Ada tawaran dari orang yang akan memediasi untuk diskusi dengan orang syiah. Namun ternyata sudah pernah berdiskusi dengan orang syiah, yang di antara hasilnya menjadi tahu, orang syiah itu mirip Yahudi.

Itu yang dapat disimpulkan dari “dialog”singkat di facebook berikut ini:

Umar Zein: Mas Hartono jika anda mmg kaum cerdik pandai mau tdk di mediasi tuk duduk bareng sama tokoh syi’ah tuk diskusi ttg Islam. Yaah biar kita2 tahu siapa sih yg berkualitas siapa sih yg suka memfitnah. Dari pada Mas Har cuma menghujat saja kan buang2 energi ya jika benar, nah kalau salah! Kan berdosa. Lagi pula sepanjang yg st tahu org syi’ah itu tak sesadis Mas Har dalam berbicara. Bahkan NKRI banget. Saya tau sbb ttg sy ada yg ulama mazhab Syi’ah. Boleh di coba kaan!

Hartono Ahmad Jaiz: sudah pernah ana dikeroyok p haidar baqir dan ulil abshar abdalla di al azhar kebayoran baru, yg ngadain YISC waktu itu 2002-an. ana baru tahu kalau org syiah itu mirip yahudi. dia ngga’ terima krn ana sebut di buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, tapi ana sahut, kalau memang ga’ bolehin, ya nanti kalo penerbitan berikutnya insya Allah ana pertimbangkan (utk tidak dicantumkan). eee… langsung dijawab, ga’ usah, ga’ usah (dihapus), krn saya beramal/ berbuat itu untuk Allah.

nah, sikap itu kan mirip sikap Yahudi yg dalam hadits disebutkan, ketika org2 yahudi ditanya oleh Nabi saw mengeni Abdullah bin Salam, org2 Yahudi memuji-mujinya. tapi ketika Abdullah bin Salam dihadapkan kpd mereka dan disebut sudah masuk Islam, mk langsung org2 Yahudi itu berbalik menjelek-jelekkannya. mk anda memuji org syiah dan mengatakan ana sadis, ana ga’ kaget.

kalo mau tanya masalah yg ana sebut itu tadi, boleh ke Ust Agus Hasan Bashori teman sekelas Ulil yg menyaksikan ana dikeroyok itu. walau dia tinggal di Malang, tapi sempat menyaksikan kasus itu.

dalam hal apa yg ente sebut menghujat syiah, dia lbh sering, krn situsnya saja khusus mengenai syiah yaitu gensyiah.com.(Gen Syi’ahMembongkar Kejahatan Syi’ah) kalau ana kan di nahimunkar.com yg bukan hanya masalah syiah.

Demikian “dialog” kecil di facebook, 16 Maret 2015.

Mubahalah saja ya

Ketika ada kesan, syiah itu mirip dengan yahudi, sedang terhadap orang yahudi ada tuntunan untuk ajakan mubahalah (lihat QS Al-Jumu’ah 6-7), maka selanjutnya mubahalah saja ya.

Ayat yang dimaksud adalah ini:

{قُلْيَاأَيُّهَاالَّذِينَهَادُواإِنْزَعَمْتُمْأَنَّكُمْأَوْلِيَاءُلِلَّهِمِنْدُونِالنَّاسِفَتَمَنَّوُاالْمَوْتَإِنْكُنْتُمْصَادِقِينَ (6) وَلَايَتَمَنَّوْنَهُأَبَدًابِمَاقَدَّمَتْأَيْدِيهِمْوَاللَّهُعَلِيمٌبِالظَّالِمِينَ} [الجمعة: 6، 7]

  1. Katakanlah: “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar”
  2. Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim. [Al Jumu’ah,6-7]

أيسرالتفاسيرلأسعدحومد (ص: 5061،بترقيمالشاملةآليا)

قُلْ يَا مُحَمَّدُ لِهَؤُلاَءِ اليَهُودِ: إِنَّكُمْ إِذَا كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ أَنَّكُمْ عَلَى حَقٍّ وَهُدًى، وَأَنَّ مُحَمَّداً وَأَصْحَابَهُ عَلَى ضَلاَلَةٍ، فادْعُوا بِالمَوْتِ عَلَى الضَّالِ مِنَ الفِئَتَين، إِنْ كُنْتُمْ صادِقِينَ فِيما تَزَعُمُونَ مِنْ أَنَّكُمْ أَوْلِياءَ اللهِ وأحِبَّاؤهُ.

Katakanlah: “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, (jika kamu mendakwakan bahwa kamu di atas kebenaran dan petunjuk, sedang Muhammad dan sahabat-sahabatnya di atas kesesatan), maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar” (maka berdoalah dengan minta kematian atas yang sesat dari dua kelompok itu –kelompokmu Yahudi dan kelompok Muhammad— jika kamu orang-orang yang benar dalam hal mengklaim bahwa kamu lah kekasih dan kecintaan Allah). (Aisarut Tafaasiir oleh As’ad Humid halaman 5061 maktabah assyamilah).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya, bawa pembahasan ini sudah diterangkan dalam QS Al Baqarah: 94 mengenai mubahalah dengan orang-orang Yahudi.

Mubahalah adalah masing-masing pihak di antara orang-orang yang berbeda pendapat (berselisih) berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar Allah menjatuhkan laknat kepada pihak yang berdusta.

Demikian keterangan mengenai ayat di antaranya berisi tantangan mubahalah terhadap Yahudi.

Apabila syiah tetap mengaku tidak sesat menyesatkan, sedang kami dianggap menghujat syiah dan dianggap “buang2 energi, ya jika benar, nah kalau salah! Kan berdosa”; maka kini kami tanggapi: ya kalau begitu mubahalah saja.

Pihak syiah dan pihak kami hendaknya berkumpul dalam satu tempat,lalu masing-masing bersumpah dengan nama Allah. Kami akan berkata, “Kami bersumpah Demi Allah, 4x, Kami menyatakan bahwa syiah Rafidhah/ Imamiyah/ Itsna ‘Asyariyah adalah sesat menyesatkan. dan kami bersumpah demi Allah kami bersedia dilaknat oleh Allah jika perkataan kami itu dusta.”

Lalu pihak syiah agar bersumpah, “Saya/kami bersumpah, demi Allah, 4x. Kami menyatakan bahwa syiah Rafidhah/ Imamiyah/ Itsna ‘Asyariyah adalah tidak sesat menyesatkan. dan kami bersumpah demi Allah kami bersedia dilaknat oleh Allah jika perkataan kami itu dusta.”

Apabila ajakan mubahalah ini disetujui pihak syiah, maka Kami berharap pihak ANNAS atau semacamnya yang konsen terhadap masalah syiah dapat menyelenggarakannya. Karena kami yakin, ANNAS dan semacamnya akan menilai, hal ini termasuk berjuang di jalan Allah. Sedangkan ayatnya ada yang menegaskan:

مَا كَانَ لِأَهۡلِ ٱلۡمَدِينَةِ وَمَنۡ حَوۡلَهُم مِّنَ ٱلۡأَعۡرَابِ أَن يَتَخَلَّفُواْ عَن رَّسُولِ ٱللَّهِ وَلَا يَرۡغَبُواْ بِأَنفُسِهِمۡ عَن نَّفۡسِهِۦۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ لَا يُصِيبُهُمۡ ظَمَأٞ وَلَا نَصَبٞ وَلَا مَخۡمَصَةٞ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَايَطَ‍ُٔونَ مَوۡطِئٗا يَغِيظُ ٱلۡكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنۡ عَدُوّٖ نَّيۡلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُم بِهِۦ عَمَلٞ صَٰلِحٌۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٢٠ [سورة التوبة,١٢٠]

  1. Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik[At Tawbah120]

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا إلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَحَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ.

Terimakasih.

Jakarta, 26 Jumadil awwal 1436H/ 17 Maret 2015.

Hartono Ahmad Jaiz

(Dibaca 1.956 kali, 1 untuk hari ini)