Pada dasarnya, dibolehkan bagi orang yang dizalimi dan dianiaya untuk membela dirinya salah satu bentuknya adalah dengan mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya.

Allah Ta’ala berfirman,

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Nisa’: 148)

Ibnu Abbas berkata tentang ayat ini: “Allah tidak suka seseorang mendoakan keburukan untuk selainnya, kacuali ia dalam keadaan dizalimi. Allah memberikan keringanan baginya untuk mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya.dan itu ditunjukkan oleh firman-Nya, “Kecuali oleh orang yang dianiaya.” (namun), jika bersabar maka itu lebih baik baginya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir terhadap ayat di atas)

Firman Allah yang lain,

وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ

“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka.(QS. Al-Syuura: 41)

. . . dibolehkan bagi orang yang dizalimi dan dianiaya untuk membela dirinya salah satu bentuknya adalah dengan mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya. . .

Namun, apakah ini yang terbaik baginya? Tidak. Jika ia membalas kepada orang yang menzaliminya dengan doa keburukan, maka ia tidak mendapat apa-apa karena ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan (kepuasan).

Berbeda jika doanya dengan niatan agar orang-orang tidak lagi menderita akibat kejahatannya, maka ia mendapat pahala dengannya. Terlebih jika niatnya untuk menghilangkan kezaliman, menegakkan syariat Allah dan hukum-Nya, maka pahala yang didapatkannya lebih banyak./ voa-islam.com

***

Alasan Pendoa: Kita Ini Sudah Sengsara, Mas

Anggota Komisi III DPR RI, Muhammad Syafi’i, mengaku mendapatkan sekitar 300 SMS dan 78 panggilan yang masuk di telepon selulernya pasca membaca doa penutup seusai pembahasan RAPBN 2017 di sidang tahunan MPR/DPR/DPD RI, Selasa (16/8).

Syafi’i pun mengaku di dalam doa yang dinilai oleh publik terkesan memojokkan Presiden Joko Widodo tersebut, mencontohkan saat ini banyak aparat negara seperti diciptakan untuk berhadapan dengan masyarakat padahal tugas mereka semestinya adalah sebagai pengayom dan pelindung masyarakat.

“… kita ini udah sengsara, Mas,” ucpnya.

Dalam tulisan (Status Mendoakan Keburukan terhadap Orang Zalim)

di atas, perlu disimak kembali: Jika doanya dengan niatan agar orang-orang tidak lagi menderita akibat kejahatannya, maka ia mendapat pahala dengannya. Terlebih jika niatnya untuk menghilangkan kezaliman, menegakkan syariat Allah dan hukum-Nya, maka pahala yang didapatkannya lebih banyak

***

Politisi Gerindra Ini Dapatkan 300 SMS dan 78 Panggilan Telepon Pasca Baca ‘Doa Sindiran’

SUPERSERU.com, Anggota Komisi III DPR RI, Muhammad Syafi’i, mengaku mendapatkan sekitar 300 SMS dan 78 panggilan yang masuk di telepon selulernya pasca membaca doa penutup seusai pembahasan RAPBN 2017 di sidang tahunan MPR/DPR/DPD RI, Selasa (16/8).

“Saya udah dapat sekitar 300 SMS dan panggilan telepon. Ini panggilan yang ke-78 saya terima, semuanya merespons positif,” ujar Syafi’i saat dihubungi, di Jakarta, Selasa (16/8) malam.

Syafi’i menuturkan, dirinya tidak menggunakan teks pada saat membawakan doa tersebut. Meski sebelumnya pihak Kesekjenan DPR memintanya menggunakan teks, namun dia menolak dengan dalih dia tidak pernah membawa teks saat membawakan doa. Pasalnya kata Syafi’i, isi doa itu tergantung apa yang ia lihat dan ia dengar di sekelilingnya.

“Enggak pakai teks, Muncul aja gitu. Saya tadi sebelum naik baca doa sempat ditanyain lagi. ‘Ada teks atau enggak’, Saya bilang enggak ada. Yaudah lanjut aja,” beber Syafi’i.

Syafi’i pun mengaku di dalam doa yang dinilai oleh publik terkesan memojokkan Presiden Joko Widodo tersebut, tidak ada instruksi sedikit pun dari partainya, yakni Gerindra, yang notabene merupakan partai oposisi pemerintah.

“Enggak ada (intruksi). Sama sekali enggak ada. Kita kan refleksi kemerdekaan. Ini suasana kebatinan yang sebenarnya sedang dirasakan masyarakat kan,” ujar Syafi’i.

Syafi’i menambahkan, poin dalam doa yang ia bacakan tersebut menginginkan adanya perbaikan di negeri ini. Dia mencontohkan saat ini banyak aparat negara seperti diciptakan untuk berhadapan dengan masyarakat padahal tugas mereka semestinya adalah sebagai pengayom dan pelindung masyarakat.

“Di sini kita ingin ada perbaikan, berubahlah gitu. Jangan seperti yang sekarang kita alami. Kayaknya aparat negara itu diciptakan berhadap-hadapan dengan rakyat. Padahal semestinya kan mereka jadi pengayom. Jadi pemerintah itu harus memberi manfaat. Jangan malah memanfaatkan rakyat. Gitu lho maksudnya,” kata Syafi’i.

Dalam hal ini, Syafi’i pun mengaku siap menerima resiko apabila ada pihak-pihak yang mem-bully dirinya di media sosial media terkait isi doa yang ia bacakan, karena menurutnya setiap tindakan ada resiko yang sudah menanti.

“Ya kan setiap tindakan ada resikonya. Yaudah kita kan ingin memperbaiki. Ya kan, doa itu juga ditutup dengan kalimat ‘kalau bertobat, ya bagus. Tapi kalau nggak tobat kan, kita ini udah sengsara, Mas,” tutup Syafi’i. (jitunews)

Sumber: superseru.com/ adminAugust 17th, 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.526 kali, 7 untuk hari ini)