Soal Religion dan Faith, Kenapa Umat Islam Selalu Dijadikan Sasaran untuk Dirusak Imannya oleh Negeri Ini

 

Ada berita menarik sebagai brikut:

Soal Cadar dan Celana Cingkrang, Komisi VIII DPR Minta Fachrul Razi Belajar Agama Lagi


Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menghadiri rapat kerja (raker) dengan Komisi VIII DPR, Jakarta, Kamis (7/11/2019). (Foto: dok ist).

 

  • Fachrul Razi jangan membuat pernyatan yang meresahkan masyarakat

 

JAKARTA, – Anggota Komisi VIII DPR Ali Taher meminta Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi belajar lagi tentang agama. Imbauan ini penting agar pemerintah tidak terlalu mencampuri pengamalan agama di masyarakat.

Dia mengkritik pernyataan Fachrul Razi terkait rencana aturan larangan aparatur sipil negara (ASN) menggunakan cadar dan celana cingkrang. Fahcrul Razi sebagai menteri yang belum lama dilantik terlalu banyak mencapuri pengamalan agama atas nama radikalisme.

“Oleh karena itu, belajarlah tentang apa itu agama, Pak Menteri. Apa itu faith dan apa itu religion. Agama Pasal 29 adalah organisasi, mengatur, bukan faith. Faith itu iman, jangan diganggu,” ujar Taher saat raker dengan Menag Gedung DPR, Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini mencontohkan yang dimaksud religion itu berkaitan dengan kerukunan antarumat beragama dan hubungan antaragama dengan pemerintah. Sehingga, wilayah ini boleh dimasuki dan diatur oleh negara.

Sementara faith, kata dia wilayah agama yang berkaitan dengan kepercayaan, seperti ibadah. Menurutnya, Menag beserta jajarannya tidak boleh sama sekali masuk ke wilayah tersebut.

Dia mengingatkan, Kementerian Agama (Kemenag) sebagai penengah antaragama di Indonesia. Jika terus memicu polemik, bukan tidak mungkin akan ditinggalkan oleh umat.

“Anda dan Kemenag menjadi wasit. Jangan sampai wasit anda berjalan di dalamnya. Kemudian anda kehilangan para pemain, maka anda jalan sendirian. Hati-hati bisa ditinggalkan umat,” katanya.

https://www.nahimunkar.org/soal-cadar-dan-celana-cingkrang-komisi-viii-dpr-minta-fachrul-razi-belajar-agama-lagi/

***

Ada yang penting untuk dicermati, mari kita ulang kembali:

“Oleh karena itu, belajarlah tentang apa itu agama, Pak Menteri. Apa itu faith dan apa itu religion. Agama Pasal 29 adalah organisasi, mengatur, bukan faith. Faith itu iman, jangan diganggu,” ujar Taher saat raker dengan Menag Gedung DPR, Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini mencontohkan yang dimaksud religion itu berkaitan dengan kerukunan antarumat beragama dan hubungan antaragama dengan pemerintah. Sehingga, wilayah ini boleh dimasuki dan diatur oleh negara.

***

Apabila dari dahulu pemerintahan ini menerapkan seperti yang seharusnya, sebagaimana yang dikemukakan anggota DPR kepada Menag Fachrul tersebut, maka sebenarnya umat Islam tidak pernah jadi sasaran pemurtadan oleh pemerintah, peliberalan, pensekuleran, dan penjerumusan aqidah ke kemusyrikan baru bernama sepilis (sekulerisme, pluralism agama, dan liberalism agama) yang telah difatwakan haramnya oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) tahun 2005.

Namun kenyataannya, justru pemerintahan Indonesia bagai meneruskan misi penjajah Belanda dalam membendung Islam, memurtadakan, meliberalkan, membaratkan, dan mensepiliskan (sekulersime, pluralism agama, dan liberalism agama) alias menjadi berkeyakinan kemusyrikan baru, menganggap Islam relative sama benarnya dengan kebenaran agama2 lain. Makanya tidak mengherankan, Kementerian Agama yang menjadi agen misi penggarapan keimanan Umat Islam sampai mengangkat orang yang jadi murid tokoh murtad resmi atas keputusan Mahkamah Agung Mesir, yakni Nasr Hamid Abu Zayd divonis murtad 1996 karena menganggap Al-Qur’an itu produk budaya (muntaj tsaqafi), lalu Nasr Hamid Abu Zayd minggat ke Negeri Belanda dan diangkat jadi guru beser Ulumul Qur’an. Lalu wong IAIN Jogja yang tadinya nyantri di NU Jombang, Nur Kholis Setiawan jadi murid wong murtad murni tersebut di Belanda. Kemudian santri NU itu pulang dan rupanya untuk meningkatkan pemurtadan di Indonesia, maka diundanglah wong murtad resmi tersebut (sang guru) untuk menatar 160-an doktor2 IAIN, UIN, STAIN (perguruan tinggi Islam se-Indonesia) di Riau 2007. Qadarullah, acara yang covernya untuk meningkatkan Pendidikan Islam di Indonesia (padahal kemungkinan adalah untuk meningkatkan pemurtadan, peliberalan pensepilisan pemusyrikan baru) itu ditolak oleh MUI Riau. Pengundangnya ya agen penggarapan keimanan umat Islam lewat perguruan tinggi di Indonesia resmi (Kemenag) yang biasanya bekerjasama dengan Lembaga kafir luar negeri TAF.

Atas pembatalan itu, kemudian wong murtad resmi tersebut sakit hati, pulang, dan kemudian sakit2an, sakit kena virus aneh, hingga akhirnya mati.

Silakan simak berita selengkapnya di sini: https://www.nahimunkar.org/nasr-hamid-abu-zayd-meninggal/

Tidak hanya sampai di situ. Murid wong murtad resmi yang tadinya santri NU Jombang dan dosen IAIN (kini UIN) Jogja, Nur Kholis Setiawan, itupun diberi kedudukan istimewa di Kemenag, yaitu jadi Sekjen sekaligus Irjen. Aneh? Ya tidak, karena kan misinya seperti tersebut.

Sekjen Sekaligus Irjen Kemenag yang Dipanggil KPK itu Murid Wong Murtad Tingkat Internasional

Posted on 28 Maret 2019

by Nahimunkar.com


Murid dan Guru: Nur Kholis Setiawan, Nasr Hamid Abu Zaid/ foto trbn/ ibnrushd


Sekjen Kemenag Nur Kholis Setiawan yang baru saja dipanggil KPK terkait kasus Rommy soal jual beli jabatan di Kemenag, dia adalah murid Nasr Hamid Abu Zaid yaitu orang yang divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996 karena menganggap Al-Qur’an itu produk budaya (muntaj tsaqafi) (lihat ini https://www.nahimunkar.org/nasr-hamid-abu-zayd-meninggal/ ).

Nasr Hamid lalu ‘minggat’ ke Leiden Belanda bahkan jadi guru besar Ulumul Qur’an. (Lha wong murtad resmi kok malah jadi guru besar ulumul Qur’an ya).

Nah di sanalah (Leiden) Nur Kholis Setiawan dari IAIN Jogja (asal Kebumen Jawa Tengah dan nyantri di Tebu Ireng Jombang) itu ditempa wong murtad tingkat internasional tersebut. (Dia ini kader NU atau bukan, ga’ tahulah. Konon korupsi dan jabatan di Depag berkisar kalangan NU, menurut kicauan mantan dosen UIN Jakarta. https://www.facebook.com/HartonoAhmadJaiz/posts/2042871919163147 ).

Lha pejabat tinggi Kemenagnya murid orang yang divonis murtad seperti itu, ya mari kita prihatin Bersama. Begitu saja.

Eh, bukan hanya itu. Bahkan jabatan tingginya Nur Kholis Setiawan itu luar biasa. Yaitu: Saat ini jabatan Sekjen Kemenag ditempati Nur Kholis Setiawan. Namun, pada saat yang sama, Nur Kholis juga merupakan Plt Irjen Kemenag. (Apakah karena murid langsung dari wong murtad tingkat internasional hingga jadi pejabat tinggi Kemenag bahkan rangkap, Sekjen dan Irjen sekaligus? Bagai cerita mimpi, tapi itu nyata di negeri ini).

(nahimunkar.org) https://www.nahimunkar.org/sekjen-sekaligus-irjen-kemenag-yang-dipanggil-kpk-itu-murid-wong-murtad-tingkat-internasional/

 

***

Itulah bukti bahwa penggarapan keimanan Umat islam untuk dimurtadkan lewat perguruan tinggi Islam itu justru digencarkan oleh agen resminya, bekersama dengan lembaga kafir luar negeri. Makanya sudah lama diingatkan oleh buku tulisan Hartono Ahmad jaiz, terbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, ‘Ada Pemurtadan di IAIN’. Buku yang terbit tahun 2005 itu telah dibedah di berbagai kota, yang terkenal adalah ketika di bedah di UIN Jakarta.

Dapat dibaca di sini: MELAWAN “Setan JIL” DI SARANGNYA
https://www.nahimunkar.org/melawan-setan-jil-di-sarangnya/

Simak di link ini juga:

https://www.nahimunkar.org/alhamdulillah-baru-saja-terbit-lagi-buku-ada-pemurtadan-di-iain/

***

Karena memang keimanan Umat Islam ini dirusak secara sitematis di antaranya lewat agen resminya dan juga perguruan tinggi Islam se-indonesia, maka tidak mengherankan, sampai ada disertasi doctor dari dosen IAIN Surakarta kuliah S 3 di UIN Jogja yang menghalalkan zina pun pemerintah membiarkan saja, dan tidak dicabut gelar doktornya.

Umat islam hanya mengelus dada, prihatin, dan semoga sekarang tahu, bahwa itu misi penjajahan Belanda diteruska dan diintensipkan dengan tenaga2 canggih untuk mengalihkan keimanan Umat Islam dari tauhid ke sepilis (sekulerisme, pluralism agama, dan liberalime agama) yang telah diharamkan MUI 2005, karena menganggap kebenaran Islam reatif sama benarnya dengan agama2 lain, yang itu artinya adalah aqidah kemusyrikan baru. Hingga dari tauhid diarahkan dan digiring secara sitematis ke kemusyrikan baru.

 

Simak berikut ini.

Ada Disertasi Menghalalkan Zina, Dibedahlah Buku “Ada Pemurtadan di IAIN’.


Buku ‘Ada Pemurtadan di IAIN’ dibedah di Masjid Al-Mustaqim Muntilan Magelang Jawa Tengah oleh penulisnya, Hartono Ahmad Jaiz, Ahad 29/9 2019.

Panitia menyelenggarakan itu karena baru saja ada berita santer sebagai berikut:

Heboh Disertasi di UIN Jogja, Seks di Luar Nikah Tak Melanggar Syariat Islam’
Posted on 31 Agustus 2019

by Nahimunkar.org

RMco.id  Rakyat Merdeka – Disertasi Abdul Aziz, mahasiswa program doktoral Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, menggemparkan dunia.

Dalam disertasinya, dia menyebutkan hubungan seks di luar pernikahan tidak melanggar syariat Islam. Mendengar hal ini, publik pun heboh. Tidak hanya dari Indonesia, tapi juga dunia.

Warganet ikut-ikutan heboh. Abdul Aziz merupakan dosen Fakultas Syariah UIN Surakarta. Dia mengambil S3 di Pascasarjana UIN Yogyakarta.

https://www.nahimunkar.org/jangan-dikira-penyesatan-di-uin-iain-stain-dll-perguruan-tinggi-islam-di-indonesia-itu-hanya-kebetulan/

Penulis buku itu (Hartono Ahmad Jaiz) menjelaskan, sampai terjadi adanya disertasi seperti itu karena kurikulumnya diubah oleh Harun Nasution tahun 1985 untuk seluruh perguruan tinggi Islam se-Indonesia, dari Ahlussunnah diubah jadi aliran sesat Mu’tazilah. Alasannya, karena kalau tetap memakai kurikulum Ahlussunnah maka tidak akan maju, karena masih percaya taqdir. (Padahal percaya taqdir itu merupakan salah satu rukun iman yang tercantum dalam Hadits shahih yang dikenal dengan Hadits Jibril). Maka diganti kurikulum (aliran sesat) Mu’tazilah yang menurut Harun Nasution rasional (yang tidak percaya taqdir) agar bisa maju. (Itu hasil wawancara langsung penulis buku, Hartono Ahmad Jaiz, dengan Harun Nasution direktur Pasca Sarjana IAIN Jakarta 1987).

Perlu diketahui, Mu’tazilah itu menganggap Al-Qur’an itu Makhluq. Padahal Al-Qur’an itu Kalamullah. Akibatnya, ada dosen IAIN/ UIN Surabaya yang sengaja menulis lafal Allah (lafal dari Al-Qur’an), lalu diinjak pakai sepatunya di depan para mahasiswa. Kasus hamper sama dilakukan pula oleh dosen STAIN Jember. https://www.nahimunkar.org/dihukum-mati-karena-merobek-dan-menginjak-al-quran-di-arab-saudi/

Di samping itu, Al-Qur’an dianggap sebagai produk budaya (muntaj tsaqafi), akibat dari menggunakan metode hermeunetik dari Yunani yang diadopsi Yahudi dan Nasrani, lalu dipakai pula di kalangan Islam dipelopori Nasr Hamid Abu Zayd (Mesir). Maka Nasr Hamid Abu Zayd divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996, namun justru lari ke Belanda dan menjadi guru besar ulumul Qur’an, dan di antara muridnya adalah Nurkholish Setiawan dosen IAIN/ UIN Jogja. Kini dia jadi pejabat aneh di Kementerian Agama, yaitu Sekjen dan Irjen sekaligus. https://www.nahimunkar.org/sekjen-sekaligus-irjen-kemenag-yang-dipanggil-kpk-itu-murid-wong-murtad-tingkat-internasional/

Anehnya, Nasr Hamid Abu Zayd yang murtadnya murni itu justru diundang Kemenag untuk menatar dosen-dosen IAIN / UIN/ STAIN se-Indonesia mengenai peningkatan Pendidikan (pemurtadan?), maka diprotes oleh MUI Riau 2007 dan akhirnya dibatalkan. https://www.nahimunkar.org/nasr-hamid-abu-zayd-meninggal/

Tidak hanya itu. Dalam upaya memurtadkan umat Islam lewat Pendidikan tinggi Islam di Indonesia (UIN/IAIN/ STAIN dll) penguasa menggalakkan pengiriman dosen-dosen ke Barat untuk belajar atas nama study Islam sejak 1975 zaman menag Mukti Ali, dan paling gencar zaman Menag Munawir Sjadzali 1983-1993. Padahal Barat dalam apa yang disebut study Islam itu menganggap Islam hanyalah sub budaya Timur, dan itupun tidak sebesar Hindu dan Konghuchu.

Ditambah lagi, cara memahami Islam bukan pakai pendekatan ilmu2 Syar’i/ Islami, namun pakai metode sosiologi agama. Padahal sosiologi agama itu menganggap bahwa agama itu hanya fenomena social. Jadi hanya diskriptif, apa yang terjadi di masyarakat (semuanya sah). Maka akibatnya, semua aliran sesat pun nilainya sama dengan yang tidak sesat. Bahkan agama selain Islam pun akan masuk surga. Itu sebenar-benarnya pemurtadan, dengan faham yang disebut sepilis (sekulersime, pluralism agama, dan liberalism agama yang telah diharamkan MUI 2005).

Harun Nasution pengubah kurikulum tersebut juga menyebut orang bukan Islam pun masuk surga.

(lihat Harun Nasution dan Nurcholish Madjid dalam Kasus Penyelewengan Tauhid Berkedok Ayat tentang Ahli Kitab
https://www.nahimunkar.org/harun-nasution-dan-nurcholish-madjid-dalam-kasus-penyelewengan-tauhid-berkedok-ayat-tentang-ahli-kitab/ ).

Itulah bahaya pemurtadan secara sistematis lewat perguruan tinggi Islam se-Indonesia yang diuraikan penulis buku, dan itu merupakan inti dari bahaya yang diuraikan dalam buku ‘Ada Pemurtadan di IAIN’ tersebut, yang menyeret Umat Islam tinggal Namanya saja Islam, tapi isinya adalah kemusyrikan baru berupa merelatifkan benarnya Islam relative sama benarnya dengan agama-agama lain. Itu jelas pemurtadan namun diberi nama sekulerisme, pluralism agama, liberalism (sepilis yang telah diharamkan MUI tahun 2005), namun justru tetap diterapkan hingga kini. Bahkan akibatnya sudah sangat jauh, sampai ada disertasi untuk doctor yang menghalalkan zina segala.

Na’udzubillahi min dzalik!

(nahimunkar.org)
Posted on 8 Oktober 2019 https://www.nahimunkar.org/ada-disertasi-menghalalkan-zina-dibedahlah-buku-ada-pemurtadan-di-iain/

***

Umat Islam jadi sasaran: Religion digarap, Faith digiring ke kemusyrikan baru.

Religion digarap, di antaranya uang setoran haji (ONH) atau dana haji, entah berapa yang sudah dipakai untuk apa yang disebut infrastruktur.

Rp 38,5 Triliun Dana Haji Sudah Dipakai Pemerintah Jokowi, Jamaah tak Pernah Diberitahu


Posted on 19 November 2018

by Nahimunkar.com

https://www.nahimunkar.org/rp-385-triliun-dana-haji-sudah-dipakai-pemerintah-jokowi-jamaah-tak-pernah-diberitahu/

Juga penggarapan Islam (Religion) yang ada duitnya yaitu duit zakat, telah dibangun Gedung Baznas di Jakarta.

Juga menggarap pernikahan yang ada setoran duit, masuk ke pemerintah lewat Kemenag.

Sedangkan urusan faith (keimanan) penggarapan secara sistematis, menjauhkan dari Tauhid, diarahkan ke kemusyrikan baru dengan aneka cara lewat Pendidikan Islam. Dari perguruan tinggi Islam se-Indonesia yang diubah kurikulumnya dari Ahlussunnah ke aliran sest Mu’tazilah 1985 yang akhirnya menuju ke kemusyrikan baru

Bernama sepilis (sekulerisme, pluralism agama, dan liberalism agama) yang merelatifkan benarnya Islam relative sama benarnya dengan agama2 lain. Itu sejatinya adalah pemusyrikan.

Yang tingkat lanjutan, Pendidikan Islam dikebiri, jangan sampai jadi Islam yang sesuai dengan aslinya, maka dicabutlah materi perang dalam sejarah Islam. Simak ini:
Menag Lukman Hakim Saifuddin (yang Hapus Materi Perang Jihad dari Pelajaran Tarikh Islam), dan Ulah Bapaknya, Menag Saifuddin Zuhri Zaman Orde Lama
https://www.nahimunkar.org/menag-lukman-hakim-saifuddin-yang-hapus-materi-perang-jihad-dari-pelajaran-tarikh-islam-dan-ulah-bapaknya-menag-saifuddin-zuhri-zaman-orde-lama/

Itu hanya contoh-contoh yang secara sistematis diprogramkan untuk merusak aqidah Umat Islam. Belum lagi yang merupakan aba-aba secara resmi dalam pidato-pidato kenegaraan yang menggiring faith (keimanan) Umat Islam menjadi rusak, dari Tauhid ke kemusyrikan, di antaranya lewat penggalakan pidato resmi pejabat dibuka dengan salam Islam, dilanjutkan dengan salam-salam agama2 lain. Padahal salam Islam itu mengandung Ketuhanan Yang Maha Esa (Tauhid), sedang salam-salam agama selain Islam itu mengandung ketuhanan mereka (bukan Tauhid), bahkan ada yang ketuhannannya mengandung pengecaman terhadap Allah Ta’ala, karena dianggap sebagai Tuhan pemecah belah, menjadi Mukmin dan Kafir. (jadi mengucapkan salam Islam dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain itu walaupun maksudnya mungkin penghormatan, tapi sejatinya mengandung makna pembatalan pengakuan Ketuhanan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Esa, dibatalkan dengan mengikrarkan salam-salam yang mengandung makna bertentangan dengan Tuhid tersebut, maka pelakunya bisa murtad dan musyrik. (Bisa Murtad dan Musyrik! Mengucapkan Salam Islam Disertai Salam Agama Lain
https://www.nahimunkar.org/bisa-murtad-dan-musyrik-mengucapkan-salam-islam-disertai-salam-agama-lain/? ).

Secara gampangnya, Umat islam selama ini jadi sasaran perusakan iman secara sistematis, agar Namanya saja biar masih Islam atau Muslim, namun isinya kemusyrikan baru, sepilis (sekulerisme, pluralism agama, liberalism agama). Sedang dari segi materi, dari keislaman Umat Islam itupun digarap sedemikian rupa berkaitan dengan duit yang dapat digarap.

Entah lebih buruk yang mana, dibanding kelakuan busuk istri jahat yang memorot duit suami namun untuk menggugat cerai sang suami. Yang jelas lebih buruk pemurtadan secara sistematis itu, karena mengembalikan dari keyakinan Tauhid, ke kemusyrikan. Pada akhir tulisan ini akan kita baca ayat-ayatnya soal bahayanya itu.

Kini mari kita simak bukti tambahan, orang yang aqidahnya rusak, dan juga mencontohi salam oplosan yang merusak iman, namun dberi kedudukan terhormat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal. Ini sebagai bukti lagi bahwa negeri ini memang jelas-jelas menjadikan umat Islam sebagai sasaran perusakan imannya.

***

Na’udzubillah… Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Samakan 99 Asmaul Husna dengan Trinitas


/foto anand ashram foundation

Nasaruddin Umar (baju batik) dengan Anand Krishna, wong Hindu yang mengacak-acak Islam dengan menulis buku. Nasaruddin Umar adalah orang yang menyanjung Anand Krishna (orang bukan Islam) lewat kata pengantar buku  Anand berjudul Surah-Surah Terakhir Al-Quranul Karim bagi Orang Modern, sebuah apresiasidengan kata pengantar Dr Nasaruddin Umar MA pembantu rektor IV IAIN Jakarta (sekarang UIN –Universitas Islam Negeri), terbitan PT GramediaPustaka Utama, Jakarta.  Padahal buku Anand Krishna itu menuduh Nabi Muhammad mengajarkan kemusyrikan, dengan ditulis: Nabi Muhammad pun pernah mengatakan, Aku adalah Ahmad tanpa mim”. Berarti, Akulah Ahad, Ia Yang maha Esa! ((halaman 43).

Kekurangajaran Nasaruddin Umar rupanya kini diulangi lagi dengan menyamakan asmaul husna dengan trinitas.

Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal menyamakan Asmaul Husna 99 dengan trinitas. Penyamaan itu sengaja dia kemukakan, padahal landasannya hanya perkataan pendeta.

Entah dari mana sumbernya, Nasaruddin Umar mengemukakan cerita begini:

Suatu saat seorang muslim mendebat seorang pendeta dengan mempertanyakan konsep keesaan Tuhan dengan kehadiran Bapak, Anak, dan Roh Kudus. Sang pendeta mengatakan, kami masih mending karena hanya tiga. Bagaimana dengan Islam Tuhannya berjumlah 99. Dengan tegas dijawab bahwa 99 nama itu tetap Tuhan Yang Maha Ahad itu. Lalu dijawab, apa bedanya dengan agama kami. Yang tiga itu tetap yang satu itu. (lihat eramuslim.com, Redaksi – Minggu, 8 Oktober 2017 05:11 WIB, Imam Besar Istiqlal: Trinitas Tidak Berbenturan Dengan Ketuhanan Yang Maha Esa (!?)).

Cerita entah dari mana itu tentunya secara ilmu bukan merupakan dalil, walaupun yang mengemukakan cerita itu seorang professor doktor bahkan imam besar masjid nasional, Masjid Istiqlal di Jakarta. Apalagi masalah ini masalah sangat prinsipil dalam agama, menyamakan Tauhid (Keesaan Allah Ta’ala) dengan kemusyrikan (menyekutukan Allah dengan lain-Nya, bahkan dianggap punya anak).

Berbicara agama Islam, landasan utamanya adalah Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam. Dalam Al-Qur’an, perkataan Allah punya anak itu sangat dikecam:

{ وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا} [مريم: 88 – 93]

88. Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”

89. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar

90. hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh

91. karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak

92. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak

93. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba

[Maryam,88-93]

{ لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [المائدة: 72، 73]

72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun

73. Sesungguhnya kafirlah orang0orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih

[Al Ma”idah,72-73]

{لَوْ أَرَدْنَا أَنْ نَتَّخِذَ لَهْوًا لَاتَّخَذْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا إِنْ كُنَّا فَاعِلِينَ (17) بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ (18) وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ عِنْدَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ (19) يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ (20) أَمِ اتَّخَذُوا آلِهَةً مِنَ الْأَرْضِ هُمْ يُنْشِرُونَ (21) لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ} [الأنبياء: 17 – 22]

17. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan, (isteri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya)

18. Sebenarya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya)

19. Dan kepunyaan-Nya-lah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih

20. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya

21. Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)

22. Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ´Arsy daripada apa yang mereka sifatkan

[Al Anbiya”,17-22]

Kepada kaum Muslimin, hendaknya jangan sampai tertipu oleh penipu ulung dalam merusak aqidah yang telah nyata sangat bertentangan dengan firman-firman Allah Ta’ala dalam kitab suci Al-Qur’an itu. Dan Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam juga sudah sangat wanti-wanti. Haditsnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.(رواه مسلم).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (Hadits Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa shallallahu ‘alaihi wa sallam ilaa jamii’in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

 

Walfitnatu Asyaddu Minal Qatl, Mengembalikan kepada Kemusyrikan

Pemikiran berdasarkan cerita pendeta yang dikemukakan Nasaruddin Umar itu jelas memencongkan Islam, dari Tauhid kepada liberal pluralisme agama alias kemusyrikan baru. Itu semua berbahaya bagi Umat Islam. Kenapa berbahaya?
Karena pemusyrikan baru yang (telah lama sejak tahun 1980-an) dilancarkan di dalam pendidikan Islam di Indonesia (IAIN, UIN, STAIN, STAIS dll) dengan nama inklusivisme, pluralisme agama, dan multikulturalisme itu menurut Al-Qur’an adalah lebih dahsyat bahayanya dibanding pembunuhan fisik. Karena kalau seseorang itu yang dibunuh badannya, sedang hatinya masih beriman (bertauhid), maka insya Allah masuk surga. Tetapi kalau yang dibunuh itu imannya, dari Tauhid diganti dengan kemusyrikan baru yakni inklusivisme ataupun pluralism agama ataupun multikulturalisme, dan sebagainya (jenis-jenis dari faham liberal agama, yang merelaifkan kebenaran Islam dianggap relatif sama dengan agama-agama lain, dan itulah sejatinya kemusyrikan baru), maka masuk kubur sudah kosong iman tauhidnya berganti dengan kemusyrikan; maka masuk neraka. Hingga ditegaskan dalam Al-Qur’an,


وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/191]
dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191)
وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/217]
Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (QS Al-Baqarah: 217).
Arti fitnah dalam ayat ini adalah pemusyrikan, yaitu mengembalikan orang mu’min kepada kemusyrikan. Itu dijelaskan oleh Al-Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya,
عن مجاهد في قول الله:”والفتنة أشدُّ من القتل” قال: ارتداد المؤمن إلى الوَثن أشدُّ عليه من القتل. –تفسير الطبري – (ج 3 / ص 565)
Dari Mujahid mengenai firman Allah
وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ia berkata: mengembalikan (memurtadkan) orang mu’min kepada berhala itu lebih besar bahayanya atasnya daripada pembunuhan. (Tafsir Ath-Thabari juz 3 halaman 565).

 

Demikianlah, kenapa Umat Islam senantiasa jadi sasaran perusakan iman secara sistematis, dan bukti2 nyatanya.

Semoga Umat Islam sadar, bahwa hidup ini merupakan ujian, sekaligus ladang beramal untuk akherat, dan telah senantiasa dinasihati tiap Jum’at, agar jangan sampai mati kecuali dalam keadaan Muslim, yaitu mukmin (yang imannnya benar), menurut Imam Al-Baghowi dalam tafsirnya. Jadi jangan sampai mati kecuali dalam keadaan iman yang benar, beriman sungguh2 sesuai yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan yang didesakkan oleh para perusak iman secara sistematis yang mengubah dari keimanan Tauhid ke kemusyrikan baru tersebut.

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 359 kali, 1 untuk hari ini)