Sri Bintang Pamungkas (IST)

Perusahaan di Morowali yang mendatangkan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China di belakangnya ada beberapa jenderal purnawirawan di antaranya Sintong Panjaitan.

“Teman saya menjawab, namun yang ia sebutkan hanya dua orang jenderal saja, enam orang jendral masih dirahasiakan oleh teman saya. Jendral yang pertama yaitu Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan mantan Pangdam IX/Udayana sekaligus mantan Penasihat militer Presiden BJ. Habibie , kedua Mayjen TNI (Purn) Hendardji Soepandji mantan Aspam Kasad,” kata aktivis politis Sri Bintang Pamungkas dalam pernyataan kepada suaranasional.

Kata Sri Bintang, teman yang namanya dirahasiakan itu mengatakan, di Morowali ada proyek pembangunan Komplek Industrial Smelter dan pernah diresmikan oleh Presiden pada 29 Mei 2015 milik PT. Sulawesi Mining Investment (SMI).

“SMI adalah perusahaan patungan antara Bintang Delapan Group dengan investor asal China yaitu Tsingshan, anak usaha Dingxin Group. Perincian sahamnya adalah Bintang Delapan memiliki 45%, dan 55% dikuasai Dingxin Group,” kata Sri Bintang.

Sri Bintang mengatakan, berdasarkan informasi dari temannya itu pemilik saham PT. Bintang Delapan Mineral ada delapan jenderal purnawirawan di antaranya Sintong Panjaitan dan Hendardji Soepandji.

Kata Sri Bintang, jika kita menilai seorang Sintong yang saat ini memiliki saham di proyek nickel Marowali, di mana proyek tersebut salah satu penyumbang banjirnya tenaga kerja china di Indonesia, pada akhirnya rakyat bisa menilai.

“Apakah wajar seorang mantan Jendral yang katanya seorang patriot setia kepada NKRI justru bekerjasama dengan perusahaan China dan memasukan banyak tenaga kerja China di Marowali sehingga menghilangkan hak-hak pribumi di sana? Patut di pertanyakan kesetiaan sang Jenderal atas Bangsa Indonesia dan NKRI,” jelasnya.

Menurut Sri Bintang, rakyat tentu tidak keberatan jika seorang purnawirawan berbisnis, namun rakyat pasti marah jika ternyata di belakang hiruk-pikuk derasnya investasi China dan TKA China justru ada keterlibatan sang Jenderal.

“Sewajarnya mereka berada di garda terdepan untuk menjaga kedaulatan NKRI, bukan justru sebaliknya bekerjasama dengan negara China secara sembrono, mempermudah mereka masuk, hanya karena nafsu untuk mengejar keuntungan pribadi dan pada akhirnya mengorbankan kepentingan rakyat dan mempertaruhkan kedulatan Negara. Sungguh sangat menyedihkan,” pungkasnya.

Sumber: suaranasional.com

(nahimnkar.org)

(Dibaca 1.818 kali, 1 untuk hari ini)