.

  • (Wanita) korban dari perbuatan asusila sangat traumatik. Berhadapan dengan kalian para wartawan saja dia nangis dan hampir pingsan.
  • Pemerkosaan Itu Kriminal, Bukan Sekadar Zina

Inilah beritanya.

***

Kubu Mahasiswi UI Akan Bawa Sitok ke Ranah Perdata

 

Jakarta – Mahasiswi UI korban Sitok Srengenge akan menggugat secara perdata. Sitok juga akan diminta pertanggungjawaban dan kata maaf kepada dunia seni dan civitas akademika UI.

“Tuntutannya sangat adil lah, pelaku harus terjerat hukum. Kedua pelaku harus meminta maaf pada dunianya komunitas dunia seni dan sastra, dia juga harus minta maaf pada Civitas UI,” jelas pengacara mahasiswi UI, Iwan Pangka di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Kamis (12/12/2013).

Menurut dia, soal gugatan perdata terkait janin yang dikandung korban. Iwan menegaskan ada pemaksaan dalam tindakan Sitok.

“Tentu pelaku juga harus tanggung jawab pada janin yang dikandung. Secara keperdataan tentunya,” jelas Iwan.

Dia juga menjelaskan, untuk pasal yang disangkakan pada Sitok pihaknya masih menunggu perkembangan. Sejauh ini masih pada perbuatan tidak menyenangkan.

“Ada pengembangan atau peningkatan pasal dan kami akan berkoordinasi untuk mengikuti proses selanjutnya,” imbuhnya.

Iwan juga memberi penjelasan soal kedatangan mahasiswi itu ke Polda Metro Jaya yang terkesan menghindari wartawan.

“Ini kan Korban dari perbuatan asusila, karena kasihan. Dia sangat traumatik. Berhadapan dengan kalian saja para wartawan dia nangis dan hampir pingsan,” tutupnya. (mei/ndr) Mei Amelia R – detikNews

Kamis, 12/12/2013 16:11 WIB

***

 

Katrin Bandel: Pemerkosaan Itu Kriminal, Bukan Sekadar Zina

Doktor Katrin Bandel, pengamat sastra Indonesia terkemuka yang kerap mengkritisi politik berkesenian Komunitas Salihara, yang dulu bernama Teater Utan Kayu (TUK), tempat Sitok Srengenge selama ini bernaung, menanggapi kasus yang sedang membelit Sitok dalam tulisan di boemipoetra.wordpress.com. Tulisannya itu diberi judul “Catatan Pinggir Seputar Kasus Sitok Srengenge”, yang akan mengingatkan orang ke kolom Goenawan Mohamad, dedengkot Komunitas Salihara, di majalah miliknya, Tempo, “Catatan Pinggir”. Berikut tanggapan Katrin Bandel, yang telah mengalami sedikit penyuntingannya dari kami.

“Tentu saja, aku pun tidak tahu tepatnya apa yang terjadi antara Sitok Srengenge dan mahasiswi berinisial RW itu. Justru untuk memastikan hal itu dibutuhkan pengadilan.

Namun, ada beberapa hal yang menurutku agak ganjil dalam respons terhadap kasus itu di Fb, Twitter, komentar berita, dan sebagainya.

Pertama, sebagian orang tampaknya cenderung tidak membedakan antara perselingkuhan dan pemerkosaan. Tiba-tiba, urusan keluarga Sitok pun dibicarakan, seakan-akan ini urusan kesetiaan antara suami dan istri.

Seandainya Sitok cuma menyeleweng, ngapain kita ikut ribut? Itu urusan pribadinya. Tapi, pemerkosaan atau pelecehan seksual adalah kekerasan, tindakan kriminal. Ini bukan sekadar urusan zina atau pelanggaran moral, tapi tindakan kekerasan seksual!

Kedua, pada sebagian respons, aku sama sekali tidak melihat ada sensitivitas terhadap kondisi psikologis seorang korban pemerkosaan atau pelecehan seksual. Misalnya, ada yang bertanya mengapa kasusnya baru sekarang diadukan, bukan langsung setelah kejadiannya.

Tindakan kekerasan seksual sering membuat seorang perempuan merasa terhina, malu, dan seakan-akan kotor dan tidak berharga. Korban pemerkosaan mengalami trauma, bingung, dan stres, kerap kali bahkan menyalahkan diri sendiri. Itu merupakan reaksi psikologis yang wajar dalam kondisi seperti itu dan bukan tanda ketidaktegasan atau ketidakjujuran!

Di samping itu, bukankah memang pada kenyataannya justru korbannya yang sering disalahkan masyarakat? Perempuan yang diperkosa tidak jarang dibilang kurang pandai menjaga diri, berpakaian kelewat seksi, atau dituduh berbohong. Dalam kondisi semacam itu, bukankah wajar kalau korban bimbang dan baru berani bersuara saat ada dukungan dan pendampingan?” (ASN-010/DJE) Diposting oleh : www.asatunews.com

ASATUNEWS 02 Desember 2013 – 16:43:08 WIB

(nahimunkar.com)

(Dibaca 612 kali, 1 untuk hari ini)