Beberapa tahun yang llu, di tengah-tengah hiruk pikuk bencana letusan Gunung Merapi dan para korban yang hidup sedang menggeletak di rumah-rumah sakit atau di barak-barak pengungsian yang jumlahnya sekitar setengah juta orang, tiba-tiba ada televise yang menyiarkan ramalan-ramalan bencana Merapi dengan nara sumber para normal alias dukun.

Ramalan dan rangkaian perkataan dari pembawa acara itu dianggap meresahkan karena dianggap menakut-nakuti, maka muncullah sejumlah protes dari masyarakat pengungsi dan warga Yogyakarta. Akibatnya, acara televise itu dihentikan sementara oleh pihak KPI (Komisi Penyiaran Indonesia).

Nah, ini baru kena batunya, walaupun hanya dihentikan acaranya yang jenis itu untuk sementara waktu. Padahal, sebenarnya di sini media massa itu (dalam hal ini televise tersebut dan juga media massa yang bermisi busuk lainnya) telah berlama-lama membodohi dan menyesatkan Ummat Islam sesesat-sesatnya, yaitu seringnya menampilkan dukun dengan aneka celotehnya.

Dalam kasus Merapi ini, yang dipersoalkan bukan kenapa yang dijadikan nara sumber kok dukun, tetapi hanyalah kata-kata yang dianggap berlebihan dan meresahkan. Sehingga yang terjadi selama ini sebenarnya adalah mengabsahkan dukun yang kini disebut paranormal sebagai sumber rujukan.

Ini justru pangkal kebusukannya, namun inilah yang dilancarkan oleh media-media yang bermisi busuk, yakni membodohi dan sekaligus menyesatkan Ummat Islam.

Tidak pernah ada penyalahan, bahkan teguran saja tidak ada, ketika media-media busuk itu mengangkat-ngangkat para dukun. Padahal menurut Islam, orang yang mendatangi dukun dan menanyakan sesuatu maka shalatnya tidak diterima 40 malam. Dan kalau bertanya kepada dukun dan membenarkannya maka sama dengan tidak percaya kepada apa-apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kecaman terhadap Dukun dan yang Minta Didukuni

Firman Allah Ta’ala:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(17)وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ(18)

“ Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan Dialah Yang Berkuasa atas sekalian hamba-Nya, dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-An’am [6] : 17-18)

Hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً.(رواه مسلم وأحمد).

“ Orang yang mendatangi tukang ramal (paranormal) kemudian ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam”. (Hadist Riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad dari sebagian isteri Nabi [Hafshah]).

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُول فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ (رواه أحمد والحاكم).

“ orang yang mendatangi dukun atau tukang ramal, kemudian membenarkan apa yang dikatakannya maka orang tersebut telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad saw”. (HR. Imam Ahmad dan al- Hakim dari Abu Hurairah).

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا , أَوْ كَاهِنًا , فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّد.ٍ (رواه أحمد والترمذي وأبو داود وابن ماجة).

“ Orang yang mendatangi dukun, kemudian membenarkan apa yang dikatakanya atau mendatangi wanita yang sedang haidh, atau menjima’ istrinya dari duburnya, maka sesungguhnya orang tersebut telah terlepas (kafir) dari apa yang telah diturunkan kepada Muhammad saw”. (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

وَمِنْ طَرِيقِ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ { أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ , وَمَهْرِ الْبَغِيِّ , وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ. (متفق عليه).

“ Bahwa Rasulullah saw melarang pemanfaatan harga (jual beli) anjing, mahar kedurhakaan (mahar perzinaan/pelacuran) dan memberi upah kepada dukun”. (HR. Bukhari dan Muslin dari Abu Mas’ud).

Anehnya, di Indonesia, lantaran banyak media yang misinya busuk yakni membodohi dan menyesatkan Umat, maka dukun-dukun pun dipopulerkan. Bahkan yang dipopulerkan itu pakai nama yang kalau orang normal mesti risih pakai nama itu pun justru menjadi terkenal. Misalnya lafal gendeng (Jawa: gila; tidak normal (ingatan, pikiran) ataupun bodo(h), bagi orang yang normal tentu tidak mau punya nama itu. Namun dasar media busuk di negeri ini banyak, dan memang benar-benar membodohi masyarakat, maka nama gendeng ataupun bodo(h) pun justru sangat popular di antara para dukun yang telah diangkat-angkat oleh media-media busuk.

***

Pembodohan dan penyesatan ternyata sampai ke puncak kesesatan paling besar, yakni kemusyrikan, sekaligus menjadikan masyarakat ini sama sekali tidak normal. Namun karena dilaksanakan secara bekerjasama aneka pihak dengan kepentingan masing-masing, akibatnya sebegitu sulitnya diusik, apalagi diberantas. Ini belum lagi bicara seberapa pembelaan dari Ormas-Ormas tertentu berbaju Islam yang tampaknya lebih tersinggung bila masalah pembodohan dan penyesatan terhadap Umat Islam ini diusik daripada Islam itu sendiri yang diusik orang sampai diserang sekalipun.

Di sini tampaknya kata-kata bahwa Islam ini terhalang oleh Muslimin sendiri itu ada benarnya.

Benar-benar top markotoptenan dalam hal pembodohan dan penyesatan. Baik secara structural, religious alias agamis, maupun sosialisasi lewat media massa busuk. Astaghfirullahal ‘adhiem. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiem. Allahul Musta’an.

*Hartono Ahmad Jaiz, penulis buku Ummat Dikepung Maksiat Politik Kotor dan Sesat.

https://www.nahimunkar.org/pembodohan-dan-penyesatan-umat-islam/

(nahimunkar.com)