Kalau anda suka mendengarkan ceramah seorang kyai Betawi lewat radio, tentu pernah mendengar cerita shalat politik tukang begal.

Di padang pasir zaman dulu konon ada saja begal yang merampok rombongan kecil yang lewat. Tentu saja yang dibegal bukan kafilah yang jumlah orangnya banyak. Karena bisa terjadi perang, bila sampai begalnya berani.

Alkisah, ada rombongan kecil yang naik unta dengan barang-barangnya. Di tengah perjalanan, mereka melihat gelagat di arah depan sepertinya mencurigakan, jangan-jangan orang-orang yang tampak dari kejauhan itu begal alias perampok jalanan. Maka rombongan kecil ini pilih berhenti dulu. Syukur-syukur ada kafilah besar yang lewat, hingga akan ikut bersama. Kalau tidak, ya tunggu agak siangan, jadi begalnya kan urung membegal.

Dalam keadaan berhenti menunggu suasana itu, datanglah waktu subuh. Maka rombongan kecil ini bergegas shalat. Kemudian mereka tidak langsung melanjutkan perjalanan, namun masih tetap menunggu waktu biar agak siangan lagi.

Di depan sana, orang-orang yang disangka begal itu tampak mereka sedang shalat. Kagetlah rombongan kafilah kecil ini. Disimpulkan, kalau begitu, mereka yang di depan itu bukan begal, tapi orang baik-baik. Maka mulailah rombongan kecil ini melangkah untuk melanjutkan perjalanan.

Lambat laun sampailah rombongan kecil itu di dekat orang-orang yang tadinya tampak mengerjakan shalat tersebut. Tiba-tiba rombongan kecil ini disergap, segala rupa yang ada harus diserahkan kepada para penyergap. Rombongan kecil pun berteriak kencang: Lhoh, kalian kan orang-orang yang tampak shalat… kenapa merampas begini?

Dijawab dengan sigap oleh para pembegal : Shalatku itu tadi hanya untuk lu (kamu)…

Terjadilah apa yang terjadi. Justru shalatnya itu sebagai alat untuk membegal.

Siapapun orangnya, ketika shalatnya hanya politis, maka sejatinya tidak lebih dari begal-begal kesiangan itu.

(Hartono Ahmad Jaiz)