ilustrasi abufahmiabdullah


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan, lalu kita tidak mengerjakan, maka tidak akan ditanya: Kenapa tidak mengerjakan. Celakanya, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan, lalu kita mengerjakan sambil mencela Muslimin yang tidak mengerjakan, maka akan dimintai tanggung jawab dua:

  1. Kenapa mengerjakan.
  2. Kenapa mencela muslimin yang tidak mengerjakan.

Allah Ta’ala telah berfirman:

{ وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا } [الإسراء: 36]

  1. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya [Al Isra”36]

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَخُذُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَانْتَهُوا

Biarkanlah apa yg telah aku tinggalkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena pertanyaan dn perselisihan mereka kepada para Nabinya. Jika aku perintahkan kepada kalian terhadap suatu perkara maka laksanakanlah semampu kalian, dan jika aku larang kalian dari suatu perkara maka jauhilah. [HR. Ibnu Majah No.2].

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda

دَعُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ، إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ.

”Biarkanlah apa yang aku tinggalkan untuk kalian. Sesungguhnya yang membinasakan umat sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan mereka dan (banyaknya) penyelisihan mereka kepada para nabi mereka. Maka apabila aku melarang sesuatu kepada kalian, tinggalkanlah. Dan apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian” [Muttafaqun ’alaihi] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 7288 dan Muslim dalam Shahih-nya no. 1327.

 Allah Ta’ala berfirman bagi orang yang menyelisihi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“ … maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An Nuur (24): 63)

Berkata Imam Ibnu Katsir Rahimahullah:

وَقَوْلُهُ: {فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ} أَيْ: عَنْ أَمْرَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سبيله هو

وَمِنْهَاجُهُ وَطَرِيقَتُهُ [وَسُنَّتُهُ  وَشَرِيعَتُهُ، فَتُوزَنُ الْأَقْوَالُ وَالْأَعْمَالُ بِأَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ، فَمَا وَافَقَ ذَلِكَ قُبِل، وَمَا خَالَفَهُ فَهُوَ مَرْدُود عَلَى قَائِلِهِ وَفَاعِلِهِ، كَائِنًا مَا كَانَ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ وَغَيْرِهِمَا، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: “مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدّ” ) صحيح البخاري برقم (2697) وصحيح مسلم برقم (1718).

أَيْ: فَلْيَحْذَرْ وليخْشَ مَنْ خَالَفَ شَرِيعَةَ الرَّسُولِ بَاطِنًا أَوْ ظَاهِرًا {أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ} أَيْ: فِي قُلُوبِهِمْ، مِنْ كُفْرٍ أَوْ نِفَاقٍ أَوْ بِدْعَةٍ، {أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} أَيْ: فِي الدُّنْيَا، بِقَتْلٍ، أَوْ حَد، أَوْ حَبْسٍ، أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ.

تفسير ابن كثير ت سلامة (6/ 90)

            “Yaitu menyelisihi dari perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu jalannya, manhajnya, sunahnya, dan syariatnya. Maka, timbanglah perkataan dan perbuatan dengan perkataan dan perbuatannya, jika sesuai dengannya maka perkataan dan perbuatan itu diterima, jika menyalahi peritahnya maka tertolak, karena Beliau telah bersabda: “Barangsiapa yang melakukan perbuatan yang aku tidak perintahkan maka itu tertolak.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Yaitu hendaknya waspada dan takutlah dari menyelisihi syariat Rasulullah, baik secara bathin atau zahir (akan ditimpa cobaan/fitnah) yaitu di hati mereka berupa kufur, atau nifaq, atau bid’ah (atau ditimpa azab yang pedih) yaitu di dunia, berupa diperangi, di hukum had/hudud, di penjara, atau yang semisalnya.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 6/90)

Dalam kenyataan, ditimpa cobaan/ fitnah kadang pihak yang tertimpa itu tidak merasa, bahkan menampakkan semacam kebanggan. Misalnya, sebegitunya di antara mereka membela, bahkan menjaga tempat-tempat acara kemusyrikan, kekufuran, syiar-syiar hari raya kekufuran dan sebagainya. Juga dalam mu’amalah, di antara mereka sebegitunya dalam membela pihak yang jelas-jelas kufur bahkan menodai ayat-ayat suci Al-Qur’an, sampai-sampai gelar-gelar kehormatan pun disematkan (terhadap orang kafir bahkan menista al-Qur’an), padahal gelar kehormatan itu dari syiar Islami misalnya sunan, santri khusus dan sebagainya.

Benarlah firman AllahTa’ala:

{لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ…} [المجادلة: 22]

  1. Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. [Al Mujadilah22]

Allah Ta’ala telah memperingatkan banyaknya orang yang berkomplot dengan orang-orang kafir.

{ تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ (80) وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ} [المائدة: 80، 81]

  1. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan
  2. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik [Al Ma”idah,80-81]

تفسير البغوي – طيبة (3/ 85)

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَمُجَاهِدٌ وَالْحَسَنُ: مِنْهُمْ يَعْنِي مِنَ الْمُنَافِقِينَ يَتَوَلَّوْنَ الْيَهُودَ

Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir. Ibnu Abbas, Mujahid, dan Al-Hasan berkata: kebanyakan dari mereka yaitu orang-orang munafik yang tolong menolong dengan orang-orang Yahudi. (Tafsir Al-Baghawi cetakan Thibah: 3/85 Maktabah Syamilah).

Dalam Al-Qur’an telah diberi peringatan yang jelas seperti itu. Dan dalam kenyataan kini, seakan peristiwa itu pun berseliweran di depan kita Ummat Islam ini.

Semoga ayat-ayat suci Firman Allah Ta’ala itu merasuk dalam hati sanubari kaum Mu’minin, sehingga tidak usah ikut larut dalam gerak gerik yang sejatinya begitu jelasnya telah diperingatkan oleh Allah Ta’ala itu. Hanya saja, ketika banyak orang yang mengerjakannya, maka tersamarlah dan tidak terasalah bagi mereka maupun bahkan yang lainnya. Di situlah justru pentingnya kita berhati-hati dalam bersikap dan bertindak, tidak asal anut grubyuk, ikut begitu saja. Karena jelas telah diperingatkan dengan tegas:

{ وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا } [الإسراء: 36]

  1. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya [Al Isra”36]

سُبْحَانَكَ الله وَبِحَمْدِك أشهد أَن لَا إِلَه إِلَّا أَنْت أستغفرك وَأَتُوب إِلَيْك وَالله أعلم وَصلى الله على مُحَمَّد وَسلم

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)