Kelalaian pada zaman ini menjadi raja, dan keterjagaan menjadi budak. Hal-hal yang tidak bermanfaat dianggap bermaslahat, dan orang-orang yang berusaha membuat kita ingat hampir-hampir sudah tamat. Banyak orang mengkalungkan cita-cita mereka ke Surga sementara nyatanya ibarat si pandir hendak menggapai langit. Hampir saja kita putus asa melihat kenyataan terlalu banyak orang menjilati buih-buih tanpa henti. Sekali disentuh lidah, buih-buih pergi. Dan terus saja mereka tiada henti. Diingatkan pun mereka tidak mengindahi.

Dan Rasulullah bersabda:

المُؤْمِنُ القَوِيُّ خَيْرٌ وَأحَبُّ إلى اللَّهِ تَعالى مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ على ما يَنْفَعُكَ

“Orang Mukmin yang kuat lebih baik daripada orang mukmin yang lemah. Dan di setiapnya ada kebaikan. KEJARLAH APA YANG BERMANFAAT UNTUKMU!” [H.R. Muslim]

Dalam “Aadaab asy-Syaafi’iy wa Manaqibuh” karya Ibnu Abi Hatim ar-Razy, disebutkan seseorang berkata pada asy-Syafi’i:

أَقْبِلْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ

“Terimalah apa yang bermanfaat untukmu!”

Maka asy-Syafi’i bercerita:

فَجَعَلْتُ لَذَّتِي فِي هَذَا الْعِلْمِ وَطَلَبِهِ، حَتَّى رَزَقَنِي اللَّهُ مِنْهُ مَا رَزَقَ

“Maka aku pun menjadikan kelezatan hidupku di ILMU ini dan PENCARIANNYA; hingga kemudian Allah merizkikanku darinya (dari ilmu) apa yang telah Dia rizkikan.”

Apa hasilnya? Ilmu asy-Syafi’i melegenda. Beliau konsisten mengukir hidupnya dengan mencari ilmu, dan menyebarkannya. Dan siapalah kita dibanding asy-Syafi’i?

Iya. Itu dia. Pertanyaan: “Dan siapalah kita dibanding asy-Syafi’i?” Selalu bertanya begitu. Namun sebagian justru -mentang-mentang- tidak akan menjadi asy-Syafi’i, mereka pun bermalas-malasan. Dituntut mencari ilmu harian bersungguh, mereka merengek dengan alasan setan: kerja, sibuk, dan semacamnya. Namun kala ada pembahasan tentang pembantaian terhadap individu atau kelompok tertentu (atau kadang lebih cocok untuk saya sebut GHIBAH), tanpa dituntut mereka langsung mengerubungi.

Sungguh cocok permisalan dalam al-Qur’an: memakan bangkai saudara sendiri sesama makhluk. Para lalat yang kerubuti dia yang tak bernyawa lagi. Dan andai yang mereka kerubuti bangkit, para lalat kabur-kaburan. Atau main keroyokan. Sangat jelas kita bedakan antara majelis GHIBAH dengan majelis ILMIAH.

Sangat jelas kita bedakan antara majelis GHIBAH dengan majelis ILMIAH.

Sangat jelas kita bedakan antara majelis GHIBAH dengan majelis ILMIAH.

Di antara perbedaan yang jelas:

فَأَمَّا ٱلزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَآءًۭ ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَيَمْكُثُ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ

“Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.” [Q.S. Ar-Ra’d: 17]

Di antara karakter majelis ghibah adalah tidak diinginkan oleh shahibul bait dari kebaikan dengan doa-doa tulus, tidak menasehati orang-orang agar tidak terjerumus pada memakan daging saudaranya, dan ujung-ujungnya: pembahasan akan pergi tiada harga tanpa hasil. Tanpa hasil positif. Namun justru hasilnya kian negatif, semakin menyebar permusuhan, membuka lebar pintu ghibah, tahasud, tadabur, dan menutup khatam kaliman: “wa kuunuu ibaadallaahi ikhwaana”. Hilang sudah ilmu-ilmu.

Yang ada hanyalah kalimat: “Dia ini begini begitu….”

Yang ada hanyalah kalimat: “Mereka ini begini begitu….”

Kapan kita masing-masing punya kalimat: “Astaghfirullah, ternyata saya pun begini…”

Para salaf kita, jika dikabarkan pada mereka tentang amalan-amalan buruk, mereka tidak langsung berfikiran SIAPA itu pelakunya, melainkan mereka mendahulukan RASA TAKUT jika amalan buruk itu ada pada diri mereka sendiri. Jikapun belum ada, takutnya kelak malah ada.

Para salaf kita, jika mereka melihat keburukan pada diri seseorang, selain mereka berusaha menasehati, mereka takut jika sekiranya keburukan itu akan menjadi ujian pada diri sendiri juga kelak.

Karena kita tidak tahu ke depannya kita sebaik atau seburuk apa. Husn atau su’ul khatimah tak kita tahu pasti.

Seperti dahulu, ketika kita mengolok-olok Jama’ah yang hobi tahdzir, yang membuat kajian-kajian bertemakan ‘ghibah’, sekarang KITA (YA! KITA!) yang ternyata pembuat kajian-kajian ghibah. Mungkin dahulu ketika kita olok mereka, kita tidak mendasari olokan karena Allah, melainkan karena memang sekadar melampiaskan olokan, atau melampiaskan naluri hizbiyyah yang dipendam, atau ikut-ikutan. Tidak ada niatan tanashuh lillah. Akhirnya, Allah berikan bala dan fitnah itu pada diri kita sendiri. Lebih buruknya jika tidak kita sadari. Lebih buruknya lagi + sombongnya: jika diingatkan, bukannya sadar malah melawan.

Ya akhy, apa benar kamu sedang mencari ridha Allah dengan belati terhunus di belakang saudaramu itu?

Jawabannya bisa jadi ‘tidak’; karena sangat tampak: majalis ilmiyyah ditinggalkan, dan majalis ghibah memang mencandukan.

Semoga catatan ini Allah tunjukkan pada yang berhak, lebih berhak dan paling berhak membacanya. Dan Ya Allah, semoga ini dijadikan sebagai bahan pembaikan, bukan pencetus permusuhan.

 

Hasan Al-Jaizy55 menit

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.020 kali, 1 untuk hari ini)