Redaksi – Senin, 20 Ramadhan 1436 H / 6 Juli 2015 16:18 WIB

muslim uighur

Eramuslim.com – Sebuah restoran China di Istambul, diserang sekelompok orang Turki pro muslim Uighur, pada Rabu (1/7/2015) yang mengakibatkan kaca jendelanya pecah, tulis Al Arabiya (3/7).

Serangan dilakukan oleh sekelompok pendemo penindasan China terhadap kaum minoritas muslim Uighur di Xinjiang, sebuah wilayah otonom di China.

Pemilik restoran bernama Cihan Yavuz, warga Turki, membuka restoran ini demi masa depannya. Restoran ini mempekerjakan tukang masak Uighur sehingga Yavuz mengatakan, serangan ini tidak jelas motifnya.

Kepada koran lokal Huriyet, Yavuz menjelaskan bahwa sebagian kecil pelanggannya berasal dari China. “Tapi Restoran kami tak menjual minuman beralkohol,” kata Yavuz.

Enam orang yang menyerang restoran ini berteriak sebelum kabur: “Kami tak ingin ada restoran China di sini.” Serangan ini terjadi pada pekan yang sama saat pemerintah Turki memprotes tekanan pemerintah China terhadap minoritas muslim Uighur di Xinjiang, China.

Partai Komunis China (PKC) secara resmi melarang anggotanya, pegawai negeri sipil, guru dan siswa menunaikan ibadah puasa Ramadan. Anak-anak dilarang mendatangi masjid, perempuan dilarang mengenakan jilbab, lelaki dilarang memelihara janggot.

Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan protes kepada Duta Besar China di Ankara terkait sejumlah larangan bagi muslim China itu.

Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan kekhawatirannya terhadap pembatasan itu dan nota protes telah disampaikan kepada duta besar Cina di Ankara.

Juru bicara Kemlu China, Hua Chunying menanggapi nota protes Turki pada Rabu kemarin. Ia mengatakan, Beijing menerima keberatan pemerintah Turki tapi meminta Ankara memperjelas masalah ini.

Pada hari yang sama kelompok Uighur yang ada di Turki mengatakan bahwa sebanyak 173 perempuan dan anak-anak minoritas Uighur yang melarikan diri ke Thailand kini justru ditahan pemerintah Bangkok, tulis Associated Press.

Turki memiliki hubungan bahasa dengan etnis Uighur. Sejak zaman jalur sutera dahulu hingga kini orang Uighur berbahasa Turki. Turki bersedia menerima orang Uighur bila tidak dikehendaki di China.

Seyit Tumturk. Wakil kepala kongres Uighur dunia, Rabu kemarin mengatakan, 173 dari 250 orang Uighur yang ditahan di Thailand berharap sisa yang tak ditahan diperbolehkan meninggalkan Thailand. (rz)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.129 kali, 1 untuk hari ini)