Sultan Abdul Hamid Marah Prancis Gelar Teater Nabi Muhammad

 

  • “Akulah Khalifah umat Islam Abdul Hamid Han! Aku akan menghancurkan dunia di sekitarmu jika kamu tidak menghentikan pertunjukan tersebut!” ucap Sultan dengan nada geram…
  • Semua negara Islam memuji keberanian Sultan Abdul Hamid yang bisa menghentikan pertunjukan teater di Paris.


Sultan Abdul Hamid Han dan Tahsin Pasha di film Payitaht: Abdülhamid.

Foto: @payitaht

Sultan mengancam kedutaan Prancis jika tidak menghentikan pertunjukan tersebut!

ISTANBUL — Sultan Abdul Hamid II (berkuasa 31 Agustus 1876–27 April 1909), yang merupakan Sultan ke-34 Kekhalifahan Utsmaniyah atau Ottoman Empire, pernah marah besar dengan kelakuan pemerintah Prancis. Dalam salah satu serial Payitaht: Abdülhamid, Sultan Abdul Hamid yang dikenal lembut tidak bisa lagi menahan emosi ketika mendapat kabar Prancis akan menggelar pertunjukan teater yang menampilkan tokoh utama Nabi Muhammad SAW.

Film Payitaht bersumber dari catatan harian Sultan Abdul Hamid saat menjabat sebagai Khilafah. Bahkan, keturunan langsung Abdul Hamid, yaitu Orhan Osmanuglu ikut dilibatkan dalam pembuatan film ini agar cerita sesuai dengan sejarah yang sebenarnya, meski ada improvisasi percakapan di dalamnya.

Sang Sultan selama ini dikenal tegas membela umat Islam yang tertindas dari praktik kolonialisasi yang menjadi musuh utama, Utsmaniyah, yaitu Inggris, Prancis, dan Rusia. Sultan Abdul Hamid pula yang pernah menolak permintaan Theodor Herzl untuk membeli tanah Palestina sebagai tempat tinggal kelompok Zionis Yahudi, yang sekarang menjadi Israel.

Dalam salah satu cuplikan film yang disiarkan TRT, Sultan Abdul Hamid berada di Istana Yildiz, Istanbul, dan mengutarakan keresahannya kepada beberapa Pasha yang mengelilinginya. Mahmud Pasha pun penasaran dengan kemarahan Sang Sultan. “Untuk apa Sultan marah jika bukan karena komik tersebut. Hunkar (panggilan hormat kepada Sultan Abdul Hamid)?” kata Mahmud.

Sultan Abdul Hamid pun menunjukkan surat kabar Prancis yang dipegangnya, dan kemudian membacakan isi berita kepada para Pasha. Dia menjelaskan, seorang laki-laki menulis pertunjukan teater yang melibatkan Nabi kita Muhammad SAW digelar malam itu, di Kota Paris.

“Ini penghinaan terhadap Rasulullah. Aku tak akan mengatakan apapun. Mereka menghina Baginda kita, kehormatan seluruh alam semesta,” kata Sultan yang diperankan aktor Bülent İnal ini. 

Sultan Abdul Hamid mengaku, ia tidak peduli jika Prancis menyerang pribadinya. Tetapi, jika mereka menghina agama Islam dan Nabi Muhammad SAW, Sang Sultan mengaku, siap bangkit dari kematian. 

“Aku akan menarik pedang ketika sedang sekarat. Aku akan menjadi debu dan terlahir kembali dari debuku, dan berjuang bahkan jika mereka memotong leherku, mencabik-cabik dagingku untuk melihat wajah Baginda Nabi kita. Melihat wajah Rasulullah di akhirat,” kata Sultan Abdul Hamid melanjutkan. 

Kemarahan Sultan belum berhenti. Dia mengatakan, koran yang menggambarkan wajah dan pementasan teater Nabi Muhammad SAW adalah bukti umat Islam berjuang dengan musuh yang tidak terhormat. Dia menegaskan, Kekhalifahan Utsmaniyah tidak akan pernah menjadi seperti Prancis dalam berperang.

“Tetapi, kita tidak akan menghentikan pertahanan kita. Panggil kedutaan Prancis, segera,” begitu perintah Sang Sultan, yang dijawab oleh Tahsin Pasha, selaku orang paling dipercayainya.

Sesi selanjutnya, legasi atau duta besar Prancis memenuhi panggilan Sultan Abdul Hamid di Istana Yildiz. Sang perwakilan resmi pemerintah Prancis itu langsung menyapa tuan rumah. “Hunkar hazretleri. Theodor Herzl adalah tamu kami di kedutaan kita sekarang,” ujar sang tamu yang menyangka ia dipanggil gara-gara menjamu Theodor Herzl di Kedutaan Prancis di Istabul.

Sultan Abdul Hamid pun menjelaskan, jika ia memanggil sang legasi Prancis bukan terkait masalah kecil yang berkaitan dengan kedatangan Herzl di Istanbul. “Kedutaan, kami umat Muslim begitu mencintai Nabi kita Rasulullah SAW. Kami sangat mencintainya hingga rela mengorbankan hidup kami untuknya. Kami tidak ragu dan rela mati untuknya,” ucap Sultan Abdul Hamid.

Sultan mengungkapkan, pihaknya mendapat informasi jika pemerintah Prancis menyiapkan pertunjukan yang niatnya menghina Nabi Muhammad SAW. Sultan pun menegaskan, jika ia adalah pemimpin umat Islam di Balkan, Irak, Suriah, Lebanon, Hijaz, Kaukasus, Anatolia, dan Payitaht (Istanbul). 

“Akulah Khalifah umat Islam Abdul Hamid Han! Aku akan menghancurkan dunia di sekitarmu jika kamu tidak menghentikan pertunjukan tersebut!” ucap Sultan dengan nada geram sembari melemparkan koran kepada legasi Prancis tersebut.

Dalam adegan selanjutnya, Tahsin Pasha memberi kabar gembira kepada Sultan Abdul Hamid jika orang Prancis akhirnya menghentikan pertunjukan teater. Hal itu tentu saja berkat ultimatum Sultan Abdul Hamid. Sang Sultan pun mengucapkan alhamdulillah.

Tahsin Pasha melanjutkan, Hunkar juga mendapat ucapan terima kasih dari umat Islam di berbagai dunia. Semua negara Islam memuji keberanian Sultan Abdul Hamid yang bisa menghentikan pertunjukan teater di Paris.

“Komite Islam Liverpool (Inggris) juga mengucapkan terima kasih. Saudara India kita juga berada di jalanan. Mereka menginginkan kesehatan dan kedamaian untuk Khlaifah kita yang tidak membiarkan siapa pun menghina Baginda Nabi. Ini tampilan (foto) kebahagiaan di jalanan Mesir dan Aljazair,” kata Tahsin Pasha sambil menunjukkan surat kabar terbaru yang dipegangnya.

Tahsin Pasha tidak lupa mendoakan Sang Sultan agar diberkati Allah SWT. “Kita tidak mencari pangkat jika kita bisa melayani agama ini,” kata Sultan Abdul Hamid menjelaskan tindakannya memuliakan Rasulullah kepada Tahsin Pasha.

Selasa 27 Oct 2020 06:41 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Red: Erik Purnama Putra

 

***

 

Faisal Basri Desak Indonesia Kutuk Presiden Prancis

 

 

Faisal Basri menilai pemerintah Indonesia harus mendesak Presiden Prancis Emmanuel Macron minta maaf pada umat Islam. Faisal Basri mendesak Pemerintah Indonesia mengambil sikap terkait sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyudutkan Islam (CNN Indonesia/Safir Makki)

 

Jakarta, CNN Indonesia — Ekonom senior Faisal Basri mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil sikap terkait Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mengaku tidak akan melarang penerbitan kartun Nabi Muhammad.

Faisal sendiri mengutuk sikap Macron tersebut dan berharap mengucapkan permintaan maaf kepada umat muslim.

 

“Saya mengutuk Presiden Prancis. Mendesak pemerintah Indonesia segera bersikap yang sama dan meminta maaf kepada ummat Islam,” kata Faisal lewat akun Twitter pribadinya, Senin (26/10).

 

 

Presiden Prancis Emmanuel Macron menjadi sorotan dunia lantaran. Dia dikecam oleh banyak pihak karena dinilai menghina Islam.

 

Lihat juga: Emmanuel Macron, Sosok Liberal yang Tuai Kecaman soal Islam

 

Saya mengutuk Presiden Prancis. Mendesak pemerintah Indonesia segera bersikap yang sama dan meminta maaf kepada ummat Islam.

 

— Faisal Basri (@FaisalBasri) October 26, 2020

 

 

Polemik bermula sejak awal Oktober lalu. Kala itu Macron menyampaikan hal tentang ancaman kelompok radikal muslim di negaranya.

 

Dia menyebut kelompok radikal Islam bertekad mengubah nilai-nilai liberalisme dan sekularisme yang telah lama diterapkan di Prancis.

 

“Ada kelompok radikal Islam, sebuah organisasi yang mempunyai metode untuk menentang hukum Republik dan menciptakan masyarakat secara paralel untuk membangun nilai-nilai yang lain,” kata Macron saat itu.

 

Tak lama setelah Macron bicara demikian, seorang guru sejarah, Samuel Paty (47) dipenggal di daerah Eragny pada 16 Oktober. Pelakunya adalah pemuda dari Chcenya bernama Abdoullakh Abouyezidovitch (18).

 

Samuel Paty, sebelum dibunuh, sempat membahas kartun Nabi Muhammad S.A.W. yang kemudian menuai kontroversi. Sejak awal dia sudah mengizinkan sejumlah pelajar Muslim untuk keluar kelas jika tidak sepakat dengan materi yang dia bahas.

 

Macron lantas mendatangi lokasi pembunuhan. Dia menyatakan pelaku adalah seorang radikal Muslim. Menurutnya, Paty adalah martir karena mengajarkan kebebasan berpendapat.

 

Macron kemudian memantik perdebatan setelah menyampaikan pernyataan pada Jumat (23/10). Dia mengatakan Islam adalah “agama yang mengalami krisis di seluruh dunia”.

 

“Sekulerisme adalah pengikat persatuan Prancis. Jangan biarkan kita masuk ke dalam perangkap yang disiapkan oleh kelompok ekstremis, yang bertujuan melakukan stigmatisasi terhadap seluruh Muslim,” ujar Macron.

 

Gelagat Macron tersebut menuai kecaman dari berbagai negara. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menilai Macron perlu memeriksa kesehatan jiwanya.

 

Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan juga angkat suara. Dia menuding Macron, “menyerang Islam” akibat pernyataan tersebut.

 

“Sangat disayangkan bahwa dia memilih untuk mendorong Islamofobia dengan menyerang Islam daripada teroris yang melakukan kekerasan, baik itu Muslim, Supremasi Kulit Putih, atau ideologi Nazi,” tuturnya.

 

(bmw)

CNN Indonesia | Selasa, 27/10/2020 03:22 WIB

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 807 kali, 1 untuk hari ini)