Ada yang berdoa, aparat kepolisian dan khususnya Densus 88 yang suka menzalimi umat Islam mendapat balasan di dunia dan di neraka. “Ya Allah balaskah kezaliman mereka segera di dunia dan kelak di neraka.”

Inilah berita-beritanya.

***

‘Bukti Guru Babak Belur, Apa Tidak Cukup Meyakinkan, Polisi Telah Siksa Warga?’

Syafruddin_8347656234723

KAPOLRES Poso, AKBP Eko Santoso, berjanji mengusut tindakan anarkis anggotanya yang menyiksa 14 warga Poso. Namun Kapolres belum berani bertindak lebih jauh sebelum mengumpulkan 14 korban kekerasan tersebut. Sedangkan mereka yang siap memberikan kesaksian saat ini baru terkumpul 9 korban.

Sikap Kapolres Poso ini pun dianggap aneh oleh Direktur The Community of Islamic Ideological Analyst, Harits Abu Ulya.

“Apa saksi 9 orang tidak cukup untuk memproses pelanggaran tersebut? Kenapa harus nunggu 5 saksi yang lain?” ujarnya kepada Islampos.com Jum’at (4/1/2013).

Bukti-bukti kekerasan Polisi, menurutnya, sudah begitu jelas jika melihat kondisi guru SMPN 1 Kalora-Poso, Syafrudin, yang babak belur setelah keluar dari Polres.

“Apakah ini masih tidak cukup untuk dijadikan bukti aduan atas tindak pidana penganiayaan yang dilakukan oleh aparat Brimob?” Tanyanya.

Pola tindakan membabi buta pihak aparat dengan mengerahkan pasukan Brimob plus Densus dalam jumlah besar dan asal main tangkap dinilai bukanlah solusi. Tapi justru akan melahirkan kebencian masyarakat dan dendam baru terhadap aparat.

“Aparat kepolisian harus serius mengedepankan humanisme untuk mereduksi kekerasan, jika tidak justru akan melahirkan siklus kekerasan yang tidak berujung,” tegasnya. (Pz/Islampos) By Admin Islampos on January 4, 2013

***

Syamsul, warga Poso: Disuruh mencari anggota pengajian dan dipukuli

Syamsul—Korban Salah Tangkap Di Poso—Mata Dipukul, Wajah Ditinju, & Tubuh Dihajar Petugas

Syamsul_84234832

PUSAT Hak Advokasi dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) menyatakan aparat kepolisian sekali lagi menunjukkan sikap tidak profesional dan tidak bertanggung jawab dalam kasus penanganan terorisme di Kota Poso. Sebanyak 14 warga menjadi korban salah tangkap dan penyiksaan selama jalannya interogasi. Salah satu korban adalah Syamsul, petani cokelat di Desa Kalora, Poso.

Kejadian ini bermula ketika Syamsul ke Mesjid untuk melaksanakan kewajiban shalat Dzuhur. Sesampai di Mesjid, seorang jama’ah sempat mengabarkan peristiwa penembakan Brimob di Desa Kalora.

“Saya belum yakin dengan informasi yang disampaikan. Hingga kemudian kami shalat Dzhur bersama,” kata Syamsul dalam testimoni tertulisnya yang diterima Islampos.com, Kamis (3/1/2012)

Selepas shalat, Syamsul pun langsung menuju rumah untuk berganti pakaian, kemudian ke kios coklat tempatnya biasa bekerja. Tak lama, petugas datang dan mencari siapa orang bernama Sam.

“Saya kemudian unjuk tangan sambil mengatakan bahwa saya yang mereka maksud. Segera mereka menyuruh saya naik ke truk. Saya dibawa ke pasar. Setiba di pasar, saya di suruh pindah ke depan (samping supir) saya diminta menunjukan teman-teman saya yang sering ikut ta’lim. Karena memang tidak ada, saya segera dibawa ke pos Kalora,” katanya panjang lebar.

Setiba di pos Kolara, Syamsul diperintahkan melepas bajunya. Baju itu kemudian digunakan untuk menutup mata. Dalam keadaan mata tertutup, petugas menyuruhnya berjongkok.

“Selesai interogasi saya disuruh untuk naik ke truk. Saat akan menaiki truk, saya merasakan benda keras membentur bagian belakang saya. Saya terjatuh, saat akan berdiri saya kembali merasa ada benda yang mendarat tepat di mata saya,” ceritanya.

Dalam perjalanan ke Mapolres Poso, mata Syamsul masih dalam keadaan tertutup. Saat itu lagi-lagi ia merasakan benda tumpul dibenturkan ke belakang lehernya. Setiba di polres, sekali lagi ia mendapat pukulan di wajah.

“Dalam pemeriksaan di polres Poso, mata saya ditutup selama dua hari. Dalam keadaan mata tertutup beberapa kali petugas yang datang ke saya meninju-ninju dengan pelan bekas pukulan yang sudah membekas di wajah,” tandasnya.

Setelah masa penahan 7 X 24 jam Syamsul kemudian di bebaskan karena tidak cukup bukti terkait keterlibatan penembakan brimob seperti yang disangkakan. (Pz/Islampos) By Admin Islampos on January 4, 2013

***

Siksa 14 Warga Poso, Bukti Kezaliman Aparat Kepolisian

Friday, 28 December 2012 19:09 Achsin

itoday – Aparat kepolisian yang menyiksa 14 warga sipil Poso dengan tuduhan keterlibatan teroris menandakan aparat berbaju coklat ini berbuat zalim.

“Enak betul jadi aparat kepolisian setelah menangkap dan menyiksa 14 orang Poso yang dituduh terlibat teroris ternyata tidak. Ngapain pakai mukul segala,” kata Direktur Lembaga Kajian Politik & Syariat Islam (LKPSI) Fauzan Al Anshari kepada itoday, Jumat (28/12).

Fauzan mengingatkan Kapolres Poso AKBP Eko Santoso, jika ditangkap seseorang dan selama tujuh hari tidak bertemu anak dan istri. “Coba  AKBP Eko Santoso yang ditangkap tujuh hari tidak ketemu anak istri terus dipukul mau tidak? Inilah kezaliman,” tegas Fauzan.

Ia berdoa aparat kepolisian dan khususnya Densus 88 yang suka menzalimi umat Islam mendapat balasan di dunia dan di neraka. “Ya Allah balaskah kezaliman mereka segera di dunia dan kelak di neraka,” papar Fauzan.

Selain itu, Fauzan juga mengatakan, Densus 88  tidak pernah diaudit kinerjanya ketika menangkap dan menyiksa tahanan dalam rentang waktu tujuh hari pertama yang diijinkan UU teroris sebagai pencarian alat tanpa bukti dan tidak didampingi pengacara. “Bagaimana Densus 88 mau menghentikan teror sedang dia sendiri meneror rakyat,” pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, 14 orang petani dan penambang emas tradisional warga desa Kalora dan Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara mengaku disiksa saat ditangkap dan diinterogasi di markas Polres Poso.

Saat itu mereka ditangkap karena diduga terlibat kasus penembakan yang terjadi 20 Desember  2012 dan menewaskan 4 orang anggota Brimob. Tapi belakangan, polisi kembali melepas karena tidak terbukti.

Www.Itoday.Co.Id

(nahimunkar.com)

(Dibaca 791 kali, 1 untuk hari ini)