Kenapa? Karena yang akan mengatur Jokowi, asing dan para cukong Cina, yang sudah menguasai Jokowi. Oleh karena itu…
Tidak ada pemerintahan Jokowi. Jokowi nggak dilantik. Harus dijatuhkan. Jokowi hasil permainan kotor, dagang sapi dan konspirasi asing dan ‘bandit-bandit’ domestik. Jokowi sudah dipersiapkan lama oleh mereka ini, kata Sri Bintang Pamungkas dalam satu wawancara.
Disebut juga, kepergian Mega ke Amerika sesudah Prabowo membentuk ‘Tim Hukum’, yang menggugat hasil pilpres. Pertemuan Mega itu dengan Presiden AS Obama, Perdana Menteri Inggris David Cameron, dan Presiden Cina Xi Jinping. Bahkan, ada yang menyaksiakan pertemuan itu, disaksikan oleh mantan Presiden Bill Clinton., yang memfasilitasi salah satu ‘bandit’ Indonesia. Tentu, yang lebih memprihatinkan lagi, di Washington DC itu, hadir salah satu hakim MK. Ini benar-benar konspirasi.
Disinggung pula, Rapimnas PDIP bru-baru ini di sebuah gereja terbesar di Asia, ‘The Holy Stadium’ (Stadion Suci), Petrus Agung. Ini menggambarkan, bagaimana PDIP yang sebagian besar anggota legislatifnya banyak dari kalangan Kristen dan pendukungnya dari kalangan Kristen.
Inilah wawancara selengkapnya.
***

Sri Bintang Pamungkas : Jokowi Hasil Permainan Kotor, Antara Konspirasi Asing dan Para Bandit

JAKARTA – Voa-islam.com melakukan wawancara dengan Dr.Sri Bintang Pamungkas, di kediamannya, di Cibubur Jakarta Timur. Ketua PUDI (Partai Uni Demokrasi Indonesia), memberikan pandangan tentang Jokowi dengan lugas. Inilah wawancara Dr.Sri Bintang Pamungkas :
Voa-Islam : Bagaimana lima tahun ke depan pemerintahan Jokowi?
Sri Bintang Pamungkas : Tidak ada pemerintahan Jokowi. Jokowi nggak dilantik. Harus dijatuhkan. Jokowi hasil permainan kotor, dagang sapi dan konspirasi asing dan ‘bandit-bandit’ domestik. Jokowi sudah dipersiapkan lama oleh mereka ini.
Voa-Islam : Apa buktinya Jokowi hasil konspirasi asing?
Sri Bintang Pamungkas : Ini bisa dilihat, sesudah Prabowo membentuk ‘Tim Hukum’, yang menggugat hasil pilpres terhadap KPU maupun MK (Mahkamah Konstitusi), Mega dan JK melakukan kunjungan ke Washington. Memberikan laporan kepada ‘tuannya’ di AS. Konspirasi ini sudah terjadi beberapa kali. Ini bukan pertama kalinya.
Hal ini, terjadi pula, Agustus, tahun 2003, SBY yang sangat mencintai AS, menganggap AS sebagai ‘tuannya’, dan SBY merasa bisa menjadi presiden, karena dukungan AS. SBY memohon kepada AS dukungan. SBY menjual dirinya. Karena bagi SBY, hanya dengan dukungan AS, dia bisa jadi presiden. SBY merasa, “Negara saya Indonesia. Tapi, rumah saya AS”.
Pikiran ‘inlander’ (terjajah) juga menguasai diri Mega dan Jokowi. Kemudian, Mega dan JK ditemani para ‘bandit-bandit’ pergi ke AS. Mega dan JK, meminta dukungan AS. Karena, Prabowo menggugat hasil pilpres ke KPU dan MK. Jiwa budak dan inlander (terjajah) melekat dalam diri Mega. Dia bukan seorang nasionalis, seperti Soekarno.
Voa-Islam : Apa yang dilakukan Mega selama di AS?
Sri Bintang Pamungkas : Di AS, Mega bertemu dengan Presiden AS Obama, Perdana Menteri Inggris David Cameron, dan Presiden Cina Xi Jinping. Bahkan, ada yang menyaksiakan pertemuan itu, disaksikan oleh mantan Presiden Bill Clinton. Pertemuan berlangsung bersama-sama. Pertemuan itu, yang memfasilitasi salah satu ‘bandit’ Indonesia. Tentu, yang lebih memprihatinkan lagi, di Washington DC itu, hadir salah satu hakim MK. Ini benar-benar konspirasi.
Voa-islam.com : Bagaimana bisa disebut dagang sapi dan konspirasi
Sri Bintang Pamungkas : Sebelumnya, berlangsung pertemuan di kantor PDIP di Lenteng Agung, yang dihadiri antara 80-100 pengusaha Cina. Mega didesak mencalonkan Jokowi. Ini terjadi sesudah Mega berkunjung ke Beijing dan Singapura. Di sini terjadi dagang sapi. Nilainya triliunan rupiah. Disebut-sebut taipan Sofyan Wanandi yang memberikan uang ‘suap’ kepada Mega. Bahkan, Mega juga menerima dari Jusuf Kalla, triliun rupiah. Sampai salah satu pendiri PDIP, Sabam Sirait marah, dan mengatakan, PDIP dibentuk bukan untuk diperjual-belikan.
Voa-Islam : Bagaimana dengan cita-cita Mega akan menegakkan ‘Tri Sakti’?
Sri Bintang Pamungkas : Itu tidak mungkin. Di mana Mega bisa membangun ‘Tri Sakti’. Karena Mega bukan seperti Soekarno. Sama, seperti SBY, dahulunya janjinya macam-macam, justru yang terjadi Indonesia dijual. Persis seperti Mega, waktu berkuasa, semuanya dijual kepada asing. Asset negara dan kekayaan Indonesia habis dijual di zaman Mega.
Nantinya, tidak mungkin Mega bisa mengatur Jokowi, karena Mega hanya ketua partai. Sementara itu, Jokowi menjadi presiden. Dengan posisi Jokowi sebagai presiden, Mega bisa apa? Mega tidak akan mampu bisa mengatur Jokowi. Justru yang akan mengatur Jokowi, asing dan para cukong Cina, yang sudah menguasai Jokowi.
Voa-Islam : Bagaimana dengan Rapimnas PDIP di Semarang?
Sri Bintang Pamungkas : Rapimnas PDIP di sebuah gereja terbesar di Asia, ‘The Holy Stadium’ (Stadion Suci), Petrus Agung. Ini menggambarkan, bagaimana PDIP yang sebagian besar anggota legislatifnya banyak dari kalangan Kristen dan pendukungnya dari kalangan Kristen.
Voa-islam.com : Kesimpulan pilpres ini bagaimana?
Sri BintangPamungkas : Pencapresan ini dapat disimpulkan sebagai kejahatan terhadap negara.Tentu dalam soal ini, terdapat pasal KUHP yang mengancam siapapun yang melakukan kejahatan terhadap negara harus ditindak. Bagaimana mungkin negara sebesar ini dipimpin oleh manusia-manusia yang memperjual-belikan kedudukan sebagai pemimpin ekskutif dari hasil konspirasi yang melibatkan fihak-fihak asing.
Di mana TNI yang saptamargais, sebagai penjaga pelindung negara? Ini harus menjadi perhatian semua fihak dengan kondisi yang ada sekarang ini. Di mana fihak asing dan bandit-bandit lokal bisa mengendalikan seorang ‘presiden’. (jj) (voa-islam.com) Selasa, 28 Zulqaidah 1435 H / 23 September 2014 08:10 wib
***

Heboh Kunjungan Mega-JK ke Amerika, Benarkah Pemerintahan Jokowi Di Bawah Ketiak Amerika

Posted on Agustus 26, 2014 by Indonesia Medicine

Calon Wakil Presiden Jusuf Kalla dikabarkan tengah melakukan kunjungan ke Amerika Serikat. Sampai saat ini pengakuan JK adalah karena berobat. Tetapi secara bersamaan Megawati dan Puan Maharani juga melakukan kunjungan serupa ke Amerika. Sebuah berita online melansir kunjungan itu berkaitan dengan pembentukan kabinet Capres Joko Widodo. “Ia ke Amerika ada pembicaraan penting sekaligus berobat,” ujar sumber tersebut, Sabtu (9/8). Mantan Juru Bicara JK, Poempida Hidayatullah mengaku tidak mengetahui agenda JK ke Amerika tersebut saat dikonfirmasi. “Saya tidak tahu agendanya apa,” ujarnya. Bersamaan dengan kunjungan tersebut sebelumnya diberitakan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarno Putri juga berada di Amerika. Menurut politisi PDI-P, Eva Kusuma Sundari, Mega sedang berlibur bersama keluarganya di Amerika. Tetapi tak pelak masalah itu menimbulkan spekulasi atau kecurigaan bahwa pemerintah baru tidak akan lepas di bawah ketiak Amerika.
Setelah heboh isu Megawati dan JK pergi ke AS, isu bergulir saat Wakil Ketua DPR Pramono Anung menerima kunjungan anggota Kongres AS, Rodney Frelinghuysen, Jim Morgan, Kay Granger, dan Ken Calvert. Spekulasi pun kembali menyeruak terkait hal tersebut. Ada pihak yang menduga negeri Paman Sam tersebut mencoba melakukan intervensi dalam pembentukan kabinet Jokowi-JK. Namun hal itu langsung dibantah Pramono. Menurutnya, kunjungan anggota kongres AS tersebut tak terkait dengan pembentukan kabinet yang saat ini tengah digodok oleh calon presiden terpilih, Joko Widodo (Jokowi). “Itu (soal kabinet) kewenangan kita sepenuhnya,” kata Pramono Anung usai menemui anggota kongres Amerika Serikat di lantai III DPR, Jakarta, Senin (11/8). Menurut Pramono, mereka justru amat menghormati yang menjadi kewenangan pemerintahan Indonesia. “Sama sekali tidak (intervensi). mereka sangat menghormati apa yang menjadi kewenangan kita. Dan mereka juga melihat bahwa Pileg dan Pilpres yang berjalan cukup baik itu mudah-mudahan, apapun hasilnya nanti akan baik bagi Indonesia,” jelas Pramono. Selain itu Pramono juga mengungkapkan dalam petemuan tersebut dibahas soal kerjasama pertahanan antara Indonesia-AS. “Tadi dibahas tentang kerjasama Indonesia-AS dalam bidang pertahanan. Kita dulu pernah diembargo dan kita minta diperbaiki soal embargo. Juga dibahas mengenai pembelian pesawat F16,” kata Pramono. Pramono juga diberitatahu bahwa AS memantau situasi terkini yang terjadi di tanah air. “Mereka (AS) memantau pilpres, tapi tak akan mencampuri urusan Indonesia. Mereka minta hubungan dengan pemerintahan yang baru nanti bisa lebih ditingkatkan, karena hubungan Indonesia dan AS terbilang unik, jaraknya jauh tapi punya pengaruh,” kata Pramono.

PDI-P Enggan Disebut Sebagai Agen PKI tapi Ingin Larangan PKI Dicabut

PDI-P Enggan Disebut Sebagai Agen PKI tapi Ingin Larangan PKI Dicabut

PDIP Membenarkan

PDIP segera membantah isu yang sensitif dengan membenarkan bahwa Mega dan JK benar ke Amerika tetapi bukan masalah urusan politik. Ketua Dewan Kehormatan PDI Perjuangan, Sidarto Danusubroto, mengakui Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan Wakil Presiden terpilih Jusuf Kalla pergi ke Amerika Serikat. Menurut Sidarto, Mega sudah pergi ke Negeri Paman Sam itu beberapa hari lalu. “Kalau nggak salah malam ini (kembali ke tanah air),” kata Sidarto di Istana Negara, Jakarta, Rabu 13 Agustus 2014. Tapi, Sidarto menegaskan bahwa Megawati dan JK berada di lokasi dan kepentingan yang berbeda satu sama lain. “Lain-lain (tempatnya). Pak JK check up,” ujar dia. Namun, Sidarto tak menjelaskan kepentingan Megawati ke Amerika. Sementara itu, politisi PDIP lainnya, Pramono Anung, menegaskan di Amerika keduanya tidak bertemu satu sama lain. Pramono juga membantah bahwa kunjungan Megawati dan JK ke Amerika untuk memantapkan dukungan Amerika kepada pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. “Nggak ada urusan politik ya. Sama sekali nggak ada hubungannya dengan Pak Jokowi,” ujar dia.

Tak kalah sigapnya dengan politisi PDIP lainnya dengan tegas Presiden terpilih Joko Widodo juga menjelaskan kepergian Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri ke Amerika Serikat yaitu dalam rangka berlibur. “Setahu saya Bu Mega berlibur. Itu setahu saya,” ujar Joko Widodo atau sapaan akrabnya Jokowi di Balai Kota, Jakarta, Rabu (13/8/2014). Gubernur DKI Jakarta ini tidak membenarkan kepergian Megawati ke Amerika Serikat itu berbau memuluskan kepentingan kapitalis di Indonesia, seperti yang diutarakan Rachmawati Soekarnoputri dua hari lalu. “Ya enggak ngerti. Ya tanya saja. Mungkin Bu Rachma lebih tahu dari saya,” kata Jokowi.

Perbuatan Kriminal

Namun bantahan dan pembelaan dari politisi PDIP dan pembelaan dari sang presiden baru sekalipun, juga tetap tidak mampu meredakan isu kehebohan tersebut. Pakar Politik Universitas Diponegoro Budhi Setiono Phd menyatakan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dan Jusuf Kalla melakukan tiga kejahatan negara, bila benar adanya bertemu dengan pihak asing membahas masalah kabinet presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla. Menurutnya, jika benar kunjungan Mega dan Jusuf Kalla ke Negeri Paman Sam bertemu dengan anggota Kongres AS, Rodney Frelinghuysen, untuk membahas masalah kabinet presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla, maka Mega dianggap telah melakukan tiga kejahatan negara. “Kalau memang itu dilakukan, mereka berdua patut dicurigai melakukan tiga kejahatan terhadap negara,” kata dia di Semarang, Rabu 13 Agustus 2014. Budhi menjelaskan, sebutan kejahatan tersebut bukan tanpa alasan, jika memang pertemuan itu terbukti benar.
Pakar Politik Universitas Diponegoro Budhi Setiono menyatakan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dan Jusuf Kalla melakukan tiga kejahatan negara, bila benar adanya bertemu dengan pihak asing membahas masalah kabinet presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla. “Kalau memang itu dilakukan, mereka berdua patut dicurigai melakukan tiga kejahatan terhadap negara,” kata dia seperti yang dilansir sebuah media online, Selasa (12/8).
Pertama, kata dia, kejahatan negara yang mengafirmasi adanya kepentingan campur tangan asing dalam pemilu Presiden. Kedua, kejahatan menjual kedaulatan negara di masa depan, dan terakhir memberikan peluang asing untuk merampok SDA. Ia menegaskan bila pertemuan secara tertutup betul untuk membahas susunan kabinet Jokowi-JK, maka patut dicurigai dan perlu disikapi secara serius demi kepentingan bangsa ini. Meski begitu, dirinya tidak heran dengan perilaku seperti ini, karena Megawati punya catatan buruk yang sama di masa lalu. Dia (Mega)pernah menjual murah saham BUMN dan SDA seperti gas alam ke asing terutama Singapura dan China. Beberapa informasi menyebutkan agenda penting keduanya adalah membicarakan dua pos kementerian penting dalam kabinet yakni posisi Menteri ESDM dan Menteri Keuangan.
DR. Sri Bintang Pamungkas bicara dengan keras dan lantang “Prabowo boleh kalah, tapi Jokowi tidak boleh menang’, tegasnya dalam acara diskusi yang digelar oleh Progres 98, di cafe Taman Ismail Marzuki. Bintang dengan garang berkata bahwa, “Dibelakang Jokowi adalah para konglomerat hitam yang sudah menghabiskan uang rakyat ratusan triliun, tambahnya. Bagaimana Jokowi akan membela rakyat, jika dibelakangnya para konglomerat hitam,” tukas Bintang. Bintang mencurigai kunjungan Mega dan JK yang disertai oleh James Riyadi, dan Sofyan Wanandi ke Amerika, dikabarkan bertemu dengan Bill Clinton dan Obama. “Seharusnya BIN (Badan Intelijen Negara), memeriksa mereka, karena melanggar undang-undang keamanan negara,” tegas Sri Bintang. Sebelumnya, mantan Presiden Amerika Bill Clinton, berkunjung ke Jakarta menjelang pengumuman penetapan hasil pilpres 9 Juli, dan Clinton bertemu Presiden SBY. Tak lama, menjelang keputusan MK, dua orang Senator Amerika, diantara Senator John Mc Cain dari Partai Republik, bertemu dengan Presiden SBY, dan SBY mengatakan pilpres berlangsung demokratis.
Kunjungan Mega juga dicurigai oleh saudara kandungnya Rachmawati Soekarnoputri mempunyai misi tersendiri pasca-penetapan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) sebagai presiden dan wakil presiden terpilih. Kunjungan Ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan calon wakil presiden Jusuf Kalla (JK) ke Amerika Serikat (AS), dipersoalkan Putri Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri. Rachmawati berpendapat, kunjungan Mega ke AS itu, untuk memantapkan dukungan negeri Paman Sam dan negara-negara pemodal lain kepada pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK). “Dengan datangnya Mega ke Washington, konon katanya ketemu Presiden Obama. Saya kira tidak jauh membicarakan masalah kepentingan di dalam pilpres,” ujar Rachmawati Soekarnoputri di kediamannya, Jalan Jatipadang Raya 54A, Jakarta Selatan, Selasa (12/8/2014).
Menurut mantan Ketua Dewan Pertimbangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Nasdem itu, keunggulan pasangan Jokowi-JK dalam Pilpres 2014, tak lepas dari campur tangan pihak asing. Dia mengatakan, banyak konsensi yang akan dibarter dengan dukungan asing, seperti dalam bidang politik dan perdagangan. Di antaranya, ujar dia, yakni perpanjangan kontrak PT Freeport dan penguasaan aset-aset negara oleh asing. Pada akhirnya, lanjut dia, Papua akan dilepas, jika Jokowi-JK memimpin bangsa nanti. “Menjajaki penjualan Indonesia sudah dari awal dulu. Kalau sekarang ke sana (AS) untuk memantapkan,” ucapnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, intervensi asing terhadap Pilpres 2014 makin diperkuat dengan kedatangan senator AS John McCain ke Indonesia. “Untuk apa pihak asing bicara Pilpres kita,” kata Rachmawati. Nantinya, menurut dia, Amerika Serikat turut menentukan siapa saja yang bakal menduduki jabatan strategis di pemerintahan dalam grand design memenangkan pasangan Jokowi-JK di Pilpres 2014. “Penjualan negara, bukan hanya Freeport saja. Itu hanya contoh dari grand design mereka. Intinya negara ini dipecah-pecah menjadi negara federal,” pungkasnya.
Terkait pernyataan tersebut, Jokowi mengaku tak mau mengomentarinya. Jokowi justru menilai untuk hal tersebut, Rachma yang merupakan adik kandung Megawati lebih tahu ketimbang dirinya. “Ya nggak ngerti, ya tanya saja, mungkin Bu Rahma lebih tahu dari saya,” ujar Jokowi di Balaikota DKI Jakarta, Rabu (13/8/2014). Jokowi mengatakan, sepengetahuannya kunjungan Mega ke AS dalam rangka berlibur bersama keluarga terdekatnya dan bukan melakukan deal-deal politik terkait kemenangan dirinya pada Pilpres 2014 lalu. “Setahu saya Bu Mega berlibur. Itu setahu saya. Kalau apa yang tadi dibilang, ndak ada yang saya tahu,” ucap Jokowi. Sebelumnya, Rachmawati menilai kepergian kakaknya ke Washington DC, AS untuk melakukan kesepakatan dengan kelompok kapitalis AS. “Konon difasilitasi pengusaha China James Riady, pertemuan Mega di AS dalam rangka memuluskan kepentingan kapitalis di Indonesia,” ucap Rachmawati.
Kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menilai kunjungan Megawati Soekarnoputri dan Jusuf Kalla (JK) ke Amerika Serikat (AS) bukan sesuatu yang biasa. Kunjungan mantan presiden dan wakil presiden yang dilakukan pasca Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2014 itu diduga memiliki agenda tertentu. “Begini, Mega dan JK kan bukan orang sembarangan, pasti ada satu agenda untuk datang ke sana,” ujar Didik Supriyanto kepada Sindonews di Hotel Intercontinental Mid Plaza, Sudirman, Jakarta, Rabu 13 Agustus 2014. Kendati demikian, dia mengaku tidak tahu pasti tentang agenda apa yang sebenarnya dalam kunjungan Mega dan JK ke negeri Paman Sam itu. “Cuma hal-hal yang patut dicurgai, ketika tokoh-tokoh itu bukan dalam rangka plesiran, pasti ada kepentingan-kepentingan politik tertentu yang kita juga tak tahu kepentingan politiknya apa. Ini yang saya kira perlu dicari tahu,” tutur Didik. Sebelumnya, Rachmawati Soekarnoputri menduga kunjungan Megawati dan JK untuk memantapkan dukungan negeri Paman Sam dan negara-negara pemodal lain kepada pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi- JK). “Dengan datangnya Mega ke Washington, konon katanya ketemu Presiden Obama. Saya kira tidak jauh membicarakan masalah kepentingan di dalam pilpres,” ujar Rachmawati Soekarnoputri di kediamannya, Jalan Jatipadang Raya 54A, Jakarta Selatan, Selasa 12 Agustus 2014./ http://demokrasiindonesia.wordpress.com
(nahimunkar.com)

(Dibaca 11.594 kali, 1 untuk hari ini)