Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyesalkan langkah yang dilakukan Amerika Serikat dalam merespon keberadaan ISIS. Rencana perlawanan militer terhadap ISIS yang akan dilakukan Amerika dinilai berlebihan.

Wakil Sekjen PBNU Adnan Anwar mengatakan fenomena ISIS sengaja dibesar-besarkan oleh sebagian pihak. Sebab, baik dari jumlah ataupun kekuatan militer, kekuatan ISIS relatif tidak besar. Bukan tidak mungkin, kata dia, jika isu ISIS sengaja dibesarkan oleh pihak Amerika sebagai bagian dari strategi untuk mengintervensi negara Iraq dan Syria.

Sementara itu Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan, tidak semestinya Pemerintah RI ikut arus negara-negara Barat soal isu ISIS.
“Kami berpandang, Pemerintah RI tidak semestinya ikut-ikutan urusi ISIS. Tidak perlu gabung dengan negara Barat memerangi ISIS. Fokus saja dengan urusan dalam negeri sendiri. Itu riil dan kongkrit, lebih nyata manfaatnya bagi rakyat dalam negeri,” kata Mahfudz Siddiq di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (18/9/2014).
Inilah beritanya.
***

DPR Minta Pemerintah Jangan Ikut Arus Barat Urusi ISIS

Lahirnya ISIS itu tidak lepas kegagalan AS dalam penanganan keamanan di Irak dan Suriah.

Hidayatullah.com–Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan, tidak semestinya Pemerintah RI ikut arus negara-negara Barat soal isu ISIS.

“Kami berpandang, Pemerintah RI tidak semestinya ikut-ikutan urusi ISIS. Tidak perlu gabung dengan negara Barat memerangi ISIS. Fokus saja dengan urusan dalam negeri sendiri. Itu riil dan kongkrit, lebih nyata manfaatnya bagi rakyat dalam negeri,” kata Mahfudz Siddiq di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (18/9/2014).

Lebih lanjut Mahfudz mengatakan, Barat yang disponsori AS, kini hendak menjadikan musuh bersama dalam kampanye terorisme pada ISIS, setelah Al-Qaidah.

Padahal kalau mau ditilik ke dalam, tambah Mahfudz, lahirnya ISIS itu tidak lepas kegagalan AS dalam penanganan keamanan di Irak dan Suriah, setelah Barat menginvasi negara tersebut, baik secara langsung maupun lewat kelompok milisi pemberontak pemerintahan di Timur Tengah.

“Jadi kalau AS mau bereskan ISIS, selesaikan dulu masalah pokoknya. Yaitu penangan isu keamanan di negara Irak dan Suriah. Sebab ISIS lahir, akibat situasi yang kacau di negara tersebut, setelah AS melakukan intervensi di sana. Jadi untuk apa Indonesia ikut-ikutan urusi ISIS,” ujarnya, dilaporkan Antara.

Wasekjen PKS ini berharap agar pemerintahan mendatang tidak larut dan mengekor dengan kepentingan Barat, kampanye penangan teroris ISIS. Karena itu dapat menyeret Indonesia pada persoalan yang tidak semestinya terjadi di sini.

“Eksistensi ISIS kan terjadi di lokal kawasan Timur Tengah. Dan isu ISIS tidak ada kaitannya dengan Indonesia. Tetapi kalau Indonesia malah ikut-ikutan negara Barat, itu sama artinya masuk perangkap mereka. Yaitu menyeret Indonesia pada isu penangan ISIS. Padahal di sini tidak ada urusannya dengan ISIS,” tegasnya.*

Rep: Insan Kamil
Editor: Syaiful Irwan/ hdytllah, Kamis, 18 September 2014 – 19:53 WIB

***

AS Serang ISIS, Kedok Kolonialisasi?

Monday, 15 September 2014, 08:25 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyesalkan langkah yang dilakukan Amerika Serikat dalam merespon keberadaan ISIS. Rencana perlawanan militer terhadap ISIS yang akan dilakukan Amerika dinilai berlebihan.

Wakil Sekjen PBNU Adnan Anwar mengatakan fenomena ISIS sengaja dibesar-besarkan oleh sebagian pihak. Sebab, baik dari jumlah ataupun kekuatan militer, kekuatan ISIS relatif tidak besar. Bukan tidak mungkin, kata dia, jika isu ISIS sengaja dibesarkan oleh pihak Amerika sebagai bagian dari strategi untuk mengintervensi negara Iraq dan Syria.

Adnan mengatakan, pernyataan perang secara militer terhadap ISIS dari Presiden Obama harus dipandang dari berbagai sisi. Ia khawatir hal itu hanya akan dijadikan pintu masuk kepentingan Amerika untuk menguasai sumber energi dan minyak di wilayah negara tersebut.

“Targetnya kolonialisasi,” ujarnya, Senin (15/9).

Dia menambahkan, segala bentuk kekerasan memang tidak diajarkan dalam agama apapun dan dimanapun. Termasuk kekerasan yang dilakukan oleh ISIS. Selama ini mereka selalu mengklaim untuk memperjuangkan agama Islam. Hal itu sama sekali tidak mencerminkan orang beragama, apalagi dengan cara membunuh orang.

Tetapi, kata Adnan, rencana Amerika untuk melakukan aksi militer justru akan menimbulkan masalah baru. Aksi itu bisa memicu kerusakan lain yang tidak diinginkan akbibat perang. “Perang memang bukan jalan terbaik,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Obama dalam pidatonya beberapa waktu lalu menyatakan akan melakukan perlawanan militer untuk menumpas kelompok radikal //Islamic State of Iraq and Syria// (ISIS). ISIS dianggap sebagai militan brutal yang dengan keji memperbudak, memperkosa, bahkan membunuh sesama manusia.

Menurut Obama, kesewenang-wenangan ISIS hanya bisa dilawan dengan satu cara, yakni aksi militer. Ia pun memberikan lampu hijau kepada militer untuk melakukan serangan udara kepada mereka.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 629 kali, 1 untuk hari ini)