Dalam sidang Tatatertib di Muktamar NU terjadi gejolak yang panas. Delegasi dari Kepulauan Riau menyebut telah menangkap tangan oknum yang membawa bungkusan uang untuk menyogok muktamirin. Ia juga menuding salah seorang nama penting di jajaran PBNU sebagai dalang dibalik itu.

Pendukung AHWA adalah mereka yang mendukung incumbent (orang yang sedang menjabat  lalu mau ikut dalam pilihan lagi) KHA Mustofa Bisri (Gus Mus) dan KH Said Aqil Siraj sebagai Rais Am Syuriah dan Ketua Umum PBNU. Sementara PCNU dan PWNU yang menolak AHWA mendukung KHA Hasyim Muzadi sebagai Rais Am Syuriah dan KH Ir Salahuddin Wahid (Gus Solah) sebagai Ketua Umum Tanfidziah PBNU.

Kerena ricuh dalam pembahasan tata tertib tentang AHWA, maka sampai Ahad malam, sidang tatatertib itu bbelum selesai, padahal menuruyt agenda, tata tertib harusnya diselesaikan pada Sabtu (1/8) malam.

 

Inilah beritanya.

***

PCNU Diming-imingi Rp 5 Juta agar Mau Dukung AHWA

Minggu, 02 Agustus 2015 22:53 WIB

muktamar NU003

Peserta Muktamar saat melakukan registrasi kemarin (1/8). (rony suhartomo/BANGSAONLINE)

JOMBANG, BANGSAONLINE.com – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid mencium adanya intervensi partai politik di Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Jombang, Jawa Timur.

Cucu pendiri NU Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari yang akrab disapa Gus Solah ini mengatakan, indikasi itu terlihat dari adanya iming-iming untuk memuluskan sistem ahlul halli wal aqdi (AHWA) dalam proses pemilihan Rais Am.

“Saya mengimbau, stop pihak yang mengiming-imingi di pemilihan rais aam, karena itu akan menghancurkan NU. Banyak yang bertanya pada saya, Muktamar NU atau PKB, banyak yang tanya itu,” tutur Gus Solah saat menggelar konferensi pers di Media Center Muktamar NU, Minggu (2/8). (Baca juga: Gus Solah: Banyak Pertanyaan, ini Muktamar NU apa Muktamar PKB, PBNU Kenapa Diam?)

Beberapa Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) mengungkapkan bahwa ada oknum parpol yang bergerilya ke tempat-tempat penginapan peserta menawarkan uang asal mau mendukung AHWA. ”Per suara akan diberi uang Rp 5 juta asal mendukung AHWA,” katanya. Padahal selama ini AHWA selalu digembor-gemborkan untuk mengikis riswah atau politik uang.

Banyak PCNU dan PWNU yang menyayangkan aksi oknum Parpol tersebut, sebab ia melakukan aksi suap dalam Muktamar NU yang diselenggarakan di wilayah Jombang, yang merupakan tempat kelahiran dan pesarean (makam) para pendiri NU. “Apa mereka tidak takut kuwalat dengan Mbah Hasyim,” kata seorang ketua PCNU yang enggan disebut namanya.

Ia menghimbau kepada semua peserta Muktamar NU agar hati-hati dan jangan menerima suap karena sangat berbahaya, baik dari segi hukum maupun dari segi kultur NU.

Pendukung AHWA adalah mereka yang mendukung incumbent KHA Mustofa Bisri (Gus Mus) dan KH Said Aqil Siraj sebagai Rais Am Syuriah dan Ketua Umum PBNU. Sementara PCNU dan PWNU yang menolak AHWA mendukung KHA Hasyim Muzadi sebagai Rais Am Syuriah dan KH Ir Salahuddin Wahid (Gus Solah) sebagai Ketua Umum Tanfidziah PBNU.

Menurut Gus Solah, saat ini NU pelan-pelan kehilangan ruh jihadnya, justru yang muncul adalah semangat pragmatisme. “Kalau mau pragmatisme, ya jangan ke NU, ke partai saja. NU itu ormas, kemudian jadi partai, kembali lagi jadi ormas, lalu membuat partai. Sehingga banyak ke partai. Paradigma parpol harus dipisahkan dengan NU. Itu (paradigma parpol masuk NU) harus kita cegah,” tegas Gus Solah. (Baca juga: “Muktamar Jombang, Muktamar Terburuk Sepanjang Sejarah”)

Terkait penggunaan sistem AHWA dalam pemilihan rais aam, Gus Solah mengatakan dirinya tidak sepakat. “Sebab, aturan dalam organisasi yang ditentukan oleh AD/ART tidak pernah ada kata AHWA,” tutur dia.

Dia menjelaskan, dalam AD/ART yang ada hanya kata musyawarah mufakat. Anehnya, kata itu diartikan sebagai Ahlul halli wal aqdi (AHWA)?. “Ngerti organisasi apa enggak sih? Yang memutuskan itu muktamirin,” jelas dia.

Menurut Gus Solah, dalam pleno yang memutuskan muktamirin. “Saya setuju AHWA, tapi setelah AD/ART diubah, tidak tahun ini. Tapi semuanya tetap diputuskan oleh muktamirin,” tandas Gus Solah.

Dalam jumpa pers itu, Gus Solah juga menegaskan dirinya tetap maju dalam muktamar NU ke-33 kali ini. “Itu hanya isu yang disebarkan sekelompok orang yang menginginkan saya tidak maju dalam pencalonan. Tapi kembali saya tegaskan: saya tetap maju,” terang Gus Solah.

Penegasan Gus Solah ini menepis semua isu yang menyebut Gus Solah mundur sebelum ajang pemilihan. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ini juga menyatakan jika situasi kisruh ini sengaja dibuat oleh kelompok-kelompok tertentu. (tim)

***

Ricuh Saat Bahas AHWA, Sidang Tatib Muktamar NU ke-33 Diskors hingga Besok Pagi

Senin, 03 Agustus 2015 00:59 WIB

muktamar NU004

RICUH – Kericuhan yang terjadi saat sidang pleno membahas tata cara pemilihan. (foto: rony suhartomo/BANGSAONLINE)

JOMBANG, BANGSAONLINE.com – Hingga Ahad (2/8) pukul 23.00, Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) masih belum beranjak dari pembahasan tata tertib persidangan. Sidang pun kembali ditunda tanpa keputusan hingga Senin (3/8).

Padahal, sesuai dengan agenda, tata tertib harusnya diselesaikan pada Sabtu (1/8) malam. Perdebatan tata tertib tertahan pada perdebatan mekanisme pemilihan Rais Am NU, apakah menggunakan sistem ahlul walli wal aqdi (AHWA) atau pemungutan suara.

Dalam sidang pleno tersebut, beberapa kali ketegangan terjadi. Dua ketegangan terakhir yang menyita perhatian dipicu oleh pernyataan delegasi PWNU Riau dan PWNU Kepulauan Riau.

Delegasi PWNU Riau menganggap, para kiai pemimpin sidang memaksakan mekanisme pemilihan AHWA. Ia berpendapat, mekanisme AHWA belum masuk dalam konstitusi, sementara konstitusi hanya mengenal model pemungutan suara.

Anggota delegasi itu lalu melontarkan pernyataan yang memancing emosi sebagian muktamirin. Pernyataan delegasi Riau itu memicu gejolak Muktamirin. Sejumlah orang berusaha merangsek untuk meraihnya. Sebelum dijauhkan oleh aparat Banser, beberapa muktamirin yang kontra sempat menepuk kepalanya.

Tak lama berselang, terjadi gejolak kedua yang lebih panas. Kali ini delegasi dari Kepulauan Riau menyebut telah menangkap tangan oknum yang membawa bungkusan uang untuk menyogok muktamirin. Ia juga menuding salah seorang nama penting di jajaran PBNU sebagai dalang dibalik itu. (Baca juga: PCNU Diming-imingi Rp 5 Juta agar Mau Dukung AHWA)

Kasus kedua ini memicu reaksi lebih besar. Beruntung, petugas Banser berhasil melindungi dia dan membawanya keluar. (Baca juga: “Muktamar Jombang, Muktamar Terburuk Sepanjang Sejarah”)(rep) bangsaonline.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.235 kali, 1 untuk hari ini)