Ilustrasi Ratusan ribu masyarakat Solo dan sekitarnya berkumpul di Bundaran Gladag, Solo, Jawa Tengah, Ahad (9/9/2018) pagi, dalam kegiatan Jalan Sehat Umat Islam dan Masyarakat Solo. Mustofa berada di panggung kegiatan Jalan Sehat Umat Islam dan Masyarakat Solo, Ahad pagi (9/9/2018) / /kaltim.tribunnews.com


Usai pendaftaran Pasangan Capres-Wacapres ke KPU 10 Agustus 2018, bermunculan kegiatan polling via Medsos tentang Pasangan Capres-Cawapres Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf. Antara lain: Indonesian Lawyers Club, Kumparan, Radio Elshinta, Fahira Idris, Polling Pilpres 2019-2024, Iwan Fals.

Rata-rata hasil polling menunjukkan, akan memilih Pasangan Prabowo-Sandi  78 persen, Jokowi-Ma’ruf hanya 22 persen.

Apa gerangan yang menyebabkan merostotnya suara pemilih Jokowi?

Pasangan Jokowi yakni Ma’ruf Amin dianggap tidak memiliki jaringan politik, dan bahkan diragukan menjadi panutan umat keseluruhan, karena hanya terbatas di NU itupun hanya sebagian Jawa.

Simak ini.

***

Suara Jokowi Merosot karena Peran Umat Islam dan Para Aktivis

JAKARTA (voa-islam.com)- Merosotnya eletabilitas Jokowi sebagai petahana di Pilpres 2019 bisa jadi karena kinerjanya sejauh ini, juga bisa karena adanya peran umat Islam yang menanggapi isu-isu keumatan, kebangsaan, juga rasa kecintaan akan Negara di masa depan.

Selama ini yang membuat merosotnya elektabilitas Jokowi adalah rakyat Indonesia, terutama ‘Umat Islam politik’ dan kelas menengah perkotaan anti Komunisme dan negara Cina, bukan Parpol oposisi dan tokoh individual pesaing Jokowi pada Pilpres 2019,” demikian pengamatan Muchtar Effendi Harahap (MEH), Ahad (9/9/2018).

Disebutkan jika pengaruh bakal cawapres Jokowi akan kembali menaikkan elektabiltasnya, kemungkinan jauh panggang dari api. Pasalnya, selain kiai Ma’ruf dianggap tidak memiliki jaringan politik, beliau juga diragukan menjadi panutan umat keseluruhan.

“Jokowi telah memilih Ma’ruf Amin, Ketua Umum MUI, sebagai Cawapres di Pilpres 2019. Pilihan Ma’ruf Amin ini takkan mempengaruhi signifikan kenaikan elektabilitas Jokowi ke depan di mata publik. Mengapa?

Pertama, Ma’ruf tidak memiliki jaringan politik dan pekerja politik untuk promosi dan kampanye. Kedua, Ma’ruf Amin bukan Aktor Politikus, terbiasa mempengaruhi masyarakat secara politik. Ketiga, Ma’ruf Amin bukanlah Ulama panutan atau Patron, kecuali terbatas di kalangan NU khususnya sebagian di Pulau Jawa.”

Keempat menurut MEH, kiai Ma’ruf bukan kader atau pemimpin Parpol pendukung sehingga takkan fungsional untuk mempromosikan dan mengkampanyekan Pasangan Jokowi-Ma’ruf melalui mesin dan kelembagaan Parpol.

Usai pendaftaran Pasangan Capres-Wacapres ke KPU 10 Agustus 2018, bermunculan kegiatan polling via Medsos tentang Pasangan Capres-Cawapres Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf. Antara lain: Indonesian Lawyers Club, Kumparan, Radio Elshinta, Fahira Idris, Polling Pilpres 2019-2024, Iwan Fals.

“Rata-rata hasil polling menunjukkan, akan memilih Pasangan Prabowo-Sandi  78 persen, Jokowi-Ma’ruf hanya 22 persen. Sekalipun segmen responden ini kelompok sosial tertentu, tidak mewakili segmen pilih level Indonesia, sebagai deskripsi elektabilitas Jokowi justru menurun jauh dibandingkan sebelum pilihan Ma’ruf sebagai Cawapres Jokowi.” (Robi/voa-islam.com)

Sumber : voa-islam.com Senin, 30 Zulhijjah 1439 H / 10 September 2018 15:03 wib

(nahimunkar.org).

(Dibaca 1.288 kali, 1 untuk hari ini)