Kata “dibohongi”, bersifat merendahkan saat disandingkan dengan kata “Al Quran”.

Berikut ini penjelasannya.

 ***

Penjelasan pakar bahasa

Ahli Bahasa pelapor (kasus Ahok) dari Universitas Mataram M Husni Muadz menyebutkan, kata dibohongi pada kasus penistaan agama Gubernur DKI Petahana, Basuki T Purnama (Ahok), itu merupakan instrumen tak netral.

Kata dibohongi, bersifat merendahkan saat disandingkan dengan kata Al Quran.

Oleh sebab itu, ucapan Ahok itu merupakan penistaan agama.

“Dalam perkataan itu (Ahok), ada instrumen kata ‘pakai’, lalu ada kata benda (Al Maidah). Nah, dalam frase itu (pakai Surat Al Maidah), bergantung pada kata kerjanya,” ujar Husni Muadz di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (15/11).

Dalam frase, kata dia, Dibohongi Pakai Surat Al Maidah, kata kerja Dibohongi itu merupakan instrumen tak netral yang juga berarti kebohongan.

Alhasil, saat disandingkan dengan kata pakai Al Maidah itu memiliki nilai yang merendahkan isi Al Quran.

Apalagi, katanya, dalam konteks umat Islam, Al Quran itu memiliki nilai mutlak kebenarannya.

“Secara bahasa, di situ penistaannya. Dengan dia mengundang instrumen yang kebetulan isinya Al Quran. Kenapa tak pakai buku yang lain misalnya, kenapa pakai Al Quran. Disandingkan dengan kata-kata kebohongan,” tuturnya.

Seperti diberitakan, Selasa (15/11/2016) polisi melakukan gelar perkara atas kasus penistaan agama yang diduga dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Dalam kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu 27 September 2016, di depan warga sekitar Ahok berbicara seputar surat Al Maidah dalam konteks memilih pemimpin menurut Islam./tribunnews.com

***

Ahok Tersangka

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta (nonaktif) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama. Penetapan status tersangka terkait pernyataan Ahok tentang surat Al Maidah 51 di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Polri meningkatkan kasus tersebut dari penyelidikan ke penyidikan.

Hal tersebut disampaikan Kabareskrim Komjen Pol Ari Dono Sukmanto di Jakarta, Rabu (16/11).

Ahok dinilai melanggar Pasal 156a KUHP dan Pasal 28 Ayat (1) UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Ahok juga dicegah bepergian ke luar negeri. / BeritaSatu.com Rabu, 16 November 2016 | 10:05

***

seberapa penistaan Ahok terhadap Islam, dapat disimak di tulisan berikut ini.

***

Ahok Menista Keyakinan Umat Islam yang Paling Dalam

Yang jadi pangkal persoalan adalah perkataan Ahok: “Dibohongin pakai surat al Maidah 51”.Kalimat ini terdapat dalam isi pidato Ahok.

Pidato Gubernur Provinsi DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (alias Ahok) di Kabupaten Kepulauan Seribu pada hari Selasa, 27 September 2016 (kemudian videonya beredar) antara lain menyatakan, “…Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai surat al Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak bapak ibu. Jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya..” 

Demikian penggalan dari perkataan Ahok yang ramai dipersoalkan.

Dilihat dari pelaku dan materi yang dipakai untuk membohongi

Kalimat yang diucapkan Ahok itu bisa juga dilihat dari segi pelaku dan materi yang dipakai untuk membohongi.

Intinya:

1. Orang berlaku bohong, ketika memakai surat Al-Maidah 51 untuk menjelaskan bahwa memilih orang nasrani (sebagai teman kepercayaan, pemimpin dan semacamnya).

2. Surat al maidah 51 ketika dipakai untuk masyarakat yang mengakibatkan merasa berdosa ketika memilih orang nasrani (kasusnya Ahok yang nasrani) berarti untuk membohongi dan membodohi masyarakat.

Dari sini tuduhan bohong berarti kepada dua:

Pertama, orang yang memakai surat al maidah 51 untuk melarang umat Islam memilih orang nasrani sebagai pemimpin.

Kedua, surat al maidah 51 itu sendiri dianggap jadi alat bohong ketika untuk melarang orang memilih orang nasrani sebagai pemimpin.

Surat Al Maidah 51 Menurut Tafsir Depag RI

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥١

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim [Al Ma”idah,51]

Tafsir

Pada ayat ini (51) Allah SWT melarang orang-orang yang beriman, agar jangan menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman akrab yang akan memberikan pertolongan dan perlindungan, apalagi untuk dipercayai sebagai pemimpin.

Selain dari ayat ini masih banyak ayat-ayat yang lain dalam Al-Qur’aan yang menyatakan larangan seperti ini terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Diulangnya berkali-kali larangan ini dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’aan, menunjukkan bahwa persoalannya sangat penting dan bila dilanggar akan mendatangkan bahaya yang besar. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid II, juz 6, halaman 442-443, Departemen Agama Republik Indonesia, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an 1985/1986).

Dalam tafsir resmi Departemen Agama (kini Kementerian Agama) itu sudah jelas:

Pada ayat ini (51) Allah SWT melarang orang-orang yang beriman, agar jangan menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman akrab yang akan memberikan pertolongan dan perlindungan, apalagi untuk dipercayai sebagai pemimpin.

Dengan demikian, tuduhan Ahok dalam pidatonya itu jelas menuduh kepada dua pihak yaitu orang, dan juga ayat. Oleh karena itu MUI (Majelis Ulama Indonesia) menegaskan:

Pernyataan Basuki Tjahaja Purnama dikategorikan:

 (1) Menghina Al-Quran dan atau

(2) menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum.

Penistaan Ahok dilihat dari keyakinan Islam yang dia singgung

Mari kita bahas perkataan Ahok yang jadi persoalan, dilihat secara keyakinan Islam, karena menyangkut ayat Al-Qur’an yang merupakan keyakinan inti dalam Islam. Kalimat Ahok ini akan kami susul dengan kalimat yang senada untuk mengurai agar terkuak duduk soalnya secara keyakinan dalam Islam.

1. “Dibohongin pakai surat al Maidah 51”. (dibohongi pakai sesuatu (ayat) yang diyakini mutlak benarnya dalam keyakinan Islam). Berikut ini untuk bahan perbandingan.

2. Dibohongi pakai hadits mutawatir. (dibohongi pakai sesuatu (hadits) yang diyakini sangat kuat benarnya dalam keyakinan Islam).

3. Dibohongi pakai hadits shahih. (dibohongi pakai sesuatu (hadits) yang diyakini kuat benarnya dalam keyakinan Islam).

Dari tiga kalimat itu akan tergambar seberapa kadar penistaan dari lafal dibohongi ketika disandingkan dengan lafal “pakai surat al Maidah 51” secara keyakinan dalam Islam. Sebab sudah menyinggung keyakinan Islam yang tingkatnya paling tinggi yaitu mengenai sesuatu (ayat) yang diyakini mutlak benarnya. Sehingga ketika Ahok mengatakan “Dibohongin pakai surat al Maidah 51” itu sudah menyangkut ranah keyakinan tertinggi karena diyakini mutlak benarnya, namun dinista dengan ucapan dibohongin. Sedangkan ucapan dibohongin itu bila diturunkan kadarnya, yakni misalnya ucapan nomor 3: Dibohongi pakai hadits shahih”, itupun tetap merupakan penyinggungan terhadap keyakinan dalam Islam. Karena sama dengan mengatakan: dibohongi pakai sesuatu (hadits) yang diyakini kuat benarnya dalam keyakinan Islam.

Kesimpulannya, perkataan Ahok:  “Dibohongin pakai surat al Maidah 51” itu telah menyinggung keyakinan Islam yang terdalam karena menyangkut sesuatu (ayat) yang diyakini mutlak benarnya.

Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.187 kali, 1 untuk hari ini)