Di TV, Teuku Wisnu turut menguatkan apa yang disampaikan Sazkia dan mengatakan bahwa mengirim Al-Fatihah untuk orang yang sudah meninggal tidak ada dalilnya dan tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah, demikian dilaporkan oleh Tribunnews.

Sebagian orang mengecam Teuku Wisnu dengan sebutan Wahabi.

Mari kita simak ayat yang jadi landasan.

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى (38) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى [النجم: 38، 39]

“Artinya : Bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya manusia tidak akan memperoleh (kebaikan) kecuali apa yang telah ia usahakan” [An-Najm : 38-39]

Berkata Al-Hafidz Ibnu Katsir di dalam menafsirkan ayat di atas.

تفسير ابن كثير ت سلامة (7/ 465)

 {وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى} أَيْ: كَمَا لَا يُحْمَلُ عَلَيْهِ وِزْرُ غَيْرِهِ، كَذَلِكَ لَا يُحَصِّلُ مِنَ الْأَجْرِ إلا ما كسب هو لنفسه. ومن وهذه الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ اسْتَنْبَطَ الشَّافِعِيُّ، رَحِمَهُ اللَّهُ، وَمَنِ اتَّبَعَهُ أَنَّ الْقِرَاءَةَ لَا يَصِلُ إِهْدَاءُ ثَوَابِهَا إِلَى الْمَوْتَى؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَمَلِهِمْ وَلَا كَسْبِهِمْ؛ وَلِهَذَا لَمْ يَنْدُبْ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّتَهُ وَلَا حَثَّهُمْ عَلَيْهِ، وَلَا أَرْشَدَهُمْ إِلَيْهِ بِنَصٍّ وَلَا إِيمَاءٍ، وَلَمْ يُنْقَلْ ذَلِكَ عَنْ أَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَلَوْ كَانَ خَيْرًا لَسَبَقُونَا إِلَيْهِ، وَبَابُ الْقُرُبَاتِ يُقْتَصَرُ فِيهِ عَلَى النُّصُوصِ، وَلَا يُتَصَرَّفُ فِيهِ بِأَنْوَاعِ الْأَقْيِسَةِ وَالْآرَاءِ، فَأَمَّا الدُّعَاءُ وَالصَّدَقَةُ فَذَاكَ مُجْمَعٌ عَلَى وُصُولِهِمَا، وَمَنْصُوصٌ مِنَ الشَّارِعِ عَلَيْهِمَا.

“Yaitu, sebagaimana seseorang tidak akan memikul dosa orang lain demikian juga seorang tidak akan memperoleh ganjaran (pahala) kecuali apa-apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri. Dan dari ayat yang mulia ini Al-Imam Asy-Syafi’iy bersama para ulama yang mengikutinya telah mengeluarkan hukum : Bahwa bacaan Qur’an tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati. Karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensyariatkan umatnya (untuk menghadiahkan bacaan Qur’an kepada orang yang telah mati) dan tidak juga pernah menggemarkannya atau memberikan petunjuk kepada mereka baik dengan nash (dalil yang tegas dan terang) dan tidak juga dengan isyarat (sampai-sampai dalil isyarat pun tidak ada). Dan tidak pernah dinukil dari seorangpun shahabat (bahwa mereka pernah mengirim bacaan Qur’an kepada orang yang telah mati). Kalau sekiranya perbuatan itu baik tentu para shahabat telah mendahului kita mengamalkannya [1]. Dan dalam masalah peribadatan hanya terbatas pada dalil tidak boleh dipalingkan dengan bermacam qiyas dan ra’yu (pikiran)” [2]

(lihat almanhaj.or.id, HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN UNTUK MAYIT BERSAMA IMAM ASY-SYAFI’IY Oleh Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat).

__________
Foote Note
[1]. Peganglah kuat-kuat kaidah yang besar ini! Bahwa setiap amal kalau itu baik dan masuk ke dalam ajaran Islam tentulah diamalakan lebih dahulu oleh para shahabat. Mafhumnya, kalau ada sesuatu amal yang diamalkan oleh sebagian kaum muslimin akan tetapi para shahabat tidak pernah mengamalkannya, maka amal tersebut jelas tidak baik dan bukan dari Islam.
[2]. Di dalam kaidah ushul yang telah disepakati “apabila nash (dalil) telah datang batallah segala ra’yu/pikiran

***

Said Ibrohim

5 September pukul 13:30 ·

Inilah negriku

Jika hanya karena statemen Fatihah itu Wisnu dituduh Wahabi dan harus minta maaf, maka Said Agil Siradj juga harus minta maaf kepada publik atas statemennya bahwa orang yang menolak tahlilan sebagai tidak Pancasilais. Si Armando yang banyak nyeleneh itu pun harus minta maaf kepada umat Islam. Nusron Wahid yang kononnya menyebut bahwa ayat konstitusi lebih tinggi dari Alquran juga harus minta maaf.

Inilah negriku

Adalah aneh, jika Teuku Wisnu dan juga siapa pun yang mengatakan kiriman Fatihah tidak sampai langsung diberi stempel Wahabi, sesat dan menyesatkan, tapi ketika ada pihak lain yang juga di depan publik menyatakan kiriman Fatihah sampai justru disambut dengan “tepuk tangan” dan bebas dari tuduhan khilafiyah. Yang mengatakan kiriman Fatihah tidak sampai disebut sebagai tidak toleran, sebaliknya yang mengatakan kiriman Fatihah sampai disebut TOLLERANS. Di mana logikanya, Bro!

(dari fb Said Ibrohim).

***

 

Baru-baru ini, kononnya, Teuku Wisnu dan Sazkia Mecca telah membuat kehebohan di TV, melalui program “Berita Islam Masa Kini”. Diriwayatkan bahwa dalam acara tersebut, Sazkia menyebut bahwa membacakan surat Al-Fatihah untuk orang-orang yang sudah meninggal adalah perbuatan bid’ah, kerena tidak dicontohkan oleh Rasul. Pada saat itu, Teuku Wisnu turut menguatkan apa yang disampaikan Sazkia dan mengatakan bahwa mengirim Al-Fatihah untuk orang yang sudah meninggal tidak ada dalilnya dan tidak sesuai dengan tuntunanRasulullah, demikian dilaporkan oleh Tribunnews.

Jika hanya karena statemen Fatihah itu Wisnu dituduh Wahabi dan harus minta maaf, maka Said Agil Siradj juga harus minta maaf kepada publik atas statemennya bahwa orang yang menolak tahlilan sebagai tidak Pancasilais. Si Armando yang banyak nyeleneh itu pun harus minta maaf kepada umat Islam. Nusron Wahid yang kononnya menyebut bahwa ayat konstitusi lebih tinggi dari Alquran juga harus minta maaf.

Adalah tidak adil jika cuma Wisnu yang dijadikan “bulan-bulanan”, sedangkan yang lain terlihat enjoy saja. Bagi saya, fokusnya bukan masalah benar tidaknya apa yang disampaikan Wisnu, tapi objektivitasnya itu yang harus dikedepankan.

/ kompasiana.com – Khairil Miswar

***

Pertanyaan yang perlu diajukan: Apakah Imam Syafi’i itu Wahabi? Demikian pula, apakah Imam Ibnu Katsir penafsir Al-Qur’an yang bermadzhab Syafi’i itu Wahabi dan Tidak Toleran, maka harus minta maaf kepada Umat?

Silakan menyimak kembali: Dan dari ayat yang mulia ini Al-Imam Asy-Syafi’iy bersama para ulama yang mengikutinya telah mengeluarkan hukum : Bahwa bacaan Qur’an tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati. Karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensyariatkan umatnya (untuk menghadiahkan bacaan Qur’an kepada orang yang telah mati) dan tidak juga pernah menggemarkannya atau memberikan petunjuk kepada mereka baik dengan nash (dalil yang tegas dan terang) dan tidak juga dengan isyarat (sampai-sampai dalil isyarat pun tidak ada). Dan tidak pernah dinukil dari seorangpun shahabat (bahwa mereka pernah mengirim bacaan Qur’an kepada orang yang telah mati). (Tafsir Ibnu Katsir dalam menjelaskan ayat  [An-Najm : 38-39].

Aneh tenan, orang-orang di negeri ini, ngakunya bermadzhab Syafi’i, tapi kadang berlebihan dalam menyelisihi faham yang diyakini Imam Syafi’i, masih pula disertai kecaman kepada orang yang dianggap tak mau tunduk pada kebiasaan yang mereka usung walau kebiasaan itu justru bertentangan dengan Imam Syafi’i itu sendiri.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.199 kali, 1 untuk hari ini)