Ahmad Syafii Maarif – Gus Dur. Foto/ytb

 

Dikumpulkan Info Ini Oleh:

 

Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani, S.Pd, M.Pd. I, M.MPd *

 

 

Ahmad Syafii Maarif menempuh gelar S3 (doktornya) di Chicago Amerika, disanalah Syafii terlibat secara intensif melakukan pengkajian terhadap Al-Quran, dengan bimbingan dari seorang tokoh Liberal, Fazlur Rahman.

 

Di sana pula, ia kerap terlibat diskusi intensif dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais yang sedang mengikuti pendidikan doktornya.

 

Cendekiawan muslim Ustadz H. Adian Husaini, P.hD (Saat ini Ketum DDII/Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia Pusat) mengkategorikan Ahmad Syafii Maarif sebagai tokoh Muhammadiyah pendukung gagasan Islam Liberal yang diusung oleh Fazlur Rahman.

 

Adian mencatat bahwa Syafii memuji setinggi-tingginya Fazlur Rahman yang merupakan dosennya.

 

Ia juga mencatat penyataan Syafii pada 2001 yang menolak kembalinya Piagam Jakarta ke dalam konstitusi. Zuly Qadir mencatat Syafii dan Hasyim Muzadi menolak pemberlakuan syariat Islam secara formal di Indonesia.

 

Syafii ditulis oleh Budi Handrianto sebagai kelompok senior dalam buku berjudul 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia: Pengusung Ide Sekulerisasi, Pluralisme, dan Liberalisasi Agama (Terbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta). Budi Munawar Rachman mengelompokkan Syafii termasuk ke dalam golongan neo-modernis Islam bersama Nurcholish Madjid dan tokoh-tokoh lainya.

 

Muhamad Afif Bahaf menuliskan bahwa gerakan Islam Liberal tumbuh subur di Muhammadiyah semasa dipimpin Syafii ini. Hal ini ditandai dengan berdirinya tiga komunitas intelektual yaitu Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP), Maarif Institute, dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM).

 

Pembelaan kasus Ahok

 

Pada November 2016, ia membela Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan mengatakan bahwa Ahok tidak melakukan penistaan agama. Pandangannya ini melawan pendapat mayoritas tokoh Islam lainnya termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah memfatwakan bahwa Ahok melakukan penistaan agama islam dan para ulama.

 

***

 

Wow… Ternyata Syafii Maarif Dulu Membela Ahmadiyah Pemalsu Qur’an, Kini Bela Ahok Penista Quran

 

(Ada arsip Tantangan Mubahalah untuk Ahmad Syafii Maarif dan Gus Dur). Posted on 15 Juni 2008 by nahimunkar.com.

 

Dilihat dari kenyataan yang dijalani Syafii Maarif rupanya ia ini orang yang pasang badan untuk pihak penoda Islam yang telah difatwakan MUI maupun ulama internasional. Tahun 2008, Syafii Maarif telah membela aliran sangat sesat, yaitu Ahmadiyah yang telah difatwakan murtadnya (keluar dari Islam) oleh MUI maupun kumpulan ulama internasional di antaranya Mujamma’ Fiqh Islam di bawah OKI (Organisasi Konferensi Islam).

 

Kini pembelaan yang mengusik Islam itu dilakukan pula oleh Ahmad Syafii Maarif terhadap Ahok. Padahal MUI telah mengeluarkan sikap resminya bahwa Ahok menista Al-Qur’an dan Ulama, lewat pidatonya.

 

Pidato Gubernur Provinsi DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (alias Ahok) di Kabupaten Kepulauan Seribu pada hari Selasa, 27 September 2016 diantaranya menyatakan, “…Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai surat al Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak bapak ibu. Jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya..”

 

Pidato Ahok itu kemudian sangat meresahkan Umat Islam, maka MUI menyatakan sikapnya: bahwa pernyataan Basuki Tjahaja Purnama dikategorikan: (1) Menghina Al-Quran dan atau (2) menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum.

 

Pernyataan MUI (PENDAPAT DAN SIKAP KEAGAMAAN MAJELIS ULAMA INDONESIA) itu dikeluarkarkan di Jakarta, Selasa, 11 Oktober 2016, ditanda tangani oleh:

 

Ketua Umum Dr (HC). KH. MA’RUF AMIN, dan Sekretaris Jenderal

Dr. H. ANWAR ABBAS, MM, M.Ag.

 

Kemudian Syafii Maarif menulis, tersebar di berbgai media, dengan judul AHOK TIDAK MENGHINA AL-QUR’AN. Di antaranya dia tulis:

 

“…saya tidak sempat mengikuti fatwa MUI yang juga dibacakan dengan penuh emosi malam itu. Baru belakangan saya dapat membaca isi fatwa itu melalui internet.

 

Dalam fatwa itu jelas dituduhkan bahwa Ahok telah menghina al-Qur’an dan menghina ulama dan harus diproses secara hukum. Tetapi malam itu, akal sehat saya mengatakan bahwa Ahok bukan orang jahat yang kemudian ditanggapi beragam oleh berbagai kalangan. Yang menghujat saya cukup banyak, yang membela pun tidak kurang. Semua berdasarkan fatwa MUI yang tidak teliti itu. Semestinya lembaga sebagai MUI mestilah menjaga martabatnya melalui fatwa-fatwa yang benar-benar dipertimbangkan secara jernih, cerdas, dan bertanggung jawab.

 

Dari berbagai sumber yang dapat ditelusuri via internet, keterangan lengkap Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016 adalah sebagai berikut: “Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pakai surat al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya…” Perhatikan dengan seksama kutipan ini, apakah memang terdapat penghinaan terhadap al-Qur’an? Hanya otak sakit sajalah yang berkesimpulan demikian. Apalagi jika sampai menista Langit., jauh dari itu. Perkara dikesankan menghina ulama, saya tidak perlu bicarakan di sini, karena memang dalam sejarah Muslim sering bermunculan ulama jahat, penjilat penguasa dengan fatwa-fatwa murahannya.”

 

Di akhir tulisan diberi tanggal: Yogyakarta, 3 Nov. 2016.

 

Pembelaan ala pukrul bambu?

 

Tulisan tersebut terbaca sarat dengan pembelaan terhadap Ahok, tanpa hujjah atau argumentasi yang kuat. Lebih bertaburan dengan kata-kata berupa celaan terhadap pihak MUI sambil terkesan memuji diri. Mungkin ada yang mengesankannya, bagai pukrul bambu.

 

Celaan terhadap MUI di antaranya:

 

fatwa MUI yang juga dibacakan dengan penuh emosi

fatwa MUI yang tidak teliti itu

Perhatikan dengan seksama kutipan ini, apakah memang terdapat penghinaan terhadap al-Qur’an? Hanya otak sakit sajalah yang berkesimpulan demikian. Apalagi jika sampai menista Langit., jauh dari itu.

Perkara dikesankan menghina ulama, saya tidak perlu bicarakan di sini, karena memang dalam sejarah Muslim sering bermunculan ulama jahat, penjilat penguasa dengan fatwa-fatwa murahannya

Alasan yang dikemukakan Syafii Maarif untuk menepis fatwa MUI itu di antaranya: “akal sehat saya mengatakan bahwa Ahok bukan orang jahat.”

 

Lalu pada tulisan Syafii Maarif itu tampak ada yang jadi landasan bahwa Ahok tidak menghina Al-Qur’an:

 

Pokok masalah di sini adalah pernyataan Ahok di depan publik di sana agar “jangan percaya sama orang…karena dibohongin pakai surat surat al-Maidah 51.” Ahok sama sekali tidak mengatakan bahwa surat al-Maidah 51 itu bohong. Yang dikritik Ahok adalah mereka yang menggunakan ayat itu untuk membohongi masyarakat agar tidak memilih dirinya. Bung Zuhairi Misrawi dalam pembicaraan telepon dengan saya pada 3 Nopember 2016 mengatakan bahwa di beberapa masjid di Jakarta sudah lama dikobarkan semangat agar rakyat tidak memilih Ahok dalam pilkada 2017 karena dilarang oleh ayat di atas.

 

Demikian tulisan Syafii Maarif, dengan berlandaskan asumsi dia bahwa menurutnya: Yang dikritik Ahok adalah mereka yang menggunakan ayat itu untuk membohongi masyarakat agar tidak memilih dirinya.

 

Pertanyaannya, apakah dengan membatasi perkaranya hanya pada: mereka yang menggunakan ayat itu (Al Maidah 51, red NM) untuk membohongi masyarakat agar tidak memilih dirinya (karena diri Ahok itu beragama nasrani, red NM), lalu Syafii Maarif bisa berkelit bahwa itu tidak ada kaitan dengan Al Maidah 51?

 

Ketika Syafii Maarif mengatakan: Mereka yang menggunakan Al Maidah 51 untuk membohongi masyarakat agar tidak memilih Ahok (yang Nasrani itu), berarti Syafii Maarif mengakui bahwa ayat Al-Maidah 51 telah mereka gunakan untuk membohongi masyarakat, agar tidak memilih Ahok (yang Nasrani itu).

 

Ketika Syafii Maarif (ikut) menuduh bahwa mereka membohongi masyarakat, maka harus menunjukkan bukti-bukti. Di antara yang dapat danggap sebagai salah satu bukti ataupun rangkaian perbuatan “membohongi” masyarakat adalah menggunakan ayat itu (Almaidah 51).

 

Lantas, perlu dilihat isi ayat itu, dan bagaimana digunakannya, hingga disebut digunakan untuk membohongi.

 

Untuk melihat isi ayat, maka kita kemukakan yang resmi keluaran Departemen Agama sebagai berikut.

 

Surat Al Maidah 51 Menurut Tafsir Depag RI

 

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [المائدة: 51]

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim [Al Ma”idah,51]

 

Tafsir

 

Pada ayat ini (51) Allah SWT melarang orang-orang yang beriman, agar jangan menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman akrab yang akan memberikan pertolongan dan perlindungan, apalagi untuk dipercayai sebagai pemimpin.

 

Selain dari ayat ini masih banyak ayat-ayat yang lain dalam Al-Qur’aan yang menyatakan larangan seperti ini terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani.

 

Diulangnya berkali-kali larangan ini dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’aan, menunjukkan bahwa persoalannya sangat penting dan bila dilanggar akan mendatangkan bahaya yang besar. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid II, juz 6, halaman 442-443, Departemen Agama Republik Indonesia, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an 1985/1986).

 

Dalam tafsir resmi Departemen Agama (kini Kementerian Agama) itu sudah jelas:

 

Pada ayat ini (51) Allah SWT melarang orang-orang yang beriman, agar jangan menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman akrab yang akan memberikan pertolongan dan perlindungan, apalagi untuk dipercayai sebagai pemimpin.

 

Dengan demikian, tuduhan Ahok dalam pidatonya itu jelas menuduh kepada dua pihak yaitu orang, dan juga ayat. Oleh karena itu MUI (Majelis Ulama Indonesia) menegaskan:

 

Pernyataan Basuki Tjahaja Purnama dikategorikan:

 

(1) Menghina Al-Quran dan atau

 

(2) menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum.

 

Dari uraian tersebut, betapa memalukannya perkataan-perkataan Syafii Maarif yang hanya demi membela Ahok sampai bilang “hanya otak sakit”, dalam rangkaian kalimat: Perhatikan dengan seksama kutipan ini, apakah memang terdapat penghinaan terhadap al-Qur’an? Hanya otak sakit sajalah yang berkesimpulan demikian. Apalagi jika sampai menista Langit., jauh dari itu.

 

Orang sudah berumur 81 tahun, masih berani membela orang kafir bahkan meng-otak sakit-kan para ulama di MUI segala. Itu sebagai orang yang bermukim di Jogjakarta, mestinya tahu pemeo yang dikenal masyarakat: Kaduk wani kurang dugo (terlalu berani tetapi kurang ukur kemampuan diri) alias kewanen (kebangetan beraninya, tetapi kurang modal). Misal, orang merasa dirinya kebal api, lalu nyemplung ke api unggun, ya kobong.

 

Hanya saja kewanen-nya Syafii Maarif agak beda. Karena memang dia punya riwayat tersendiri, khususnya dalam membela kekafiran. Dia sudah pengalaman dalam membela kekafiran, di antaranya terlalu berani membela Ahmadiyah, agama nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad. Hingga ditantang mubahalah oleh seseorang.

 

Berikut ini arsipnya.

 

*

 

Tantangan Mubahalah untuk Ahmad Syafii Maarif dan Gus Dur

 

by nahimunkarcom, 15 Juni 2008

 

Tantangan Mubahalah untuk Ahmad Syafii Maarif dan Gus Dur

 

Hal: Surat terbuka, tantangan mubahalah

 

Kepada Yth.

 

Bapak Ahmad Syafii Maarif dan

 

Bapak Gus Dur (Abdurrahman Wahid)

 

di mana saja berada

Keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk (Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya).

 

Setelah saya memahami fatwa-fatwa tentang kafirnya Ahmadiyah (Qadyan dan Lahore) yang dikeluarkan oleh Mujamma’ Al-Fiqh Al-Islami –lembaga OKI Organisasi Konferensi Islam–, Rabithah Alam Islami, dan MUI (Majelis Ulama Indonesia), namun di Indonesia ada manusia-manusia yang terang-terangan membela Ahmadiyah, di antaranya Bapak Ahmad Syafii Maarif mantan Ketua Umum PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah, dan Bapak Gus Dur (Abdurrahman Wahid) mantan Ketua Umum PB (Pengurus Besar) Nahdlatul Ulama; dan setelah fatwa-fatwa itu saya fahami bahwa Ahmadiyah itu menodai Islam, maka saya selaku seorang Muslim menantang mubahalah (do’a saling melaknat agar Allah menjatuhkan la’nat kepada pihak yang berdusta) kepada Bapak Ahmad Syafii Maarif dan Bapak Gus Dur (Abdurrahman Wahid).

 

Demikian surat terbuka lewat situs nahimunkarcom berupa tantangan mubahalah.

 

Jakarta, Sabtu 14 Juni 2008M/ 9 Jumadil Akhir 1429H

 

Hormat saya:

 

Drs. H. Hartono Ahmad Jaiz *

 

Penulis buku Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat; dan buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, yang pro fatwa para ulama internasional dan nasional dalam kasus Ahmadiyah.

—-

Landasan Menantang Mubahalah

 

Tantangan saya ini berlandaskan kepada penjelasan-penjelasan sebagai berikut:

 

Mubahalah (atau mula’anah, saling melaknat, pen) ialah masing-masing pihak di antara orang-orang yangberbeda pendapat, berdo’a kepada Allah dengan bersungguh-sungguh agar Allah menjatuhkan la’nat kepada pihak yang berdusta. Nabi mengajak utusan Nasrani Najran bermubahalah tetapi mereka tidak beranidan ini menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. _(Al- Quran dan Tafsirnya, Depag RI, 1985/ 1986 juz 1 hal 628).

 

Mubahalah atau do’a saling melaknat itu dilakukan terhadap:

 

Orang Nasrani, berlandaskan QS Ali ‘Imran: 61;

Orang Yahudi berlandaskan QS Al-Jumu’ah: 6

Orang Musyrik berlandaskan QS Maryam: 75 dan hadits tentang Abu Jahal ditantang Nabishallallahu ‘alaihi wasallam untuk mubahalah, riwayat Al-Bukhari, Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasai).

Terhadap penyeleweng, ahli bid’ah dan semacamnya, berlandaskanbahwa banyak dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dulu mengajak orang lain untuk mubahalah. Di antaranya Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘iddah (masa tunggu) wanita hamil. Dan sesungguhnya iddah itu selesai dengan lahirnya kehamilan, bukan dengan lebih dua masa. Dan juga Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘aul dalam faroidh (pembagian waris).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya:

 

Perintah do’a di dalam Al-Qur’an, kalau ditujukan kepada Ahli Kitab justru berupa ancaman, bahkan mubahalah.

 

{ قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ }

 

_Katakanlah :”Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnyakamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamuadalah orang-orang yang benar.” (QS 62 Al-Jumu’ah: 6).

 

{ فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ } [آل عمران : 61]

 

_”Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa setelah datang ilmu ” ً (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta.” (QS 3 Ali Imran: 61).

 

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, suruhan Allah kepada Yahudi agar minta mati di Surat Al-Jumu’ah 62, Al-Baqarah 94, itu juga mubahalah; kalau memang orang Yahudi itu menganggap (diri mereka berada) dalam hidayah Allah, sedang Muhammad itu dianggap dalam kesesatan, maka mintakan mati atas yang sesat dari kedua golongan itu, kalau memang Yahudi menganggap diri mereka benar. Ternyata Yahudi tak berani.

 

Demikian pula ancaman terhadap orang-orang musyrik di Surat Maryam ayat 75, agar musyrikin ber-mubahalah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sekeluarga-nya.

 

2264- حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ يَزِيدَ الرَّقِّىُّ أَبُو يَزِيدَ حَدَّثَنَا فُرَاتٌ عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ أَبُو جَهْلٍ لَئِنْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يُصَلِّى عِنْدَ الْكَعْبَةِ لآتِيَنَّهُ حَتَّى أَطَأَ عَلَى عُنُقِهِ. قَالَ فَقَالَ « لَوْ فَعَلَ لأَخَذَتْهُ الْمَلاَئِكَةُ عِيَاناً وَلَوْ أَنَّ الْيَهُودَ تَمَنَّوُا الْمَوْتَ لَمَاتَوا وَرَأَوْا مَقَاعِدَهُمْ مِنَ النَّارِ وَلَوْ خَرَجَ الَّذِينَ يُبَاهِلُونَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَرَجَعُوا لاَ يَجِدُونَ مَالاً وَلاَ أَهْلاً ». مسند أحمد – (ج 5 / ص 290)

 

Dari Ibnu Abbas: Abu Jahal la’natullah berkata, bila aku melihat Muhammad di sisi Ka’bah pasti sungguh akudatangi dia sehingga aku injak lehernya. Ibnu Abbas berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

 

“Kalau ia (Abu Jahal) berbuat, pasti malaikat akan mengambilnya (mengadzabnya) terang-terangan, dan seandainya orang-orang Yahudi mengharapkan mati pasti mereka mati dan mereka melihat tempat-tempat mereka berupa neraka.” Dan seandainya mereka yang (ditantang) ber_mubahalah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu keluar, pasti mereka pulang (dalam keadaan) tidak menemukan keluarganya dan tidak pula hartanya. (HR Ahmad, Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan An-Nasai, _Tafsir Ibnu Katsir, darul Fikr 1412H/ 1992M jilid 4: hal 438, Tafsir Surat Al-Jumu’ah ayat 6, atau juz 8 halaman 118, ditahqiq Sami bin Muhammad Salamah, Daru Thibah, cetekan 2, 1420H/ 1999M).

 

Mubahalah Tidak Khusus pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

 

Soal:

 

Apakah mubahalah itu khusus pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau dapat menjadi umum bagi Muslimin? Dan apakah seandainya mubahalah itu umum bagi Muslimin bolehkah untuk dihadapkan dari arah ahlis sunnah waljama’ah kepada firqoh-firqoh sesat? Dan apakah mesti terjadi tanda yang menampakkan kebenaran seandainya dilangsungkan mubahalah?

 

Fatwa:

 

Alhamdulillah wassholatu wassalmu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi washohbihi, amma ba’du.

 

Mubahalah adalah do’a dengan laknat atas yang berdusta di antara dua pihak yang bermubahalah. Mubahalah itu tidak khusus hanya untuk Nabi saw. Dalilnya, bahwa banyak dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dulu mengajak orang lain untuk mubahalah. Di antaranya Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘iddah(masa tunggu) wanita hamil. Dan sesungguhnya iddah itu selesai dengan lahirnya kehamilan, bukan dengan yang terpanjang dari dua masa (sampai melahirkan, dan sampai 4 bulan 10 hari, pen).

 

Dan juga Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘aul dalam faroidh (pembagian waris); dan tidak mengapa dalam hal mubahalah Ahlis Sunnah waljama’ah terhadap ahli syirik, bid’ah dan semacamnya tetapi sesudah ditegakkan hujjah (argumentasi) dan upaya menghilangi syubhat (kesamaran), dan memberikan nasihat dan peringatan, sedang itu semua tak guna. Bukan termasuk kepastian (setelah mubahalah itu) munculnya tanda/ bukti atas dustanya orang yang batil dan dhalimnya orang yang dhalim, karena Allah Ta’ala menunda dan mengakhirkan, sebagai cobaan dan istidroj/ uluran.

 

Wallohu a’lam.

 

Mufti; Markas Fatwa dengan bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih (Asy-Syabakah Al-Islamiyah juz 8 halaman 85).

——

(Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani, S.Pd, M.Pd. I, M.MPd) *

* Aktivis dan Alumni 212, Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat, Praktisi dan Pengamat PAUDNI/Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal, Aktivis Pendidikan dan Kemanusiaan, Ketum ICMI ORSAT Bekasi Timur Kota Bekasi.

 

* Alhamdulillah Sampai saat ini Ustadz Drs. H. Hartono Ahmad Jaiz Hafizhahulloh Ta’ala masih Sehat Wal Alfiat dan semoga ALLOH Menjaga dan Melindungi Beliau, sedangkan yang di Surati (dengan surat terbuka) untuk Mubahalah baik Gus Dur maupun Syafi’i Maarif sudah WAFAT, semoga ini menjadi Ibroh/Pelajaran Bagi UMAT ISLAM lainnya. Barokallohu’ fiikum.

(nahimunkar.org)