Sidi Abdullah Bantah Megawati: ‘Kamu saja yang keluar!’ (dari Indonesia).

Diberitakan, Megawati meminta para pendukung ideologi khilafah keluar dari Indonesia.

Sidi Abdullah Bantah Megawati: ‘Kamu saja yang keluar!’ (dari Indonesia).

Berikut ini beritanya, dan di bagian bawah ada wawancara sebuah majalah edisi Nov 1998 dengan seorang menteri saat itu yang menyebut Megawati beragama Hindu karena beredar berita dan foto Megawati sembahyang di pure Bali.

***

 

Bantah Megawati, Penulis Ini Ungkap Sejarah Walisongo Utusan Khilafah Turki Utsmaniyah



 

Walisongo Utusan Khilafah Turki Utsmaniyah Untuk Nusantara


Oleh: Sidi Abdullah

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya dalam catatan peneltian saya berjudul Standar Dinar Dan Dirham Dalam Sejarah Dan Fikih Islam, yang menyebutkan bahwa Walisongo adalah mubaligh Islam yang juga melakukan perdagangan dengan sistem moneter dinar dan dirham di Nusantara, maka saya menambahkan detail tentang Walisongo pada tulisan tersebut yang diambil dari sebuah sumber orisinil yang tersimpan di Museum Istana Turki Istanbul, dimana dicatat dalam sejarah bahwa gerakan Walisongo dibentuk oleh Sultan Muhammad I, pada tahun 1404 M (808 H).

Berdasarkan laporan dari saudagar Gujarat, India, Sultan Muhammad I mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta untuk dikirim beberapa Ulama. Maka setelah dikumpulkan, Sultan Muhammad I mengirim 9 orang yang memiliki kemampuan di berbagai bidang dan juga memahami ilmu agama, untuk diberangkatkan ke pulau Jawa pada tahun 1404 M, mereka ini dipimpin oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli tata negara, berita ini tertulis dalam kitab Kanzul ‘Hum dari Ibn Bathuthah, yang kemudian dilanjutkan oleh Sheikh Maulana Al Maghribi.

Wali Songo periode pertama, tahun 1404 – 1435 M, terdiri dari:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli rukhyah.

Wali Songo periode kedua, tahun 1435 – 1463 M, terdiri dari:
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan (tahun 1419 menggantikan Maulana Malik Ibrahim)
2. Maulana Ishaq, asal Samarqand, Rusia Selatan (W. 1463)
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina (tahun 1435 menggantikan Maulana Malik
Isra’il)
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina (tahun 1435 menggantikan Maulana
Muhammad Ali Akbar)
7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina (W. 1462 M)
8. Maulana ‘Aliyuddin, asal Palestina (W. 1462 M)
9. Syekh Subakir, asal Persia Iran. (W. 1463 M, makamnya di Iran)

Wali Songo periode ketiga, 1463 – 1466 M, terdiri dari:
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan, Banyuwangi, Jatim (tahun 1463 menggantikan Maulana Ishaq)
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir (W. 1465 M)
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko (W.1465 M)
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim (tahun 1462 menggantikan Maulana Hasanuddin)
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim (tahun 1462 menggantikan Maulana ‘Aliyyuddin)
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim (tahun 1463 menggantikan Syaikh Subakir)

Wali Songo periode keempat, 1466 – 1513 M, terdiri dari:
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan (w.1481)
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim (w.1505)
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak (pada tahun 1465 mengganti Maulana Ahmad Jumadil Kubra)
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon (pada tahun 1465 mengganti Maulana Muhammad Al-Maghrabi)
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim (W.1513)

Wali Songo periode kelima, 1513 – 1533 M, terdiri dari:
1. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran, wafat tahun 1517 (tahun 1481 Menggantikan Sunan Ampel)
2. Raden Faqih Sunan Ampel II ( Tahun 1505 menggantikan kakak iparnya, yaitu Sunan Giri)
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak (W.1518)
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina (W.1550)
6. Sunan Gunung Jati, asal Cirebon
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim (W.1525 M)
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim (W. 1533 M)
9. Sunan Muria, Asal Gunung Muria, [tahun 1513 menggantikan ayahnya yaitu Sunan Kalijaga]

Wali Songo periode keenam, 1479 M, terdiri dari :
1. Syaikh Abdul Qahhar (Sunan Sedayu), asal Sedayu (Tahun 1517 menggantikan ayahnya, yaitu Syaikh Siti Jenar)
2. Raden Zainal Abidin Sunan Demak (Tahun 1540 menggantikan kakaknya, yaitu Raden Faqih Sunan Ampel II)
3. Sultan Trenggana (tahun 1518 menggantikan ayahnya yaitu Raden Fattah)
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon, (W.tahun 1573)
5. Sayyid Amir Hasan, asal Kudus (tahun 1550 menggantikan ayahnya, yaitu Sunan Kudus)
6. Sunan Gunung Jati, asal Cirebon (w.1569)
7. Raden Husamuddin Sunan Lamongan, asal Lamongan (Tahun 1525 menggantikan kakaknya, yaitu Sunan Bonang)
8. Sunan Pakuan, asal Surabaya, (Tahun 1533 menggantikan ayahnya, yaitu Sunan Derajat)
9. Sunan Muria, asal Gunung Muria, (w. 1551)

Sebelumnya sudah juga terjadi kontak dari Raja Sriwijaya pada tahun 100 H (718 M) yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayyah. Sang Raja meminta dikirimi dai yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama Sribuza Islam.

Prof. Hamka dalam bukunya “Sejarah Umat Islam” mengungkapkan pada tahun 674-675 M, duta dari orang-orang Tha shih (arab) untuk China yang tak lain adalah sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasalam. Maka bisa dikatakan bahwa Islam telah merambah tanah Jawa pada abad awal perhitungan Hijriah.

Jika demikikan, tidak heran apabila tanah Jawa menjadi kekuatan Islam yang cukup besar pada masa-masa berikutnya, dengan Kesultanan Giri, Demak, Pajang, Mataram, bahkan hingga Banten dan Cirebon. Peranan Wali Songo dalam perjalanan Kesultanan Islam di Jawa tidak bisa dipisahkan, jika boleh disebut, merekalah yang menyiapkan pondasi-pondasi yang kuat, dimana akan dibangun pemerintahan Islam yang berbentuk Kesultanan. Kesultanan Islam di tanah Jawa yang paling terkenal adalah Kesultanan Demak. Namun keberadaan Kesultanan Giri juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kekuasaan Islam di tanah Jawa.

Sebelum Demak berdiri, Raden Paku yang berjuluk Sunan Giri atau nama aslinya Maulana Ainul Yaqin, membangun wilayah tersendiri di daerah Giri, Gresik jawa Timur. Wilayah ini dibangun menjadi sebuah kekuasaan agama dan juga pusat pengkaderan dakwah. Dari wilayah Giri ini dihasilkan pendakwah-pendakwah yang kelak dikirim ke kawasan Nusa Tenggara dan wilayah Timur Indonesia lainnya.

Giri berkembang dan menjadi pusat keagamaan di wilayah Jawa Timur. Buya Hamka menyebutkan, sedemikian besar pengaruh kekuatan agama dihasilkan Giri, membuat Majapahit yang kala itu menguasai Jawa tidak punya kuasa untuk menghapus kekuatan Giri. Dalam perjalanannya, setelah melemahnya Majapahit, berdirilah Kesultanan Demak. Lalu bersambung dengan Pajang, kemudian jatuh ke Mataram.

Meski akhirnya kekuatan Islam melemah saat kedatangan dan mengguritanya kekuasaan penjajahan Belanda, Kesultanan dan tokoh-tokoh Islam tanah Jawa memberikan sumbangsih yang besar pada perjuangan. Ajaran Islam yang terkenal dengan ajaran dan semangat jihadnya telah menuliskan tinta emas dalam perjuangan melawan penjajah di seluruh Nusantara.

Sumber: sidiabdullah

Kamu saja yang keluar! Kakek buyut kami jauh sebelum Indonesia ada, sudah perang, korban nyawa, harta dan keluarga untuk kemerdekaan bangsa Melayu. Kalau kamu pikir modal dengan nama bapakmu, terus seenaknya, kamipun bisa menuntut. Baca sejarah Turki yang benar biar tahu ada apa! https://t.co/T1q2WhXObC

— Sidi Abdullah (@SidiAbdullah_) December 9, 2019

Sampeyan kalau benar sudah baca sejarah Kesultanan Turki akan tahu siapa yang mengirim Wali Songo ke Nusantara dalam beberapa gelombang. Justru karena Kasultanan Turki yang luar biasa dapat melihat kondisi masa depan untuk Nusantara, dan kamu anggap itu ramalan? Kapokmu kapan

— Sidi Abdullah (@SidiAbdullah_) December 10, 2019

portal-islam.id, 11 Desember 2019

 

***

Tahun 1998, Megawati pernah heboh, foto dan beritanya beredar ketika dia sembahyang di pure di Bali. Seorang menteri waktu itu menyebut Megawati beragama Hindu karena beredar berita dan fotonya yang sedang bersembahyang di pure itu. Akibatnya pernyataan menteri itu jadi ramai di masyarakat, maka ada wawancara mengenai kehebohan itu.

Silakan simak berikut ini.

***

Wawancara Prof. Dr. Ahmad Muflih Saefuddin:
“Saya Bukan Orang Pesanan. Ini Orisinal Pikiran Saya”

(Majalah Tempo, Edisi 16 November 1998)

Prof. Dr. Ahmad Muflih Saefuddin, politisi kawakan berumur 58 tahun ini, punya sederet jabatan: Menteri Negara Pangan dan Hortikultura, anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, anggota Majelis Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan dan wakil ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia. Tapi, sekarang ia dihujat orang banyak karena pernyataannya yang dinilai sembarangan. “Dia (Megawati) agamanya Hindu. Saya Islam. Relakah rakyat Indonesia jika presidennya beragama Hindu?”

Menghadapi semua itu, ahli ekonomi-pangan lulusan Universitas Justus Lieberg – Giessen, Jerman yang dikenal dekat dengan presiden Habibie itu, tampak tenang-tenang saja. Sabtu pagi lalu di rumah pribadinya yang amat sederhana di Bogor, Pak AM yang masih bersarung menerima wartawan TEMPO, Karaniya Dharmasaputra untuk sebuah wawancara khusus. Tentu saja, dengan segala guyon khasnya. Berikut petikannya.

Apa latar belakang pernyataan anda itu?

Prinsipnya, setiap calon presiden harus transparan. Dalam hal ini, minimal harus jelas identitas pribadinya, yaitu: nama, alamat, tanggal lahir, agama dan pekerjaan. Seperti yang selalu dicantumkan di KTP. Jangan ada yang disembunyikan, transparan saja. Ini adalah data demografi yang harus dipunyai dan diketahui setiap orang. Dalam bahasa teknologi disebut: spesifikasi. Kalau mau beli mobil, barang elektronik, obat, dan lain-lain, ada spesifikasi yang harus diketahui dulu oleh setiap calon pembeli. Supaya jangan dibohongi. Jangan seperti membeli kucing dalam karung. Tapi siapapun dia, tetap saya hormati. Dengan catatan harus transparan. Supaya rakyat tidak dibodohi. Data demografi itu data minimal. Itu kan data dasar bagi semua penduduk. Meskipun, untuk calon presiden tentu saja dibutuhkan data tambahan seperti track record sebagai seorang politisi, sebagai negarawan, pengalaman global untuk menghadapi era globalisasi.

Saya dan rakyat kan mendapat informasi dari media cetak. Yang waktu itu banyak memberitakan, juga lewat foto-fotonya, bahwa Megawati, salah seorang calon presiden, sedang sembahyang di pura. Nah, sebagai seorang warga negara saya terheran-heran, karena sepengetahuan saya seharusnya tidak seperti itu. Jadi, pernyataan saya itu cuma dalam konteks Megawati sebagai calon presiden. Kalau pernyataan itu dianggap salah, tolong tunjukkan salahnya di mana? Kalau ada orang mengatakan: AM Saefuddin sebagai salah seorang calon presiden, sembahyangnya di masjid, apa saya harus marah?

Salah satu makna demokrasi itu adalah transparansi. Kenapa harus ditutup-tutupi data demografi itu? Sebagai seorang warga negara yang demokrat, saya hormat dan tidak pernah membenci atau melecehkan suku, agama, ras atau golongan manapun juga. Semua diperbolehkan dicalonkan atau mencalonkan diri. Tapi yang menentukan kan rakyat. Untuk memilih “kucing-kucing” — presiden — itu, harus jelas dulu dong identitas kucing-nya.

 
 

Jadi Anda tidak pernah menyatakan Mega beragama Hindu?

Apa bedanya sembahyang di pura dengan beragama Hindu? Mbak Mega itu sembahyangnya di pura, berarti agamanya Hindu. Seperti juga misalnya kalau Mbak Mega ngomong AM Saefuddin itu sembahyang di masjid, maka agamanya Islam. Apa saya harus tersinggung? Apa umat Islam lalu menuduh Megawati melecehkan Islam? (Catatan Red: Yang diprotes umat Hindu, bukan soal Megawati beragama Hindu, tetapi kalimat terakhir yang umum: “Relakah……”)

 
 

Tapi berdasarkan KTP-nya, Mega beragama Islam…

Kalau memang dia Islam, jelaskan dong. Dulu, waktu sebelum pemilu juga ada pemberitaan seperti itu. Sekarang, terulang lagi. Kenapa dia tidak pernah menjelaskannya? Saya tanya, kalau anda seorang Katholik atau Buddha, masuk masjid, shalat nggak? Dengan alasan supaya Anda diakui atau dihormati umat Islam. Saya Islam, waktu tinggal di Jerman, apa kalau masuk gereja saya terus berdoa dan bernyanyi, supaya diakui? Kan tidak.

 
 

Anda sudah mengkonfirmasikannya ke Mega?

Anda tanyakan dong ke sumber beritanya … Kalau memang foto-foto itu tidak benar, yang bersangkutan supaya membantahnya. Pernyataan saya itu sebenarnya tidak ada kaitannya dengan masyarakat Hindu di Bali. Ini kan lalu dipolitisir. Kalau sudah sejauh itu, sudah tidak proporsional. Coba saja lihat tuntutannya: kalau AM Saefuddin tidak dipecat: Bali merdeka, pemilu diboikot, pekerja mogok, bandara Ngurah Rai ditutup.

 
 

Menurut anda kenapa bisa sejauh itu?

Tanya ke mereka, jangan sama saya.

 
 

Lalu kenapa Anda minta maaf?

Manusia itu punya interpretasi berbeda-beda. Kepala sama berbulu, di bawah bulu itu kan lain-lain, bisa saja terjadi communication gap. Maksud saya kan baik. Dengan demikian apabila ada salah interpretasi dan karenanya dapat mengganggu ketenangan atau bisa menyebabkan keresahan dan kerusuhan, maka dengan kebesaran hati sebagai seorang demokrat saya minta maaf. Walaupun saya tidak bersalah. Semulia-mulianya orang, adalah yang sering-sering memohon maaf. Walaupun tidak bersalah. Memang orang Indonesia itu punya budaya antara lain mahal memberi dan meminta maaf. Minta maafnya setahun sekali, kalau Lebaran … ha … ha … Berbeda dengan orang Barat yang murah bilang I’m sorry. Minta maaf itu bagian dari demokrasi.

 
 

Apa maksud Anda mengatakan “relakah Anda jika dipimpin orang Hindu?” Apakah karena Islam mewajibkan setiap muslim memperjuangkan pemimpin negara yang beragama Islam?

Sebenarnya, pernyataan saya tidak dalam konteks seperti itu. Tapi karena waktu itu wartawan menanyakan bagaimana menurut ajaran Islam, ya saya bisa menjelaskannya. Ayat-ayatnya kan jelas.

 
 

Lalu bagaimana menempatkannya di sisi seorang demokrat dan UUD’45?

Sikap saya sebagai seorang demokrat, silakan saja. Ibaratnya ada semua barang: minuman keras, minuman ringan, silakan … Demokrasi kan begitu. Tapi, sebagai seorang yang beragama Islam, pilihan saya sudah ditetapkan. Saya pilih soft drink. Ini bagian dari kebebasan memilih.

 
 

Sebagai seorang menteri, kenapa Anda membuat pernyataan itu?

Lho, kenapa? Saya berkewajiban mendidik rakyat. Ini kan pendidikan politik. Supaya rakyat jangan mau dibodohi terus. Seperti membeli kucing dalam karung.

 
 

Benarkah Anda juga keberatan Mega jadi presiden karena wanita?

Kalau itu sudah di luar konteks pernyataan saya. Tidak ada itu pernyataan soal betina atau jantan dalam soal calon presiden.

 
 

Jadi, Anda akan tetap mencalonkan diri sebagai presiden?

Oh, tetap. Apa pernah ada pernyataan saya yang mencabut itu? Yang jelas, kalau jadi presiden saya pertama-tama akan memperjuangkan prinsip transparansi itu. Termasuk, soal kekayaan calon presiden. Sebelumnya harus didata: Berapa jumlah rumahnya, pompa bensinnya, kapal pesiarnya. Begitu pula setelahnya.

 
 

Anda dituntut mundur sebagai menteri, ada komentar?

Seperti saya bilang, ini sudah tidak proporsional. Konteks pernyataan saya itu cuma soal Mega.

 
 

Jadi anda tidak akan mundur?

Oh, iya.

 
 

Bagaimana sikap presiden Habibie dalam hal ini?

Ya, tanya sama Pak Habibie.

 
 

Benarkah dalam waktu dekat Anda akan dicopot?

Tidak benar, buktinya sampai sekarang saya masih menjabat.

 
 

Jumat lalu kabarnya Anda sudah tidak ikut rapat kabinet?

Saya tidak bisa memberi komentar soal itu. Silakan saja … Tidak ada itu sidang kabinet di hari Jumat. Sidang kabinet itu setiap hari Rabu (nada suaranya meninggi). Saya tidak tahu. Sidang apa itu? Wartawan kan lebih tahu. Yang jelas, saya tidak menerima undangan untuk Sidang Kabinet pada hari Jumat.

 
 

Anda sudah menjelaskan duduk masalahnya pada tokoh-tokoh Hindu?

Buat apa saya menjelaskannya? Konteks pembicaraan saya tidak ada hubungannya dengan mereka, cuma soal Megawati. Dalam rangka memberi informasi pada rakyat. Bahwa saya mendapat informasi dari koran ada gambar Megawati sedang sembahyang di pura. Kalau begitu, agamanya Hindu. Itu saja. Sudah jelas kok duduk permasalahannya. Mereka mungkin sudah ditutup mata hati dan telinganya. Karena ada motivasi lain. Itu urusan mereka. Bukan urusan saya. Lihat saja tuntutannya: Bali merdeka, boikot pemilu, dan sebagainya. Itu motivasinya. Aslinya ya itu. Masalah saya itu mungkin cuma dijadikan batu loncatan saja … ha … ha …

 
 

Jadi target utamanya apa?

Tanya mereka. Saya kan tidak bisa menduga-duga. Yang jelas, apa yang sudah muncul sekarang, itu yang saya tangkap. Tuntutan Bali merdeka itu kan berarti memisahkan diri dari Republik Indonesia ini. Pemilu akan diboikot, artinya kan menantang konsitusi. Bandara Ngurah Rai akan dikepung, itu kan sudah melawan peraturan internasional. Apa hubungannya omongan saya tentang Mega dengan tuntutan Bali merdeka? Sudah tidak proporsional.

 
 

Benarkah pernyataan Anda adalah pesanan?

Saya bukan orang panggilan atau orang pesanan. Itu orisinil pemikiran saya.

 http://www.oocities.org/~budis1/article/racist/wawancara_prof_dr.htm

/Tidak dikutip bagian akhirnya karena beralih ke soal Habibie dan pencalonan presiden

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 1.369 kali, 1 untuk hari ini)