Ilustrasi: Masjid Istiqlal Jakarta. / Foto sapujagatcom


Peristiwa gerhana matahari total 1983, kini ditulis orang dengan dilebih-lebihkan dan diserem-seremkan.

Peristiwanya, menurut berita adalah sebagai berikut.

Peristiwa gerhana matahari total pada 11 Juni 1983 termasuk istimewa karena termasuk gerhana terlama, yakni lebih dari 5 menit. Gerhana 1983 juga jadi gerhana matahari total terlama di Indonesia setelah 1901 yang terjadi selama 6,5 menit. (Detik.com).

Gerhana matahari 11 Juni 1983 waktu itu melewati sejumlah daerah di Yogyakarta, Semarang, Solo, Kudus, Madiun, Kediri, Surabaya, Makassar, Kendari, dan Papua. Peristiwa alam saat itu berlangsung pukul 11.00 WIB selama enam menit, Menurut tempo.co)

Kejadian alam GMT (Gerhana Matahari Total) 1983, menurut tempo.co,  memunculkan kehebohan pemerintah. Pemerintah melarang masyarakat menatap langsung gerhana matahari. Stasiun TVRI waktu itu menayangkan berulang-ulang mengenai bahaya melihat GMT secara langsung. “Hanya satu cara melihat gerhana dengan aman, lihatlah melalui layar TVRI Anda,” seru TVRI bernada iklan.

Pemerintah bikin heboh

Pemerintah membentuk Tim Evaluasi Panitia Gerhana Matahari Total. Setiap berkunjung ke daerah yang terlewati GMT, tim mengkampanyekan larangan menatap langsung GMT. “Jangan sekali-sekali menatap gerhana. Kebutaan oleh gerhana matahari tak bisa disembuhkan,” begitu kata dr. Bambang Guntur, ahli penyakit mata Tim Evaluasi Panitia Gerhana Matahari Total./ m.tempo.co, JUM’AT, 22 JANUARI 2016 | 18:15 WIB

***

Diserem-seremkan

Berita gerhana 1983 itu kini diserem-seremkan. Padahal dulu ya biasa-biasa saja. Tapi generasi kini membuat tulisan atau memberitakan dengan berlebihan. Di antaranya ada yang menulis begini:

Memori Kelam 1983

11 Juni 1983 bisa dipandang sebagai kekelaman bagi Indonesia. Kelam secara harfiah, ketika beberapa provinsi di Indonesia seperti Jawa Tengah dan Sulawesi Tenggara menjadi gelap karena mengalami gerhana matahari total. Namun, memori gerhana matahari total 1983 lebih dari sekedar gelap: kekelaman ilmu pengetahuan Indonesia.

Ketika sekitar 1.000 astronom dari berbagai belahan dunia datang ke Indonesia untuk menyaksikan gerhana matahari, berjuta-juta masyarakat Indonesia malah meringkuk di dalam rumah. Presiden Soeharto melalui Menteri Penerangan Harmoko pada kala itu memerintahkan agar masyarakat Indonesia tidak keluar rumah selama gerhana matahari terjadi. Alasannya: bisa menyebabkan kebutaan.

Sudah saya ingatkan, jangan menyalahkan orang tua Anda jika mereka pernah menceritakan ini kepada Anda waktu Anda kecil. Ketika itu, aparat keamanan berpatroli, memastikan masyarakat benar-benar mengurung diri di dalam rumah./ http://guratankaki.com/2016/02/17/5-

***

Yang saya alami

Tulisan zaman sekarang itu berbeda dengan yang saya alami dalam kenyataan saat gerhana 1983. Saya waktu itu jadi wartawan koran Islam, Harian Pelita di Jakarta, bekerja biasa seperti hari-hari lain, dan bertugas meliput acara kunjungan utusan dari Afghanistan di kantor MUI (Majelis Ulama Indonesia) di Masjid Istiqlal Jakarta. Di sana sudah berkumpul para pengurus MUI pimpinan KH Muhammad Syukri Ghazali penerus Buya Hamka, tamu dari Afghanistan, dan banyak Ulama serta tokoh Islam terkemuka memenuhi ruangan.

Acara berlangsung dari jam 10 pagi. Tamu dari Afghanistan berbicara sekitar setengah jam menjelaskan situasi dan kondisi negerinya yang sedang kemelut. Lalu dibuka tanya jawab. Baru ada satu tokoh yang bertanya, ternyata waktu sudah habis. Padahal saya sudah baca-baca berita tentang Afghanistan dengan mengunjugi perpustakaan yang ada majalah ataupun surat kabar dari luar negeri, di antaranya di LPBA(Lembaga Pengajaran Bahasa Arab, waktu itu belum bernama LIPIA- Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) di Jakarta. Sayangnya, saya tidak bisa bertanya kepada tamu itu karena waktu sudah habis, dan semuanya segera menuju ke ruangan shalat gerhana di Masjid Istiqlal. Ternyata masjid sebesar itu sudah penuh jamaah bagai suasana Jum’atan. Dan saya hanya kebagian di bagian belakang.

Ibadah shalat gerhana saat itu sangat terkesan, karena berkumpul dengan para ulama, tokoh Islam, dan teman-teman yang sedang menjalin ukhuwah Islamiyah dan tunduk khusyu’ menjalankan shalat kusuf (gerhana) yang kemudian mendengarkan khutbah. Setelah itu tiba waktu dhuhur, maka disambung dengan shalat berjamaah dhuhur.

Dari kenyataan yang saya alami itu, maka ketika membaca tulisan-tulisan yang berlebih-lebihan dimasa kini mengenai gerhana matahari tahun 1983, menjadikan saya berfikir, apakah di negeri ini memang sah-sah saja untuk melebih-lebihkan sesuatu?

Sebaliknya, justru yang menyangkut kemusyrikan, paling hanya disebut ceritanya begini begitu. Bahwa gerhana itu gara-gara mataharinya dimakan Batara Kala dan sebagainya dikaitkan dengan kesialan, maka ketika gerhana harus begini dan begitu. Tidak dijelaskan bahayanya keyakinan kemusyrikan (dosa paling besar) itu terhadap Aqidah/ keimanan.

Seharusnya yang lebih disoroti adalah bahaya kemusyrikan berkaitan dengan gerhana yang dikaitkan dengan kesialan hingga harus begini dan begitu itu. Juga adanya gerhana justru dijadikan sarana promosi istimewa plesiran yang dapat diduga ada bau arahnya ke perzinaan. Padahal masalah larangan keras zina pun disabdakan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam dalam berbicara tentang gerhana. Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا ثُمَّ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan tidak terjadi gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana, maka banyaklah berdoa kepada Allah, bertakbirlah, dirikan shalat dan bersedekahlah.” Kemudian beliau meneruskan sabdanya: “Wahai ummat Muhammad! Demi Allah, tidak ada yang melebihi kecemburuan Allah kecuali saat Dia melihat hamba laki-laki atau hamba perempuan-Nya berzina. Wahai ummat Muhammad! Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.” (HR. Al-Bukhari no. 1044 dan Muslim no. 1499)

Dari kenyataan ini (antara kenyataan, keyakinan batil  dan kekejian/ zina yang harus disoroti, namun yang muncul kini justru tulisan-tulisan yang tidak menyoroti masalah penting itu tapi melebih-lebihkan hal lain), maka  Umat Islam perlu waspada, terutama berkaitan dengan media massa ataupun media sosial sekarang. Kalau tidak, maka akan terjerumus. Karena ternyata, hal yang sangat prinsipil dan perlu disoroti (contohnya adalah masalah kemusyrikan dan zina) berkaitan dengan peristiwa gerhana, justru tidak dipedulikan untuk disoroti, agar iman dan akhlaq masarakat ini terbina. Sedangkan hal yang sebenarnya masalah biasa saja justru dilebih-lebih-kan, diserem-seremkan.

Sekali lagi, perlu cermat dan waspada.

Termakasih

Jakarta, malam Rabu 29 Jumadil Ula 1437H/ 8 Maret 2016

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.244 kali, 1 untuk hari ini)