(Semacam tambahan bukti sebagai antek asing dan pendukung aliran sesat yang menodai Islam)

  • Selain anti Ahmadiyah dan menolak ajaran-ajaran Ahmadiyah, Soekarno juga menolak salah satu organisasi bentukan kaum Yahudi, Rotary Club. Bukan sekadar sikap pribadi, pelarangan terhadap “Rotary Club” dilakukan secara resmi melalui Peraturan Penguasa Perang Tertinggi No. 5 Tahun 1961 tanggal 27 Februari 1961 tentang larangan adanya organisasi “Rotary Club”.
  • Walikota Solo,Joko Widodo bersama sejumlah anggota Rotary Club Solo Kartini meninjau proyek porselenisasi di RT 8 RW XX, Krajan, Kadipiro, Solo, Jumat (15/7)( dikutip dari sragenpos, 15/7/2011). – See more at: https://www.nahimunkar.org/beredar-keterlibatan-jokowi-dan-isterinya-dalam-jaringan-rotary-club-yahudi/#sthash.8VakiTuu.dpuf
  • Rotary Club (RC) Solo Kartini melantik Istri Walikota Surakarta Iriana Joko Widodo sebagai anggota kehormatan mereka,bersamaan dengan ulang tahun ke-107 Rotary Internasional. (Dikutip dari harian Joglosemar, Kamis (23/2 2012),.- See more at: https://www.nahimunkar.org/beredar-keterlibatan-jokowi-dan-isterinya-dalam-jaringan-rotary-club-yahudi/#sthash.8VakiTuu.dpuf
  • Peran Jusuf Kalla dalam membela Ahmadiyah (pengikut nabi palsu) itu jelas nyata pada tahun 2008 ketika Jusuf Kalla menjadi Wakil Presiden. Sebagaimana tergambar dalam buku “Cerita Azra; Biografi Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra”, halaman 124 yang diterbitkan Pernerbit Erlangga pada 2011 lalu. ), Wapres (Jusuf Kalla ) langsung menelpon petinggi-petinggi terkait, dan juga Ketua MUI KH Ma’ruf Amin, untuk menyatakan bahwa kesepakatan menyatakan Ahmadiyah sebagai organisasi terlarang adalah melanggar konstitusi.

Jokowi-JK yang diusung PDIP sebagai capres-cawapres 2014 dikhabarkan berjanji, Jika terpilih menjadi presiden dan wakil presiden periode 2014-2019 nanti, pasangan nomor urut 2 Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) akan memanusiakan kaum minoritas di Tanah Air, seperti kaum Ahmadiyah dan Syiah.

Bahkan ketika jadi wakil presiden tahun 2008 Jusuf Kalla justru jadi pembela utama aliran sangat sesat dan menodai Islam yaitu Ahmadiah. Sampai-sampai JK saat itu menggagalkan akan diumumkannya pelarangan Ahmadiyah oleh Departemen Agama, Kejaksaan Agung, dan Polri. Itu atas desakan pentolan liberal pendukung berat Ahmadiyah, Azyumardi Azra. https://www.nahimunkar.org/cawapres-jusuf-kalla-dan-ar-rajjal-sang-pembela-nabi-palsu/

Peran Jusuf Kalla dalam membela Ahmadiyah (pengikut nabi palsu) itu jelas nyata pada tahun 2008 ketika Jusuf Kalla menjadi Wakil Presiden. Sebagaimana tergambar dalam buku “Cerita Azra; Biografi Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra”, halaman 124 yang diterbitkan Pernerbit Erlangga pada 2011 lalu.

“Pada suatu pagi, terdengar kabar bahwa tiga pihak, Departemen Agama, Kejaksaan Agung dan Polri sepakat memaklumkan Ahmadiyah sebagai organisasi terlarang,” lanjut Andina di halaman yang sama.

Mendengar berita itu, Mardi, langsung datang ke ruang kerja Wakil Presiden Jusuf Kalla dan menyampaikan perkembangan ini.

Atas laporan Mardi, tulis Andina (penulis buku tersebut, red), Wapres langsung menelpon petinggi-petinggi terkait, dan juga Ketua MUI KH Ma’ruf Amin, untuk menyatakan bahwa kesepakatan menyatakan Ahmadiyah sebagai organisasi terlarang adalah melanggar konstitusi.

Menurut Azuymardi, jika Ahmadiyah dinyatakan sebagai organisasi ilegal, maka para anggota atau jemaahnya boleh diperlakukan seperti anggota PKI pasca persitiwa 30 September 1965. “Ini jelas melanggar UUD 1945 dan HAM.”

Akhirnya, pemerintah benar-benar tidak secara tegas melakukan pelarangan dan pembubaran terhadap organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) seperti tuntutan umat Islam Indonesia saat itu.

Pada akhirnya maklumat tidak jadi diberlakukan. (“Cerita Azra; Biografi Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra”, halaman 124 yang diterbitkan Pernerbit Erlangga pada 2011 lalu, sebagaimana dikutip si online).

– See more at: https://www.nahimunkar.org/cawapres-jusuf-kalla-dan-ar-rajjal-sang-pembela-nabi-palsu/#sthash.WL4w2JDk.dpuf

Di samping capres-cawapres PDIP Jokowi-JK itu menyakiti umat Islam karena jelas-jelas akan membela aliran sesat Ahmadiyah dan syiah, kedua orang itu bertentangan pula dengan Soekarno pendiri partai berlambang ndas banteng congore puteh iku.

Inilah beritanya

***

Jokowi-JK Berjanji Memanusiakan Warga Ahmadiyah dan Syiah

 

Liputan6.com, Jakarta – Jika terpilih menjadi presiden dan wakil presiden periode 2014-2019 nanti, pasangan nomor urut 2 Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) akan memanusiakan kaum minoritas di Tanah Air, seperti kaum Ahmadiyah dan Syiah.”Pak Jokowi mengatakan semua orang harus dimanusiakan,” kata anggota tim pemenangan Jokowi-JK, Musdah Mulia usai diskusi `Masa Depan Kebebasan Beragama dan Kelompok Minoritas di Indonesia` di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (18/6/2014).Musdah mengatakan, warga Syiah yang masih mengungsi pun nantinya akan dipulangkan ke rumah masing-masing.”Oh ya, tentu saja. Masa mereka jadi pengungsi seumur hidup. Nggak mungkinlah begitu, nggak manusiawi,” kata Direktur Eksekutif Megawati Institute ini.

Kendati, kata Musdah, Ahmadiyah tidak perlu dilegalkan sebagai agama. “Nggak perlu. Biarkan aja dia beragama, dia mengatakan Islam, Islam aja, siapa keberatan? Islam menurut dia gitu lho,” ujarnya.

Menurut Musdah, memanusiakan warga Ahmadiyah bukan berarti menyetujui munculnya agama baru nantinya. “Emangnya negara mau mengatur, `eh nggak boleh ada agama baru`. Itu kan urusan kamu yang diyakini.”

“Oh ya, saya menyetujui semua agama baru, bukan begitu konteksnya? Silakan aja, karena dalam konstitusi itu negara menjamin setiap penduduk meyakini agama, sebagai keyakinan masing-masing,” tandas Musdah. (Ans)

(Rochmanuddin)

liputan6.com

/gensyiah.com, June 21, 2014

***

 

Soekarno Anti Ahmadiyah dan Rotary

Sabtu, 21/06/2014 12:38:07 | Dibaca : 740

Ir Soekarno

 “Saya tidak tidak percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad seorang Nabi, dan belum percaya pula bahwa ia seorang mujaddid,” (Ir Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi Jilid 1 hal. 345)

Walaupun pernah menjadi murid, bahkan kemudian juga menantu dari seorang tokoh Islam sekaligus pendiri Sarekat Islam, Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Soekarno akhirnya lebih dikenal dengan gagasan nasionalismenya ketimbang sebagai penyebar gagasan Islam. Ini bisa dilihat dari persentase perbandingan pidato dan tulisan Soekarno tentang Islam, Nasionalisme dan Marxisme. Islam: 46 kali (10,75%). Nasionalisme: 355 kali (82,94%) dan Marxisme: 27 kali (6,31%).

Setidaknya itulah yang diungkap Muhammad Ridwan Lubis dalam disertasi berjudul “Pemikiran Sukarno tentang Islam dan Unsur-Unsur Pembaruannya” yang berhasil dipertahankan pada ujian promosi pada 14 Juli 1987 di Fakultas Pasca Sarjana IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Disertasi Lubis itu kemudian diterbitkan pertama kali oleh CV Haji Masagung pada 1992.

Belakangan, Soekarno bahkan terkenal dengan gagasan penyatuan trio ideologi yang dikenal sebagai Nasionalisme, Agama dan Komunisme (Nasakom). Gagasan ini gagal dan terkubur setelah terjadi peristiwa G 30 S/PKI pada 1965 lalu.

Meski Soekarno dikenal sebagai seorang nasionalis dan sekuler, tetapi ia juga memiliki sisi-sisi religius. Bukan hanya ia pernah  berhaji ke Mekkah, namun Islam sebagai agama yang dianutnya dijadikan spirit perjuangan mengusir kolonialisme dari bumi pertiwi. Meskipun harus diakui modernisme Islam ala Soekarno tak terlalu menonjol dibandingkan dengan warna nasionalisme dan Marxisme dalam telaah yang tercermin dalam pidato-pidatonya.

Menurut Ridwan Lubis, Soekarno memiliki pandangan bahwa Islam memiliki tiga karakter yang keberadaannya tidak ada dalam agama-agama lainnya. Pertama, tidak ada agama selain Islam yang sangat menekankan persamaan derajat. Semua ajaran Islam baik akidah, ibadah maupun akhlak didasarkan kepada prinsip kesetaraan.

Kedua, ajaran Islam itu rasional dan simplicity. Karakter rasionalitas akan kelihatan ketika seorang akan mengkaji Islam yaitu dengan dorongan Islam kepada semua umatnya untuk menggunakan akal baik ketika dalam proses penerimaan terhadap kepercayaan yang disebut tauhid maupun dalam pengkajian terhadap berbagai aspek filosofis dari semua hukum-hukum Islam. Ketiga, Islam adalah kemajuan. Dalam pemahaman Sukarno semua ajaran Islam mendorong semua umatnya untuk memiliki wawasan yang optimis ke depan sekalipun di sana sini terdapat berbagai hambatan.

“Soekarno menggunakan Islam sebagai kerangka berpikir untuk mengantarkan konstruksi perpolitikan di Indonesia khususnya yang terkait dengan hubungan agama dengan negara,” kata Ridwan dalam diskusi bedah bukunya  “Soekarno dan Modernisme Islam”, di Jakarta, 1 November 2012 lalu. Buku ini merupakan judul baru atas karya disertasi Ridwan Lubis di atas.

Menurut Ridwan, Soekarno pada mulanya kagum dengan pemikiran HOS Tjokroaminoto, namun tawaran Sarekat Islam yang berada di bawah pimpinan Tjokroaminoto tentang negara berdasar agama adalah suatu pemikiran politik kebangsaan yang dianggapnya sudah usang.

Anti Ahmadiyah dan Rotary

Akan tetapi, jauh sebelum Soekarno menjadi Presiden RI, saat ia dibuang oleh penjajah Belanda ke Endeh, Nusa Tenggara Timur, Soekarno pernah menegaskan pendiriannya terhadap aliran sesat Ahmadiyah. Aliran inilah yang hingga ini terus dipersoalkan oleh umat Islam, karena menistakan Islam dan Nabi Muhammad Saw.

Suatu hari, tersiar kabar bahwa Soekarno yang sedang berada dalam pembuangan di Endeh, Flores, Nusa Tenggara Timur, masuk menjadi anggota Ahmadiyah. Tak hanya itu, Soekarno juga dikabarkan mendirikan cabang Ahmadiyah dan akan menjadi propagandis wilayah Celebes (Sulawesi, red). Kabar tentang Soekarno itu ditulis di surat kabar “Pemandangan.” Tentu saja banyak orang bertanya-tanya, benarkah Soekarno menjadi pengikut organisasi pengikut nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad?

Atas tersiarnya kabar itu, maka Ustaz A. Hassan, guru utama Persatuan Islam (Persis) yang juga sahabat Soekarno, berkirim surat kepada tokoh nasional tersebut. A.Hassan yang pernah melakukan debat secara terbuka dengan Ahmadiyah di Batavia dan Bandung, terkejut dengan isu tersebut. Karenanya, ia berkirim surat ke Endeh, tempat Soekarno diasingkan. Soekarno yang terkejut dengan kabar miring itu kemudian menjawab lewat telegram bahwa kabar yang beredar tersebut adalah bohong.

Atas fitnah yang beredar itu, maka Soekarno kemudian mengirim surat pembaca kepada redaksi surat kabar “Pemandangan.”  Tulisan Soekarno ini kemudian dimuat juga dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi Jilid 1, halaman 345).

Endeh, 25 November 1936

Yth. Tuan-tuan
Redaksi “Pemandangan” Jakarta

Beberapa hari yang lalu saya mendapat surat “vlieg-post” ke Kupang, dari Kupang ke Endeh dengan kapal biasa, dari seorang kawan di Bandung, bahwa “Pemandangan” telah memuat satu entrefilet, bahwa saya telah mendirikan cabang Ahmadiyah dan akan menjadi propagandis Ahmadiyah di bagian Celebes (Sulawesi, red).

Walaupun “Pemandangan” yang memuat kabar itu belum tiba di tangan saya, dus, belum saya baca sendiri—lantaran kapal dari Jawa tiga hari lagi baru datang, maka karena orang yang mengasih kabar kepada saya itu saya percaya, segeralah saya minta kepadanya membantah kabar dari tuan-tuan punya reporter itu.

Saya bukan anggota Ahmadiyah. Jadi mustahil saya mendirikan cabang Ahmadiyah atau menjadi propagandisnya, apalagi “buat bagian Celebes!” Sedang pelesir ke sebuah pulau yang jauhnya hanya beberapa mil saja dari Endeh tidak boleh!

Di Endeh memang saya lebih memperhatikan urusan agama dari pada dulu. Di samping saya punya studie sociale wetenschappen, rajin jugalah saya membaca buku-buku agama. Tetapi saya punya keislaman tidaklah terikat satu golongan. Dari Persatuan Islam Bandung saya banyak mendapat penerangan itu. Kepada Tuan Hassan dan Persatuan Islam, saya di sini mengucapkan saya punya terima kasih, beribu-ribu terima kasih.

Kepada Ahmadiyah pun saya wajib berterima kasih.

Saya tidak tidak percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad seorang Nabi, dan belum percaya pula bahwa ia seorang mujaddid. Tapi ada buku-buku keluaran Ahmadiyah yang saya mendapat banyak faedah daripadanya: “Moehammad the Prophet” dari Muhammad Ali, “Inleiding tot Studie van den Heileigen Qoeran,” juga dari Muhammad Ali, “Het Evangelie van den Daad” dari Chawadja Kamaluddin, “De Broonen van het Christendom” dari idem, dan “Islamic Review” yang banyak memuat artikelen yang bagus.

Dan Tafsir Qur’an buatan Muhammad Ali, walaupun ada beberapa pasal yang saya tidak setujui di dalamnya, adalah banyak juga menolong kepada penerangan bagi saya. Memang umumnya saya mempelajari Islam itu, tidak dari satu sumber saja, tetapi banyak sumber yang saya datangi dan minum airnya.

Buku-buku Muhammadiyah, buku-buku Persatuan Islam, buku-buku Penyiaran Islam, buku-buku Ahmadiyah, buku-buku dari India dan Mesir, buku-buku dari Inggris dan Jerman, tafsir-tafsir bahasa Belanda dan Inggris, buku-buku dari lawan-lawan Islam ( Snouck Hurgronje, Becker, Dozy, Hartman, dls), buku-buku dari orang bukan Islam, tapi yang simpati dengan Islam, semua itu menjadi material bagi saya. Ada beberapa ratus yang saya pelajari itu. Inilah satu-satunya jalan yang memuaskan kepada saya di dalam saya punya studi itu.

Dan mengenai Ahmadiyah, walaupun beberapa pasal di dalam mereka punya visi saya tolak dengan yakin, toh pada umumnya ada mereka punya “features” yang saya setujui, mereka punya rasionalisme, mereka punya kelebaran penglihatan (broadmindedness), mereka punya modernisme, mereka punya hati-hati terhadap hadits, mereka punya “streven Qur’an sahaja dulu, mereka punya systeematische aaneemlijk making van den Islam. Buku-buku seperti “Het Evangelie van Daad”  tidak saya asal menyebutnya “brilian”, berfaedah sekali bagi semua orang Islam.

Maka oleh karena itulah, saya walaupun ada beberapa pasal dari Ahamadiyah tidak saya setujui, dan malahan saya tolak, misalnya mereka punya “pengeramatan” kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan mereka punya kecintaan kepada imprealisme Inggris! Toh, merasa wajib berterimakasih atas faedah-faedah dan penerangan-penerangan yang saya telah dapatkan dari mereka punya tulisan-tulisan yang rasionil, modern, broadmindedness, dan logis itu.

Bagi bagian fikih, terutama sekali Persatuan Islam-lah yang menjadi saya punya penuntun. Memang Persatuan Islam (Persis, red) adalah sangat sekali tinggi duduknya di dalam saya punya simpati. Kalau umpanya  saya mesti menyebutkan cacat Persatuan Islam (Persis, red) maka saya akan katakan: Persatuan Islam itu ada mempunyai neiging kepada sektarianisme.

Alangkah baiknya kalau Persatuan Islam bisa mengenyahkan neiging yang kurang baik ini, kalau memang benar ada neiging itu!

Islam adalah satu agama yang luas, yang menuju kepada persatuan manusia. Agama Islam hanyalah bisa kita pelajari sedalam-dalamnya, kalau kita bisa membukakan semua pintu-pintu budi akal kita bagi semua pikiran-pikiran dan keyakinan-keyakinan yang berhubungan kepadanya, dan yang harus kita saring dengan saringnya Qur’an dan Sunnah Nabi Saw.

Jikalau benar-benar kita saring kita punya keagamaan itu dengan saringan pusaka ini, dan tidak dengan saringan lain, walau dari imam manapun jua, maka dapatlah kita satu Islam yang tidak berkotoran bid’ah, yang tidak berisi takhayul sedikit juapun, yang tiada “keramat-keramatan”, yang tiada kolot dan mesum, yang tidak “handramautisme”, yang selamanya “up to date”, yang rasionil, yang gampang, yang cinta kemajuan kecerdasan dan “broadminded”, yang hidup, yang levend.

Itulah tuan-tuan redaktur yang terhormat, saya punya keterangan yang singkat berhubung dengan kabar kurang benar dari tuan punya reporter, bahwa saya sudah mendirikan cabang Ahmadiyah atau menjadi propagandis Ahmadiyah. Moga-moga cukuplah keterangan yang singkat ini, buat mengasih tahu kepada siapa yang belum tahu, bahwa saya bukan seorang Ahmadiyah. 

Tapi hanya seorang pelajar agama yang sudah nyata bukan kolot dan bukan pun seorang pengikut yang taklid saja.

Terima kasih, tuan-tuan redaktur!

Soekarno

Demikianlah surat pembaca yang dikirim oleh Soekarno sebagai hak jawab dari kabar miring tentang dirinya yang difitnah menjadi anggota Ahmadiyah. Surat hak jawab Soekarno ini dimuat ulang di majalah Al-Lisaan, No. 13, 9 Syawal 1355 H/ 23 Desember 1936 M. Majalah Al-Lisaan didirikan oleh A. Hassan dan diterbitkan di Bandung, Jawa Barat. Majalah ini gencar menyerang segala propaganda dusta yang sering disuarakan oleh Ahmadiyah.

Selain anti Ahmadiyah dan menolak ajaran-ajaran Ahmadiyah, Soekarno juga menolak salah satu organisasi bentukan kaum Yahudi, Rotary Club. Bukan sekadar sikap pribadi, pelarangan terhadap “Rotary Club” dilakukan secara resmi melalui Peraturan Penguasa Perang Tertinggi No. 5 Tahun 1961 tanggal 27 Februari 1961 tentang larangan adanya organisasi “Rotary Club”.

Dalam pertimbangannya, disebutkan, asas dan tujuan organisasi “Rotary Club” adalah mempunyai dasar dan sumber dari luar Indonesia yang tidak sesuai dengan Manifesto Politik yang telah menjadi Garis-garis Besar Daripada Haluan Negara. Karena itu, untuk kepentingan pengamanan pelaksanaan Manifesto Politik yang telah menjadi Garis-garis Besar Daripada Haluan Negara yang termasuk di dalamnya antara lain program pemerintah di bidang pemulihan dan penyelenggaraan ketertiban dan kemanan umum, maka organisasi “Rotary Club” tersebut perlu dilarang.

[shodiq ramadhan]/ si online

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.332 kali, 1 untuk hari ini)