulum wal hikam hal. 535, Darul Aqidah, Kairo, cet.1, 1422 H

 

[3] Kalamul Layaali wal Ayyaami libni Abid Dunya

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/38223-bala-dan-musibah-turun-karena-dosa-dan-terangkat-karena-taubat.html

***

Sekali lagi:

Bila tidak ada lagi atau hampir tidak ada ulama pewaris para nabi yang mengemban ayat (satu ayat saja yakni QS An-Nisa’: 105) dari ribuan ayat Al-Qur’an ini di negeri ini, betapa berat kehilangan Umat Islam ini. Bukan sekadar diwafatkannya sejumlah para ulama, namun yang tersisa justru telah “wafatnya” ghirah Islamiyah di dada-dada Umat Islam sampai para ulamanya sekalipun. Sehingga jangan disalahkan siapa-siapa ketika para pengkhianat dan perusak yang durjana justru di atas angin. Dan di balik itu, azab, bencana, musibah, bahkan wabah penyakit melanda di mana-mana. Ternyata benarlah firman Allah Ta’ala:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Asy Syura: 30).

(nahimunkar.org)

(Dibaca 298 kali, 1 untuk hari ini)