Oleh: M. Nigara

(Wartawan Senior)

 

YA, tiba-tiba kita, saya dan mungkin juga anda, rindu dengan Profesor Mahfud MD dan kawan-kawan. Reaksi dan respon mereka terhadap banyak hal, begitu luar biasa. Kesankan sikap tanggap, cepat dan tegas. Hebatnya lagi, mereka selalu berpegang pada makna Pancasila dan NKRI harga mati.

 

Tapi, kok sudah lebih sepekan ini mereka tak bersuara? Kemanakah mereka gerangan? Sedang flu atau batuk hingga suaranya tak terdengar? Atau sedang sibuk mengutak-atik sesuatu yang tidak kita ketahui?

 

Bulan lalu, pekik mereka kencang sekali soal Enzo, Taruna Akademi TNI yang pernah memposting dirinya dengan ransel berbendera Tauhid. Mereka mengupas Enzo sampai ke hal sisi privasi ibunya. Ujungnya menuding TNI kecolongan, gawat!

 

Ada dua soal fundamental yang disentuh dengan tudingan itu. Pertama, mereka sudah tak menghargai privasi orang. Kedua, mereka meragukan kredibilitas TNI. Sungguh, bahaya.

 

Tapi, pekan ini, suara mereka bak tenggelam dalam buaian kenikmatan dunia. Lho, kok? Ya, bayangkan, biasanya melihat bendera tauhid satu saja, mereka seperti kebakaran jenggot. Mereka sontak berteriak seolah bendera Rasulallah yang dituduh sebagai bendera HTI itu sudah pasti akan menggantikan Merah Putih.

 

Padahal, itu jelas bendera Rasul yang selalu dibawa ke mana pun kekasih Allah itu pergi. Dan tolong dicatat, belum pernah ada dari kelompok yang dituding ini menyatakan akan merdeka,  akan melepaskan diri dari NKRI.

 

Padahal, jika bendera Rasulallah itu bisa bebas dikibarkan, sangat mungkin Indonesia akan jauh lebih baik. Indonesia sangat mungkin akan jauh lebih aman. Dan Indonesia akan jauh lebih sejahtera. Karena ajaran Rasulallah bahwa Islam itu adalah rahmatan lil alaamiin, keselamatan bagi semua.

 

Bisu dan Menghilang

 

Tapi, atas nama Pancasila dan NKRI, bendera tauhid itu selalu disebut sebagai bendera yang akan memporakporandakan NKRI. Mereka terkesan begitu alergi.

 

Sementara, bendera Bintang Kejora, sekarang tampak tidak hanya satu. Bahkan di depan Istana Negara, dikibar-kibarkan. Lalu Mahfud dan kawan-kawan kok bisu? Tidak hanya itu, ketika pekik Papua Merdeka diulang-ulang, Mahfud dan kawan-kawan bungkam. Mereka seperti menghilang…

 

Kini di tanah Papua dan Papua Barat bukan hanya bendera itu dikibarkan dan pekik merdeka yang diteriakkan. Korban nyawa dan material sudah berjatuhan. Bahkan banyak warga pendatang yang sudah keluar dari kampung dan rumah mereka. Namun Mahfud dan kawan-kawan tetap tak juga memperdengarkan suaranya yang biasanya bernada paling Pancasila itu. Tanggapan meredakan, menenangkan banyak warga pun senyap.

 

Apakah Mahfud dan kawan-kawan tidak khawatir akan keutuhan NKRI? Apakah Mahfud dan kawan-kawan tidak tersinggung dengan bendera Bintang Kejora? Apakah Mahfud menganggap kisah Papua dan Papua Barat itu sesuatu yang masih berada dijalurnya? Wallahu a’lam.

 

Ayo dong… Prof, pekikkan suaramu. NKRI membutuhkanmu dan juga kawan-kawanmu. Atau, Mahfud dan kawan-kawan sudah nyaman dengan keadaannya sekarang? Atau….hmmmm?

 

Wallahu a’lam.

 

/ilustrasi foto harianacehcoid

 

 

portal-islam.id, Jumat, 30 Agustus 2019  CATATAN

 

***

 

Selanjutnya, catatan yang ditulis pada bulan Mei 2017 berikut ini mungkin bermanfaat. Silakan simak.

 

***

 

Setan Bisu

 

Ini ada yang nulis (kritikan keras terhadap anak-anak NU yang membenci Umat Islam bahkan membubarkan pengajian-pengajian umat Islm) dari kalangan NU sendiri, bahkan seorang anak kyai NU. Kritikan itu lantaran merasakan betapa malunya terhadap tindakan anak-anak NU namun tidak mencerminkan akhlaq Islam. sampai-sampai ditulis:

Jika Memang Sudah Benci Kepada Sesama Muslim, Berhentilah Menjadi Muslim !

Gejala kesadaran dari kalangan generasi NU sendiri ini perlu mendapatkan respon positif dari para tetua NU.

Kalau bapak-bapak kyai NU diam saja dan tidak mau mencegah tingkah anak-anak NU yang justru membenci sesama Umat Islam, bahkan membubarkan pengajian-pengajian Umat Islam, sampai acara tahfidz Al-Qur’an pun dibubarkan oleh anak-anak NU; namun penggede-penggede NU mingkem saja, maka jangan salahkan kalau kena julukan sebagai para penggede syetan bisu (syaithon akhros). Karena sebagian ulama berkata:

الساكت عن الحق شيطان أخرس، والناطق بالباطل شيطان ناطق

orang yang diam dari kebenaran itu syetan bisu/ gagu, sedang yang berbicara dengan kebatilan itu syetan bicara. Dua-duanya kini tampak nyata di depan mata.

Kemungkinan orang-orang kafirin, musyrikin, dan munafiqin pembenci Islam sedang sorak sorai.

Jadi kalau para kyai NU dan penggede-penggede NU tetap mingkem saja, maka dikhawatirkan justru digolongkan kepada yang terseret dalam jajaran sorak sorai itu. Apakah rela, ridho, lego lilo untuk dibegitukan?

Ya silakan saja kalau begitu.

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 3.553 kali, 1 untuk hari ini)